Dear You

Dear You
Malam Yang Gelap




.


.


.


Entah sudah berapa lama aku tertidur, kepalaku masih terasa pusing. Apa ini karena efek dari kopi yang ku minum tadi? Aku sedikit meringis saat mencoba menormalkan arah pandangku. Setelah semuanya terlihat jelas, sontak aku terkejut karena ruangan ini bukan kamarku!


Tidak. Kamarku tidak akan seperti ini. Tidak mungkin kamarku semegah ini. Apa aku masih bermimpi? Aku sedikit menepuk pipiku pelan lalu mencubitya. Astaga! Ini benar-benar nyata! Lalu dimana aku saat ini?


Aku yang terkejut akan hal ini, tak bisa mencerna semua yang kualami dengan baik, pikiranku melayang memikirkan kejadian beberapa jam lalu. Benar! Saat itu aku hanya mentraktir minum pria asing itu lalu setelahnya ingatanku begitu samar. Aku sungguh tak bisa mengingat apapun lagi.


Dengan perasaan takut, aku mulai menurunkan kakiku dari ranjang king size tersebut, berjalan perlahan menuju kearah luar kamar ini. Dimanapun aku berada saat ini, aku harus keluar dari sini dan kembali kerumahku segera. Aku melihat sekeliling kamar ini, tapi tak menemukan ponsel serta tasku dimanapun. Padahal benda tersebut bisa membantuku, lalu sekarang aku harus meminta tolong dengan cara apa?


Aku menoleh, hembusan angin dari jendela luar kamar terasa kencang hingga membuat gorden kamar tersebut melambai dengan cepat, perasaanku bertambah takut, ditambah jika aku berpapasan dengan seseorang dirumah ini. Kupastikan jika mereka adalah orang jahat karena telah membawaku kesini.


Aku terus berusaha berjalan perlahan agar derap langkahku tak terdengar oleh siapapun. Lantai rumah ini begitu terasa menusuk kulit kaki, rasanya begitu dingin. Mataku terus fokus melihat kearah depan. Kenapa tak ada penerangan sama sekali? Rumah ini begitu luas tapi sangat minim pencahayaan, seperti tak ada penghuninya saja.


"Eomma." Tanpa sadar aku menggumamkan ibuku, aku sungguh takut saat ini, sebenarnya apa motif dari orang yang menculikku? Apa ini ada hubungan dengan pria itu? Ah. Benar! Apa pria itu ada disini juga? Jika iya maka aku harus menemukannya dan kabur bersama.


Jderrr


Aku terlonjak kaget saat mendengar suara petir yang terdengar begitu tiba-tiba. Aku berusaha mempercepat langkahku menuju kearah pintu utama, niat awalku untuk mencari pria itu sirna saat mendengar derap langkah lain yang begitu tergesa menuju kearahku. Sepertinya orang itu baru saja berjalan turun dari lantai atas dimana aku berada. Aku yakin penculik itu menyadari aku yang telah menghilang dari kamar tersebut.


Aku terduduk, berusaha menyembunyikan tubuhku dibalik meja yang ada didapur. Berharap jika orang itu tak melangkah kemari. Tubuhku bergetar ketakutan saat mendengar orang itu berteriak frustasi dan melepar segala benda yang ada dirumah ini. Sepertinya orang itu kesal karena belum menemukan keberadaanku saat ini.


Aku terus berusaha meredam tangisku dengan kedua tangaku karena merasa langkah seram itu terus menuju kearah dimana aku bersembunyi. Aku memejamkan mataku, berharap penculik itu tak menuju kemari. Jantungku terus berdetak kencang, keringat dingin terus kurasakan saat ini. Aku terus berdoa agar Tuhan membantu menyelamatkanku keluar dari sini.


"Tidak! Kau tidak bisa pergi kemanapun!" Ucap orang itu lagi dengan nada frustasi dan kesal. Suara itu. Aku mengenali suaranya. Seketika itu juga aku menyadari jika telah salah membantu seseorang. Tangisku hampir pecah saat menyadari situasi saat ini.


Lama pria itu berdiri terdiam disamping meja, dimana tempatku bersembunyi. Air mataku terus mengalir, sebisa mungkin aku berusaha tak terisak. Aku terus menatap sepatu pantopelnya yang terlihat mengkilap meski ruangan ini begitu redup. Sekali lagi ia menggeramg frustasi dan menjambak rambutnya kasar, aku masih bisa melihatnya meski samar, lalu pria itu mulai berjalan menjauh.


Masih dalam posisi itu, aku terus berusaha meredam tangisku. Setelah merasa langkah kakinya tak terdengar. Aku pun berusaha keluar dari persembunyianku. Mencoba melangkah keluar. Aku harus segera keluar dari sini! Ucapku terus didalam hati.


Tanpa Jiyoung sadari pria yang tengah duduk disofa ruangan tengah tersebut, tersenyum meremehkan. Sebenarnya ia tau jika gadisnya itu bersembunyi didapur saat mendengar isakan pelan darinya. Seperti berusaha mempermainkan Jiyoung pria itu sedikit memberi waktu agar Jiyoung sendiri yang keluar dari persembunyian tanpa harus dia yang menyeretnya untuk keluar.


••🌷🌷••


Aku masih merasakan kakiku bergetar. Tidak. Sepertinya seluruh saraf ditubuhku menegang karena mengetahui hal ini. Dengan berani aku terus menggapai gagang pintu utama rumah ini, hampir saja aku keluar dari sini jika saja tangan yang begitu kekar tak menahan pergerakannya. Tangan itu tengah memeluk pinggangnya dengan begitu posesif.


"Aku sedih jika kau berniat meninggalkanku, Jiyoung." Tubuhku menegang, entah sejak kapan pria itu telah menyusul dan memeluknya dengan begitu posesif. Tangisku tak terbendung lagi. Aku menangis dengan keras dan ketakutan disaat bersamaan.


"Kumohon, biarkan aku pergi." Aku mencoba melepaskan pelukannya, tapi pria itu seakan tak berniat untuk melepaskan dan malah memperat pelukannya. Nafasnya yang begitu hangat terasa diceruk leherku. Aku semakin menangis keras saat mendengar ucapannya.


"Tidak sayang, mulai hari ini kau akan disini selamanya bersama denganku."


"Tidak, kumohon. Aku tidak mau tinggal disini. Maafkan aku jika aku punya salah kepadamu. Ijinkan aku untuk keluar dari sini, aku ingin pulang." Pria itu terkekeh saat mendengar ucapanku.


"Kau sungguh lucu, bagaimana bisa kau berkata seperti itu, padahal kau tak punya salah kepadaku?"


"Lalu, kenapa kau menculikku?"


"Hmm, kau sebut aku penculik? Kurasa tidak sayang karena tempatmu seharusnya disini, bersamaku selamanya."


"Ka-kau sudah gila." Aku mengucapkannya dengan terbata. Tanpa diduga pria itu membalik tubuhku, memegang daguku dengan cepat agar mau menatap matanya yang terlihat menyeramkan. Aku sungguh takut.


"Jangan mengatakan itu sayang, aku tak suka." Ia tersenyum dan kembali memeluk tubuhku. Seakan-akan aku telah menyinggung perasaannya. Bukankah benar jika pria itu gila? Buktinya, aku bahkan tak mengenalnya tapi pria itu sudah melakukan hal gila terhadapku.


"Ayo, kembali kekamarmu." Ujarnya dengan nada yang terdengar lembut. Aku menggeleng dan berusaha melepaskan tanganku saat ia hendak menggenggamnya.


"Ti-tidak, kumohon." Kataku lagi. Aku sungguh ingin pulang. Ia mengusap wajahnya gusar saat mendengar kalimat penolakan dariku.


"Jangan menguji kesabaranku sayang." Ujarnya berusaha tersenyum kepadaku tapi percayalah jika senyuman yang ia berikan begitu menakutkan.


"Ti-tidak hikss..." Tanpa sadar aku menangis lagi. Didalam otakku saat ini hanya ingin pergi dari pria menakutkan dihadapanku saat ini.


"Sudah cukup! Aku tak peduli kau mau apa tidak! Cepat ikut aku!" Tanpa ragu pria itu meraih tanganku. Aku terus memberontak. Aku tak mau kembali kekamar itu lagi. Aku merasa jika sesuatu yamg buruk akan menimpaku.


"Lepaskan!" Teriakku dan terus berusaha memberontak. Aku memegang tiang tangga, berharap agar ia tak bisa menyeretku lagi tapi aku salah, ia malah melepaskan tanganku dengan mudah lalu menggendongku, lalu dengan cepat ia terus berjalan menaiki tangga dan tidak peduli dengan aku yang terus memukul tubuhnya. Aku meringis, punggungku terasa sakit saat pria itu membaringkan tubuhku ketempat tidur begitu saja.


"Tidurlah lagi, kurasa kau butuh istirahat." Ujarnya lagi. Aku menggeleng. Aku masih keras kepala. Tidak. Aku tak bisa disini, aku harus pulang. Aku takut jika aku disini maka aku tak akan bisa bertemu dengan keluargaku lagi untuk selamanya.


"Tidak, kumohon." Ujarku lagi sambil memelas saat merasa pria itu akan meninggalkanku sendirian dikamar ini. Aku tak mau ditinggalkan sendirian dikamar ini, apalagi memikirkan hari esok dengan keadaanku yang masih berada disini.


"To-tolong tuan, ijinkan aku untuk pulang."


"Tidak! Tidak akan pernah!" Teriaknya marah. Aku terkejut saat ia tak mendengar kata-kataku, ia berbalik kearahku. Aku memundurkan badanku sampai tanpa sadar aku sudah menyentuh ujung tiang kasur.


"Menikahlah denganku." Aku terkejut, perkataannya sungguh diluar nalar. Bagaimana bisa pria asing itu melamarku dengan cara seperti ini? Ia sungguh gila! Aku menggeleng, aku tak mau menikah dengannya.


"Ak-aku tak mau menikah denganmu." Ia meremas pergelangan tanganku dengan keras, aku meringis.


"Kenapa?" Tanyanya tak suka.


"Aku akan menikah dengan kekasihku. Aku sungguh mencintainya. Jadi, kumohon lepaskan aku." Pintaku lagi. Dengan cepat ia menyambar bibirku, melumatnya. Aku berusaha melepaskan ciumannya yang tak terduga. Pria ini sangat berbahaya. Bagaimana bisa ia melakukan hal ini kepadaku? Cukup lama ia mencium dan melumat bibirku. Aku terus memukul badannya agar pria itu melepaskan ciumannya.


"Berhentilah menolakku atau kau akan menyesal dengan ucapanmu." Ancamnya saat sudah melepas tautan bibirnya. Brengsek! Maki ku dalam hati. Aku mendorongnya menjauh, berusaha turun dari ranjang. Aku berusaha lari dari kamar tapi dengan cepat pria itu menyusulku kembali. Aku mendapat tamparan keras darinya. Sudut bibirku terasa sakit, kurasa bibirku sobek.


"Kau gila!" Teriakku frustasi menghadapi pria gila yang ada dihadapanku saat ini.


"Kau sungguh membuatku kesal." Ia geram. Aku membulatkan mataku saat tangan kekarnya mulai membuka kancing kemeja yang ia kenakan lalu membuangnya asal. Sehingga menampakkan tubuh atletisnya. Tunggu! Apa yang ingin ia lakukan? Alarm bahaya mulai terasa pada tubuhku. Aku merasa jika aku harus berlari keluar dari sini.


"Ti-tidak jangan lakukan ini kepadaku." Ia tersenyum kecil saat melihatku mulai tak berdaya.


"Minho oppa..." Aku berjalan mundur saat ia mulai mendekat, kakiku bergetar. Rasanya kakiku lemas untuk berjalan lagi.


"Jangan sebut nama si berengsek itu dihadapanku!"


"Oppa..." Gumamku tanpa sadar saat ia telah memegang kedua bahuku keras. Aku meringis. Cengkaramannya begitu kuat. Aku merasa sakit dibahuku.


"Berhentilah memanggil si brengsek itu!" Ujarnya kesal. Aku menangis. Aku ingin berlari rasanya tapi pergerakanku sudah ditahan olehnya. Tanpa diduga ia mendorongku kedinding, aku kembali meringis. Ia tersenyum saat melihat diriku begitu lemah.


"Ti-tidak.. Hentikan.." Aku memohon kepadanya saat dengan kurang ajarnya pria itu mulai membuka kancing bajuku. Aku terus menggeleng. Aku ingin memukulnya tapi kedua tanganku dipegang dengan satu tangannya.


"Diamlah." Ujarnya ditelingaku. Aku menangis dan terus memberontak.


Plakkk...


Ia menamparku, pipiku teras panas. Dengan mudahnya ia mulai menciumku dengan ganas lalu membawa tubuhku untuk kembali kekasur. Aku terus memberontak dengan sisa tenaga yang kumiliki.


"Jangan lakukan ini.. Hikss... Oppa.. Minho oppa... Selamatkan aku.." Lirihku tanpa sadar. Tanpa diduga pria itu menjauh dari tubuhku. Nafasnya memburu. Dengan cepat aku menghampirinya. Aku memegang kakinya. Aku tak peduli dengan penampilanku saat ini.


"Kumohon kepadamu. Tinggal beberapa minggu lagi aku akan menikah. Kumohon jangan rusak hidupku." Aku memelas kepadanya, aku berharap ia mau mendengarkanku. Otakku sudah buntu untuk memikirkan cara lain agar terbebas darinya. Ia tertawa keras lalu setelahnya tubuhku terasa ringan. Kembali aku merasakan kasur empuk itu lagi. Aku memejamkan mata. Masih dengan keras kepala aku terus melawan. Dengan tak sabaran akhirnya pria itu merobek bajuku. Aku menangis, aku sudah tak sanggup mencegahnya lagi. Aku terus memejamkan mataku lagi. Aku tak ingin melihat apa yang akan ia lakukan pada tubuhku. Aku merasakan jika tubuh pria tak mengenakan apapun lagi. Tidak. Aku sungguh tak menginginkan hal ini.


Aku meremas kasur, tubuhku terasa terbelah. Sakit. Rasanya sakit sekali dan akhirnya akupun sadar, jika hidupku telah rusak saat pria itu telah memasukkan miliknya. Menghentakkannya dengan kasar dan cepat. Aku mengerang dan merasa sakit disekujur tubuhku. Aku menangis pilu. Ia menggeram nikmat disaat aku merasa hidupku telah hancur saat ini.


"Kau milikku Jiyoung. Yah. Selamanya milikku." Air mataku telah mengering. Ia terus saja memacu dirinya tanpa peduli akan perasaanku saat ini. Aku tak mau mendengar perkataannya. Aku tak ingin mulutku mengerang nista karena ulahnya. Aku sungguh membencinya! Aku tak akan pernah memaafkannya! Kepalaku terasa pening dan akupun memejamkan mataku, berharap jika esok hari aku terbangun dari mimpi buruk ini.


••🌷🌷••


Minho terus berjalan gusar didepan pintu rumah gadisnya. Sudah dari pagi ia mencoba mengetuk pintu rumah Jiyoung tapi gadis itu tak muncul juga. Ini adalah hari minggu, jadi tidak mungkin jika Jiyoung pergi bekerja bukan?


"Astaga, sebenarnya kau kemana?" Tanyanya sambil melihat foto dilayar hp miliknya. Ia terus melihat foto gadisnya itu. Ia sungguh khawatir.


Ting...


Satu pesan ia terima.


*From: Jiyoung-ku


Oppa, maaf. Kurasa kita tak akan bertemu untuk beberapa hari karena ada hal yang harus kukerjakan. Kau jangan khawatir, ok?


Lalu kuharap kau jangan menghubungiku dulu karena aku ingin fokus dengan pekerjaanku. Kumohon, mengertilah.


Dengan cepat Minho membalas pesan itu.


To: Jiyoung-ku


Hei! Lalu kenapa kau menyuruhku kerumahmu? Kukira terjadi hal buruk terhadapmu. Baiklah. Aku mengerti tapi ingat, jangan lupa untuk menghubungiku jika pekerjaanmu sudah selesai*.


Lama ia tak menerima balasan dari gadisnya. Ia menghela nafas. Sebenarnya apa sih yang Jiyoung inginkan? Akhir-akhir ini kenapa sikap Jiyoung berubah?


Disisi lain, pria itu tersenyum saat memandang ponsel yang tengah ia genggam saat ini. Bagus. Sepertinya pria bodoh itu tidak akan mencari gadisnya untuk beberapa hari. Ia menoleh kepada Jiyoung yang kini tengah terlelap. Ia sedikit menaikan selimut untuk gadis itu. Kembali ia mencium keningnya.


Masih dengan perasaan senang ia pun berjalan menuju kekamar mandi sambil memegang ponsel Jiyoung. Ia sedikit bersenandung, dengan sengaja ia membuang ponsel itu ketoilet lalu tanpa ragu mulai menyalakan keran air agar ponsel itu terhisap oleh aliran air tersebut.


TBC