
.
.
.
Brakk!!!
"Jiyoung!" Dobrakan dipintu membuat mereka mengalihkan pandangannya. Kris yang telah melihat sang tuan sudah kembali langsung meminta ijin untuk keluar dari ruangan itu.
Sehun. Pria itu pasti berlari saat menghampirinya kemari. Dapat dilihat jika nafas pria itu tersengal.
"Kau tak perlu berolahraga agar sampai kesini." Ujar Jiyoung yang terdengar dingin, namun bukan kesal atau apa saat mendengar hal itu justru membuat Sehun langsung terkekeh dan memeluk tubuh Jiyoung dengan gemas.
"Sehun, aku bisa pingsan lagi jika kau peluk erat seperti ini." Ujar Jiyoung lagi. Sehun tentu saja langsung menghadiahi beberapa kecupan pada wajah Jiyoung karena merasa sangat senang melihat gadis itu sudah pulih.
"Oh, astaga. Hentikan." Jiyoung mendorong tubuh Sehun, tapi yah unjung-ujungnya percuma saja karena pria itu tak mudah untuk disingkirkan. Dan akhirnya ia kembali dipeluk oleh Sehun sampai pria itu merasa puas.
"Baiklah. Kurasa sudah cukup aku memelukmu. Jadi, kau ingin makan apa? Tadi aku sempat dengar kau ingin buah potong?" Sehun langsung mengambil posisi duduk dan memandangi wajah Jiyoung kembali.
Jiyoung tampak berpikir, lalu mulai berani menatap pria itu.
"Aku ingin menghirup udara segar, bisa kau mengajakku berkeliling rumah sakit?" Pinta Jiyoung yang tiba-tiba. Membuat Sehun langsing mengeryitkan alisnya tak suka.
"Bersamamu. Hanya berdua denganmu. Aku sangat merindukanmu. Jadi, bisakah aku meminta hal kecil ini kepadamu?" Ujar Jiyoung lagi. Oh, kau pandai sekali Jiyoung jika bersikap manis untuk menipu Sehun seperti ini. Dan lihatlah! Sehun pun menganggukkan kepalanya tanda menyetujui permintaan Jiyoung.
"Tentu. Tapi kita tak akan bisa lama. Aku tak ingin kau kembali sakit dan setelah itu berjanjilah kau akan memakan makananmu dan meminum obat." Tentu saja Jiyoung mengangguk tanda mengerti. Hah, sebenarnya sampai saat ini ia merasa Sehun itu sangat peduli kepadanya tapi kenapa ia selalu merasa jika disetiap sikap Sehun seperti ada saja sesuatu yang tengah pria itu sembunyikan?
••🌷🌷••
"Ck. Sial." Sebenarnya dimana kamar itu?" Yeon mengutuk dirinya yang tak mampu menemukan kamar gadis itu. Saat melihat ada sebuah tangga yang seperti menghubungkan kesebuah kamar khusus langkahnya tiba-tiba terhenti saat sebuah suara terdengar.
"Apa yang kau lakukan?" Yeon tentu saja sangat terkejut, jantungnya berdetak sangat cepat. Butir keringat mulai bermunculan. Ia menghela nafasnya berusaha agar tak terlihat cemas ataupun mencurigakan.
"Ah, maaf. Saya tadinya mencari teman saya. Lalu ingin pergi kedapur para pelayan. Tapi saya tersesat karena rumah ini sangatlah besar." Semoga alasannya bisa diterima. Oh, ayolah. Semoga Tuhan membantunya kali ini.
"Haha.. Jadi kau tersesat? Yah. Kau benar. Saat pertama kali aku bekerja juga aku sempat tersesat kekamar tuan muda. Tapi untunglah tuan muda tak mengetahuinya. Hati-hatilah saat mengelilingi rumah ini. Bisa-bisa kau akan kehilangan pekerjaan atau nyawamu, nak." Ujar wanita paruh baya itu dengan tenangnya dan memberikan saran kepadanya. Membuat Yeon merasa bersalah karena membohongi orangtua tersebut.
"Kau sebaiknya berjalan lurus kesana dan berbelok kekanan. Itu dapur para pelayan." Yeon langsung mengarahkan langkahnya saat kemana wanita itu beritahukan tadi dan tak lupa juga untuk mengucapkan rasa berterima kasihnya.
"Apa kau juga salah satu orang yang ingin mencoba membantu nona muda? Kuharap kau selalu dalam lindungaNya." Doa pelayan tua itu, sangat tau jika pria itu seperti orang baik yang merasa kasian kepada nona mudanya yang terkurung dirumah besar ini. Ia sangat tau jika pria itu adalah orang asing yang tengah menyamar.
Ia sudah memperhatikannya sejak tadi melalui cctv dan sepertinya pria itu bukanlah orang jahat karena ia sempat mendengar jika pria itu hanya ingin mengembalikan buku diary nona mudanya dan akan bertanya jika Jiyoung ingin meminta bantuannya untuk pergi maka ia akan selalu siap.
"Sebenarnya tuan Sehun juga tak bisa disalahkan akan ini karena dia hanya merasa kesepian. Tapi, caranya memperlakukan nona Jiyoung membuatku berharap jika gadis itu sebaiknya pergi dari hidup tuan muda."
Setelah kepergian wanita itu, Leetuk yang ternyata tengah memperhatikan hal tersebut segera menghubungi seseorang disebrang sana.
"Baik. Saya akan tetap mengawasinya dan menunggu intruksi anda selanjutnya." Dan sambungannya pun terputus diiringi dengan tak terlihatnya tubuh pria yang sedang ia awasi itu.
••🌷🌷••
"Brengsek. Setelah membuatku hampir kehilangan pekerjaan sebagai dokter karena perintahnya lalu dia menyuruhku berhenti bekerja dirumah sakit ini?" Dengus seorang dokter yang terlihat kesal saat keluar dari ruangannya dan menggerutu didepan pintu. Membuat Jiyoung yang tengah ditinggal Sehun sebentar karena ingin membeli kopi instan dimesin otomatis mengeryitkan alisnya saat mendengar hal tersebut.
Hah, kenapa juga ia jadi seperti tengah menguping segala umpatan dokter itu? Sehun, kenapa juga membiarkannya sendiri disini. Untungnya, ia sekarang masih waras untuk tidak kabur dari pria itu karena pastinya Sehun akan murka jika mengetahui isi pikirannya saat ini.
"Oh sialan. Lihatlah si Oh Nara si pemilik Phoenix langsung menelponku." Jiyoung membulatkan matanya saat mendengar nama Nara disebut. Sebenarnya apa keterlibatan Nara dengan dokter tersebut?
Perlahan, diam-diam Jiyoung mengikuti dokter tersebut yang terlihat bersembunyi kelorong yang sepi hanya untuk mengangkat telponnya.
"Ah, nona muda. Selamat sore."
"...."
"Tentu saja saya sangat berterima kasih atas bantuan anda."
"...."
"Tentu saja! Saya pasti akan langsung membantu anda. Seperti saat anda meminta saya menolak permintaan pasien Jiyoung beberapa bulan lalu. Itu hanya masalah kecil, saya pasti bisa melakukan hal yang lebih besar untuk anda."
"...."
"Benarkah?! Saya akan mendapat pekerjaan sebagai direktur utama disalah satu rumah sakit baru anda?!?
"....."
"Terima kasih banyak. Sungguh terima kasih banyak."
Jiyoung tercekat, ia bisa menyimpulkan jika dokter itu pasti ada keterlibatannya dengan Nara. Ia semakin yakin saat sepintas wajah dokter itu terlihat. Senyuman lebar dan wajah tak asing itu adalah orang yang sama. Dokter yang sempat menangani dirinya untuk melakukan operasi pada ginjalnya saat itu. Kini ia yakin jika penolakan atas permintaannya tersebut ada keterlibatannya dengan Nara.
Dengan segera ia berbalik badan dan segera menjauh dari sana dan tubuh Jiyoung langsung dipeluk erat oleh seseorang. Aroma mint. Tanpa menoleh untuk melihatnya, Jiyoung sangat tau jika orang itu adalah Sehun. Yah. Baginya aroma pria itu akan selalu ia ingat.
"Kau tak apa-apa? Bukankah sudah kubilang untuk tetap duduk disini?" Lihatlah. Sehun menjadi cerewet jika bersama dirinya. Membuat Jiyoung yang mendengarnya, memutar matanya malas.
"Maaf. Aku hanya ingin segera kembali kekamar." Ujar Jiyoung menjelaskan. Sehun meletakkan kopinya disalah satu bangku tunggu. Untunglah, isi kopinya tak mengenai tubuh Jiyoung. Kembali, pria itu kini membantu memapah tubuh Jiyoung yang sebenarnya masih belum pulih.
"Aku akan membawamu ke mobil. Kita akan langsung pulang kerumah sekarang." Membuat Jiyoung yang mendengar hal tersebut membulatkan matanya dan menatap Sehun yang kini tengah melayangkan tatapan dingin kepadanya. Bermaksud tak ingin mendengar aksi protes yang akan Jiyoung ucapkan.
"Aku akan memastikan kau aman kembali." Ujar Sehun melanjutkan kalimatnya. Membuat Jiyoung merutuki sikapnya tadi yang seharusnya mengunjungi Jung Sok untuk memberitahu keadaanya saat ini.
.
.
.