Dear You

Dear You
Perjanjian (2)




.


.


.


"Vivi!" Jiyoung berlari menghampiri anjing berbulu putih itu dengan antusias. Ia melihat kalung yang dulu pernah anjing itu kenakan. Ah, bodoh. Seharusnya ia sadar jika inisial dikalung itu menunjukkan nama pemilik anjing tersebut.


"Kenapa kau membawanya?" Jiyoung mengambil anjing itu dari gendongan Sehun dan mulai memeluknya dengan gemas. Jiyoung akui, ia memang merindukan anjing menggemaskan ini.


"Karena mungkin kau butuh teman dirumah ini?" Jiyoung menatap kembali kedalam manik mata Sehun yang sekarang terlihat melembut. Setelah ia keluar dari rumah sakit, Sehun semakin memperhatikannya. Mungkin karena bersalah? Ah, rasanya tidak mungkin. Bagaimana mungkin sifat pria itu berubah? Atau jangan-jangan usahanya kepada Sehun selama ini membuahkan hasil?


Jika Sehun sembuh, itu artinya ia bisa membayar hutang kepada Nara dan kembali kepada keluarganya bukan?


Oh, ia berharap jika pikirannya tadi benar-benar terjadi.


"Apa kita akan memeliharanya mulai sekarang?" Sehun mengangguk, membuat Jiyoung berteriak senang.


"Haha. Apa kau sangat menyukai hadiahku?" Jiyoung menangguk beberapa kali. Membuat Sehun tak tahan untuk memeluk gadis itu.


"Sehun, kau membuat Vivi tak bisa bernafas." Protes Jiyoung dan langsung mendorong Sehun pelan. Aisshh. Apa Sehun tak lihat jika Vivi masih dalam gendongannya?


"Kau membuatku cemburu. Bagaimana bisa ka-" Mata Sehun membulat saat Jiyoung mengecup pipinya pelan dan meninggalkannya begitu saja.


"Oughh.. Sial." Sehun memegang dadanya yang berdebar dengan kencang. Rasanya ia ingin mencium gadis itu dengan kasar dan ganas sekarang.


"Sehun! Aku akan membawa Vivi kehalaman belakang ya!" Jiyoung berlari kecil menuju halaman belakang dan Sehun yang melihat itu tersenyum bahagia.


"Syukurlah. Dia menyukai Vivi. Jika Vivi ada disini, Jiyoung tak mungkin berpikir untuk pergi lagi bukan?" Wajah Sehun kembali sendu. Mengingat Jiyoung yang selalu berusaha untuk melarikan diri, membuatnya selalu tak tenang. Ia harap kedatangan Vivi bisa membantu Jiyoung betah dirumah ini.


••🌷🌷••


Yeon yang sedang melaksanakan kegiatan 'rutinya' memotong rumput menunda pekerjaannya saat melihat gadis yang selama ia cari tepat dihadapannya.


Wajah gadis itu terlihat senang dan jujur saja baru kali ini ia melihatnya tersenyum. Sangat cantik. Yah. Gadis itu memang selalu membuatnya ingin mengetahui lebih jauh tentangnya.


Yeon sekali lagi memperhatikan sekelilingnya kemudian dengan berani ia  menghampiri Jiyoung.


"Jiyoung?" Merasa namanya dipanggil, ia pun mengalihkan kegiatannya mengelus Vivi, membiarkan anjing itu terlepas dari genggamannya dan berkeliaran ditaman.


"Kau siapa?" Jiyoung bangun dari jongkoknya dan mulai memperhatikan pria asing itu dengan raut bingung.


"Sepertinya kau salah satu pekerja disini. Kenapa kau kurang ajar memanggil namaku begitu saja?" Jujur saja, ada rasa tak suka saat namanya disebut oleh orang asing. Apa dia orang baru yang Nara rekrut untuk mengawasinya? Oh, sial. Ia jadi selalu waspada terhadap orang asing.


"Kau lupa denganku?" Yeon membuka topinya dan mencoba menunjukan wajahnya kepada Jiyoung. Tanpa sadar gadis itu memundurkan tubuhnya. Dia. Pria di bus itu bukan?


"Ka-kau? Apa yang kau lakukan disini?"


"Bekerja, tentu saja." Ujar Yeon memperlihatkan baju kerjanya. Jiyoung menggeleng tidak percaya.


"Kau benar. Aku berbohong. Aku ingin menemuimu untuk mengembalikan buku diary-mu." Yeon mengambil buku dari dalam tasnya.


"Apa ini terjatuh?" Yeon mengangguk. Mendengar hal itu Jiyoung menghela nafasnya merasa lega. Ia pikir diary nya hilang. Sungguh ia merasa bersyukur jika buku catatannya itu telah kembali. Setelah menerima buku itu dan menaruhnya dibawah bangku taman, ia kembali menoleh ke pria itu dengan wajah serius.


"Jika kau kemari dan melakukan penyamaran hanya untuk mengembalikan buku ini, aku sangat berterima kasih kepadamu. Jadi, sebaiknya berkemaslah dan jangan menginjakkan kaki disini." Yeon mengeryit bingung. Kenapa gadis itu seperti mengusirnya?


"Aku akan membalasmu."


"Aku tak butuh balasmu. Aku melakukan semuanya dengan ikhlas."


"Jika begitu, sekali lagi terima kasih dan cepatlah kemasi barang-barangmu." Peringat gadis itu lagi dan berlari meraih Vivi untuk masuk kembali kedalam rumah.


Pria itu tak boleh bertemu Sehun, ia yakin pasti Sehun sebentar lagi menghampirinya.


"Tunggu! Kenapa kau masih berada dirumah ini? Aku bisa membantumu keluar dari sini, Jiyoung!" Mendengar ucapan pria itu lantas membuat Jiyoung menoleh dan menghampirinya.


"Maaf. Aku membaca isi diary mu. Sungguh, awalnya aku hanya penasaran terhadapmu tapi aku akui perbuatanku salah. Kau bisa memarahiku karena kelancanganku dan aku sungguh ingin menolongmu." Ujar Yeon tulus. Tapi, tangggapan Jiyoung masih dingin.


"Ini pilihanku dan ini adalah hidupku. Kau tak perlu merasa kasihan kepadaku." Desis Jiyoung kepada pria itu.


"Aku tau kau sangat merindukan rumah. Cukup kau berkata ingin pergi denganku maka aku bisa membantumu."


"Cukup! Pergilah dari sini. Aku tak perlu bantuanmu!" Ujar Jiyoung yang merasa marah. Pria ini kenapa seolah-olah mengasihinya begitu banyak? Ia membenci ucapan itu!


"Eommamu sedang sakit dan kakakmu menghilang. Maaf jika mencoba mencari tentang dirimu lebih banyak." Sesal Yeon, mata Jiyoung membulat setelah mendengar ucapan pria itu. Apa pria itu menghampiri keluarganya?


"Kumohon, tinggalkan aku disini. Aku tak butuh bantuanmu dan kumohon jangan pernah menemuiku lagi. Pergilah dari sini." Nada Jiyoung berubah. Dia menahan air matanya. Menahan rasa sakit saat mendengar fakta yang baru ia ketahui.


"Jiyoung tapi ak-"


"Kumohon." Lirih Jiyoung dan akhirnya gadis itu menangis, membuat Yeon terkejut.


"Kumohon pergilah sekarang." Yeon merasa bersalah kepada gadis itu. Ia merutuki sikapnya tadi. Pasti berat bagi gadis itu mengetahui hal tentang keluarganya.


"Baiklah. Aku akan pergi. Maaf, jika sudah mencoba mencampuri urusanmu." Dengan berat hati Yeon mengemasi barang-barangnya. Meninggalkan Jiyoung yang tengah menangis tersedu.


"Vivi, apa yang harus aku lakukan sekarang?" Jiyoung semakin memeluk Vivi dengan harapan bisa mengurangi isak tangisnya. Anjing itu hanya bisa terdiam dan memperhatikan wajah Jiyoung dengan mata bulatnya. Lalu tanpa diduga Vivi menjilati wajahnya yang basah karena air mata.


"Terima kasih." Ujar Jiyoung kemudian sambil menatap Vivi dengan senyuman.


"Terima kasih sudah menghiburku." Jiyoung memeluk Vivi dengan erat dan menangis terisak disana.


••🌷🌷••


Sambil melihat luasnya lautan yang tersaji dibelakang rumah ini, ia tampak terdiam. Kembali mengingat perkataan pria yang ia ketahui bernama Yeon, semakin membuat dirinya gelisah.


Apa pria itu berkata jujur mengenai keluarganya?


Jika benar. Ia sangat ingin memastikan hal itu.


Yeon. Pria itu tidak boleh ikut campur kedalam masalahnya. Dia sangat takut jika Yeon mengalami masalah karena mencoba membantunya.


Sehun yang baru saja pulang kerja, menatap punggung Jiyoung dengan raut bingung. Kenapa Jiyoung terdiam seperti itu?


Dengan cepat ia mendekati Jiyoung setelah menaruh tas kerjanya dengan asal.


"Apa kau sedang memikirkanku?" Sehun memeluk Jiyoung, mendekapnya dalam pelukan yang sangat ia sukai.


"Apa kau sudah makan?" Tanya Sehun lagi karena tak mendapat jawaban dari Jiyoung. Kembali Sehun menahan nafasnya dengan kasar. Ia mencoba menahan emosi agar tak memarahi gadis itu.


"Sepertinya kau lelah, sebaiknya kau kembali kekamarmu." Sehun mengatakan itu setelah meletakkan dagunya dibahu Jiyoung yang terekspos dan mempererat pelukannya.


'Jiyoung adalah miliknya. Ia menyukai fakta itu sampai kapanpun.'


"Sehun." Ujar Jiyoung akhirnya.


"Hmm?" Sehun mengendus wangi pada leher gadis itu. Aroma Jiyoung memang selalu ia sukai.


"Sehun. Ada yang ingin kukatakan." Sehun menghentikan kegiatannya pada tubuh gadis itu setelah mendengar nada serius didalamnya. Jiyoung membalik tubuhnya dan menatap mata Sehun sendu.


Jiyoung tanpa ragu terus menatap mata miliknya dan mulai menggenggam tangannya. Kemudian mengatakan hal yang membuat dia sangat terkejut.


"Sehun, aku ingin menikah denganmu. Besok."


.


.


.