
.
.
.
"Bagaimana kabar adikmu?" Pria dengan kacamata itu mulai menghampiri temannya yang berada disalah satu bangku dikantin rumah sakit.
"Jiyoung... Dia baik-baik saja." Jawab Lay. Sedang sang pria lain terlihat mengeryitkan alisnya tak mengerti. Ia kemudian menaruh minumannya lalu mulai duduk berhadapan dengan temannya itu.
"Apa kondisinya semakin memburuk?" Tanyanya lagi khawatir kepada Lay.
"Ah, aku juga tak tau itu. Dia sekarang bahkan sangat sulit untuk dihubungi. Aku merasa khawatir kepadanya." Ujar Lay kemudian dan menenguk segelas air yang sudah ia pesan.
Lee Jung Sok, nama pria yang kini tepat berada didepannya itu terlihat semakin memikirkan sesuatu. Ia tau jika sahabatnya, Lay. Mengalami hal yang sulit. Mulai dari bisnisnya yang selama ini dirintis hancur begitu saja karena seseorang lalu tentang Jiyoung yang sudah sejak lama ia kenal, ternyata mengalami kejadian yang mengerikan. Sebagai dokter psikiater sekaligus ahli bedah ternama, ia bisa memahami bagaimana dan hal apa yang gadis itu rasakan.
Meski ia sudah membantu Jiyoung agar sembuh tapi ia masih khawatir perihal kondisi kejiwaan gadis itu. Semoga Jiyoung tak pernah menyerah dengan hidupnya lagi. Semoga Jiyoung bisa membuka lembaran baru untuk kehidupannya.
"Boleh kutau dia ada dimana sekarang?" Ujar Jung Sok penasaran. Yah. Pasalnya, Lay tak pernah bercerita perihal keberadaan Jiyoung kepadanya. Seolah Lay ikut menyembunyikan keberadaan gadis itu.
"Jiyoung juga tak memberitahuku. Pokoknya kau tak perlu khawatir juga. Aku yakin dia pasti akan baik-baik saja." Lay mengulas senyum tipisnya. Seolah mengatakan jika apa yang ia katakan tadi, benar apa adanya.
Jung Sok bersedekap dan menyenderkan duduknya. Lalu menatap Lay kembali, "meski begitu aku masih sangat khawatir dengan kondisinya. Kau tau juga jika Jiyoung sudah seperti adik kandung bagiku." Lay mengangguk mengerti. Yah. Ia tau jika Jung Sok sangat menyayangi adiknya itu.
"Ah, andai saja Jiyoung bisa bertemu dengan pria sepertimu lebih awal, bukannya Soyu, pasti ia akan hidup bahagia." Ujar Lay kemudian. Mencoba mengalihkan pembicaraan. Hal itu pun membuat Jong Suk sedikit tertawa dibuatnya.
"Haha... Kau berlebihan. Ah, lagipula sayangnya aku sebentar lagi akan menikah. Lihatlah, bukankah cincin ini cantik? Aku akan memberikan cincin ini kepada Soyu nanti." Ujar Jung Sok sambil memamerkan kotak cincin yang ia ambil disaku jas dokternya. Memperlihatkan isi kotak itu kepada Lay, lalu tersenyum lebar. Lay bisa melihat jika pria itu sangat mencintai Soyu. Terlihat sekali jika matanya berbinar saat memperlihatkan hal itu kepadanya.
"Ok. Sudah cukup. Kau membuatku iri karena tingkahmu itu. Ah, aku juga harus segera mencari kekasih dan menikahinya." Ujar Lay dan sedikit berdecak karena melihat wajah sumringah milik temannya itu.
Dalam diam Lay tersenyum tipis. Syukurlah. Sahabatnya ini akan hidup bahagia.
"Oppa!" Kedua orang itu segera berbalik saat mendengar suara nyaring yang seperti memenuhi tempat kantin ini.
"Oh. Soyu!" Jong Suk melambaikan tangannya dan langsung menghampiri gadis itu kemudian memeluknya dengan erat.
"Kau datang lebih cepat?" Tanyanya kepada gadis itu. Soyu pun mengangguk.
"Tentu saja, lihatlah! Aku sudah membuatkan bekal makan siang untukmu." Tunjuknya kepada kotak bekal yang sudah ia bawa. Lay yang menyaksikan adegan sepasang kekasih itu segera mengalihkan pandangannya.
"Aigoo... Kau perhatian sekali. Terima kasih sayang." Jung Sok mengusap rambut gadis itu beberapa kali.
"Oh iya, ada Lay disini." Pria itu segera menarik lengan kekasihnya itu pelan dan membawanya bertemu dengan Lay.
"Ah, ad-ada op-oppa Lay. Hai, sudah lama ya?" Soyu terdengar gugup saat baru menyadari jika teman kekasihnya itu adalah Lay. Pria yang dulu sangat mempengaruhi hatinya.
"Oh, Soyu? Ah. Kau terlihat cantik sekarang." Ujar pria itu berbasa-basi.
"Hmm.. Tentu saja! Dia memang selalu cantik asal kau tau dan dia pandai memasak. Lihatlah! Dia membawa kotak bekal ini untukku." Ujar Jong Suk semakin membanggakan kekasihnya kepada Lay, sedang pria itu tersenyum saat mendengarnya.
"Astaga, aku hampir lupa, Soyu. Ada satu jadwal temu dengan pasien yang belum kuselesaikan. Hmm.. Kau tak apa-apa menungguku? Aku janji tak akan lama." Soyu mengangguk dan pria itu langsung memeluknya dengan erat. Lay mendengus saat melihat tingkah pasangan itu. Hei, masih ada orang lain disini, mereka tak lupa bukan?
"Bye. Aku mencintaimu."
"Bye. Aku mencintamu. Sangat."
Jong Suk terkekeh saat mendengarnya. Dengan singkat ia mengecup bibir gadis itu dan sedikit tak rela untuk meninggalkan tempat itu.
Soyu. Gadis itu mengepalkan tangannya dan kemudian dengan beraninya ia menggenggam pergelangan tangan Lay. Membuat pria itu terhenti beberapa saat.
"Apa kau masih mencintaiku?" Tanya gadis itu lagi dengan berani. Membuat Lay yang mendengarnya tertawa sinis.
"Astaga, leluconmu sungguh tak lucu." Ujarnya cepat dan melepaskan genggaman tangan gadis itu.
"Katakan. Jika kau tak mencintaiku. Katakan jika kau memang benar-benar membenciku... Katakan jika-" Gadis itu mengepalkan tangannya, berusaha untuk menahan emosinya saat ini.
Lay tersenyum miring. Apa yang dimaksud Soyu adalah perasaannya yang tersisa untuk gadis itu? Yah. Lay dan Soyu memang sempat menjadi sepasang kekasih sebelum tiba-tiba Lay memutuskan gadis itu dengan tak berperasaan begitu saja.
Dengan alasan yang tak masuk akal dan bilang sudah tak mencintainya lagi. Membuat Soyu menangis terus menerus dan menceritakan hal itu kepada Jong Suk lalu entah bagaimana akhirnya mereka memutuskan untuk menjalin hubungan, bahkan Lay tak perlu memikirkan hal itu. Ia hanya bersyukur jika Jung Sok yang menjadi penggantinya.
"Berbahagialah dengannya. Jangan terus menanyakan hal ini lagi. Karena jawabanku masih sama dengan saat itu." Dan saat itulah air mata Soyu meluncur begitu saja. Untungnya keadaan kantin cukup sepi hanya beberapa orang yang datang. Karena mereka hanya singgah sebentar. Tak banyak yang memakan makanannya ditempat ini.
"Kau sangat jahat! Baiklah! Aku pasti akan sangat bahagia dengan Jong Suk! Kau harus tau itu!" Soyu menyeka air matanya lalu berbalik meninggalkan pria itu begitu saja. Membuat Lay menghela nafasnya yang terasa sangat berat.
Ini keputusannya. Dan ia harus menerima semua konsekuensinya. Yah. Ia harus menerimanya. Saat sedih melanda karena situasi tadi, ia pun langsung menggelengkan kepalanya. Mencoba mengusir rasa bersalahnya.
"Terima kasih. Saya harap bisa bertemu dengan anda lagi." Lay menoleh ke sumber suara yang baru saja ia sadari. Sejak kapan ada segerombolan orang disini?
"Yah. Semoga kita bisa bertemu lagi." Lalu suara yang tak asing itu segera membuat Lay membulatkan matanya. Ia bisa melihat dengan jelas jika wanita dengan pakaian ala pembisnis kelas tinggi dengan kacamata hitamnya itu baru saja menemui salah satu dokter dirumah sakit ini.
Tunggu. Untuk apa kakak Oh Sehun ada disini? Meski ia tak pernah bertemu dengan wanita itu tapi ia yakin jika itu adalah Oh Nara, seorang pembisnis muda yang terkenal dan selalu saja muncul dibeberapa majalah serta berita ditelevisi selama beberapa bulan ini. Oh. Ia sungguh tak menyangka bisa melihat wanita itu secara langsung.
"Tunggu!" Lay berteriak bermaksud untuk memanggilnya tapi sepertinya wanita itu tak mendengarkan dan semakin pergi menjauh. Hal itu membuat Lay lantas mengejarnya. Ia harus bertanya dan memastikan sesuatu. Terlebih mengenai keberadaan Jiyoung. Ia yakin Nara mengetahui hal ini.
"Oh Nara! Tunggu!" Ujar Lay kembali dan berusaha terus mengejarnya. Tapi beberapa pria berbadan besar segera memblokir jalannya.
"Siapa anda? Apa anda ingin menyakiti nona kami?" Tanya salah satu pegawai dari wanita itu. Lay yang semakin menjauh dari keberadaan Nara mengumpat. Sial! Jika begini ia akan benar-benar kehilangannya.
"Saya bukan orang jahat. Dan saya mempunyai beberapa pertanyaan kepada nona kalian itu sekarang juga!" Ujar Lay yang tampak tak gentar akan tatapan penuh mengintimidasi dari beberapa orang berbadan besar dihadapannya ini.
"Maaf, jika anda tak punya janji dengan nona sebelumnya, maka anda tak bisa menemuinya begitu saja. Anda tau jika nona kami adalah salah satu orang yang sangat penting di negara ini." Ujar orang itu, yang membuat ia memutar matanya malas saat mendengar kalimat terakhirnya. Sangat berlebihan sekali!
"Nona, apa orang itu harus dibereskan?" Tanya pria yang terlihat seumuran dengan wanita itu. Membuat Nara menyunggingkan senyumnya. Yah. Dia mendengar dengan jelas saat orang itu memanggil namanya tapi ia hanya berpura-pura tuli. Bahkan ia sangat tau siapa pria itu. Lay. Dia adalah kakak Jiyoung. Untuk apa pria itu mencoba menemuinya?
"Tak usah. Biarkan dia untuk saat ini." Ujar Nara mengibaskan tangannya, langkahnya lalu berhenti tepat didepan pintu keluar untuk menunggu mobilnya saat ini.
Orang kepercayaannya itu pun mengangguk, dan tentu saja ia menuruti perintah atasanya itu.
"Yak! Nara sialan! Apa kau pura-pura tak mendengarku?!" Teriak Lay yang sepertinya menyadari Nara yang seolah tak mendengarnya sama sekali. Nara masih membelakangi tubuh pria itu dan menyunggingkan senyumnya, meremehkan.
"Nona, apa saya harus menutup mulutnya?" Tanya asistennya lagi merasa geram saat mendengar kalimat tak sopan dari pria itu. Membuat Nara menggelengkan kepalanya.
Hal itu membuat pengawal bernama Kwak Dong itu menatap sinis kearah pria yang tengah menggangu mereka saat ini. Meski pria itu tak mungkin mencapai keberadaan mereka karena langkahnya masih dihentikan oleh beberapa pengawal lain. Tapi tersebut masih saja mengganggu pikirannya.
"Aku harus segera menghadiri rapat itu dan segera pulang kerumah adikku untuk menemui seseorang." Ucapan nona mudanya itu membuat Dong kembali memfokuskan pikirannya dan mengangguk setuju dengan ucapan nonanya itu.
Dengan perlahan ia membukakan pintu mobil yang sudah tiba untuk dimasuki oleh nonanya itu dan ia pun ikut masuk kedalam mobil. Yah. Benar. Setelah rapat selesai Oh Nara akan menemui Park Jiyoung.
.
.
.
To be continue