
.
.
.
Langit senja sudah menampakkan kehadirannya, menandakan jika saat ini ia harus pulang. Sungguh hari ini sangat melelahkan baginya karena banyak tugas yang harus ia selesaikan lebih cepat. Sebenarnya bisa saja pekerjaan itu dilanjutkan esok hari tapi ia harus menyelesaikannya segera untuk mendapatkan cuti lebih awal karena tinggal beberapa minggu lagi ia akan melangsungkan pernikahan.
Membayangkannya saja sudah membuat gadis bernama Park Jiyoung tersenyum seharian. Setelah menjalin hubungan selama empat tahun dengan sang kekasih akhirnya mereka bisa melanjutkan kejenjang yang lebih serius lagi dalam hubungan mereka.
Setelah beranjak dari kursi, tepat sekali orang yang ia pikirkan sejak tadi menghubunginya. Telpon itu dari tunangannya. Dia Kang Minho. Pria yang sangat Jiyoung cintai. Pria itu mengatakan akan segera menjemputnya di kantor tapi mendadak tidak bisa karena masih harus mengurus pekerjaan kantornya. Yah. Ia memakluminya. Pasti Minho lebih berusaha keras agar menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu agar bisa mendapatkan waktu cuti yang panjang. Maklum saja karena pria itu adalah CEO dibidang properti.
Sebenarnya Jiyoung merasa kecewa tapi mau bagaimana lagi jika Minho sibuk juga karena dirinya? Yang ia lakukan hanya bisa mengerti akan hal itu. Yah. Biarlah untuk kali ini ia pulang sendiri.
"Hyemi aku pulang duluan ya." Pamit Jiyoung saat melihat teman satu kantornya masih saja berkutat dalam tumpukkan dokumen yang seakan tak ada habisnya itu. Hyemi menoleh dan hanya bisa tersenyum menanggapi sapaan Jiyoung.
••🌷🌷••
"Yah, sebenarnya aku sedikit kecewa saat oppa membatalkan janjinya untuk menjemputku." Monolog Jiyoung saat berjalan menuju Halte bus yang lumayan jauh dari tempat kerjanya, perlu berjalan sekitar tujuh menit untuk sampai sana.
"Tidak. Tidak. Pasti besok oppa akan menjemputku dan kita akan makan malam bersama diluar." Jiyoung memberi semangat untuk dirinya saat menyadari jika sudah beberapa kali Minho membatalkan janjinya seperti ini yang membuatnya seakan kecewa meski hanya sebentar. Jiyoung tau pasti Minho akan mengunjunginya nanti malam, untuk meminta maaf kepadanya secara langsung, memberikannya sebuket bunga dan kecupan manis dikening juga senyum tampan yang selalu ia berikan kepadanya. Ah. Sungguh menggemaskan bukan tingkah laku pria itu? Jika begini mana bisa Jiyoung marah? Yang ada cintanya kepada pria itu semakin besar.
Jiyoung sedikit memijit kakinya yang terasa pegal. Ini semua karena ia lupa membawa sandal, high heels yang ia kenakan saat ini sungguh membuatnya merasa lelah. Jiyoung menatap kearah langit yang semakin gelap gulita padahal masih senja. Ia berharap jika tak turun hujan dulu sebelum ia sampai rumah karena hari ini ia benar-benar lupa untuk membawa payung yang selalu ia simpan dikantornya. Baru saja ia berharap tak turun hujan tapi yang terjadi hujan mulai turun dengan derasnya.
Ada apa dengan hari ini? Kenapa hari ini seakan membuatnya bertambah kesal? Jiyoung menatap kearah jalan raya. Sekarang ini hanya dirinya yang berada dihalte bus sambil menunggu bus datang. Untung saja ia sudah berteduh jadi bajunya masih tetap kering. Entah sudah berapa lama ia menunggu bus berwarna merah yang akan mengantarkannya untuk pulang tapi bus itu bahkan sampai sekarang belum datang. Hal ini membuat Jiyoung menguap dan mulai menyenderkan kepalanya disisi papan iklan yang berada tepat disampingnya. Rasanya ia sedikit mengantuk. Lama kelamaan matanya mulai terpejam dan membawa dirinya menuju kealam mimpi.
Tanpa gadis itu sadari, sebenarnya sejak tadi ia berdua dengan seseorang. Pria yang terlihat menggenaskan dengan balutan kaos tipis, rambut yang terlihat tak terurus juga mengenakan sandal rumah yang terlihat lusuh. Sungguh penampilan pria itu membuat siapa saja merasa ragu untuk menolongnya atau tidak karena disaat yang bersamaan seakan tatapan pria itu memancarkan aura kegelapan bagi siapa saja yang mencoba untuk mendekat.
Bunyi deru mesin mobil membuat Jiyoung langsung terbangun dari mimpi indahnya. Wajahnya sedikit memerah saat mengetahui jika tadi hanyalah mimpi. Bisa-bisanya ia bermimpi mencium dan memeluk Minho saat menampilkan tubuh atletisnya sehabis mandi. Ah. Memalukan sekali. Ia memukul kepalanya untuk segera mengeyahkan pikiran mesumnya terhadap pria itu. Jika Minho tau akan hal ini pasti pria itu akan terus menggodanya seharian dan itu sungguh menjengkelkan.
"Ah! Kau sangat memalukan Jiyoung!" Gumam gadis itu dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya berharap jika wajahnya yang memerah saat ini bisa segera hilang. Saat ekor matanya menangkap sosok lain di halte bus ini, membuat dirinya terlonjak kaget. Sejak kapan pria itu disana? Memalukan! Pasti pria itu terus memperhatikan dirinya yang bodoh ini sejak tadi.
"Anggap saja kau tak melihatku hari ini." Ucapnya kepada pria itu dengan masih setia dengan posisi kepalanya tertunduk. Jiyoung yang merasa tak digubris mulai menolehkan kepalanya kesamping. Pria itu sungguh tak menatapnya sama sekali? Apa dia hanya menganggapnya sebagai patung? Baguslah. Sepertinya pria itu sudah mendengar ucapannya barusan.
Jiyoung terus memainkan jarinya. Ia merasa resah karena bus kali benar-benar lama. Sampai kapan ia akan terus menunggu bus itu datang? Ayolah. Ia ingin segera merebahkan tubuh lelahnya dalam kehangatan kasur empuk dan meminum secangkir teh melati hangat kesukaannya dirumah.
"Akhirnya, busku datang." Jiyoung bernafas lega saat melihat mobil besar itu sudah mulai mendekat kearah dirinya saat ini.
"Tuan, sebaiknya kau segera bersiap karena bus nya akan segera sampai." Ujar Jiyoung memberi tau, tapi sepertinya lagi-lagi pria itu terus mengacuhkannya. Tak mau ambil pusing akhirnya Jiyoung berusaha tak memperdulikannya, tapi kenapa matanya terus saja melihat kearah pria asing itu? Lihat saja. Bagaimana mungkin dia hanya mengenakan kaos tipis ditengah musim hujan saat ini? Apa pria itu tak bisa mengenakan jaket atau pun mantel untuk menghangatkan dirinya?
"Kau tak ingin naik bus ini? Sebaiknya kau ikut naik karena sepertinya ini adalah bus terakhir. Cuaca hari ini sungguh buruk. Kuharap kau tak berlama-lama dihalte ini." Ujar Jiyoung mencoba menjelaskan keadaan cuaca saat ini yang mungkin saja bertambah buruk. Karena hujan yang sudah deras semakin deras saja. Seharusnya ia tak perlu mengkhawatirkan orang lain disaat dirinya juga merasa kesusahan tapi entah kenapa melihat keadaan pria itu sungguh membuatnya merasa kasihan.
"Astaga tuan, apa kau mengikuti ucapanku saat kesal tadi? Baiklah. Terima kasih telah mendengarku tapi sebaiknya saat ini kau segera pulang dan gantilah pakaian tipismu itu." Saran Jiyoung lagi. Ia mulai kesal dengan dia karena tak menggubris ucapannya sejak tadi. Ayolah apa pria itu bisu?
Jiyoung yang sudah mulai kesalpun, segera membuka jaket yang ia kenakan dan dengan cepat menyampirkan jaketnya ketubuh pria asing itu tanpa ragu. Jiyoung pikir ia akan diprotes dengan tindakannya tapi nyatanya pria itu malah menatapnya dengan raut kebingungan.
'Ada apa ini? Kenapa ia melihatku seperti itu? Ia sungguh membuatku gugup.'
Jiyoung memegang dadanya yang tiba-tiba berdetak tak karuan. Rasanya ia merasa ada yang menganjal dengan perasaannya saat ini. Dadanya terus berdebar. Ada apa dengan kinerja jantungnya? Kenapa ia merasa takut saat melihat bola mata kelam itu?
"Pakailah dan pulanglah kerumah." Ujarnya lagi untuk yang terakhir kali dan bergegas untuk segera menaiki bus itu tapi tangan yang terasa dingin menghentikan langkah kakinya, membuat Jiyoung harus menolehkan kepalanya lagi kehadapan pria itu. Tangan pucat itu terasa sangat dingin.
"Terima kasih. Aku akan mengembalikannya dan aku tak akan pernah melupakan ini." Ujar pria itu sambil menatap Jiyoung tanpa ragu. Entah kenapa Jiyoung jadi merasa gugup. Dengan cepat ia melepaskan genggaman pria itu di lengannya lalu memberikan senyumnya.
"Sama-sama. Kau tak usah mengembalikannya. Anggap saja sebagai hadiah. Oh, maaf aku harus segera pulang." Ujar Jiyoung cepat. Sungguh ia harus segera pulang sekarang dan akhirnya gadis itupun menaiki busnya dan memilih tempat duduk dipaling belakang. Didalam bus Jiyoung berusaha mengalihkan pandangannya kearah lain. Sepertinya ia berharap mata kelam itu sudah tak menatap kearahnya lagi. Ia bersyukur saat Minho menelponnya disaat seperti ini. Karena ia bisa mengalihkan kegugupannya terhadap pria asing itu.
Mata kelam itu terus saja menatap kepergian bus yang telah berlalu. Tidak. Lebih tepatnya terhadap sang gadis yang telah memberikan jaket untuknya dengan suka rela. Ia semakin mengeratkan jaket yang tersampir dibahunya lalu menghirup aroma yang sangat menenangkan untuknya. Ah. Ini aroma gadis itu. Ia sungguh menyukainya. Matanya terus terpejam sambil membayangkan wajah gadis itu.
"Jiyoung, kupastikan kita bertemu lagi."
TBC