
.
.
.
Jiyoung menahan nafasnya dalam. Sesaat suara Sehun terdengar dan mempersilahkan dirinya untuk segera masuk.
"Nona, silahkan. Tuan sudah menunggu anda didalam." Ucap salah satu pengawal Sehun dengan begitu sopan. Jiyoung menganggukan kepalanya pelan dan mulai melanjutkan langkahnya lagi.
Selama berusaha masuk kekamar Sehun, Jiyoung terus menahan nafasnya yang terasa berat. Bahkan, kotak obat yang telah ia pegang sejak tadi semakin ia genggam lebih erat.
"Ada yang ingin kau bicarakan?" Suara berat pria itu terdengar. Membuat Jiyoung sempat berpikir untuk memutar langkahnya kembali keluar dari kamar Sehun.
"Ak-aku.." Ujar Jiyoung tersendat. Ah. Sial. Padahal tadi dirinya sudah sangat percaya diri untuk menemui pria itu tapi sekarang kenapa merasa gugup kembali?
"Lukamu!" Teriak Jiyoung panik saat melihat darah dari telapak pria itu semakin deras. Sehun ternyata sedari tadi mencoba untuk mengobati lukanya itu seorang diri.
"Hmm, sepertinya saat menahan kaca tadi membuat telapak tanganku tergores cukup parah." Ujar Sehun dengan ekspresi datarnya. Padahal Jiyoung sangat yakin jika orang normal pasti Sehun sudah berteriak kesakitan. Bagaimana mungkin Sehun tampak biasa saja disaat tangannya mengeluarkan darah begitu banyak? Sehun benar-benar tak normal!
"Bodoh." Ujar Jiyoung lalu segera gadis itu menghampiri Sehun lebih dulu. Sepertinya rasa takut Jiyoung tadi telah lenyap, entah kemana.
"Kau baru saja mengumpat padaku?" Sehun menyeringai sinis, merasa tak suka akan perkataan Jiyoung barusan. Ingin sekali dirinya marah saat ini tapi tatapan khawatir yang Jiyoung berikan berikan kepadanya, membuat amarahnya mereda seketika.
Ia memperhatikan tatapan Jiyoung begitu serius serta wajah khawatir gadisnya. Ah, haruskah seperti ini dulu baru Jiyoung melihat kearahnya?
"Ini salahmu. Aku tak akan meminta maaf." Ujar Jiyoung kesal dan gadis itu masih saja hati-hati mengobati luka Sehun dengan kotak obat yang telah ia bawa sejak tadi. Sehun mengeryitkan alisnya tak mengerti. Kenapa Jiyoung tampak marah kepadanya?
"Kenapa kau tak meminta tolong kepada pelayan?" Ujar Jiyoung yang kini membalut luka Sehun dengan begitu rapih. Lihatlah bahkan disaat Jiyoung membersihkan luka Sehun dengan alkohol pria itu masih biasa saja, seperti tak merasakan sakit. Ia tau jika Sehun itu tak normal tapi bisakah Sehun mengekspresikan rasa sakitnya saat ini. Jiyoung hanya ingin melihat hal itu.
"Aku tak butuh mereka. Yang kubutuhkan hanya kau, Jiyoung." Jiyoung berdecak, seharusnya ia sudah menebak ucapan Sehun. Pria itu sungguh menyebalkan. Ditanya serius tapi jawabannya selalu saja seperti itu. Memang dirinya ini obat?
"Sudahlah. Sekarang sebaiknya kau meminum obat ini." Jiyoung mengeluarkan sebutir obat pereda sakit dari kotak obat tersebut. Sehun menatapnya tak suka.
"Apa kau menganggapku sakit?" Tanya pria itu kesal. Ia menatap Jiyoung dengan marah.
"Kau memang sakit, lihatlah. Tanganmu berdarah. Minumlah obat ini supaya dirimu cepat sembuh." Sehun memalingkan wajahnya. Saat Jiyoung sudah siap memberikan sebutir obat kemulutnya.
"Aku ini tak sakit. Kenapa semua orang memperlakukanku seperti orang yang sakit?" Ujar Sehun bermonolog. Membuat Jiyoung mengeryitkan alisnya tak mengerti.
"Aku tak sakit. Aku hanya merasa kesepian." Sehun melanjutkan kalimatnya. Kini wajah pria itu terlihat sedih. Sehun menenggelamkan kepala dilututnya. Membuat Jiyoung tak bisa berkata. Apa ia salah ucap tadi? Sungguh. Ia tak bermaksud memperlakukan Sehun sebagai seorang pasien. Ia hanya mengkhawatirkannya tadi.
"Maaf, aku tak bermaksud seperti itu tadi." Jiyoung sendiri bingung harus berbicara apalagi sekarang. Perubahan Sehun memang selalu sulit untuk dimengerti. Tapi mendengar Sehun berkata jika merasa kesepian membuat hati Jiyoung tersayat. Ia seperti merasakan kesedihan Sehun saat ini.
Tanpa sadar Jiyoung memeluk tubuh pria itu, lalu mengusapnya dengan lembut. Memberikan semangat kepada Sehun.
"Kau tidak sendiri Sehun, ada aku disini." Jiyoung sendiri tak mengerti kenapa juga ia harus berkata seperti itu. Tapi ia rasa ucapannya tadi tak salah. Ia hanya ingin membuat mood Sehun kembali seperti semula. Sebenarnya banyak yang ingin ia ketahui tentang diri Sehun. Kenapa pria itu melakukan semua ini kepadanya?
"Maka, jangan tinggalkan aku." Sehun tiba-tiba memeluk tubuh Jiyoung. Membuat tubuh gadis itu sedikit tersentak. Sikap Sehun yang seperti ini, seolah membuat hatinya luluh dan melupakan segala hal tentang rasa bencinya terhadap Sehun. Saat ini yang ia lihat mungkin, sikap lain dari Sehun yang tak pernah ia pikir sebelumnya.
Sehun melepaskan pelukannya dan menatap wajah gadis itu dalam. Membuat Jiyoung terpana akan mata coklat yang Sehun miliki. Begitu indah. Seperti terhipnotis, kini Jiyoung terus menatap Sehun. Membuat Sehun tersenyum.
"Aku mempunyai sesuatu untukmu." Sehun merogoh saku celananya. Seperti mengambil sesuatu. Lalu Jiyoung melihat pria itu kini memegang kotak hitam kecil. Matanya terpana dengan isi kotak cincin tersebut. Cantiknya. Berlian biru itu.
"Ini untuk tanda pertunangan kita, nanti setelah menikah aku akan memberikan yang lebih cantik dari ini." Sehun meraih tangan kanan Jiyoung, sedikit mengecupnya dengan lembut lalu menyematkannya dengan perasaan senang. Jiyoung terpaku ditempat. Astaga. Untung saja, ia sempat melepas cincin yang diberikan Minho dan menaruhnya dilaci kamarnya. Jika tidak, mungkin saat ini bukannya senyuman Sehun yang ia terima tapi bentakan dan perilaku kasar Sehun kepadanya.
"Bagaimana? Apakah cantik?" Ujar Sehun bertanya kepada Jiyoung-nya. Gadis itu segera merubah ekspresinya dan sebisa mungkin untuk tersenyum.
"Ini sangat cantik, terima kasih." Jiyoung langsung memeluk tubuh Sehun, membuat Sehun terkejut bukan main. Apa ini artinya Jiyoung sudah tak merasa takut kepadanya?
"Sehun." Panggil Jiyoung melembut lalu dengan perlahan gadis itu melepaskan pelukannya. Tanpa ragu Jiyoung mulai menyetuh rambut pria itu dan sedikit merapihkannya.
"Apa sayang?" Sehun yang merasa gemas, kembali memeluk pinggangnya dengan begitu erat. Jiyoung berusaha mati-matian untuk tak berontak saat ini. Kini mereka masih saja duduk dipinggir kasur.
"Mengenai pernikahan kita..." Jiyoung menelan ludahnya saat mengatakan hal itu. Sehun tetap mendengarkan apa yang ingin Jiyoung sampaikan. Kini, dagu pria itu ditaruh dileher gadisnya. Ah, aroma Jiyoung memang sangat ia sukai.
"Ak-aku.. Kurasa..." Sehun memejamkan matanya dan kembali memeluk tubuh Jiyoung dengan begitu erat.
"Jangan bilang kau berniat untuk membatalkannya." Nada pria itu begitu tenang. Tapi percayalah jika perkataan Sehun barusan seperti lonceng kematian untuknya. Ia tau Sehun kini sedang menahan amarahnya.
"Tidak. Aku tak berkata seperti itu." Ujar Jiyoung cepat. Membuat Sehun melonggarkan pelukannya. Jiyoung bisa sedikit bernafas lega.
"Lalu?" Tanyanya lagi. Kini Sehun semakin gemas untuk tak menciumi pipi gadis itu.
"Aku belum siap. Kurasa sebaiknya kita tunda saja pernikahannya." Ujar Jiyoung dengan berani. Ciuman Sehun dipipi gadis itu terhenti begitupun dengan pelukannya. Sehun melebarkan matanya tak suka.
"Apa maksudmu?" Ujarnya menyakinkan sekali lagi akan ucapan Jiyoung barusan.
"Aku ingin kita menikah setelah aku siap. Maksudku setelah aku mencintaimu." Ujar Jiyoung lagi. Sehun menghembuskan nafasnya kasar lalu memegang kedua bahu gadis itu dengan kuat. Jiyoung berusaha tak memberontak saat ini. Ia harus bisa kali ini.
"Menunggumu siap dan mencintaiku?" Sehun sedikit menyungingkan seringainya. Pertanda ia tak menyukai ide Jiyoung saat ini. Ia bukanlah tipe pria yang penyabar asal Jiyoung tau.
"Aku ingin menikah sekali seumur hidupku dan dengan pria yang kucintai." Ujar Jiyoung jujur. Matanya terpenjam tak kuat untuk menatap wajah kesal Sehun lebih lama lagi.
"Apa kau mengajaku bernegosiasi?" Sehun kembali menyeringai.
"Tatap mataku saat sedang bicara!" Bentakan Sehun terdengar dan refleks Jiyoung menatap pria itu yang kini tengah menatapnya tajam. Oh, Tuhan sampai kapan ia terus menghadapi kegilaan Sehun?
"Jadi, kau hanya ingin menikah dengan pria yang kau cintai? Lalu sampai kapan waktu yang kau butuhkan untuk mencintaiku?" Tanya Sehun lagi. Seakan berkata, jika ia mungkin bisa menyanggupi negosiasi yang Jiyoung ajukan.
"Aku belum bisa memastikan sampai kapan." Sehun merasa geram dengan jawaban Jiyoung.
"Dengar! Tak perlu kau mengajakku bernegosiasi seperti ini. Aku yakin alasan dibalik permintaanmu tadi hanya untuk mengulur waktu agar bisa melarikan diri dariku dan kembali bersama si pria brengsek itukan?!" Ujar Sehun merasa marah. Mata gadis itu memerah, ia menahan rasa kesalnya saat ini. Brengsek? Sehun mengatai Minho brengsek? Hah. Lihatlah siapa disini yang brengsek?
"Aku hanya meminta hal itu darimu, apa begitu sulit? Seperti yang selalu kau bilang, jika aku ini adalah milikmu. Benar. Kau sudah menjadikan diriku milikmu Sehun. Lihatlah aku sekarang. Bagaimana bisa aku berpikir akan kembali kepada Minho jika diriku sudah disentuh olehmu? Aku yakin tak akan ada pria manapun yang menginginkanku lagi." Jiyoung menutupi wajahnya yang kini berlinang air mata. Ia menangis keras. Ia merasa terhina saat mengatakan jika Sehun sudah menyentuhnya dan ia membenarkan ucapannya tadi. Lagipula pria mana yang mau dengannya disaat dirinya sudah begitu kotor?
"Hiksss..." Jiyoung menangis kembali. Membuat Sehun membuang nafasnya kasar lalu mengelus rambut Jiyoung dengan lembut dan sesekali mengecupnya dengan penuh kasih sayang.
"Yah. Kau memang sudah menjadi miliku, Jiyoung. Kau hanya milikku seorang. Tak ada yang boleh menyentuh dan memilikimu selain aku." Bukan jawaban itu yang ingin Jiyoung dengar. Setidaknya, katakanlah maaf kepadanya ataupun perasaan menyesal kepadanya. Mungkin hal itu bisa membuat dirinya merasa lebih baik.
"Kumohon, Sehun." Ucap Jiyoung begitu lirih. Sehun yang mendengar hal itu memejamkan matanya kuat. Ia juga tak sanggup melihat Jiyoung menangis seperti ini.
"Baiklah, kau benar. Aku sudah memilikimu. Seharusnya aku tak merasa khawatir lagi. Tapi untuk mengulur waktu pernikahan. Kuberi kau waktu tiga bulan untuk mencoba mencintai dan menerimaku." Jiyoung membulatkan matanya. Tak menyangka jika Sehun memanglah tetap brengsek. Meski ia mengiris nadinya ataupun diambang kematian tetap saja pria itu akan selalu mendapatkan apa yang dia inginkan tanpa peduli dengan perasaan orang lain. Terlebih dengan perasaannya.
"Tapi ak-" Ujar Jiyoung mencoba protes.
"Aku tak terima protes darimu. Dengar. Aku sudah baik hati memberikan kelonggaran waktu untukmu untuk mempersiapkan diri. Jika kau berusaha keras menentang ucapanku lagi, kupastikan hari ini aku akan langsung menikahimu. Kau tau bukan, jika aku tak pernah main-main?" Ujar Sehun terdengar kejam. Membuat Jiyoung membungkam mulutnya rapat-rapat. Lagi-lagi ia kalah dari pria itu. Tapi setidaknya ia masih memiliki cara untuk kabur sampai batas waktu yang Sehun berikan. Yah. Ia hanya perlu berpikir selama waktu itu.
"Aku lelah. Malam ini temani aku tidur." Sehun membawa Jiyoung untuk tertidur. Tangan gadis itu menahan lengan Sehun yang ingin memeluknya.
"Sttt... Diamlah. Aku hanya ingin memelukmu malam ini." Ujar pria itu lagi dan tanpa persetujuan Jiyoung, Sehun kembali memeluk tubuh Jiyoung dengan erat seakan sangat takut jika Jiyoung akan pergi.
Gadis itu terdiam. Percuma jika ia memberontak sekarang. Yang ada nanti masalahnya akan semakin bertambah. Dengan perasaan yang tak tenang Jiyoung pun mulai mencoba tidur. Sehun yang sedari tadi pura-pura tidur terus memperhatikan kegugupan Jiyoung dari dekat. Pria itu tersenyum kecil saat menyadari akhirnya Jiyoung tertidur lelap saat beberapa jam lalu sulit untuk memejamkan matanya.
TBC