
.
.
.
Jiyoung mengusap jendela didalam kamarnya. Ia berusaha menyingkirkan embun yang menghalangi pemandangan diluar jendela. Ah, sudah musim dingin ya?
Dapat dihitung sudah dua bulan ia berada dirumah orang itu. Waktu yang berjalan seakan sangat lama baginya.
Selama itupula, Jiyoung berusaha mengatasi masalah kejiwaan yang dialami oleh Sehun. Meski, ia tak pernah diijinkan untuk keluar dari rumah ini tapi Jiyoung selalu punya cara untuk mendalami bagaimana menangani masalah gangguan kejiwaan yang dialami seseorang.
Jika disini membahas tentang kejiwaan, sebenarnya dirinya sendirilah yang perlu ditangani. Untungnya ia sudah dibantu oleh kenalan dokter kakaknya saat itu, Jadi dirinya yang sekarang tak terlalu merasa tertekan seperti dulu, bisa dibilang ia masih bisa berpikir jernih untuk berencana tidak membunuh dirinya seperti saat itu. Tidak seperti Sehun.
Sehun sangat berbeda dengannya. Pria itu memiliki kejiwaan yang cukup parah. Jiyoung bisa menyimpulkannya karena pria itu bisa sangat kejam dan lembut disaat bersamaan. Membuatnya harus selalu bersikap waspada terhadap pria bermaga Oh tersebut.
Ia sadar jika Sehun sendirian. Pria itu tak mempunyai orangtua. Lalu Nara yang seharusnya ada untuk Sehun sangat jarang ada dirumah. Kakaknya itu terlalu sibuk dengan bisnis keluarga yang mereka miliki. Sehun sendiri yang menceritakan hal itu kepadanya. Lalu pria itu juga menceritakan berbagai hal yang sebenarnya Jiyoung coba untuk ketahui. Yah. Untuk membantu menyembuhkan Sehun, ia butuh penyebab atas masalah kejiwaan Sehun bukan? Meski ia bukan Psikiater tapi ia harus tau akar dari masalah emosional yang dimiliki Sehun. Jiyoung masih mengingat dengan jelas apa yang Sehun ceritakan kepadanya selama berada disini.
"*Ada dua musim yang sangat berarti dalam hidupku."
"Aku sangat menyukai musim dingin. Karena aku bisa melihat salju yang putih bersih, dia sepertinya masih mau menyambut kedatanganku dan saat aku memegang butirannya ditanganku terasa dingin dan indah disaat bersaman, aku sangat menyukai."
"Dan aku sangat membenci musim hujan karena mengingatkanku saat aku berusia lima tahun yang terus menunggu kedua orangtuaku membawakan gulali dihalte bus. Aku merasa senang saat mereka melambaikan tangan kearahku dengan senyum mengembang. Tapi semuanya terasa bagai mimpi saat disana, Dijalanan aspal itu. Aku menyaksikan kedua orangtuaku tertabrak oleh pengemudi yang mabuk."
"Bunyi nyaring dan suara tabrakan itu masih sangat teringat jelas dipikiranku."
"Aku membenci diriku."
"Aku terus menyalahkan diriku."
"Waktu terus berlalu, hingga aku dan nuna beranjak dewasa."
"Nuna melanjutkan bisnis keluarga dan sangat jarang pulang kerumah. Hal itu yang membuat aku semakin merasa kesepian. Rasanya sepi dan sangat menakutkan."
"Aku takut nuna tak pernah kembali ke Korea karena pekerjaannya. Aku yang merasa marah dan kesal kepadanya tak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa terus menunggunya kembali."
"Bahkan untuk mengusir rasa kesepianku, saat aku sangat merindukan eomma dan appa. Aku pasti selalu pergi ke halte itu lagi. Menunggu mereka, dan selalu berharap mereka memberikan gulali itu kepadaku dengan pelukan hangat."
"Karena terus berharap hal itu menjadi kenyataan, aku terus menunggu mereka disana dan tak peduli dengan musim yang terus berganti."
"Bahkan saat musim hujan. Musim yang sangat kubenci pun, aku tetap menunggu kedatangan mereka."
"Jiyoung, kau tau? Kurasa aku tak membenci hujan lagi. Karena kau datang disaat aku merasakan kehangatan dari hatimu, aku merasa kau orang yang akan menggantikan mereka untuk selalu berada disisiku. Menghilangkan rasa kesepianku selama ini. Jadi, bisakah kau tak pernah pergi lagi dariku*?"
Setelah merasa cukup melihat pemandangan diluar sana, Jiyoung membalik tubuhnya untuk turun kebawah. Menghampiri seseorang yang selalu menunggunya untuk sarapan sebelum pergi bekerja.
"Kau baru bangun?" Tanya seorang pria dengan stelan jas biru mahalnya yang terlihat sangat rapih dan tampan. Jiyoung mengangguk lalu meraih gelas dan hendak meraih air putih untuk dituangkan kedalam gelasnya, tapi pria itu langsung merebut dan menuangkan air itu untuknya.
"Terima kasih." Ujar Jiyoung lalu meraih gelas tersebut dan meminumnya dengan sekali tegukan. Sejak mengetahui sisi cerita dari seorang Oh Sehun ia merasa tak bisa sepenuhnya membenci pemuda itu. Ia rasa yang menyebabkan sisi gelap Sehun karena masa lalu pria itu.
"Aku rasa akan pulang larut lagi. Maaf, seharusnya aku tak meninggalkanmu seperti ini." Sehun mengelap sisi mulutnya dengan tisu dan menjelaskan hal tersebut kepada Jiyoung dengan raut wajah bersalah. Membuat Jiyoung yang hendak mengambil sepotong roti berhenti sejenak.
"Tidak apa-apa, Sehun." Balasnya yang terdengar tenang. Sehun menghembuskan nafasnya berat. Bukan itu jawaban yang ingin ia dengar. Ia ingin sekali Jiyoung merajuk kepadanya. Tapi selama Jiyoung berada disisinya, gadis itu tak pernah menahan, merengek atau meminta apapun kepadanya. Sangat menyebalkan baginya.
"Baiklah. Aku akan pergi sekarang." Sehun beranjak dari duduknya dan menghampiri Jiyoung yang tengah menyantap roti isi telur itu dengan lahap, membuatnya tersenyum saat melihat cara makan Jiyoung yang terbilang rakus?
Cup...
Sehun mengecup pipi Jiyoung , disaat gadis itu tengah memakan makanannya. Membuat Jiyoung melotot kearahnya dan pria itu terkekeh dibuatnya.
"Aku mencintaimu." Lalu Sehun mengusap rambut Jiyoung dengan lembut membuat gadis itu terlena beberapa saat. Lalu setelahnya menggelengkan kepalanya untuk menyadarkan tingkat kewarasannya. Ia tak boleh terbuai oleh Sehun. Ia harus segera membantu Sehun sembuh sesegara mungkin atau hal buruk akan terjadi. Itu yang Jiyoung pikirkan selama ini.
••🌷🌷••
*Sehun tidak akan pulang cepat. Ia tau jika Sehun akan pulang sangat larut bahkan bisa pulang keesokan harinya karena setiap pertengahan dan akhir bulan Sehun harus menyelesaikan pekerjaan dengan melakukan meeting bulanan dengan kolega yang Jiyoung yakin pasti menghasilkan pundi-pundi uang yang Jiyoung tak bisa bayangkan jumlahnya.
Karena alasan itu juga bisa membuat Jiyoung keluar rumah dengan mudah. Cara untuk menemui ibu serta kakaknya. Selama ini Jiyoung bertahan untuk menahan rindu kepada mereka setiap harinya karena Sehun tak pernah memikirkan Jiyoung, Sehun hanya memikirkan jika Jiyoung hanya miliknya. Tak memperbolehkan dirinya berada didunia diluar. Hidupnya seperti dimonopoli, dan hal itu yang masih saja membuat Jiyoung membenci Sehun.
Tentang cara bagaimana ia bisa keluar adalah saat itu ia tak sengaja menemukan pintu disudut ruangan yang terlihat terbengkalai, seperti tak pernah digunakan lagi.
Saat ia penasaran dengan hal itu, ternyata lubang kunci pintu rusak, dan tanpa rasa takut Jiyoung mencoba membuka pintu itu dengan sangat pelan. Diluar dugaan ternyata itu adalah pintu yang membawanya keluar dari dalam rumah. Dan beruntungnya Jiyoung karena pintu itu tak terdapat penjaga sama sekali. Membuatnya merasa penasaran dan langsung keluar dari sana sebelum penjaga yang ada didalam rumah menemukannya.
Hamparan pohon-pohon disisi rumah itu ternyata membawanya kesebuah jalan kecil dan Jiyoung membulatkan matanya saat jalanan kecil itu membawanya keluar dari rumah seorang Oh Sehun dan ia sangat bersyukur karena itu.
Setelah memastikan Sehun pergi dari rumah. Jiyoung akhirnya memutuskan untuk membawa beberapa buku yang terdapat diperpustakaan Sehun untuk ia bawa dan membacanya diluar*.
Jiyoung yang terlarut dalam membaca buku tentang psikolog itu dikejutkan dengan kehadiran seseorang yang tiba-tiba menyerahkan segelas latte kesukaannya dimeja, "untuk kedatanganmu yang ketiga kalinya di kafe ini." Jiyoung yang duduk disudut kafe memperlihatkan wajahnya untuk pertama kalinya kepada seorang pria yang ada dihadapannya saat ini dan tengah tersenyum manis kepadanya. Pria itu terlihat tampan dan aneh? Tunggu. Apa pria ini seseorang yang Sehun kirim untuk mengawasinya?
Jiyoung segera menundukan wajahnya dan menutupi wajahnya kembali dengan topi hitam yang ia pakai saat ini. Yah. Jiyoung memakai pakaian yang bisa membuat dirinya tak dikenali oleh orang yang mengenalnya. Celana jeans, baju putih ditutupi dengan hoodie berwarna hitam serta topi hitam yang ia kenakan.
"Aku tak membutuhkannya. Dan sebaiknya kau cepatlah pergi dari sini." Ucapan Jiyoung yang terdengar dingin, sontak membuat pria itu mengeryitkan alisnya.
"Kau tak bisa mengusir pemilik kafe begitu saja, nona." Jiyoung membulatkan matanya mendengar penuturan pria itu, ia memukul kepalanya. Bodoh. Benar juga kenapa ia sangat mencurigai orang begitu saja dan berkata tak sopan seperti itu?
Menyadari kesalahannya, lantas membuat Jiyoung mengucapkan kata maaf kepada pria itu.
"Haha. Sikapmu inilah yang membuatku tanpa sadar memperhatikanmu dan menghitung jumlah kedatanganmu ke kafeku." Pria itu tersenyum kembali. Lalu menjulurkan tangannya.
"Woo Minhyun. Kau bisa memanggilku Minhyun." Lama pria itu memperkenalkan dirinya, tapi sepertinya, Jiyoung terlihat tak menunjukkan minat untuk memperkenalkan diri. Membuat pria itu segera menurunkan tangannya.
"Baiklah. Sepertinya kau lebih suka sendiri. Aku akan kembali bekerja. Dan jika kau butuh sesuatu kau bisa menemuiku didepan sana." Tunjuk pria itu mengarahkan tangannya ke meja yang membuat berbagai kopi di kafe ini.
"Sampai jumpa lagi, kuharap kau akan sering kemari." Pria itu melambaikan tangannya dan mengucapkan salam perpisahan kepada Jiyoung. Membuat gadis itu tanpa sadar terus memperhatikan pria aneh yang barusan menyapanya. Yang kini sudah kembali kepada aktifitasnya untuk menyapa para pengunjung dan membuat kopi disana.
••🌷🌷••
Jiyoung melihat jam tangannya yang sudah hampir menunjukkan pukul delapan malam. Ia harus segera pulang. Butuh dua jam perjalanan untuk sampai kerumah Sehun.
"Eomma, aku pamit." Jiyoung memeluk tubuh ibunya dengan perasaan yang tak rela. Yah. Jiyoung menepati janjinya untuk tetap menemui orangtua serta kakaknya.
Lay yang diduduk diruang tengah menghembuskan nafasnya berat. Sangat berat melihat Jiyoung yang akan kembali kerumah si biadab Oh Sehun.
"Bawalah kimchi ini, taruhlah dikulkasmu. Eomma menyiapkannya untukmu." Jiyoung menganggukkan kepalanya. Ia lalu meraih bekal yang dibuatkan untuknya.
"Eomma tak perlu khawatir, aku pasti baik-baik saja dan aku akan terus menjaga kesehatanku. Kuharap eomma juga begitu." Jiyoung kembali memeluk tubuh ibunya kembali lalu mulai melangkah keluar dari sana.
"Minho. Dia sudah menikah. Jadi, kau tak perlu mengkhawatirkannya lagi." Ujar eommanya yang begitu tiba-tiba, membuat Jiyoung menganggukkan kepalanya. Tanda mengerti.
"Syukurlah dia sudah bisa menjalani hidupnya dengan baik dan tak membuang-buang waktunya untuk mencoba menghubungiku lagi eomma." Ibunya mengangguk dan mengusap air mata yang mengalir begitu saja. Oh Tuhan, malang sekali nasib putrinya.
"Aku akan benar-benar pergi, jagalah kesehatanmu eomma."
"Biar kuantar." Ujar Lay yang beranjak dari duduknya.
••🌷🌷••
"Turunkan aku disini oppa." Jiyoung mencoba menghentikan laju mobil kakaknya itu persis dihalte sebuah bus. Ia tak ingin kakaknya itu mengetahui keberadaan rumah Sehun dan menghambat rencananya.
"Kenapa kau seolah terus melindungi pria brengsek itu?" Geram Lay yang kini menepikan mobilnya sesuai dengan permintaan Jiyoung. Gadis itu melepaskan sabuk pengamannya lalu mengambil bungkus kimchi yang sempat ia bawa tadi.
"Aku tak bisa membawanya. Pasti Sehun akan mengetahuinya." Jiyoung menyerahkan bungkusan itu kepada Lay membuat pria itu berdecak.
"Kalau begitu kenapa kau menerimanya?" Ujarnya merasa kesal. Tapi, adiknya itu hanya tersenyum menanggapinya.
"Aku akan membawa sedikit dan memakannya dalam perjalanan pulang." Lay tau yang dimaksud Jiyoung dengan pulang adalah menuju kerumah Sehun.
"Oppa bisa bantu aku untuk ini?" Pinta Jiyoung lagi kepada pria itu. Membuat Lay merampas bungkusan itu dengan kesal.
"Terima kasih." Dan Jiyoung memeluk tubuh Lay sebentar dan perlahan keluar dari mobil kakaknya itu.
"Jagalah eomma untukku oppa." Jiyoung melambaikan tangannya diringi dengan senyum lebarnya. Mau tak mau Lay ikut melambaikan tangannya dan berkata agar Jiyoung bisa menjaga dirinya sendiri dengan baik. Tentu saja adiknya itu mengangguk. Lay pun tersenyum dan tanpa berlama-lama ia mulai melajukan mobilnya menjauh dari sana. Tak ingin berlama-lama karena bisa saja ia ikut menyeret Jiyoung agar pulang kerumah dengannya malam ini.
"Aku akan memakannya dalam perjalanan pulang." Jiyoung menatap satu kotak kecil kimchi yang berada ditangannya. Lalu mulai menaiki bus yang berhenti tepat waktu saat ia menunggu sebentar tadi.
Jiyoung melihat sudut kursi dibelakang sana untuk duduk dan mulai membuka bungkus kimchi yang sudah berada dipangkuannya.
"Wah. Sekarang kau memakan kimchi didalam bus?" Jiyoung tersentak dengan ucapan seseorang disampingnya. Astaga. Ia baru sadar jika ada seseorang disebelahnya.
.
.
.
To be continue