
.
.
.
Kamar ini begitu sepi, gelap dan kacau. Sejak dua jam lalu, ia masih saja menekuk lututnya diatas kasur. Wajahnya yang berair kini mulai kering, bahkan air mata yang terus saja terjatuh disaat dirinya terbangun dari tidurnya sepertinya sudah mulai habis.
Cklekk...
Jiyoung refleks semakin merapatkan selimut yang menutupi tubuh polosnya, ia sangat takut jika itu adalah Sehun. Kini, didalam matanya Sehun benar-benar sangat menakutkan.
"Lihatlah. Bukankah sudah kubilang, jangan terlalu banyak bertingkah? Cih. Kondisimu sungguh memprihatinkan." Ujar gadis itu, lalu mulai melangkah menuju kearah Jiyoung berada, membuat gadis itu berteriak frustasi.
"Aku tak sanggup bersama dengannya! Kumohon, lepaskan aku dari sini dan aku janji pasti akan melunasi hutangku kepadamu." Nara tersenyum saat melihat wajah memelas Jiyoung. Bunyi hak sepatu gadis itu kembali terdengar, Nara sudah ikut duduk diranjang yang sedang Jiyoung tempati.
Oh, lihatlah. Penampilan gadis itu sungguh kacau. Rambutnya berantakan, kondisi kamar ini juga sangat kacau lalu menemukan kondisi Jiyoung tanpa busana serta kaki yang dirantai... Ah, ini ulah Sehun bukan?
"Aku akan melepaskan rantai dikakimu dan mencoba mengobati tubuhmu." Nara meraih pergelangan kaki Jiyoung, pandangan mata Jiyoung terlihat kosong. Nara tau jika gadis itu masih merasakan perasaan syok akan tingkah gila Sehun. Yah, ia akui Sehun memang gila, tapi ia rasa pemicu kegilaan Sehun adalah Jiyoung bukan?
"Nara... Apa aku harus mati, supaya bisa bebas dari pria itu?" Gumam Jiyoung lagi, setelah rantai dikakinya terlepas. Nara kembali tersenyum dan menyisir rambut gadis itu dengan jarinya.
"Jika kau melakukannya, bukankah kau sudah menyalahi isi perjanjian kontrakmu denganku? Hmm.. Lalu jika kau mati pun pasti yang akan sengsara adalah keluargamu. Ibu serta kakakmu kurasa tak akan bisa hidup dengan tenang." Jiyoung membulatkan matanya saat mendengar penuturan Nara tadi. Gadis itu sama jahatnya dengan Sehun!
"Caramu untuk bebas hanya ada satu. Sembuhkan Sehun dan kau bisa bebas. Aku jamin itu. Jadi sampai hal itu terjadi, kuharap kau selalu bersikap manis kepada Sehun, ok?"
"Kenapa aku yang harus menyembuhkannya?! Bukankah lebih baik jika kau memasukkannya ke rumah sakit jiwa?! Aku rasa dia bisa disembuhkan disana lalu-"
Plakk...
Sisi wajahnya tertampar begitu keras, Nara begitu marah saat mendengar omong kosong Jiyoung tentang memasukan Oh Sehun kerumah sakit jiwa.
"Dengar! Sehun tidak gila! Jadi tak mungkin jika adikku itu dimasukkan kerumah sakit jiwa! Lagipula apa kau tak sadar jika Sehun sangat sehat dan pintar dalam menjalani perusahaan besar kami? Dia hanya tak terlihat sehat disaat hanya ada kau Jiyoung! Kau penyebabnya! Jadi hanya kau yang bisa menyembuhkannya, ingat itu!" Nara beranjak dari duduknya lalu mulai menelpon pelayan yang akan mengurusi Jiyoung. Oh, sungguh sialan. Beraninya Jiyoung mengatai Sehun tak waras dengan mudahnya?
"Setelah kejadian ini, kau pasti sadar jika aku selalu mengawasimu bukan?" Nara menyunggingkan senyumnya lalu meninggalkan Jiyoung sendirian disana.
Kembali gadis itu mengepalkan tangannya keras, kemudian memegang dada kirinya yang terasa sakit. Ia pun kembali menangis lirih. Yang membuat siapapun yang mendengarnya akan merasa iba.
••🌷🌷••
"Terima kasih." Jiyoung terlihat sudah berpakaian rapih, setelah membersihkan dirinya tadi ia kini sudah terlihat jauh lebih segar.
"Sama-sama nona." Pelayan yang sedang membersihkan kamar itu pun menanggapi ucapan Jiyoung dengan senyuman tertahan.
"Apa aku terlihat memprihatinkan dimatamu?" Jiyoung tersenyum miris saat melihat raut kasihan yang diberikan pelayan itu kepadanya.
"Ah, ti-tidak nona. Ti-tidak sama sekali." Ujarnya cepat, menanggapi ucapan Jiyoung barusan.
"Tak usah berbohong, matamu sudah menjelaskan semuanya. Kondisiku memang seperti ini sejak bertemu dengan pria itu dan semua yang ada disini pasti sudah mengetahui kondisiku. Tapi, kurasa hanya kau seorang yang memberikan tatapan seperti itu saat melihatku. Apa kau orang baru?" Jiyoung menatap penasaran dengan jawaban yang akan diberikan oleh pelayan itu.
"Iya, nona. Saya memang baru bekerja disini." Ujarnya kemudian tersenyum kembali.
"Siapa namamu? Kalau boleh aku tau."
"Mina."
"Ah, senang berkenalan denganmu." Jiyoung mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Mina tak menyangka jika gadis itu akan memberikan salam perkenalan yang hangat kepadanya. Padahal, dirinya ini hanya seorang pelayan. Sungguh hati Jiyoung begitu baik, jika dia boleh menyimpulkan dari kesan pertama.
"Nona, apa sudah makan?" Jiyoung menggeleng. Membuat Mina menaruh beberapa makanan yang ternyata sudah dibawanya sejak tadi.
"Nona, makanlah dulu. Nanti saya akan kemari lagi setelah nona selesai."
"Tunggu, bisa kau tetap menemaniku disini?" Jiyoung hanya merasa kesepian jika hanya dirinya didalam sini. Ia juga tak bisa meninggalkan kamar ini karena ia yakin semua pelayan disini tak ada yang berani membukakan kunci kamar ini. Oh Sehun pasti memberikan perintah seperti itu.
••🌷🌷••
Lay terlihat frustasi, ia sudah memikirkan berbagai cara supaya bisa menemukan keberadaan Jiyoung. Seharusnya Jiyoung menemuinya lagi tapi entah kenapa adiknya itu tak terlihat sama sekali.
"Lay, apa adikmu tak bisa kemari? Eomma, sangat merindukannya." Lay mengusap lembut rambut ibunya yang mulai beruban, wajahnya yang terlihat segar kini berubah pucat lalu suara batuk yang terdengar beberapa kali membuat dirinya semakin cemas.
"Eomma, kurasa Jiyoung sedang sangat sibuk dengan pekerjaannya." Lay mencoba menenangkan hati ibunya, ia mengulas senyumnya.
"Eomma, minumlah obatnya dulu lalu istirahatlah." Lay mengambil beberapa obat diatas meja lalu mulai membantu ibunya yang sejak tadi terbaring untuk duduk sebentar dan meminum obatnya.
"Apa kau masih tak bisa menghubunginya?" Tanya ibunya lagi setelah meminum obatnya. Kembali Lay menyuruh ibunya untuk segera berbaring dikasur lagi.
"Tidak bisa eomma, Jiyoung pasti sedang sibuk. Aku yakin setelah pekerjaannya selesai dia akan menelpon kembali." Ibunya mengangguk menanggapi perkataan Lay, mencoba mengerti.
"Jadi, eomma istirahat saja ya. Jika Jiyoung tau eomma sakit pasti dia akan sedih dan tak akan bisa fokus dengan pekerjaannya."
"Baik, terima kasih Lay. Eomma akan istirahat lagi." Lay memberikan selimut untuk menutupi tubuh ibunya supaya merasa hangat.
Setelah memastikan ibunya tertidur pulas, mungkin efek dari obatnya ia pun segera keluar dari kamar.
Ini sudah hampir dua puluh kali ia mengubungi Jiyoung, ponsel yang saat itu ia berikan pada adiknya itu masih berfungsikan? Ia hanya takut tak bisa menghubungi Jiyoung lagi. Makanya saat adiknya itu berkunjung, ia segera memberikan ponsel itu untuknya. Agar Jiyoung bisa terus ia hubungi. Tapi, entah kenapa sampai saat ini Jiyoung tak bisa dihubungi sama sekali, apa terjadi sesuatu kepadanya?
"Aku harus segera menemui Oh Nara!" Lay mengepalkan tangannya keras dan memutuskan untuk menemui salah satu orang yang ia yakin pasti mengetahui keberadaan adiknya.
••🌷🌷••
"Siapa namanya?" Tanya Nara sambil mengeryitkan alisnya.
"Dia mengatakan jika namanya adalah Park Lay. Jika saya memberitahu namanya kepada anda katanya nona pasti akan mengenalinya." Mendengar nama itu membuat Nara menghembuskan nafasnya yang terasa lelah. Cih, untuk apa juga pengganggu itu kemari?
"Biarkan dia masuk." Ujar Nara setelahnya.
"Tapi nona kita-"
"Biarkan dia masuk. Aku tak ingin aksi brutalnya terus menarik perhatian orang diluar sana." Pengawal itu segera mengangguk dan menjalankan perintah atasannya itu.
Brakkk!!!
"Oh, lihatlah. Bahkan tak sampai sepuluh menit ternyata kau sudah muncul disini. Luar biasa." Nara bertepuk tangan setelah melihat Lay yang masuk dengan nafas memburu, muka memerah. Ah, pria itu pasti sedang sangat marah sekarang.
"Tutup mulutmu." Desis Lay tak terima. Membuat Nara mendengarnya langsung tertawa.
"Kau menyuruhku diam? Lalu jika kau ingin menanyakan sesuatu kepadaku berarti aku tak boleh menjawabnya bukan?"
"Brengsek." Umpat Lay lalu pria itu berusaha untuk maju tapi langkahnya terhenti saat seseorang menahan pergerakannya.
"Jagalah sikap anda kepada nona kami." Suara itu begitu berat dan Lay dapat merasakan cengkaraman pria itu dilengannya semakin kuat.
"Kwak Dong, kau sudah tiba?" Nara melangkah mendekati kedua pria itu, lebih tepatnya ingin duduk di sofa yang memang berada didekat dengan mereka berdiri saat ini. Setelah mendudukan dirinya, Nara memposisikan duduknya senyaman mungkin dan menyilangkan kakinya disana.
"Oh Nara, katakan dimana Jiyoung berada sekarang!" Tanpa memperdulikan ada orang lain selain dirinya dan Nara, ia langsung menanyakan hal tersebut.
"Bukankah kau kakaknya? Lalu kenapa kau menanyakan hal itu kepadaku?" Nara masih tak memberikan jawaban kepadanya sama sekali. Padahal, ia yakin jika Nara pasti sudah tau maksud kedatangannya ke kantor ini.
"Aku yakin kau yang telah merencanakan semua ini. Aku sudah mencari tau hal ini sejak lama. Disaat kau memberikan bantuan kepada Jiyoung untuk bisa membebaskanku, aku yakin ada hal dibalik itu semua. Dan benar saja, ternyata kau penyebab diriku harus masuk penjara. Rencanamu sangatlah licik, Nara! Sialan! Kau hanya memanfaatkan adikku untuk mengendalikan Sehun bukan?!" Lay melontarkan kelimat itu dengan yakin, membuat Nara sedikit terkejut karena tak menyangka jika pria itu begitu pintar.
"Aku cukup terkejut, ternyata kau pintar juga. Ah, andai Jiyoung sepintar dirimu pasti dia tak akan mau menerima tawaran dariku. Dan yah, mungkin Jiyoung juga akan menuntutku karena hal itu."
"Sialan! Lepaskan adikku brengsek ak-akhhh!" Lay merasakan sakit dilengannya saat pria yang menahannya saat ini memutar tangannya dan menimbulkan retak pada tulangnya yang bergeser.
"Tutup mulutmu! Kau tidak bisa sepenuhnya menyalahkanku! Aku hanya mencoba melakukan hal terbaik untuk Sehun. Dia. Adikku satu-satunya." Nara langsung berdiri dan menatap tajam Lay. Pria ini benar-benar seperti benalu!
Plakkk...
Entah sejak kapan Lay sudah melepaskan cekraman Dong dari tubuhnya dan menamparnya begitu keras, membuat ia menatap marah kepada pria itu.
"Nona!" Kwak Dong terkejut saat melihat itu, dan mencoba memukul pria itu tapi segera ditepis oleh Lay.
"Dengar, aku akan memberitahukan semua ini kepada polisi jika kau adalah wanita penipu, kau sudah memfitnahku dan membohongi Jiyoung atas tawaranmu saat itu dan itu semua sebenarnya sudah kau rencanakan sejak awal bukan? Ingatlah! Aku akan membawa Jiyoung segera dan memastikan adikmu itu kembali ke penjara!" Lay langsung meninggalkan ruangan itu dengan semua emosinya kepada wanita sialan itu. Sialan, andai ia tau lebih awal tentang niat jahat Nara, pasti ia tak akan terjebak dari semua rencana wanita itu kepadanya dan ia yakin Jiyoung masih tetap bersama dengannya.
"Nona, anda tak apa-apa?" Dong langsung menghampiri Nara yang sejak tadi masih memegang pipinya akibat tamparan Lay.
"Kwak Dong..."
"Ya?"
"Kau tau jika seekor tikus sangat menggangu bukan?"
"Ya? Maaf?"
"Aku ingin kau segera meleyapkan tikus itu secepatnya sebelum ia semakin menghacurkan segalanya."
••🌷🌷••
"Jiyoung, apa kau sakit?" Suara itu begitu mengalun dengan lembut dan terdengar rasa khawatir didalamnya. Membuat Jiyoung yang tengah memejamkan matanya mulai membuka matanya secara perlahan.
"Se-sehun?" Ujarnya lemah dan terkejut saat melihat keberadaan Sehun saat ini. Wajah pria itu terlihat sangat khawatir. Matanya masih memperhatikan jika Sehun pasti baru saja tiba. Pria itu masih saja mengenakan kemeja kantornya. Kancing atasnya dibuka satu, lalu kedua lengan kemejanya digulung hingga siku dan rambutnya terlihat berantakan sangat tak rapih seperti biasanya.
"Kau ingin minum?" Tawar Sehun saat melihat jika Jiyoung kesulitan berbicara lagi. Dengan perlahan ia membuat gadis itu menyenderkan tubuh dikasur dan ia pun memberikan segelas air untuk gadisnya dan entah kenapa Jiyoung tak menolak hal itu.
"Kau demam. Apa kau sudah makan?" Tanya Sehun lagi yang terus memperhatikan keadaan Jiyoung. Gadis itu masih saja terdiam. Tak berniat menjawab pertanyaan Sehun barusan. Sial, padahal rasanya ingin meneriaki Sehun saat ini. Gara-gara siapa juga ia bisa sakit seperti ini? Ini semua karena perlakuan Sehun beberapa hari lalu dan dampaknya baru terasa sekarang. Tubuhnya terasa sangat sakit.
"Aku akan membawakan bubur dan obat, kau tung-" Mata Sehun membulat saat melihat tubuh Jiyoung terjatuh dikasur. Jiyoung terlihat tak sadarkan diri.
"Jiyoung!"
"Jiyoung! Sadarlah!"
"Jiyoung jangan bercanda! Buka matamu sayang!"
Sehun terus saja menepuk pipi Jiyoung beberapa kali tapi gadis itu tak kunjung membuka matanya. Membuatnya sangat takut.
"Bertahanlah, aku yakin kau tak akan mati semudah ini." Sehun langsung meraih tubuh Jiyoung, membawanya kedalam gendongan dan menuju kerumah sakit segera.
"Kumohon, jangan tinggalkan aku lagi." Dan pria itu kembali meneteskan air matanya kepada Jiyoung untuk kesekian kalinya.
.
.
.
to be continue