
"Cepat foto aku!" Jiyoung langsung melakukan pose didepan boneka, yang menjadi salah satu ikon dari pusat perbelanjaan boneka yang tengah mereka kunjungi saat ini.
Melihat hal itu, membuat Sehun mengeluarkan ponsel barunya dari saku. Jiyoung yang memberikan ponsel ini kepadanya sebelum mereka memutuskan untuk pindah. Untung saja yang memberikan ponsel ini Jiyoung jika orang lain, ponsel ini akan ia buang jauh-jauh karena modelnya sudah lumayan kuno.
"Bagaimana hasilnya? Apakah bagus?" Jiyoung langsung menghampiri pria itu karena tak sabar dengan hasil jepretan kamera ponsel itu. Ah iya, pasti hasilnya tak terlalu bagus. Mengingat ponsel itu sudah bukan keluaran terbaru dan kameranya masih seadanya.
"Lihatlah, ini karena kau cantik makanya kamera ponsel usang ini tetap berguna." Sehun menunjukkan hasil fotonya. Benar, lumayan juga hasil poto itu.
'Cih, dia tak mengatakan terima kasih saat aku mengatakan cantik?' Sehun berdecih saat menyadari ekpresi Jiyoung yang terlihat biasa saja.
"Sehun! Cepat berpose disana! Aku akan mengambil fotomu." Jiyoung merebut ponsel Sehun dan mendorong pria itu kearah boneka besar tadi.
"Ayo, cepat. Berposelah." Jiyoung berkata dengan semangat. Membuat Sehun mau tak mau mendekati boneka itu dan melakukan pose seadanya.
"Sudah. Aku tak mau berfoto lagi, aku ingin memfotomu saja." Sehun berjalan menghampiri Jiyoung dan memasang muka cemberutnya. Bahkan pria itu tiba-tiba memegangi lengan Jiyoung untuk segera pergi dari sana.
"Apa kau tak ingin lihat hasil fotomu?" Sehun menggeleng, lalu terus menerus menyeret lengan Jiyoung untuk menuju kearah toko.
"Duduk disini. Aku akan memilihkan bonekanya. Ingat, hanya aku yang boleh memilih dan membelikannya." Jiyoung terkejut mendengar, perkataan apa itu? Bukankah Sehun yang bilang ingin mengajaknya membeli boneka, tapi kenapa ia tak boleh memilih boneka yang ia sukai? Cih, menyebalkan.
"Ya, terserah kau saja." Jiyoung terduduk disalah bangku sofa yang ada disana, dan terus memperhatikan Sehun yang terus saja berceloteh jika boneka yang ia pilihkan tak boleh terlalu menggemaskan, dan berakhir dengan Jiyoung yang lebih menyukai boneka itu dibanding dirinya. Astaga... pemikiran macam apa itu? tapi meski perkataan Sehun menyebalkan, Jiyoung diam-diam tersenyum tipis dengan tingkah kekanakan Sehun. Pria itu kenapa terlihat menggemaskan?
'Astaga! Apa sedang kupikirkan?!'
Jiyoung menggeleng, dan mengalihkan pandangannya dari Sehun yang saat ini sedang sibuk memilih boneka.
Tepat saat manik Jiyoung beralih, ia tanpa sengaja bertemu pandang dengan seseorang yang ia kenal. Matanya Jiyoung membulat. Ia terkejut dengan kehadiran pria itu. Kenapa ada disini? Bagaimana bisa pria itu tau tempatnya?
'Temuilah aku.'
Ah, ia baru menyadari jika para pengunjung wanita hampir memperhatikan Sehun. Yah. Ia akui Sehun memang tampan, tapi hei! Pria itu sudah beristri!
"Ck. Sial." umpat Jiyoung tanpa sadar dan melihat para wanita itu dengan terang-terangan.
"Jiyoung, dibagian sini tidak ada yang pas. Aku akan mencoba melihat kesana." Sehun menarik tangan Jiyoung kearah lain. Para wanita yang tengah melihat itupun terkejut. Ah, sudah punya pacar ternyata.
Jiyoung yang melihat hal itupun mengeratkan tangannya kearah Sehun.
"Ayo, sayang." Sehun tentu saja terkejut. Jiyoung apa salah makan? Kenapa tiba-tiba memanggilnya sayang?
"Terima kasih karena telah mengantar istrimu tercinta ini untuk membeli boneka. Bukankah sikapmu ini sungguh menggemaskan? Biasanya pria tak suka jika diajak berkeliling mencari boneka untuk pasangannya. Ini artinya kau terlalu menyukaikukan?" Jiyoung memeluk tubuh Sehun. Membuat para wanita tadi semakin terkejut. Jiyoung menyunggingkan senyumnya. Para wanita itu mengalihkan pandangan mereka dan ada juga yang berdecih karena sikap kekanakan Jiyoung.
"Jiyoung, kau membuatku ingin memakanmu sekarang," suara Sehun terdengar berat. Jiyoung melihat mata pria itu, tatapannya berubah dan Sehun kini tengah menatapnya dengan serius. Jiyoung menelan ludahnya dengan susah.
'Mati aku!'
"Sehun!" tegur Jiyoung langsung.
Yeon yang tengah memperhatikan Jiyoung dari jauh, mulai merasa cemas. Waktunya tak banyak. Ia merasa jika ada seseorang yang tengah mengikutinya. Maka dengan cepat ia meninggalkan Jiyoung.
Lalu tanpa Yeon ketahui, Jiyoung yang kini sedang memukul bahu Sehun pelan karena perkataannya tadi, ternyata mengalihkan tatapannya kepada pria itu. Melihatnya dengan raut penasaran.
.
.
.