
.
.
.
"Nona, saya mohon makanlah sesuatu." Pelayan itu menunduk sedalam yang ia bisa sambil meminta permohonan beberapa kali. Berharap jika sang nona muda segera mengisi perutnya yang kosong atau tidak sang penguasa rumah ini akan marah besar kepadanya.
"Aku tidak lapar!" Jiyoung berbicara dingin. Ia membuang mukanya dengan kesal. Lebih baik ia memandang jauh keluar jendela daripada melihat pelayan si brengsek itu disini. Ia tak ingin makan. Kenapa semua yang ada dirumah ini begitu pemaksa seperti tuannya itu?
Clekkk...
Pintu terbuka, tak perlu Jiyoung menatap siapa seseorang yang baru masuk kekamarnya itu karena ia sudah hafal dengan langkah nan tegas tersebut. Ketukan sepatu pantopel yang terdengar sampai telinga sudah menjawab semuanya.
"Kenapa?" Suara basnya terdengar. Membuat si pelayan yang sudah ketakutan bertambah takut. Si pelayan wanita itu berjalan kearah sang tuan muda lalu membungkuk dalam.
"Ma-maaf sa-saya sudah meminta nona memakan ma-makanannya ta-tapi no-na tak mau makan tuan." Ujar pelayan itu dengan nada yang sangat gugup saat menjelaskan alasannya.
Sehun melangkah dengan pelan. Sial! Jiyoung merutuki semua para penghuni rumah ini. Semuanya brengsek dan menyebalkan. Asal kalian tau.
"Apa kau tak suka dengan makanan yang dibawanya?" Jiyoung terkejut bukan main saat tangan Sehun dengan cepat memeluknya dari belakang. Ia pikir Sehun akan memarahinya tapi kenapa rasanya aneh?
"Kau, cepatlah bawa makanan yang baru sekarang!" Suara Sehun meninggi. Membuat Jiyoung terdiam sekaligus terkejut. Sehun dalam balutan pakaian rapihnya dengan tenang pria itu pun membelai helaian rambut Jiyoung yang terasa sangat lembut dan wangi. Ia ingin melawan rasanya, tapi sangat sulit bergerak. Tubuhnya selalu merasa lemah jika berada didekat pria itu.
"Tu-tuan ini ma-makanannya." Pelayan itu tergopoh sambil membawa makanan baru dengan lauk yang baru juga. Sehun memegang kedua lengan Jiyoung.
"Makanlah." Sehun sedikit membawa Jiyoung untuk duduk dipinggir kasur. Dengan perlahan pria itu mengambil semangkuk bubur lalu menyuapi Jiyoung-nya.
Prakk...
Sendok itu pun terlempar kelantai begitu saja. Sehun mengambil nafasnya dalam. Urat dilehernya sangat terlihat sekarang.
"Kenapa? Apa kau tak suka dengan makanannya?" Tanya pria itu kini dengan nada begitu dingin. Jiyoung tak takut. Sama sekali tidak takut saat pria itu menatapnya dengan mata yang memerah.
"Tidak. Aku tak mau makan. Aku sungguh muak dengan semuanya!" Jiyoung berteriak. Menyuarakan isi hatinya lagi. Ia hanya ingin pulang. Tak bisakah pria itu mendengarkan jerit hatinya selama ini?
Prangg...
Sehun melempar mangkuk yang ia pegang begitu saja. Membuat si pelayan dan nona muda membulatkan matanya. Setelah melempar piring itu hingga pecah, Sehun dengan cepat mencengkram pipi Jiyoung. Tak terima dengan perlakuan Sehun terhadap dirinya, Jiyoung pun memukul tubuh Sehun beberapa kali tapi justru tak membuat Sehun merasakam sakit sama sekali.
"Ambilkan makanan yang lain! Cepat!" Teriak Sehun lagi membahana. Jiyoung terus berusaha menyingkirkan tangan Sehun yang terasa menyakitkan tersebut tapi pria itu seakan enggan untuk menghentikan perbuatannya.
"Kau gila. Lepaskan. Sakit." Desis Jiyoung disela kesakitannya. Perlahan tangan Sehun melonggar dari wajahnya dan kini kedua tangan pria itu malah mencengkram pundaknya dengan kuat. Ini sama saja. Pria itu masih setia menyakitinya.
"I-ini tu-tuan." Pelayan yang tadi segera menyerahkan makanan yang ia bawa lagi. Untuk sekian kalinya. Sudah lebih dari tiga kali nona mudanya itu menolak makan. Ia berharap semoga semangkuk makanan yang ia bawa tidak hancur dan terbuang percuma. Ia tau kenapa nona mudanya itu begitu keras kepala. Jika itu adalah dirinya sendiri pasti dirinya juga akan melakukan hal yang sama bahkan jika perlu bunuh diri adalah opsi yang akan ia ambil.
"Makanlah atau kita akan berakhir sampai malam seperti ini. Dengan kau yang menolak makanan itu masuk kemulutmu lalu aku yang berakhir melemparkan piring berisi makanan itu untuk kesekian kalinya. Jangan bersikap sombong, arogan dan keras kepala seperti ini." Tekan Sehun lagi lalu tangannya menjauh dari acara mencengkram pundak Jiyoung tadi.
Lalu dengan perlahan ia memberikan makanan itu ke Jiyoung-nya dengan rasa marah sejak tadi. Tanpa diduga Jiyoung membuka mulutnya secara perlahan. Bibir gadis itu bergetar manahan tangis yang tertahan. Ia harus kuat atau Sehun akan terus menginjak-injak harga dirinya seperti ini lagi.
"Kau pergilah, jika ada yang kuperlukan baru datang lagi kemari." Sehun bersuara kearah sang pelayan dan diangguki oleh pelayan itu lalu dengan segera dia pergi dari kamar itu dengan badan yang masih bergetar karena takut dengan sikap tuan mudanya yang begitu terlihat menakutkan.
"Apa susahnya menjadi gadis penurut seperti ini, hmm?" Gumam Sehun tanpa mengalihkan pandangannya kepada Jiyoung yang sangat pelan mengunyah makanannya dengan sedikit suara yang tertahan. Ia tau jika Jiyoung masih berusaha menahan tangisnya tapi apa pedulinya? Jiyoung sendiri yang memancing emosinya tadi. Jika saja Jiyoung menjadi gadis penurut sejak awal, pasti gadis itu akan sangat bahagia bersama dengannya dirumah ini selamanya.
"Ingatlah. Dia desainer baju pengantin wanita yang sangat terkenal. Kau harus memilih salah satu koleksi yang ia tawarkan dan tak menolak ataupun memarahinya saat perempuan itu datang kemari." Ujar Sehun begitu santai membuat Jiyoung terbatuk beberapa kali.
"Uhukkk... Uhukkk.. Ap-pa yang kau maksud dengan gaun pengantin?" Ujar Jiyoung sambil menyeka air putih disekitar bibirnya. Sehun tersenyum menanggapi pertanyaan Jiyoung barusan.
"Tentu saja. Baju pengantinmu untuk pernikahan kita hari minggu, sayang." Sehun mengelus rambut Jiyoung lagi dan mengecup bibir gadis itu singkat. Hari minggu? Itu artinya tiga hari lagi bukan?
"Tidak! Sampai mati pun aku tak ingin menikah denganmu! Kau gila! Kau brengsek! Dan aku membenci semua ini!" Jiyoung berteriak dan memukul dada Sehun meluapkan semua amarahnya yang sedari terpendam. Sehun brengsek! Ia tak ingin menikah dengan pria brengsek seperti Sehun.
"Aku tak peduli. Mau tidak mau kau pada akhirnya akan menikah denganku. Aku tak perlu persetujuanmu. Aku hanya memberitaumu jika pernikahan kita akan dilaksanakan minggu ini." Ujar Sehun seraya mengenggam tangan Jiyoung untuk berhenti memukul dirinya. Ayolah. Sudah berapa kali ia bilang tenaga Jiyoung tak cukup kuat untuk menyakiti tubuhnya.
"Hikkss.. Kau brengsek.. Hikkss. Pemaksa... Kau sama sekali tak pernah mau hikss... Mendengarkan jeritanku selama ini hiksss..." Jiyoung menangis lagi dan lagi. Entah, sudah berapa banyak gadis itu mengeluarkan air mata sejak Jiyoung bertemu dengannya. Sehun memang selalu menutup matanya selama ini. Ia tak salah. Jiyoung yang salah karena tak mau membuka hatinya untuk Sehun. Yah. Gadis itu yang bersalah kepadanya. Maka, Jiyoung haruslah menyadari kesalahannya selama ini. Sehun benar dan dirinya selalu benar.
"Berhentilah menangis. Meski kau menangis darah pun atau berusaha untuk bunuh diri. Aku tak akan membatalkan pernikahan kita!" Sehun beranjak dari ranjang. Sepertinya ia tak bisa masuk kantor hari ini. Jiyoung membuat masalah lagi. Sial! Kenapa susah sekali membuat Jiyoung menjadi penurut?
"Batalkan semua rapat hari ini karena ada hal yang harus kuselesaikan sekarang." Sehun menutup panggilannya terhadap sang sekretaris disebrang sana. Tanpa peduli dengan kerugian miliaran dollar yang mungkin saja hangus itu. Ia merenggangkan otot lehernya yang terasa kaku lalu dirinya pun beranjak dari kamar Jiyoung dengan perasaan yang sangat kesal.
Prangggg...
Jiyoung marah. Ia kesal dan tak bisa melakukan apapun. Dirinya terkurung dan Sehun selalu menyentuhnya sesuka hatinya. Pria brengsek, bajingan, arogan, gila.
"Arggghhh!!!" Jiyoung menjambak rambutnya. Kepalanya sakit dan hatinya jauh lebih sakit. Ia dengan cepat berjalan keserpihan beling yang sudah berceceran didalam kamarnya lalu perlahan masuk kedalam kamar mandi. Disana ada sebuah kaca yang terletak diatas tempat cuci tangan.
Jiyoung melihat wajahnya yang terlihat kusut dan pucat. Sudut bibirnya bahkan terlihat masih robek saat Sehun yang beberapa hari lalu memaksa menciumnya. Sehun memperlakukannya sebagai jalang. Sehun merendahkan harga dirinya. Sehun mengambil hidupnya dan Sehun juga yang mengendalikan kehidupannya saat ini tapi asal Sehun tau, pria itu tak akan bisa mengendalikan kematiannya. Hanya Jiyoung yang bisa dan ia akan membuktikan hal itu sekarang.
Jiyoung mengangkat tangannya yang sedari tadi mengenggam serpihan kaca yang sangat tajam. Lalu memejamkan matanya.
"Eomma... Hiksss... Oppa... Ma-maafkan aku harus meninggalkan kalian dengan cepat. Sungguh aku tak kuat lagi." Tangan kanannya terayun bersiap-siap untuk menusuk kaca tersebut kearah lehernya. Tak sanggup untuk melihat apa yang akan terjadi selanjutnya ia dengan mantap mulai menancapkan kaca itu...
Tangannya terhenti dan seseorang mencengkram pergelangan tangannya dengan erat lalu menahan kaca tersebut dengan salah satu tangannya. Jiyoung membuka matanya lebar. Sehun!
"Sudah kubilang bukan? Meski kau bunuh diri pun aku tak akan membantalkan hal yang seharusnya!" Yang seharusnya? Maksud Sehun pernikahan paksa itu?
Prangg...
Sehun melempar kaca yang ia genggam tadi dengan kasar lalu memegang kedua tangan gadis itu dan mendorongnya hingga kedinding. Jiyoung menangis dan Sehun sungguh tak peduli akan hal itu. Ia mencium Jiyoung dengan ganas seakan meluapkan emosinya saat mengetahui gadis itu mencoba untuk bunuh diri. Untung, firasatnya benar jika ada hal buruk akan menimpa Jiyoung jika saja ia terlambat sedetik saja pasti Jiyoung-nya telah merenggang nyawa saat ini.
"Dengar. Kau tak akan mati. Jika kau mati pun seharusnya yang mati adalah mantan tunanganmu itu dan bukannya dirimu. Tidak. Jika kau mencoba bunuh diri lagi kupastikan sebelum kau menghembuskan nafas terakhir, kau akan mendengar jika orangtua serta kakakmu akan mati lebih dulu." Jiyoung ditinggalkan begitu saja setelah Sehun mengucapkan hal tersebut. Membuat tubuhnya melemas dan jatuh terduduk. Ia melihat salah satu tangannya yang terlihat noda darah dengan begitu jelas. Ini bukan darahnya. Ini milik pria itu.
Perkataan Sehun barusan terngiang di otaknya. Ia tau jika Sehun selalu memegang ucapannya. Ia tak bisa menyangkal ancaman Sehun barusan. Ia kemudian sadar jika kematiannya pun telah Sehun ambil alih lalu apa yang harus ia lakukan sekarang?
Tidak. Ia yakin masih ada cara untuk mengagalkan pernikahan ini. Dengan cepat Jiyoung mencuci tangannya yang berwarna merah. Berjalan menuju kelemari yang berisi baju-baju yang cantik lalu meraihnya dengan asal, ia bahkan memoles wajahnya yang terlihat pucat. Ia harus tampil secantik mungkin didepan pria itu dan ia pun tak lupa untuk mengambil kotak obat yang tersedia disudut kamarnya. Ia tak akan kalah dan pasti bisa memundurkan waktu pernikahannya sampai dirinya berhasil bebas dari sini. Ia yakin itu.
Brakkk...
Jiyoung melangkah keluar kamar dengan kasar lalu berjalan menuju kamar utama dilantai atas dimana seorang Sehun berada. Ada dua penjaga berdiri didepan pintu kamar Sehun. Mereka menatap Jiyoung dengan heran.
"Nona? Ada perlu apa?" Tanya salah satunya, membuat Jiyoung menelan ludahnya dengan kasar untuk menyembunyikan kegugupannya saat ini.
"Aku ingin bertemu tuan muda."
TBC