Dear You

Dear You
Monster




.


.


.


Jiyoung menutup bekal yang ia bawa dengan cepat. Lalu menatap seorang pria asing didekatnya dengan raut tak suka. Siapa dia? Jiyoung rasa ia tak pernah melihat, kenal ataupun bertemu dengan pria asing ini.


"Ah, maaf. Mungkin kau berpikir aku aneh kan?" Pria itu terkekeh sendiri saat melihat tatapan waspada yang Jiyoung perlihatkan kepadanya.


"Aku Yeon. Woo Yeon." Jiyoung tambah mengeryitkan alisnya saat melihat tangan pria itu mengarah kearahnya. Dia dan pria di kafe itu kenapa sama-sama aneh? Astaga kenapa juga ia bisa bertemu dua pria aneh sekaligus?


"Maaf, kau menggangguku." Jiyoung segera berdiri dari duduknya dan segera menekan bel dibus itu.


"Tunggu! Aku bukan pria aneh!" Pria yang tadi memperkenalkan sebagai Yeon itu berusaha menghentikan langkah Jiyoung yang kini sudah ada didepan pintu. Semua penumpang yang jumlahny tak banyak itu, sontak menatap kearah pria itu karena teriakannya tadi. Ada apa? Apa sepasang kekasih itu bertengkar? Pikir mereka.


"Terima kasih ahjussi." Jiyoung langsung melangkahkan kakinya keluar dan segera pergi dari sana. Merasa tak nyaman dengan kehadiran pria tadi.


Yeon yang melihat kepergian Jiyoung mengumpat, sial! Ia kehilangan gadis itu. Hmm, padahal ia hanya ingin mengetahui serta berteman dengannya. Saat ia bertemu dengannya ditoko saat itu, entah kenapa gadis itu sungguh menarik perhatiannya hingga saat ini. Membuatnya sangat penasaran dengan sosok misterius itu.


"Ah, mungkin lain kali aku akan bertemu dengannya. Dan jika itu terjadi aku pasti akan tau namanya," lalu Yeon tersenyum dengan hal yang ia bayangkan jika bertemu gadis itu lagi. Semoga ia bisa bertemu dengannya secepatnya.


Yeon menghela nafasnya berat, lalu bermaksud kembali ketempat duduknya tapi matanya langsung membulat saat tau jika gadis itu menjatuhkan sesuatu. Apa itu buku diary?


Dengan cepat Yeon langsung meminta supir bus itu untuk segera menghentikan laju kendaraannya. Ia harus mengembalikan buku itu kepadanya.


••🌷🌷••


Jiyoung yang berhenti tak sesuai dengan pemberhentian selanjutnya, harus menunggu bus lagi dihalte yang kini tak pernah ia kunjungi. Hmm, ini dimana ya? Pikirnya lagi sambil memperhatikan sekelilingnya.


"Kami sudah menemukan keberadaan nona Jiyoung," lapor salah satu pengawal yang ternyata sejak tadi mengikuti Jiyoung sejak keluar dari rumah tuan Sehun. Jiyoung, gadis itu ternyata tak pernah menyadari keberadaan orang lain disekitarnya yang selalu mengawasi setiap gerak-geriknya.


"Ck. Menyusahkan. Cepat bawa segera kerumah," nada perempuan disana, terdengar kesal dengan laporan yang ia dapatkan dari pengawalnya tersebut. Yah. Dia Nara.


Jangan kira, ia tak pernah memperhatikan tindakan Jiyoung yang diluar batas. Bagaimana bisa gadis itu dengan sesuka hatinya pergi dari rumah Sehun begitu saja? Bagaimana jika Sehun mengetahuinya? Pasti Jiyoung akan mendapatkan masalah yang sangat besar akan tindakannya ini.


"Baik, nona." Pengawal itu mematikan ponselnya lalu keluar dari mobil hitamnya dan berjalan kearah nona mudanya itu dengan langkah pasti.


Jiyoung tak menyadari kedatangan kedua pengawal itu, ternyata ia masih menatap bekal makanannya dengan raut wajah sendu. Ia sangat merindukan ibu dan kakaknya. Waktu yang ia gunakan selama ini untuk mengunjungi mereka tak cukup. Dan jika ia meminta Sehun untuk mengijinkan ia pergi kerumahnya pasti Sehun langsung menolak mentah-mentah permintaanya. Ah, entah sudah berapa kali Jiyoung selalu menghela nafasnya yang selalu saja terasa berat.


"Nona Jiyoung," panggil seseorang yang langsung membuat Jiyoung menoleh kekanan. Ia membelalakan matanya tak percaya dengan ini semua. Itu salah satu pengawal yang berjaga didalam rumahnya. Meski ia tak mengenal namanya tapi ia sangat hafal wajah mereka.


"Nona harus pulang sekarang." Pengawal itu membungkukkan kepalanya, memberitahu jika Jiyoung harus segera ikut bersama mereka. Tentu saja Jiyoung tak bisa menolaknya. Ia takut, apa itu salah satu pengawal yang disuruh Sehun untuk menemukannya? Apa Sehun mengetahui hal ini?


"Ak-aku.. Yak!" Jiyoung berteriak saat pengawal itu langsung membopong tubuh Jiyoung begitu saja, membuat kotak bekal yang Jiyoung pegang sedari tadi terlepas dari genggamannya.


"Yak! Apa yang kalian lakukan?" teriak Jiyoung yang tak terima dengan tindakan pengawalnya ini.


"Kurang ajar! Dasar pengawal keparat!" umpat Jiyoung kasar ditengah aksi berontaknya.


"Maaf, tapi kami harus segera membawa pulang untuk segera bertemu dengan atasan," mendengar ucapannya, seketika itu juga membuat tubuh Jiyoung menegang. Apa benar Sehun yang memerintahkan mereka? Ia ingin bertanya hal itu tapi mulutnya tiba-tiba menjadi kelu saat ini. Ia hanya bisa berharap jika itu bukanlah Sehun.


••🌷🌷••


Jiyoung yang sudah keluar dari dalam mobil, masih saja memegang detak jantungnya yang berdebar-debar karena merasa takut.


Ia memikirkan kemungkinan terburuk yang akan Sehun berikan padanya. Pria itu, apa mungkin dia mengetahui kepergiannya?


"Kau cukup berani ya?" Jiyoung membulatkan matanya saat bukan sosok Sehun yang terlihat, tapi ia bisa melihat jika orang lain yang kini sedang terduduk diruang tengah dengan segelas wine yang tengah diminumnya.


"Kau? Jadi kau yang menyuruh pengawal itu membawaku?" Jiyoung mengeryitkan alisnya dan tetap mendekat kepada gadis itu. Nara, yang melihat raut wajah Jiyoung menyunggingkan senyumnya remeh.


"Bersyukurlah kau karena bukan Sehun yang menemukan keberadaanmu," unar Nara dan kembali meminum segelas wine nya. Jiyoung yang mendengarnya mendengus. Merasa kesal.


"Kau terlalu berani dan sangat gegabah dengan tindakanmu itu. Kau tak bisa memutuskan hal yang nanti membuat Sehun tambah murka. Sehun sudah melarangmu untuk pergi dari rumah ini dan bertemu dengan keluargamu tapi kau selalu saja tak pernah mendengarkan ucapannya. Ck."


"Jadi kau selalu mematai-mataiku?" Jiyoung menatap tak percaya akan apa yang ia dengar tadi. Nara, si sialan itu ternyata sama gilanya dengan Sehun. Bagaimana bisa Nara melakukan hal itu kepadanya?


"Tentu saja. Kau itu tak pernah bisa aku percayai seratus persen. Aku memata-matai mu karena kau bisa saja membuat Sehun dalam bahaya dengan tindakanmu itu." Nara meletakkan gelas nya yang telah kosong lalu meraih jubah yang tersampir disamping meja makan. Salah satu pengawal mendekati gadis itu lalu menyerahkan tablet kepada nona besarnya itu.


"Ingatlah. Kakak serta keluargamu tak akan bisa hidup tenang jika sikapmu seperti ini terus."


"Jangan berani kau menganggu keluargaku!" desis Jiyoung tak terima. Tapi, Nara hanya terkekeh saat mendengarnya


"Ah, sayang sekali. Aku harus segera pergi. Kalau begitu sampai jumpa lagi dan ingatlah dengan perjanjian yang sudah kau tanda tangani. Jangan pernah mencoba untuk membuat perjanjian itu berantakan dengan sikap konyolmu itu, Jiyoung," tekan Nara diakhir kalimatnya. Jiyoung mengepalkan tangannya keras. Bahkan kuku jarinya memutih ia marah, ia kesal dengan ucapan Nara.


"Kau tak bisa bilang jika sikapku yang ingin bertemu dengan keluargaku adalah kesalahan. Kau tau sendiri bagaimana tersiksanya aku berada disini dengan adikmu itu." Jiyoung menahan amarahnya. Membuat Nara berdecak dibuatnya.


"Tersiksa? Lalu bukankah kau sendiri yang melemparkan dirimu untuk menerima hal ini? Jangan bodoh Jiyoung. Bukan Sehun yang membuatmu tersiksa tapi dirimu sendiri. Dan kau harus sadar dengan tindakan bodohmu itu secepatnya," setelahnya Nara pergi begitu saja dengan para pengawalnya yang mengikutinya dibelakang dengan helikopter yang terparkir tepat ditengah-tengah halaman rumah mewah ini.


"Terus awasi gadis itu untukku." Jiyoung mendengarnya. Ia menahan tangisannya karena tak berdaya, ia sangat kesal tapi tak bisa melampiaskan hal ini. Tak ada orang yang bisa mendengarkan jeritan hatinya. Ia memang sudah salah. Sejak ia memberi Sehun jaketnya saat itulah seharusnya ia mengetahui jika ia sudah melemparkan dirinya sendiri kedalam neraka.


••🌷🌷••


Pria itu melepaskan pelukannya dari gadis yang sangat ia cintai itu, lalu beranjak perlahan dari kasurnya. Ia berdiri didepan jendela besar yang masih tertutupi oleh gorden.


Pria dengan rahas tegas itu, merenggangkan kepalanya yang terasa kaku. Giginya bergemelutuk menandakan ia masih menahan emosinya yang terbilang hampir meledak. Lalu setelahnya ia melepaskan kepalan tangannya dan mencoba tersenyum seperti biasanya didepan gadis itu. Meski sulit.


Dengan masih membelakangi tubuh belakang Jiyoung, Sehun menyingkap sedikit gorden itu hingga membuat cahaya dari luar masuk perlahan-lahan. Membuat Jiyoung menggeliat dari tidurnya merasa terganggu.


Seketika mata Jiyoung membulat, saat mengetahui ia tak sendirian diruang ini. Tunggu.. Ini kamar Sehun! Bagaimana bisa ia berada disini?


"Se-Sehun?" Jiyoung menatap tak percaya akan kedatangan Sehun karena seharusnya Sehun pulang dua hari lagi. Pria itu yang bilang sendiri lewat sms tadi malam jika dirinya harus terbang ke China untuk menangani proyek barunya.


"Hmm?" Pria menatap Jiyoung dalam.


Jiyoung tiba-tiba mengeratkan selimut yang membungkus tubuhnya, ia menatap takut akan sorot mata yang Sehun tunjukkan kepadanya.


"Ka-kau sudah pulang?" Jiyoung bertanya lagi tapi sialnya, bibirnya bergetar saat mengatakan hal itu.


"Yah. Apa kau tak suka dengan kehadiranku?" nada suara Sehun begitu dingin sangat berbeda dengan sebelumnya. Ada apa dengan pria ini sebenarnya?


"Ti-tidak. Bu-bukan begitu maksudku." Jiyoung makin memundurkan tubuhnya saat melihat Sehun yang berjalan menuju kearahnya. Nafasnya terasa berat saat Sehun terlihat menyeramkan. Mata Sehun sama persis seperti dulu. Sehun yang sangat ia takuti kembali!


"Sstt... Kau tak boleh takut kepadaku." Sehun mendekatkan wajahnya tepat ke wajah gadis itu dan menangkup kedua tangan Jiyoung saat gadis itu berusaha untuk mendorongnya. Tanpa peduli Sehun terus mendekatkan wajahnya lagi lalu mulai menciumi leher gadisnya dengan rakus. Menikmati aroma Jiyoung yang sepertinya sudah lama tak ia rasakan. 


"Se-Sehun kenapa? Kenapa kau begini kepadaku?" Jiyoung tetap berusaha menyingkirkan Sehun dari tubuhnya. Pria ini berbahaya. Sehun kembali seperti dulu. Ia sangat takut.


"Kau tau benar, dimana letak kesalahanmu itu Jiyoung." Sehun lalu beralih menciumi bibir gadis itu, dan kini menahan kedua tangan Jiyoung diatas kepala dengan satu tangannya. Tangannya yang lain mengusap bagian sensitif milik gadis itu. Jiyoung merasa dilecehkan. Sehun brengsek!


"Tidak! Stop!" Jiyoung mencoba menghindari ciuman Sehun tapi tenaga pria itu jauh lebih besar darinya sehingga Jiyoung hanya bisa terdiam saat Sehun terus menciuminya dengan ganas dan tak memperdulikan segala tangisan Jiyoung.


"Hmmm.." Jiyoung mengigit bibirnya saat Sehun mencoba untuk merayap kebagian punggungnya dan mengusap pelan perutnya membuat gadis itu merasa tersiksa dibuatnya.


"Sttt.. Tenanglah. Aku hanya ingin mengingatkanmu dengan kenangan indah kita dulu, sayang." Sehun berujar seperti menenangkan gadis itu tapi justru perkataan Sehun membuat Jiyoung menggeleng dan berteriak meminta tolong.


"Sehun! Sebenarnya apa salahku?!" teriak Jiyoung akhirnya, setelah menguras tenaganya untuk menahan Sehun yang ingin melucuti bajunya.


"Salahmu?" Pria itu melepaskan pegangannya ditangan Jiyoung, lalu beranjak dari tubuhnya.


"Kau bertanya apa salahmu?" ujar Sehun lagi yang mengulang pertanyaannya. Membuat Jiyoung beringsut kembali. Berharap agar Sehun tak bisa melihatnya.


"Kau membuat kesalahan dengan mencoba pergi dari sini! Jika saja nona tak memberitahuku pasti kau akan benar-benar meninggalkanku! Aku tak pernah menyangka kau akan selalu berpikir jika aku ini bodoh! Hahaha...." teriak pria itu yang disertai gelak tawa yang terdengar menyeramkan. Seakan perkataannya tadi adalah sesuatu yang lucu. Detak jantung Jiyoung semakin berdetak dengan cepat karena takut. Ia tak menyangka jika Nara akan memberitahukan hal ini kepada Sehun. Perempuan itu sangat licik!


"Kau harus tau kau hanya milikku Jiyoung!" Ujar Sehun yang kini kembali **** tubuh lemah itu, Jiyoung tentu saja memukul Sehun dan berteriak meminta tolong.


"Haha. Kau pikir didalam rumah ini ada yang memihakmu? Teruslah berteriak meminta tolong sampai pada akhirnya kau hanya akan mendesahkan namaku," desis pria itu lagi, lalu mulai menjilati setiap butir air mata Jiyoung dengan perlahan dan tangannya kini sudah merobek baju Jiyoung begitu saja.


"Se-Sehun hikksss.. Ku-kumohon jangan." Jiyoung menahan desahannya saat Sehun terus saja menyentuh tubuhnya bahkan kini pria itu hendak menanggalkan celana yang ia kenakan. Ia tak tau secepat apa Sehun dalam bertindak dan tanpa bisa ia berpikir lebih jauh ternyata ia dan Sehun sudah sama-sana polos tanpa sehelai benangpun. Membuat pria itu menyeringai senang saat melihat tubuh pasrah yang berada didalam kungkungannya.


"Lihatlah, kau memang begitu sempurna Jiyoung. Seharusnya aku tak pernah menahan untuk menyentuh tubuh ini," setelah terpana dengan tubuh Jiyoung, Lalu pria itu mulai menjilati setiap inci tubuh Jiyoung-nya. Yah. Jiyoung adalah miliknya. Jadi, ia bebas melakukan apa saja yang dimiliki oleh Jiyoung. Karena Jiyoung adalah miliknya.


"Tatap mataku! Dengar. Aku akan melakukannya sekarang. Karena sungguh aku tak bisa menahan hasratku lagi." Jiyoung menggigit bibirnya dan tetap mencoba melepaskan genggaman Sehun meski sia-sia. Sehun pun menyeringai melihat wajah pasrah Jiyoung.


"Akhhh!" Jiyoung merintih. Menahan rasa sakit ditubuhnya. Pria itu kembali memilikinya.


"Yah. Kau memang indah Jiyoung." Sehun menggeram dalam penyatuannya terhadap gadis itu. Membuat Jiyoung berteriak dan menangis ditengah perbuatan bejat yang dilakukan Sehun saat ini.


Plak...


"Kubilang tatap mataku saat aku melakukannya!" Sehun terteriak kembali kepada gadis itu. Membuat Jiyoung menahan rasa perih dipipinya. Sehun yang geram dengan sikap Jiyoung yang keras kepala, berusaha menekan dan menggerakkan miliknya dibawah sana. Membuat Jiyoung akhirnya membuka matanya merasakan sakit.


"Bagus. Lihatlah mataku akhh..." Sehun terus saja melakukan hal itu kepada Jiyoung, berkali-kali bahkan Jiyoung yang sudah bergetar dan tak sanggup lagi untuk menahan rasa lelahnya terus saja dipaksa Sehun untuk terus melayani nafsu biadabnya. Sehun brengsek! Sehun iblis!


"De-dengar. Akkhh...Mu-mulai sekarang aku tak akan hmmm...membutuhkan ijinmu untuk me-melayaniku," ujar Sehun lagi yang terdengar tersendat karena diselimuti hawa nafsunya. Jiyoung adalah candunya dan ia tak bisa melepaskan Jiyoung begitu saja. Jiyoung harus tau itu!


"Ka-kau hmmm... menghancurkan kepercayaanku la-lagi...." ujar Jiyoung yang saat itu juga akhirnya tak mampu lagi mengimbangi nafsu Sehun yang terasa tak ada habisnya. Pria itu terus saja menikmati Jiyoung tak memperdulikan ucapan Jiyoung tadi. Ia terus melakukannya selama berjam-jam sampai akhirnya nafsunya tertuntaskan yang memenuhi rahim gadis itu.


"Kau hanya milikku, kau tak boleh pergi dariku, Jiyoung." Sehun mengecup wajah Jiyoung berkali-kali setelahnya ia melepaskan penyatuanya terhadap gadis itu dan beranjak dari kasur tanpa memperdulikan tubuhnya yang telanjang, Sehun berjalan menuju kearah gudang yang berada dikamarnya dan mengambil sesuatu yang ia miliki.


Ia melihat wajah Jiyoung yang telah pingsan lalu menyunggingkan senyumnya.


"Kau pasti akan menyukai hal ini." Sehun menyentuh pergelangan kaki Jiyoung yang terasa lembut lalu ia memberikan kecupan disana. Cukup lama.


"Ini hadiahku, untukmu." Sehun mulai melepaskan ciumannya dan meraih benda yang ia bawa tadi lalu mulai memakainya kepada kedua pergelangan kaki gadis itu.


Setelah selesai, Sehun tampak tersenyum dengan hasil karyanya.


"Tidurlah. Dan bangunlah esok hari. Aku yakin kau akan sangat menyukainya." Sehun pun menyelimuti tubuh polos Jiyoung dengan selimut dan mengecup kepala Jiyoung lama.


"Aku akan membersihkan diriku. Kau tetaplah disini. Karena aku harus kembali ke China." ujarnya kepada gadis itu lagi. Ayolah, Sehun. Apa kau berpikir Jiyoung mendengarkanmu saat kau buat pingsan begitu?


"Nah, sekarang aku bisa benar-benar bisa tenang saat meninggalkanmu." Sehun pun mulai memasuki kamar mandi dan bersiul ditengah jalannya. Ia merasa beban nya terhadap Jiyoung sudah lenyap. Ia yakin jika Jiyoung tak akan bisa pergi lagi karena gadis itu sudah ia pasangi rantai dipergelangan kakinya. Dengan begini Jiyoung akan selalu disisinya.


.


.


.


.



*Gimana? Gimana? Sehun benar-benar gilakan? Itu juga alasan Jiyoung yang merasa takut dan benci ama Sehun. Apa masih dukung Sehun atau pemeran yang nantinya bakal nyelamatin Jiyoung? Wkwk


Ditunggu vomentnya, See you*~~