
*Aku sadar, bahkan sangat sadar jika aku selalu saja menangis. Kenapa tak ada hal yang berlangsung bagus bagiku? Kenapa aku selalu saja diberikan cobaan seperti ini? Aku kesal dengan diriku. Aku terus menerus menyalahkan diri sendiri dan seharusnya aku tidak boleh seperti ini, tapi lagi-lagi aku merasa putus asa.
Jika seperti ini, aku jadi sangat merindukan rumah. Disana ada eomma dan Lay oppa. Aku sangat merindukannya, tapi lagi-lagi aku bisa apa? Aku hanya bisa merindukan mereka dalam diam dan tangis yang kucoba kutahan beberapa kali.
Aku merindukan mereka. Sangat ingin bertemu, tapi Sehun selalu saja marah jika aku sedikit mengungkit mereka. Aku kesal dan marah kepadanya.
Aku membutuhkan mereka untuk membantuku melewati cerita hidupku yang sulit ini dan hal ini juga yang membuatku terus menerus berpikiran untuk meninggalkan Sehun, tapi aku sadar jika Sehun adalah seseorang yang lebih membutuhkan kehadiranku*.
"Jiyoung, sebaiknya kau habiskan sarapanmu," lamunanku buyar saat suara bass Sehun terdengar, terselip nada kekhawatiran yang terdengar samar. Apa Sehun tengah mengkhawatirkan keadaanku?
"Jika kau tak suka makanannya, aku akan mencoba membuat yang baru." Sehun berniat berdiri, tapi langsung kucegah. Tidak. Masalahnya bukan tentang masakan Sehun yaitu telor mata sapi dengan roti yang membuatku tak berselera makan, tapi ini karena pikiranku sedikit bercabang.
"Aku akan memakannya. Kau tak perlu membuatnya lagi," aku membuat gerakan Sehun terhenti lalu pria itu kembali duduk, untuk lebih memperhatikan aku lagi.
"Aku akan menghabiskannya. Terima kasih sudah membuatkan sarapan," aku tersenyum sebisaku, dan langsung memakan makananku dengan perlahan.
"Jiyoung, apa kau ingin jalan-jalan?" tiba-tiba pertanyaan Sehun langsung membuatku berhenti menyuapkan makanan dan kembali menatapnya.
"Kau suka boneka kan? Ayo kita beli beberapa," aku tampak terkejut saat Sehun mengatakan hal tersebut. Tunggu, sejak kapan pria itu tau kesukaanku? Ah iya, dia kan pernah jadi stalker.
"Benarkah? Asik!" aku tanpa sadar merasa bahagia saat Sehun berkata seperti itu. Sehun yang melihat itu pun tersenyum dengan lebar. Aku lagi-lagi terpana saat melihat senyum Sehun yang sangat jarang itu.
"Tentu saja, setelah kau menghabiskan sarapan dan mengganti pakaianmu," ujarnya kembali. Aku pun mengangguk beberapa kali, tanda setuju. Membuat Sehun terkekeh dibuatnya.
••🌷🌷••
Lee Jung Suk terlihat ragu untuk segera memasuki rumah Jiyoung saat ini. Yah. Sejak setangah jam yang lalu ia sudah berdiri didepan rumah.
Jiyoung, sebenarnya apa telah terjadi kepadanya? Ia sangat ingin menanyai adiknya itu.
Dengan mengepalkan tangan, ia bertekat untuk memasuki rumah itu. Langkahnya maju perlahan dan tangannya memencet bel rumah tersebut.
Suara bel yang terdengar beberapa kali membuat Sehun serta Jiyoung mengeryit bingung karena selama mereka pindah kemari tidak ada satu pun tetangga yang berniat menghampiri mereka. Ah iya, rumahnya dengan yang lain cukup jauh, jadi biasanya mereka tak terlalu mengenal satu sama lain.
"Biar aku yang buka." Jiyoung keluar dari kamar, sedang Sehun mulai membereskan piring-piring kotor untuk diletakkan di wastafel.
"Ya. Tunggu sebentar." Jiyoung menyahut dari dalam. Gadis itu kini sudah mengganti pakaiannya menjadi lebih hangat, karena mulai memasuki musim dingin Jiyoung memutuskan untuk memakai pakaian musim dinginnya.
"Iya? Anda siap- oppa?!" Jiyoung tentu saja terkejut, ia bahkan hampir berteriak saat ingin memanggil nama Jung Sok. Tunggu. Bagaimana bisa pria itu menemukan keberadaannya?!
"Jong Suk, oppa?" ujarnya ragu, Sehun yang mendengar dari dalam rumah mengeryit bingung. Siapa orang asing yang tengah berkunjung?
"Bagaimana bisa kau tau aku disini?" itulah adalah pertanyaan langsung dari Jiyoung yang ditunjukkan untuk pria itu, membuat Jung Sok menggeleng tak percaya.
"Bisakah aku masuk?" Jiyoung menggigit bibirnya ragu. Oh ayolah, pria itu sepertinya sudah lama menunggu diluar.
"Siapa?" Jiyoung terlonjak kaget saat Sehun berada tepat dibelakang tubuhnya dan tangan pria itu bahkan diletakkan dibahunya. Membuat Jiyoung jadi merasa risih.
"Kau? Sepertinya aku pernah melihatmu." Sehun nampak berpikir saat melihat pria tinggi itu, rasanya wajah pria itu tak asing.
"Mungkin anda lupa, saya adalah dokter pengganti saat nona Jiyoung masuk kerumah sakit saat itu," jelas Jung Sok kemudian. Membuat Sehun langsung mengingatnya.
"Ah, jadi seperti itu. Lalu ada urusan apa kau kemari?" ujar Sehun kembali, dan kini tangan pria itu berpindah untuk memeluk pinggang Jiyoung. Memeluk gadisnya dari belakang dengan rasa posesif.
"Saya kebetulan membuka praktek didaerah sini. Saya sempat mendengar anda dan nona Jiyoung ternyata tinggal di daerah ini juga. Jadi saya bermaksud ingin memberitahukan hal ini, jika kalian sakit saya dengan senang hati akan membantu." Jong Suk mengatakan hal itu dengan wajah bersinar dan tersenyum dengan ramahnya. Membuat Sehun yang menatapnya mendecih. Oh ayolah, ia tak suka siapapun berusaha menunjukkan pesona didepan Jiyoung.
"Karena kami sudah tau, kau boleh pergi sekarang," ujar Sehun terlampau tak perduli.
"Sehun!" Jiyoung sedikit menegur Sehun, tapi lagi-lagi pria itu tak perduli.
Jong Suk tak bisa berbicara dengan Jiyoung jika ada Sehun disini. Ia harus mencari waktu saat Jiyoung sendirian saja.
"Ayo. Kita juga akan segera pergi bukan?" Sehun sedikit menunduk dan tetap memeluk pinggang Jiyoung, wajah pria itu mendekati wajah Jiyoung. Mata Sehun mengarah kearah bibir gadis itu, lalu tanpa berlama-lama tangannya yang satunya melepaskan pelukan dan memegang tengkuk gadis itu kemudian dengan cepat melumat bibir manis Jiyoung dengan panas.
Jong Suk tentu saja terkejut dengan perilaku Sehun, cih. Bisa-bisanya si brengsek itu mencium Jiyoung begitu saja? Apa Sehun tengah cemburu kepadanya makanya pria itu melakukan hal tersebut kepada Jiyoung?
"Baiklah saya permisi," tanpa berlama-lama lagi, Jong Suk pun meninggalkan mereka menuju kearah mobil miliknya.
"Sehun! Apa yang coba kau lakukan?" Jiyoung memarahi Sehun saat pagutan mereka terlepas, pria itu menjilati bibirnya. Manis bibir Jiyoung masih terasa.
"Lihatlah. Kau membuat lipstikku berantakan." Sehun tertawa mendengar nada protes Jiyoung.
"Biar saja. Kau tau? Kau terlihat jauh lebih sexy dan menggoda saat bibirmu membengkak lalu lipstikmu yang berantakan itu membuatku terus berpikiran untuk membuatnya lebih berantakan lagi." Sehun menyeringai saat mengatakan hal itu, refleks Jiyoung memukul bahu pria itu dan berjalan kedalam mobil dengan tergesa.
Sehun yang melihat Jiyoung merasa kesal, malah merasa sangat senang karena melihat Jiyoung menghentakkan kakinya beberapa kali membuat Sehun merasa jika Jiyoung terlihat lucu.
"Tunggu Jiyoung, aku belum mengunci pintu rumah." Sehun mengunci pintu rumahnya dan bergegas menghampiri Jiyoung yang masih saja memasang wajah kesalnya saat sudah berada didalam mobil.
"Lihatlah. Kau membuatku harus membenarkan lipstikku lagi." Sehun, tetaplah Sehun, berapa kali Jiyoung mengatakan untuk berhenti melakukan hal konyol, pria itu pasti tak akan mendengarkannya.
"Salahmu yang selalu begitu menggoda didepan mataku." Jiyoung hanya bisa mencibir dan tak memperdulikan perkataan Sehun selanjutnya. Gadis itu terlalu fokus untuk merapihkan dirinya kembali. Sial. Bibirnya jadi sedikit membengkak karena Sehun!
.
.
.