
.
.
.
"Ah, aku lupa kecap! Kau tetaplah mengantri. Aku akan segera kembali." Akupun meninggalkan Sehun yang tengah memegang barang belanjaan kami didalam sebuah troly. Aku menyuruh Sehun tetap mengantri dibarisan untuk membayar dikasir. Aku tentu saja tak lupa menyerahkan uangku kepada Sehun. Hmm, lebih tepatnya uang Sehun yang tersisa sampai aku menemukan pekerjaan.
"Ck. Kenapa aku lupa dengan ini?" Aku langsung meraih botol kecap itu dengan cepat. Aku harus kembali ke Sehun pasti pria itu akan bingung jika aku telalu lama.
"Jiyoung? Apa benar kau Jiyoung?" Merasa namaku disebut akupun menoleh, mataku langsung membulat saat menyadari jika seorang gadis yang berada disebelahku terlihat terkejut dengan kehadiranku.
"Hyemi?" Aku tentu saja langsung memeluknya dengan cepat. Sudah sangat lama aku tak bertemu dengannya. Terakhir kali aku bertemu dengannya adalah saat dikantor waktu itu. Yah. Sebelum pertemuanku dengan Sehun terjadi.
"Bagaimana kabarmu? Kenapa kau seolah menghilang saat itu? Lalu kenapa kau terlihat lebih kurus? Apa yang sebenarnya terjadi kepadamu? Bukahkah hubunganmu dengan Minho baik-baik saja? Tapi apa kau tau aku baru mengetahui jika pria itu akan menikah!" Tanya Hyemi bertubi-tubi membuatku tertawa saat mendengarnya. Senang rasanya jika ada orang lain yang masih mengkhawatirkan keadaanku.
"Jangan tertawa! Aku sungguh mengkhawatirkanmu Jiyoung." Ujar Hyemi yang merasa kesal dengan tanggapanku.
"Bagaimana bisa aku menjawab semuanya? Pertanyamu banyak sekali, Hyemi." Tanggapku kemudian yang membuat Hyemi terkekeh mendengarnya. Kemudian kami sama-sama tertawa karena merasa lucu.
"Nanti, jika kita bertemu lagi aku akan menceritakan semuanya kepadamu. Sekarang aku harus segera menemui suamiku." Mata Hyemi langsung membulat. Ah iya. Aku lupa jika aku tak pernah mengumumkan pernikahanku ini kepada siapapun tapi kenapa aku langsung menceritakan hal ini kepada Hyemi?
"Kau berhutang penjelasan lagi kepadaku Jiyoung." Ujar Hyemi sambil bersedekap membuatku yang melihatnya merasa gemas.
"Yah. Aku akan menceritakannya dan memperkenalkanmu nanti dipesta Minho. Jadi datanglah keacara pernikahan Minho dengan pasangamu."
"Jiyoung, jadi kau diundang juga oleh Minho?" Hyemi terkejut karena ia tak sangka jika aku diundang oleh Minho.
'Jadi, hubungan mereka benar-benar berakhir ya?' Batin Hyemi.
"Iya. Aku mendapatkan surat undangan tadi pagi dan aku berniat mengajak suamiku untuk kesana. Oh astaga! Maaf Hyemi aku harus segera pergi!" Akupun segera berlari dan melambaikan tangan kearah Hyemi yang membuat gadis itu ingin memanggilku tapi tak jadi.
••🌷🌷••
"Semenit saja kau telat. Aku pasti sudah berlari mencarimu dan meninggalkan barang belanjaan sialan ini." Umpat Sehun yang melihat diriku sudah menghampirinya. Untungnya Sehun masih sabar mengantri dan sudah membayar barang belanjaan kami.
"Terima kasih telah berbelanja disini." Ujar karyawan itu yang berdiri dipintu keluar. Aku mengangguk dan menggandeng tangan Sehun dengan gemas.
"Sini, biar aku bawa juga belanjaannya." Aku berusaha menarik barang belanjaan kami tapi Sehun terus saja melarangku untuk membawanya dan masih menunjukkan raut cemberutnya.
"Ayolah. Sehun. Jangan cemberut terus." Aku mengoyangkan tangannya lalu memeluk tubuhnya yang tinggi. Biar saja dia jadi kesusahan berjalan, lagipula kenapa mengabaikanku? Huh. Menyebalkan.
"Jiyoung, aku jadi susah berjalan kalau kau menempel seperti ini." Nah, benarkan. Pasti Sehun sudah merasa risih.
"Aku tak peduli. Habisnya kau diam saja sih." Ujarku lagi yang akhirnya berhasil menghentikan langkah kaki Sehun. Pria itu pun menaruh barang belanjaan dan menatapku. Aku sontak terkejut saat Sehun menatap mataku dalam.
"Ap-apa?" Ujarku terbata karena merasa terintimidasi. Tatapan Sehun jadi tajam sekarang.
"Apa aku harus membawamu juga biar kau tak menggangguku berjalan?" Eh, apa maksudnya? Kukira dia akan marah. Tunggu. Tadikan aku menganggunya karena merasa risih melihat wajah kesalnya. Lalu sebenarnya siapa yang salah disini? Dia yang terlalu protektif atau karena aku yang hanya meninggalkannya sebentar?
"Turunkan aku!" Aku tentu saja malu. Aku terus menerus meminta Sehun menghentikan aksinya untuk menurunkanku.
"Baiklah." Ujar Sehun dengan nada dan wajah datarnya. Aku merasa sedikit lega saat sudah diturunkan, tapi hal itu tak berlangsung lama karena aku kembali berteriak saat Sehun berjalan dengan sangat cepat dan meninggalkan barang belanjaan begitu saja.
"Sehun! Belanjaannya! Yak! Apa kau mau meningggalkanku?!" Teriakku yang berusaha mengejarnya dengan kedua tangan penuh barang belanjaan. Oh, ini sangat berat ternyata. Pantas saja Sehun tak membiarkanku membawanya tapi kenapa sekarang ditinggal begitu saja?
"Baiklah! Aku juga tak akan mengejarmu lagi! Aku akan disini saja! Kau pulang saja sana! Sendirian!" Ujarku yang terlanjur kesal lalu menghentikan langkahku dan melihat kebawah. Ah, tumitku berdarah. Kenapa aku baru merasakan perih? Kurasa karena aku mengejar Sehun tadi, tumitku jadi berdarah seperti ini.
Aku meringis dan menaruh belanjaanku dijalan yang kini terlihat sepi. Aku berjongkok dan memegangi tumitku. Lumayan sakit. Apa aku harus membeli plester?
Aku yang terus memperhatikan tumitku yang lecet akhirnya menonggak saat merasakan bayangan seseorang menghalangi pandanganku.
"Kenapa kembali? Bukannya kau pergi meninggalkanku?" Dengusku kepada pria itu, Sehun. Ternyata pria itu entah sejak kapan sudah persis dihadapanku dengan raut datarnya.
Ck. Lihatlah. Baru saja aku sedikit senang saat dia menghampiriku tapi dia berbalik. Apa Sehun memutuskan untuk meninggalkanku?
"Naiklah." Aku terdiam. Sehun ternyata berjongkok dan memperlihatkan punggungnya kepadaku. Aku terdiam, tentu saja. Apa aku harus naik?
"Cepatlah. Kau sudah tau pasti aku tak akan meninggalkanmu. Ck. Aku sangat kesal saat mendengar ucapanmu tadi." Ujar Sehun lagi. Yang entah kenapa umpatannya kali ini malah terdengar lucu dipendengaranku.
Aku meraih belanjaanku dan perlahan menaiki punggungnya. Hangat. Punggung Sehun ternyata tegap dan lebar. Rasanya juga nyaman.
Sehun berjalan sangat hati-hati saat menggendongku. Rasanya kantung belanjaan yang cukup berat itu jadi terasa ringan.
"Taruh belanjaanya dimobil." Ujarnya saat kami sudah sampai diparkiran mobil yang sebenarnya tak jauh dari supermarket itu berada. Aku mengangguk dan langsung melempar kantung belanjaan itu kedalam saat Sehun membuka pintu mobil.
"Tunggu! Kenapa kita tak masuk ke mobil? Bukankah kita harus pulang?" Protesku saat melihat Sehun ternyata kembali mengunci mobil dan masih menggendong tubuhku.
"Kita akan berkencan." Ujarnya yang sontak membuatku terkejut dan tanpa mendengarkan protesku lagi Sehun terus melangkah kakinya entah kemana. Aku yang sudah sangat lelah protes tapi tak didengar olehnya, akhirnya memutuskan menuruti keinginan Sehun.
"Kenapa?" Tanya seorang gadis saat melihat pria itu terdiam. Dia. Woo Minhyun.
"Tidak apa-apa." Balas pria itu.
"Kalau begitu ayo. Bukankah Yeon menunggumu?" Ajak Sara. Tetangga Minhyun yang saat ini tengah menemani pria itu berbelanja.
Mereka pun pergi dari supermarket itu dan tanpa Sara sadari Minhyun terus memperhatikan dua orang itu. Tidak. Lebih tepatnya gadis yang pernah ia lihat itu kini terlihat berbeda? Jadi, gadis yang pernah berkunjung ke cafe nya sudah mempunyai kekasih ya?
Ia harus segera memberitahukan hal ini kepada Yeon karena ia yakin Yeon ada ketertarikan kepada gadis itu. Ia mengetahui hal itu saat dirinya tanpa sengaja sempat melihat Yeon memegangi buku diary gadis itu. Yah. Gadis bernama Jiyoung itu. Ia yakin dia adalah Jiyoung.
Mantan tunangan sahabatnya. Kang Minho.
.
.
.