
----------------------------------------------------
23 December, Minho birthday! ^^
----------------------------------------------------
Karena dia suka sekali dengan kue coklat, maka hari ini kubuatkan khusus untuknya! Sebenarnya, aku tak pandai memasak kue, pasti selalu saja ada yang gosong atau pun pahit tapi anehnya Minho selalu mengatakan jika kue buatanku adalah yang terbaik! Ah, Minho memang segalanya ^^
Pokoknya setelah anniversary kami nanti, aku akan memberikannya kue terbaik yang aku yakin pasti sangat enak. Yah, aku tak boleh memberinya kue gagal lagi hehe...
.
.
.
------------------------------
20 April, Rain day
-------------------------------
Sepertinya hari ini akan memasuki musim hujan, buktinya saat aku yang baru saja pulang dari kantor dikejutkan dengan derasnya hujan yang datang tiba-tiba, membuatku harus berteduh dihalte bus terdekat. Ah, sayang sekali. Padahal seharusnya Minho menjemputku dan rencananya kami akan makan malam bersama tapi nyatanya dia tak bisa menjemputku dan membuatku merasa sedikit kesal kepadanya.
Ah iya, dihari ini juga aku merasa agak takut dengan seseorang yang terus menatapku tanpa banyak bicara dan anehnya aku malah memberikan jaketku untuknya karena merasa kasihan dengan kondisinya saat itu.
.
.
.
-------------------------------
15 June, Backhome
-------------------------------
Hidupku mulai berubah, aku tak tau jika awalku memberikan jaket itu adalah sebuah awal petaka untuk hidupku.
Dia. Aku tak ingin menyebutkan namannya, sungguh.
Aku sangat membencinya. Dia yang membuat jalan cerita hidupku berubah menjadi semakin memburuk.
Perlahan aku selalu merasakan sesak didada dan rasanya merasa sulit untuk bernafas. Lalu entah kenapa beberapa hari belakang ini, aku merasa waspada dan takut jika suatu hari dia kembali muncul.
.
.
.
------------------------------------
20 December, My Tears
-------------------------------------
Aku kembali harus mengorbankan sesuatu. Aku pikir setelah memutuskan Minho oppa, pria itu tak akan kembali dan menggangguku tapi nyatanya tidak. Bahkan salah satu keluarganya ikut campur dalam masalah ini, dan membuatku harus kembali bersama dengan monster itu karena oppa terjerat kasus.
Meski aku masih bisa bertemu keluargaku secara diam-diam, tapi aku takut jika sikap pria itu kembali seperti dulu. Memenjarakanku dan hanya menganggapku hanya sebagai hiasannya semata. Tak boleh keluar rumah bahkan bertemu keluarga sendiri. Dia pria yang jahat! Itu adalah salah satu alasanku untuk membencinya.
Jika aku berharap, bisakah aku mendapatkan hidupku kembali?
------------------
"Jadi, namanya Jiyoung?" Setelah membaca isi diary itu Woo Yeon terus saja memperhatikan bekas jejak air mata disana. Hatinya ikut merasakan sakit saat membaca setiap tulisan disana. Ah, ternyata benar jika gadis itu mengalami masalah.
Ia tau jika membaca isi diary seseorang itu sangat tidak sopan tapi rasa penasarannya kepada gadis itu membuatnya memberanikan diri untuk melihat apa yang terjadi sebenarnya.
Dilihat dari catatan itu, sepertinya gadis itu mengalami berbagai masalah dan menginginkan kehidupannya kembali. Apa yang dimaksud dari sebuah kebebasan adalah kembali bersama keluarganya?
"Yeon, bukankah sudah kubilang untuk membantuku?" Suara pria lain terdengar mengganggu saat ia sedang memikirkan tentang gadis pemilik buku yang ada ditangannya.
"Oh, ayolah hyung. Aku sedang sangat repot sekarang. Apa kau tak lihat aku harus menyelesaikan tugas kuliahku?" Saat mengucapkan hal itu Yeon mencoba menyembunyikan buku catatan yang sedang ia pegang, tapi ternyata mata kakaknya melihat hal tersebut.
"Ck, aku tau jika kau tak mengerjakan tugas kuliahmu tapi sejak tadi kau hanya membaca isi catatan seseorang. Tunggu, apa kau mencuri catatan itu?" Tanya kakaknya menuduh, tentu saja Yeon mengelak.
"Aishh. Tidak mungkinlah, lagipula memangnya aku tak punya kerjaan sampai harus mencuri catatan?" Dengus Yeon yang merasa sebal dengan ucapan kakaknya itu.
"Kalau begitu, kembalikan catatan itu dan minta maaflah kepada pemiliknya." Ujar pria itu lagi, yang hanya diberi anggukan dari Yeon sebagai jawaban.
"Ck. Kau ini. Yasudah cepatlah pulang. Aku sudah mau menutup kafe ini dan jika kau tak ada urusan lagi sebaiknya kau membantuku di kafe saat liburan semestermu nanti."
"Tidak bisa hyung, ada hal besar yang harus kuurus."
"Hal besar? Apa kau hanya mengatakan hal itu untuk melarikan diri dariku?"
"Tidak, hyung. Aku bersumpah jika kali ini aku benar-benar ada urusan penting! Jadi jangan potong uang sakuku, ok?" Yeon berusaha semanis mungkin saat menjelaskan hal tersebut. Membuat pria itu memutar matanya malas. Ck. Anak ini, ada saja alasan untuk tak membantunya di kafe.
"Baiklah, tapi jika aku tau saat liburan kau hanya bermain-main dengan teman-temanmu itu tanpa menyelesaikan tugas kuliahmu, aku pastikan akan memotong uang sakumu. Hmm... 50% kurasa cukup."
"Yak! Kenapa besar sekali?"
"Apa harus kunaikan?"
"Tidak-tidak, itu sudah cukup. Baiklah kapten! Kalau begitu aku akan pulang dulu! Terima kasih!" Setelahnya Yeon terlihat keluar dengan tergesa sambil membereskan barang-barangnya. Membuat Minhyun menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah adiknya itu.
••🌷🌷••
"Saya sudah memberikannya obat dan sebaiknya pasien menginap disini selama beberapa hari sampai kondisinya membaik."
"Jadi, kondisinya sudah lebih baikkan?" Tanya Sehun langsung kepada dokter tanpa berniat mengalihkan pandangannya kepada Jiyoung yang masih saja terlelap dan beberapakali mengecup punggung tangannya.
"Yah, demamnya sudah mulai turun tapi luka yang ada dibeberapa tubuh membuatnya harus menjalani rawat inap. Jika saya boleh tau, apa sebelumnya pasien mengalami luka fisik sebelum demam?" Wajah Sehun yang terlihat melembut berubah mengeras saat mendengar pertanyaan tersebut.
"Jangan ikut campur. Kau disini hanya untuk menyembuhkannya, mengerti?" Ujar Sehun dingin. Bahkan membuat sang dokter harus merutuki pertanyaan bodohnya tadi. Ah, sial. Kenapa juga ia harus menangani pasien seperti ini? Ia tau jika ia salah sedikit saja, ia yakin bisa-bisa hidupnya tak akan tenang.
"Ma-maafkan saya tuan! Kalau begitu saya permisi dan untuk obat-obatan nona akan dipersiapkan oleh suster." Tanpa menunggu respon dari pria itu, buru-buru dokter itu pun mengundurkan diri. Ia takut jika ia salah bicara lagi.
"Ck. Dasar Bodoh. Dokter seperti itu tak pantas untuk merawatmu kan sayang?" Tatapan Sehun kembali berubah saat melihat wajah Jiyoung lagi, ia mengelus rambut gadis itu dengan penuh kasih sayang. Setelahnya ia mengambil ponsel disaku dan menghubungi seseorang.
"Kau segera urus dokter bodoh itu karena aku tak membutuhkannya lagi dan cepat cari penggantinya lalu pastikan tak ada orang lain yang mengetahui hal ini." Ujar Sehun memerintah kepada pengawalnya yang ternyata sudah berdiri diluar kamar untuk berjaga-jaga.
"Sayang, cepatlah sadar. Aku sangat merindukanmu." Sehun berdiri dari duduknya dan mulai memposisikan dirinya untuk ikut berbaring disebelah Jiyoung. Untungnya kasur yang ditempati gadis itu besar jadi muat untuk dua orang, sebenarnya. Yah. Sehun memang selalu memberikan yang terbaik untuk gadis itu, dan entah kenapa Jiyoung selalu saja tak menyukainya.
"Maaf, seharusnya aku tak meninggalkanmu. Aku janji mulai sekarang tak akan pernah meninggalkanmu lagi." Ujar Sehun berusaha tidur sambil memeluk tubuh Jiyoung. Pria itu memang sangat posesif jika berkaitan dengan Jiyoung-nya karena baginya Jiyoung adalah segalanya. Ia tak bisa hidup tanpa Jiyoung. Seharusnya gadis itu sadar akan hal itu. Tapi, lagi-lagi ia selalu saja harus merasakan rasa sakit hati disaat Jiyoung seperti tak menginginkan keberadaannya.
"Jangan tinggalkan aku." Racau Sehun dalam tidurnya dan ia semakin erat memeluk Jiyoung hingga pagi menjelang.
••🌷🌷••