Dear You

Dear You
Mendapatkannya




.


.


.


Jiyoung masih menopang dagunya, memikirkan kejadian beberapa hari lalu saat dirumah sakit. Jadi, apa semua awal rencana ini ada kaitannya dengan Nara? Dan mungkinkah Sehun juga terlibat akan permainan busuk ini?


Pandangannya kembali menatap Sehun yang masih saja berkutat dengan alat-alat masak didapur, katanya pria itu ingin membuatkannya sesuatu untuk dimakan. Entah, masakan apa yang sedang Sehun buat. Hal itu dilakukan oleh Sehun karena ia merasa senang jika Jiyoung sudah keluar dari rumah sakit dan telah sehat kembali. Memikirkan ucapan Sehun membuat Jiyoung kembali mendengus, memangnya semua ini ulah siapa hingga ia sampai sakit?


Kembali melihat Sehun yang terlihat serius dengan olahan masakannya, membuat Jiyoung tanpa sadar terus memperhatikan setiap gerakan yang coba Sehun lakukan. Ah, melihat hal seperti ini membuatnya mengingat akan kebersamaannya dengan Minho dimasa lalu. Jika dulu ia yang akan menyiapkan makanan dan pria itu hanya tinggal menunggu masakannya selesai tapi hari ini adalah kebalikannya dan pria itu juga bukanlah Kang Minho tapi Oh Sehun. Yah. Sepertinya semua kenangannya sejak saat itu sudah berganti bersama dengan Sehun. Ah, apa kabar Minho oppa sekarang ya?


"Jiyoung, kau melamun?" Gadis itu sedikit terkaget saat suara Sehun begitu dekat dan ternyata pria itu sudah berdiri dihadapannya dengan dua piring nasi goreng?


"Apa aku semenarik itu hingga kau melamun seperti tadi?" Sehun meletakan kedua piring itu diatas meja makan lalu kembali menggenggam kedua tangan Jiyoung, bermaksud menyuruh Jiyoung agar duduk dan segera makan.


"Makanlah. Semoga kau menyukainya." Ujar Sehun yang sepertinya ragu dengan cita rasa yang telah ia buat. Diam-diam Jiyoung memperhatikan hal tersebut dan mulai memakan makanan Sehun dengan sangat perlahan.


"Apa rasanya aneh?" Tanya pria itu yang seakan takut jika masakannya itu akan sangat tak enak dan malah akan meracuni Jiyoung. Melihat reaksi Sehun lagi, membuat gadis itu tiba-tiba ingin menjahili pria itu.


"Ini...aku tak bisa mendeskripsikannya...dan.. rasanya sangat asin.. Oughh.. Aku tak kuat untuk memakannya lagi." Jiyoung menyudahi acara makannya, meletakkan sendoknya begitu saja dan memperlihatkan raut wajah tak berseleranya.


"Benarkah?" Sehun terlihat terkejut akan hal itu dan ia segera memberikan Jiyoung segelas air.


"Terima kasih." Ujar gadis itu.


"Jiyoung, apa makananku seburuk itu?" Kini Sehun menghela nafasnya berat dan terlihat ia merasa menyesal telah membuat masakan yang membuat Jiyoung harus memperlihatkan ekspresi tak sukanya kepada masakannya tadi.


"Hmm.. Tidak buruk sih, tapi yah... Hanya saja aku tak bisa memakannya lebih banyak lagi." Ujar gadis itu kembali. Membuat Sehun kian murung. Diam-diam Jiyoung mencoba menahan tawanya saat melihat Sehun yang seperti ini.


"Ah, kalau begitu sebaiknya aku tak pernah memasak lagi. Aku menyesal sudah membuatkanmu masakan yang sangat buruk. Aku akan membuangnya kalau begitu." Mendengar hal itu membuat Jiyoung terkejut, terlebih sebelum pria itu mencoba masakannya, Sehun terlihat seperti ingin membuang kedua nasi goreng itu. Refleks Jiyoung menahan lengan Sehun.


"Jangan dibuang!" Ujarnya, membuat Sehun menghentikan langkahnya.


"Jangan dibuang dulu, kau bahkan belum mencoba masakanmu. Kenapa kau langsung membuang makanan begitu saja? Terlebih itu adalah buatanmu sendiri." Ujarnya lagi, yang membuat Sehun nampak berpikir.


"Aku sudah mencoba memakannya saat memasak tadi dan rasanya kurasa cukup enak tapi saat kau berkata begitu, sepertinya lidahku sedang bermasalah." Ujar Sehun kemudian, membuat Jiyoung yang tadinya ingin menjahili Sehun merasa gagal. Aissh. Sial. Padahal ia ingin melihat Sehun terkejut dengan ucapannya saja dan mungkin berkata akan mencobanya dilain waktu agar makanannya akan terasa lebih enak dari sebelumnya tapi lagi-lagi pemikirannya salah.


"Masakanmu enak." Ujar Jiyoung pelan. Hal itu membuat Sehun mencoba mendekatkan kupingnya kearah Jiyoung, agar ucapan gadis itu terdengar jelas.


"Apa? Suaramu sangat kecil." Ujar Sehun kemudian.


"Makananmu tak asin, itu sangat enak. Jadi, jangan dibuang." Sehun mengulas senyumnya lalu perlahan membuat pegangan Jiyoung dilengannya terlepas karena ia berbalik dan kembali meletakkan masakannya diatas meja.


"Tentu saja. Memang dari awal aku tak berniat membuangnya." Ujar Sehun dengan santainya, kemudian pria itu mengambil posisi duduknya dan memakan makanannya dengan lahap. Melihat hal tersebut membuat Jiyoung merasa heran.


"Tunggu, tadi itu maksudnya apa?" Jiyoung kembali bertanya dan menatap wajah Sehun yang kini terlihat cerah berbeda dari yang tadi. Seperti sesuatu yang menarik telah ia dapatkan.


"Ck. Kau menyebalkan! Kau membuatku tampak bodoh dan membuatku merasa bersalah akan sikapku tadi." Ujar Jiyoung yang merasa kesal dengan sikap Sehun. Pria itu menyelesaikan makannya lalu berjalan kearah gadis itu.


"Apa?" Dengus Jiyoung yang saat ini tengah melihat pria itu kini berdiri dihadapannya. Sehun tersenyum melihat tingkah Jiyoung saat ini.


"Kau pasti merasa puas karena aku terlihat bodoh bukan? Ak-" Jiyoung membulatkan matanya saat Sehun menarik dirinya dan memberikan ciuman yang cukup lama. Butuh beberapa menit untuk Jiyoung menyadari hal tersebut. Setelah puas Sehun melepaskan tautan mereka dan menjilat sisi bibirnya.


"Aku senang kau bersikap seperti itu, kau terlihat lucu dan aku sangat suka." Sehun mengusap rambut Jiyoung, mengacaknya sedikit.


"Kalau begitu aku pamit kekantor ya." Kali ini Sehun mengecup dahinya. Pria itu memang seharusnya sudah berangkat kerja sejak tadi. Ia rasa Sehun menggunakan posisi jabatannya itu untuk datang sesuka hatinya. Enak sekali jika ia bisa menjadi Sehun.


"Lain kali kau buatkan bekal makan siang untukku ya." Ujar Sehun lagi dan tersenyum lembut kepadanya kemudian membawa Jiyoung kedalam pelukannya.


"Jika kau benar-benar melakukan itu, aku pasti akan sangat bahagia." Lagi-lgi Sehun mengecup dahinya dan seperti enggan untuk melepaskan pelukannya.


"Sehun jika kau tak melepaskanku sekarang, kurasa kau akan sangat telat datang kekantor." Peringat Jiyoung kemudian.


"Ah, apa perlu aku tak kekantor saja dan bersama denganmu seharian ini?"


"Kau harus kerja Sehun. Astaga, jika aku sudah jadi bosnya pasti karyawan sepertimu akan langsung kupecat karena bisa seenaknya saja pergi kekantor."


"Haha. Sayangnya jabatanku lebih tinggi dari hanya sekedar bos. Aku juga si pemilik kantor." Mendengar hal itu, membuat gadis itu memutar matanya malas.


"Yah. Pokoknya kau cepatlah pergi bekerja. Bukankah kau hari ini harus bertemu para pemegang saham?" Ingat Jiyoung kepada Sehun lagi dan cara itu berhasil, Sehun pun melepaskan acara memeluknya dan sedikit mendengus kepada Jiyoung. Merasa seikit kesal.


"Kau selalu saja bisa membuat moodku langsung berubah." Kini wajah Sehun terlihat muram, sangat berbeda dari yang tadi. Melihat hal itu, tanpa sadar membuat Jiyoung tertawa kecil dan dengan cepat memberikan kecupan kecil kepada Sehun. Membuat pria itu terdiam beberapa detik dan memegang pipinya yang barusan menjadi sasaran ciuman singkat Jiyoung.


"Aku akan menunggumu dan membuatkanmu makan malam. Jadi, selamat bekerja, Oh Sehun." Jiyoung tersenyum kepada pria itu. Senyum Jiyoung yang sudah jarang ia lihat memang selalu memberikan efek pada kinerja jantungnya, membuat dadanya berdetak kencang.


"Kau janji?" Tanya Sehun lagi. Memastikan.


"Tentu saja. Jadi, bekerjalah dengan baik, ok?" Sekali lagi Sehun memeluk tubuh Jiyoung. Senang mendengarnya.


"Baiklah. Aku pastikan tak akan pulang terlalu malam." Janji Sehun yang membuat Jiyoung menganggukkan kepalanya mengerti.


Setelah beberapa drama kecil tadi, akhirnya Sehun pergi meninggalkannya. Membuat gadis itu menghela nafasnya sebelum mengalihkan pandangannya kepada sosok pria yang sepertinya terkejut karena kehadirannya diketahui oleh nonanya itu.


"Aku tau jika kau selama beberapa hari ini selalu mengawasiku dan Sehun. Jadi, apa yang sebenarnya Nara inginkan dari ini semua?" Kini nada Jiyoung terdengar dingin dan ia kembali menyudutkan pria tu.


Jiyoung menatap tanda pengenal pria itu dan kembali melihatnya. Membawa pria itu semakin tergagap seketika dan keringat dingin mulai bermunculan.


"Leetuk. Kau taukan jika aku menceritakan semua hal ini kepada Sehun, maka nasibmu akan sangat buruk." Pria bernama Leetuk itu pun membulatkan matanya. Gadis itu berubah! Tak ada senyum manis seperti tadi, yang ada hanya tatapan penuh mengintimidasi dan amarah didalamnya dan perkataannya itu membuat dirinya merasa sangat cemas. Ia kenal tuan muda Sehun. Jika pria itu tau apa yang telah coba ia lakukan kepada Jiyoung, pasti hidupnya tak akan tenang.


"Ma-maaf nona! Sa-saya akan menceritakan semuanya!" Lantas perkataan Leetuk membuat Jiyoung menyunggingkan senyumnya. Tertangkap kau Oh Nara!


.


.