
.
.
.
Guyuran hujan yang begitu deras diluar sana disertai gelegar suara petir terdengar memekakan telinga. Suara gesekan dan angin yang terdengar menambah kesan gelapnya untuk malam ini, memang saat ini sudah mulai memasuki musim hujan. Entah, sampai kapan hujan disana akan berhenti.
Hembusan angin yang kencang bahkan terasa sampai kedalam kamar, mungkin karena jendela dikamar itu tak sempat untuk dikunci. Langit bahkan semakin gelap saja, seolah menunjukkan jika jarum jam masih berada pada pukul tengah malam.
Aku masih saja meringkuk diatas ranjang sejak setengah jam yang lalu, air mataku bahkan hampir mengering. Isakan yang terus keluar dari mulutku bahkan tak mau berhenti. Aku semakin menekuk lututku, meratapi nasibku untuk kedepannya. Aku terus saja menggumamkan nama orangtuaku saat ini. Berharap aku bisa terbebas dari rumah terkutuk ini.
Suara langkah kaki yang terdengar menggema dirumah yang sepi ini begitu terdengar jelas. Aku semakin memundurkan tubuhku, kembali tubuhku menegang karena aku tau siapa yang datang. Aku sungguh tak ingin melihatnya.
"Jiyoung..." Suara itu terdengar, aku semakin ingin menangis tapi kutahan. Tangannya yang terasa kekar mengelus rambut panjangku dengan lembutnya, membuatku semakin muak dengan perilakunya.
"Makanlah ini sangat enak, aku yang membuatnya sendiri." Ujarnya. Mungkin ia merasa sedikit bangga dengan keahlian yang dimilikinya, tapi bagiku hal itu tak berarti sama sekali. Jikapun bukan ia yang memasak akupun tak ingin memakan apapun yang disediakannya. Pria itu semakin memperlakukan diriku dengan begitu lembut, seakan-akan lupa dengan apa yang ia telah perbuat kepadaku. Aku masih saja terdiam dalam posisiku sejak tadi, aku sungguh tak ingin melihatnya.
"Jangan menguji kesabaranku." Ujarnya tertahan dan tanpa diduga dia memegang daguku dengan kasar, membuatku terpaksa harus melihat wajah iblisnya. Pria itu tersenyum tipis lalu tanpa diduga ia kembali memeluk tubuhku. Merengkuhku kedalam dada bidangnya yang terasa hangat, berada dalam dekapannya seperti kembali dalam lingkaran neraka yang telah ia buat untuk diriku. Dia pria asing, aku bahkan tak tau namanya.
Tubuhku lelah, aku ingin sekali memberontak tapi tenagaku hilang entah kemana, mungkin ini karena efek tak makan selama empat hari. Aku memang keras kepala. Aku bahkan tak peduli dengan kesehatanku sendiri karena berpikir aku bisa saja bisa keluar dari sini dengan cara jika ia melihatku pucat kemudian dia akan membawaku kerumah sakit? Atau aku malah mati kelaparan lalu jasadku akan tetap berada dirumah ini.
"Aku sangat mengkhawatirkanmu, kumohon makanlah, hmm?" Tawarnya lagi. Tanpa sadar air mataku mengalir. Ini sangat sakit. Dadaku terasa sakit saat pria itu memperlakukan diriku seperti ini. Apa ia tak merasa bersalah kepadaku sama sekali?! Aku yakin kekhawatirannya saat ini hanya omong kosong!
"Makanlah.." Ujarnya lagi lalu mulai memegang sendok berisi makanan untuk diriku.
"Jika kau tak menerima suapan ini, kupastikan hal buruk akan terjadi lagi kepadamu." Nada ancaman itu seakan membuat tubuhku kembali menegang, aku sangat ingat dengan perkataannya itu. Kalimat yang sangat kubenci dari dirinya. Tidak. Aku tak ingin kembali hancur karenanya.
Dengan terpaksa aku menerima suapannya. Bukan berarti aku menyerah hanya saja setelah kupikir-pikir aku harus mempunyai tenaga lebih untuk keluar dari rumah iblis ini.
"Makanlah yang banyak." Ujarnya terlihat bahagia, demi apapun kumohon siapapun singkirkanlah wajah psikopat ini dari hadapanku!
"Aku ingin makan sendiri." Lirihku tapi kuyakin ia masih mendengar suara pelan dariku. Pria itu mengangguk, kemudian mengelus kepalaku dan tersenyum dengan lebarnya.
"Baiklah." Ujarnya. Sebenarnya aku merasa risih jika ia masih disini. Otakku terus saja memikirkan cara agar keluar dari sini. Aku sedikit mengeryitkan keningku saat pria itu menatap pergelangan tanganku dengan raut penyesalan. Ah. Sepertinya aku tau!
"Ini masih sakit, kumohon bisakah kau mengobati pergelangan tanganku?" Ujarku dengan nada memohon. Kuletakkan sejenak piring yang tadi kupegang di meja tepat di samping kasur.
"Apakah masih sakit?" Tanyanya lagi. Aku mengangguk membenarkan pertanyaannya barusan. Ini memang sakit karena dia pergelangan tanganku menjadi merah dan berbekas seperti ini.
"Tunggulah disini, kurasa aku masih mempunyai obat-obatan dikamarku." Sial! Kukira pria itu akan membelinya diluar kemudian aku bisa terbebas dengan melompat dari jendela kamar ini yang tak terkunci. Aku harus memikirkan hal lain. Come on Jiyoung berpikirlah! Aku terus menunggu dengan cemas kedatangannya kembali, pria itu pasti sudah mempersiapkan semua hal ini.
"Berikan tanganmu, aku akan mengobatinya." Aku sedikit terkejut saat tangannya sudah memegang pergelangan tanganku. Entah kenapa lagi-lagi sentuhan dia membuatku seperti ingin mati sekarang juga. Dia tersenyum, berbicara informal kepadaku dan bersikap seperti ini sungguh membuatku mual dan ingin sekali menamparnya.
"Aww.." Ringisku saat dia memberiku beberapa tetes obat dipergelangan tanganku. Dia terlihat khawatir. Jika sikapnya seperti ini kenapa dia membuatku terluka? Luka ini karenanya. Apa ia tak sadar juga?
"Kau pasti kesakitan." Ingin sekali aku menjawabnya lalu berteriak didepan mukanya jika semua ini adalah salahnya!
"Tidurlah, kupastikan besok lukanya tak terasa sakit lagi karena aku akan selalu disisimu. Mulai malam ini aku akan menjagamu dan kita akan selalu bersama selamanya." Dia mengecup pergelangan tanganku dengan lembut, lalu beralih kepipi, mata serta bibirku. Aku kembali menangis. Pria ini benar-benar membuatku ingin mati. Bagaimana bisa ia berkata seperti itu? Sudah jelas ia melakukan pelecehan terhadapku, menyentuhku berkali-kali dan menculikku. Aku sungguh tak ingin bersamanya.
Ia menepuk bantal disamping tubuhku lalu meletakkan tubuhku untuk segera berbaring, lalu tubuhnya juga ikut tertidur disampingku. Aroma pria itu langsung tercium saat ia kembali memeluk tubuhku. Merengkuhku dengan erat. Seakan takut jika kabur darinya.
"Tidurlah." Suara beratnya kembali terdengar. Seakan ucapan itu harus kuikuti sekarang juga. Tubuhku tetap tegang, sepertinya dia tau jika aku masih terlalu takut didekatnya.
Otakku terus berpikir, ini sudah empat hari bersamanya tapi terasa setahun bagiku. Padahal aku selalu memohon kepadanya untuk melepaskanku tapi lagi-lagi hanya suara kerasnya yang terdengar lalu jika aku terus berkata seperti itu lagi, pria itu akan membuat pilihan hidupku hanya bersamanya. Entah, apa maksud perkataannya. Aku sungguh tak mengerti.
Detak jarum jam terus saja berjalan, terasa sangat lambat dan sunyi bagiku. Ditambah hujan deras disana yang sangat kontras dengan malam saat ini lalu dekapan tangan pria itu yang masih saja melingkar ditubuhku membuatku bertambah tak bisa tidur dan aku memang tak ingin tidur karena jika aku tidur aku akan selalu ingat perbuatannya tempo hari.
"Perutku sakit." Lirihku pelan. Aku merasakan jika mata tajam itu sudah kembali terbuka. Aku tau jika ia belum tidur sama sepertiku. Seakan mendapat sedikit kebebasan aku sedikit bernafas lega saat dekapannya mulai melonggar.
"Benarkah?" Bukannya nada khawatir seperti tadi tapi suaranya terdengar tak yakin dengan perkataanku barusan, seakan jika aku telah berbohong dan memang nyatanya seperti itu. Lagi, aku mencoba membalas ucapannya.
"Benar, sepertinya ini karena aku baru makan hari ini. Akhh!" Aku langsung memegang perutku dengan erat lalu meringis perih. Ia langsung terduduk dikasur dan mengangkat tubuhku kedalam pangkuannya. Wajahnya sungguh terlihat pucat daripada tadi. Bagus! Sepertinya berhasil!
"Oh Jiyoung! Kau tak apa?!" Tanyanya, aku tak menjawab aku terus saja berakting didepannya.
"Kumohon, berikan aku obat."
"Maafkan aku Jiyoung, aku tak punya obat sakit perut."
"Akhh! Ini sakit." Ringisku lagi.
"Shit! Tunggulah sebentar aku akan membelinya diluar." Ia mengumpat saat mengetahui aku masih terlihat kesakitan. Dengan perlahan ia kembali meletakkanku diatas ranjang lalu dengan cepat ia bergegas keluar. Benar. Ia kesempatanku untuk kabur.
Suara deru mesin mobil terdengar, benar dugaanku jika rumah ini benar-benar jauh dari pusat kota. Pantas saja tak ada yang menyahuti saat aku berteriak kencang ke luar jendela. Sial! Tempat ini pasti tersembunyi.
Aku langsung beranjak dari tidurku setelah memastikan jika pria itu sudah benar-benar pergi. Dengan berani aku terus berlari keluar rumah besar ini. Menuju pintu halaman didepan sana tanpa ragu karena aku yakin jika ia tak meletakkan penjaga atau semacamnya didalam rumah yang terlihat kosong ini.
'Bagaimanapun caranya aku harus bisa keluar dari sini!'
TBC