
.
.
.
Anggap Sehun sudah sangat bodoh, lagi-lagi ia terlalu terbuai dengan segala bujuk rayu dan perkataan manis yang berkali-kali Jiyoung lontarkan. Gadis itu selalu saja bisa mengalihkan pikirannya. Jiyoung sudah membuat dirinya sulit lepas dari gadis itu dan ia mengakui hal tersebut.
Dan disaat ia selesai membubuhkan tanda tangan juga Jiyoung tentunya, kini mereka sudah resmi menjadi suami-istri. Ikatan yang sudah secara resmi diakui dan diketahui oleh negara tapi tidak dengan yang lainnya.
Ikatan pernikahan yang hanya diketahui oleh mereka berdua sebagai mempelai dan pengawal pribadi baru Sehun, Leetuk. Sungguh luar biasa, sebenarnya bagaimana bisa mereka hanya menikah seperti ini? Sehun tak habis pikir dengan segala pikiran gadis itu.
"Aku ingin kita segera meninggalkan rumahmu." Itu adalah ucapan yang pertama kali didengar Sehun ketika mereka keluar dari Kantor Urusan Agama.
"Mari kita hidup bersama mulai sekarang dan membuka lembaran baru. Aku akan mencoba mengenal dirimu lebih dekat dan membuka hatiku kepadamu. Aku akan menjadi istri yang baik bagimu dan memperlakukanmu dengan sangat baik. Kita bisa memulai hidup dipinggir kota dan membuka toko kecil disana. Membangun sebuah keluarga yang kau harapkan selama ini." Dan itulah kalimat yang terpanjang yang Jiyoung katakan kepadanya. Meski perkataan itu begitu manis tapi ia seperti mengetahui jika ada niat lain yang Jiyoung inginkan dari ini semua.
"Kau sudah membuat rencana ini lebih jauh. Jadi, aku pegang janjimu dan mulai sekarang aku juga berjanji tak akan pernah membiarkanmu menghilang dariku lagi...." Sehun meraih tangan Jiyoung kemudian memberinya kecupan lembut. Membuat gadis itu tiba-tiba merasakan jika wajahnya memerah dan hatinya yang mulai meluluh karena lanjutan kalimat dari pria itu,
"Karena aku sangat mencintaimu, istriku."
••🌷🌷••
"Jiyoung, apa rumah ini tak terlalu kecil?" Ujar pria itu yang masih saja berdiri didepan rumah dengan kedua tangan yang sibuk memegang kedua koper yang lumayan besar. Ckck. Sebenarnya apa saja sih isi koper itu? Apa pria itu mengisi semua bajunya didalam sana? Ah iya, Sehun sepertinya tak ingin meninggalkan baju mewah dan berkelasnya serta barang-barang bermerk itu begitu saja bukan?
"Hmm, kurasa tidak. Ini cukup nyaman. Lihatlah bahkan kita mempunyai satu pohon sakura didepan rumah." Jiyoung berjalan cepat dengan masih menarik satu kopernya yang tak begitu besar. Yah. Ia hanya membawa pakaian miliknya sendiri dan meninggalkan segala macam barang-barang mewah yang Sehun berikan kepadanya disana, dirumah Sehun.
"Ayo, kita perlu membereskan rumah ini bukan?" Ujar Jiyoung bersemangat dan tersenyum dengan riangnya. Sehun tertegun. Sangat jarang melihat Jiyoung tersenyum seperti ini. Hari ini sudah beberapa kali ia melihat wajah Jiyoung yang ceria seperti itu. Bukannya wajah yang selalu datar tanpa ekspresi dan mata sembab Jiyoung yang selalu ia lihat hampir setiap hari dirumah.
"Apa kau begitu senangnya dengan hal ini?" Ujar Sehun bertanya dan perlahan memasuki rumah dengan masih menyeret kopernya.
"Tentu saja." Ujar Jiyoung yang kini sudah mulai membersihkan ruangan dengan pembersih debu, sejak kapan Jiyoung bersemangat seperti ini?
"Syukurlah." Balas Sehun dan pria itu kini mulai mengitari rumah sederhana ini. Hmm, rasanya satu rumah ini sama dengan luas kamar utama dirumahnya? Apa ia bisa nyaman tinggal disini?
Jiyoung yang masih membersihkan ruangan utama, memperhatikan Sehun yang mulai mengelilingi rumah. Pria itu dari belakang ternyata terlihat tampan ya? Bagaimana bisa Sehun selalu terlihat tampan disaat pria itu hanya berpakaian sederhana? Yah. Sehun saat ini hanya mengenakan kaos hitam serta celana bahan hitam. Sangat kasual tapi kenapa selalu terlihat elegan?
Sambil membersihkan beberapa ruangan yang sedikit berdebu, Jiyoung lagi-lagi melihat dua koper yang Sehun letakan disofa ruang tengah. Gadis itu mengeryitkan alisnya. Lagi-lagi ia berusaha menebak apa isi didalam koper itu.
"Sehun, bukankah sudah kubilang untuk mencoba hidup sederhana? Kenapa kau membawa segala macam barang-barang mewahmu kesini?!" Ujar Jiyoung sedikit berteriak kearah kamar mereka. Rumah ini sederhana jadi hanya punya satu kamar tidur, satu kamar mandi, ruang tamu, dapur. Halaman depan yang cukup nyaman dengan satu pohon besar sakura didepan. Yah. Jiyoung rasa semua itu sudah lebih dari cukup.
"Sehun! Apa kau tak mendengarku?!" Teriak Jiyoung lagi. Ia rasa Sehun mendengarnya karena rumah ini tak sebesar rumah Sehun dulu tapi kenapa pria itu tak menyahut?
"Sehun! Jadi aku harus meletakan koper besarmu dimana?" Jiyoung sedikit menghembuskan nafasnya merasa kesal. Ia akhirnya mencoba menghampiri pria itu dan meletakan alat pembersih debu disudut ruangan.
Ia berjalan cepat dan membuka kamarnya tapi langkah kakinya berhenti tepat diambang pintu saat menemui pria itu ternyata telah merebahkan diri dikasur dan meletakan salah satu telapak tangannya dimata. Membuat posisi Sehun terlihat aneh?
"Kemarilah." Ujar Sehun yang terdengar berat. Jiyoung menelan ludahnya. Kenapa? Apa maunya pria itu sekarang?
"Ap-apa.. Un-untuk ap-apa?" Ujar Jiyoung gugup bahkan ia memegang ujung bajunya dengan kasar.
"Yak! Sehun!" Teriak Jiyoung tak percaya saat dengan cepat Sehun menariknya untuk ikut berbaring diranjang dan memeluknya dengan erat.
"Sehun.. Lepas.." Ujar Jiyoung lagi. Tapi tubuhnya terlalu kecil bagi Sehun. Sehingga membuat pria itu semakin menenggelamkan tubuh Jiyoung kedalam pelukannya.
"Aku akan melakukan apapun untuk terus melihatmu selalu tersenyum seperti hari ini." Jiyoung berhenti memberontak, dan membuat Sehun semakin leluasa memeluknya. Ia sangat terkejut, dari sekian banyak kalimat yang pernah Sehun ucapkan. Untuk pertama kalinya ia sangat menyukai perkataan itu.
"Maaf membuatmu tersiksa hidup bersamaku. Kau adalah nafasku. Kau adalah hidupku. Jadi, jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku." Jiyoung memejamkan matanya dan ia berusaha menulikan telinganya. Untuk tak melihat wajah serta mendengar ucapan Sehun saat ini.
"Aku akan berusaha menjalani hidup yang seperti yang kau inginkan. Aku akan selalu membahagiakanmu. Aku tak akan menyesal untuk membuang segala yang aku punya hanya untuk bersamamu."
'Tolong, jangankan katakan lebih jauh Sehun. Aku tak sanggup mendengarnya. Aku takut jika aku...'
"Aku memang salah untuk mendapatkanmu, tapi cinta yang kurasakan selama ini tak pernah salah. Aku sangat mencintaimu, Park Jiyoung. Tidak maksudku Oh Jiyoung. Yah. Kuharap margamu tetap seperti itu untuk selamanya." Jiyoung semakin menahan sudut air matanya yang seperti akan keluar saat dadanya merasa nyeri. Rasanya sangat sakit saat mendengarkan semua itu.
'Sehun... Tidak... Sehun itu hanya pembual ahli.. Sehun itu...'
"Jika kau tak percaya dengan semua kata-kataku. Maka aku akan berkorban lebih banyak dari semua yang pernah kulakukan untukmu."
"Kau menangis?" Sehun melepaskan pelukannya saat merasakan kaosnya basah dan mendengar isakan kecil Jiyoung. Ia menatap wajah sembab gadis itu dan menghapus air mata Jiyoung dengan ibu jarinya.
"Jangan menangis. Selama ini hatiku juga merasakan sakit dan selalu menyalahkan diriku sendiri setiap kali kau menangis." Sehun tersenyum disela wajah bersalahnya. Binar mata pria itu terlihat sendu. Jiyoung perlahan mengusap wajah Sehun dan perlahan menelusurinya. Merasakan betapa lembutnya wajah pria itu tapi sedikit kasar dibagian dagu. Ternyata Sehun sedikit memiliki janggut.
Setaunya Sehun itu adalah orang yang sangat merawat tubuhnya. Tidak mungkin rasanya seorang Oh Sehun lupa mencukur janggutnya. Mata pria itu juga terlihat lelah, ada lingkaran hitam disekitar matanya. Lalu kulit Sehun juga terlihat sedikit pucat. Apa pria itu baik-baik saja?
Sehun selama ini selalu memperhatikan kesehatannya, tapi kenapa ia tak sekalipun tak peduli dengan kesehatan pria itu?
"Maaf hiksss.." Ujar Jiyoung yang kini memeluk tubuh pria itu. Sehun tentu saja kaget tapi setelahnya pria itu menyambut pelukan hangat dan lembut dari Jiyoung dengan senang hati.
'Apa ini mimpi?'
'Bisakah ia terus bermimpi indah seperti ini?' Ujar Sehun berulang kali.
"Jiyoung, bisakah aku menyentuhmu?" Jiyoung *** punggung Sehun sebentar sebelum melepaskanya untuk kembali melihat wajah Sehun.
Tentu saja ini adalah pertama kalinya Sehun meminta ijin untuk menyentuhnya. Pria itu tak pernah seperti ini sebelumnya. Sehun yang sekarang bukankah lebih baik? Jadi, mulai sekarang bisakah ia meraih tangan Sehun untuk meminta bantuan untuk hidupnya?
Jiyoungpun mengangguk, mata Sehun tentu saja berbinar saat menerima persetujuan gadis itu. Ia tak pernah menyangka jika Jiyoung mulai menerimanya. Jadi, apa ini adalah awal mula yang baik untuk mereka?
Jadi siapa yang berbohong dan berkata jujur disini?
.
.
.