
.
.
.
Kakinya benar-benar lelah, ia sudah berlari sekitar setengah jam dari rumah besar itu. Perlahan kakinya berhenti sejenak untuk menarik nafas dalam. Ia butuh udara sekarang.
Jiyoung mengatur nafasnya lagi dan lagi. Lalu wajahnya melihat keatas. Ia baru sadar jika langit sudah sangat gelap dan sepertinya akan turun hujan. Sontak tubuhnya bergetar ketakutan. Memikirkan hal-hal aneh sekarang. Ia tak tau dimana ia berada sekarang. Bagaimana caranya ia pulang kerumah? Lalu yang lebih menakutkannya lagi adalah bagaimana jika pria itu tiba-tiba menemukannya? Jiyoung rasa jika itu terjadi bisa pastikan ia tak akan bertemu dengan orangtuanya lagi bahkan untuk selamanya. Mengingat bagaimana pria gila itu berucap dan memperlakukan dirinya sesuka hati seakan Jiyoung adalah miliknya.
Jiyoung mengusap wajahnya kasar, disela ketakutannya ia menangis lagi. Kakinya benar-benar lelah ingin sekali ia berhenti dan mengistirahatkan diri tapi itu tidak mungkin karena ia yakin jika pria gila itu pasti tengah mencarinya.
Ia jadi ingat bagaimana pertama kali pria itu tak menemukan dirinya dirumah besar itu, hal yang sangat menakutkan terjadi terhadapnya. Padahal saat itu ia masih berada didalam rumah tersebut, tak pergi kemanapun lebih tepatnya ia belum mempunyai waktu untuk pergi dari rumah itu. Apalagi jika pria itu tau jika ia benar-benar pergi dari rumah terkutuk itu. Pasti dirinya tak akan pernah mencium udara kebebasan.
Ia sebenarnya tak yakin jika jalan yang tengah ia pijak ini mengarah ke jalan besar, tapi meski begitu dirinya terus bertekat menemukan jalan untuk pulang. Ia hanya perlu bertemu seseorang ditempat ini atau mungkin bertemu dengan satu mobil yang melewati daerah ini. Yah. Karena jalanan ini sangat sepi membuat Jiyoung hampir putus asa karena tak menemukan seseorang dijalanan.
Ia rasanya ingin menangis sekarang. Ia sangat rindu dengan eomma serta oppanya. Pasti mereka sangat mengkhawatirkannya. Entah, apa yang harus ia lakukan sekarang?
Dengan langkah yang mulai melemah Jiyoung terus berjalan. Memaksakan dirinya untuk terus berjalan. Saat berjalan ia melihat cahaya lampu dari arah belakang lalu deru mesin mobil yang terdengar tersebut mulai menghampirinya. Dalam hati ia bersyukur karena ia sepertinya tak sia-sia pergi sampai sejauh ini.
Langkahnya terhenti lalu sejenak berbalik. Menatap dari jauh siapa pengemudi tersebut. Dalam diam ia terus menatap seseorang tersebut sampai ia tersadar jika telah melakukan kesalahan. Tubuhnya bergetar, langkahnya refleks mundur. Dia. Pria gila itu!
Ia dapat lihat, meski jauh jika pria itu tengah menyeringai kearahnya. Sungguh itu membuatnya sangat ketakutan. Dengan cepat Jiyoung kembali berlari. Ia tau jika percuma saja jika ia berlari seperti ini karena nyatanya laju mobil yang kencang itu pasti jauh lebih hebat dibandingkan dirinya dan dapat dipastikan jika pria itu akan membawanya kembali kesana istana itu lagi. Tidak. Ia sungguh tak ingin kembali kesana lagi.
Tepat dipersimpangan jalan. Matanya melirik segerombolan mobil-mobil besar pengangkut jerami yang tengah mengistirahatkan diri. Pasti supir-supir itu tengah mengarah kekota.
Ini kesempatannya! Ia harus bersembunyi disana agar pria itu tak bisa menemukannya lagi. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya Jiyoung mencoba menaiki salah satu mobil besar tersebut. Sebelum para supir itu menjalankan mobilnya. Tubuhnya yang kecil telah naik kebelakang dan berusaha menyembunyikan diri sebaik mungkin diantara tumpukan jerami tersebut.
Jiyoung bersyukur saat merasa mesin mobil sudah dinyalakan. Ini artinya sebentar lagi mobil tersebut akan segera berangkat. Ia akan segera menuju ke kota. Setelah mendengar supir itu menelpon seseorang dan mengatakan ia tengah menuju ke Seoul untuk membawa pesanan orang tersebut.
Syukurlah. Ini berarti ia tak salah ikut mobil. Tinggal menunggu lalu keesokkan harinya ia akan kembali ke Seoul, sebentar lagi ia akan bertemu dengan keluarganya.
"Hei! Apa yang kau lakukan?!" Teriak salah satu supir yang berada didepan mobil yang berjejer ini. Mendengar hal itu membuat Jiyoung keringat dingin. Pasalnya ia tengah mendengar suara seseorang. Pria gila itu tengah memblokir jalan!
"Aku hanya ingin memastikan sesuatu." Ujarnya terlewat santai. Membuat Jiyoung menekuk lututnya erat dan memejamkan matanya. Takut jika pria itu menemukannya. Ia harap hal itu tak terjadi. Sebisa mungkin Jiyoung tak bersuara takut jika suara sekecil apapun akan diketahui olehnya.
Langkah kaki yang terdengar membuat Jiyong semakin takut. Pria itu tengah mengarah kemobil yang ia naiki dan sepertinya akan memeriksa tumpukan jerami ini. Jiyoung semakin menggenggam tangannya jauh lebih erat daripada sebelumnya.
Tirai yang menutupi jerami ini perlahan terbuka, Jiyoung bisa merasakannya. Tidak. Ia tak boleh ditemukan olehnya. Ia tak ingin. Tuhan tolonglah dirinya.
"Hei! Kau mengganggu perjalan kami. Apa kau gila? Lebih baik kau cepat pergi dari sini." Tangan pria itu terhenti saat supir itu merasa terganggu dengan ulah seseorang yang tak dikenalnya ini. Sebenarnya siapa orang gila itu?
"Iya, kau mengganggu perjalanan kami." Seru yang lainnya. Mereka mulai menunjukkan aksi protes saat melihat tingkah laku pria asing tersebut. Sontak pria itu menyeringai. Baiklah sepertinya sampai sini saja ia bermain-main.
"Baiklah, kurasa kau butuh udara segar. Aku akan memberimu waktu untuk beristirahat. Bersenang-senanglah dan aku pasti akan mengunjungimu di Seoul." Ucap pria itu dengan jelas dan terkesan lembut. Para supir itu tak mengerti akan ucapan pria tersebut tapi hanya satu orang yang tau maksudnya karena kalimat itu untuk dirinya. Jiyoung menangis, ia menggigit bibir untuk meredakan tangisannya. Ternyata pria itu tau jika ia bersembunyi disini, lalu apa yang harus ia lakukan setelah sampai Seoul? Haruskah ia bunuh diri?
••🌷🌷••
Setelah berjalan beberapa jam lamanya. Jiyoung tersadar dari tidurnya. Sepertinya supir itu telah sampai tujuannya. Dengan pelan ia membuka tirai jerami tersebut. Membuat supir itu terkejut saat melihat jika dibelakang mobilnya ada seseorang. Terlebih penampilan gadis itu sungguh menggenaskan.
"Astaga! Nona apa yang kau lakukan disitu?" Jiyoung memandang supir itu dengan tatapan mata kosong. Ia turun dari mobil dengan bantuan supir tersebut. Tenaganya lemah. Seperti terkuras habis. Pelariannya terasa tak berarti. Karena nyatanya pria itu mengetahui hal ini.
"Sepertinya kondisimu kurang sehat, mau kuantar kau kerumah sakit?" Jiyoung berdecak. Rumah sakit? Lebih baik ia mati saja. Itu lebih baik untuknya. Tanpa sepatah katapun gadis itu pergi begitu saja. Membuat supir itu menatapnya bingung. Sebenarnya apa salah dirinya sampai bertemu orang-orang asing dan gila tersebut?
••🌷🌷••
Matanya mengerjap, ia membuka matanya perlahan. Sedikit mengeryitkan dahi karena merasa pusing. Apa ini rumahnya? Apa ia sedang bermimpi? Atau mimpi buruk yang telah ia lalui beberapa hari lalu telah menghilang?
Pintu kamarnya dibuka dengan pelan lalu dekapan langsung ia terima. Ini eommanya. Pasti, eomma sangat mengkhawatirkan dirinya.
"Akhirnya kau sadar, eomma sangat mengkhawatirkanmu sayang." Jiyoung tanpa sadar menangis. Ternyata benar, ini bukan mimpi. Ibunya yang tengah memeluknya saat ini adalah nyata.
"Eomma... Hiks... Aku merindukanmu...hikss.." Jiyoung menangis dan kembali memeluk tubuh erat ibunya.
"Aku tau kau telah mengalami hal yang berat. Kumohon, tetaplah bertahan. Jangan tinggalkan eomma, ne? Kami sungguh mengkhawatirkanmu." Jiyoung tersenyum simpul. Ah. Benar. Ia ingat sekarang. Saat ia pulang dan tak menemukan orang dirumah ia memutuskan untuk langsung kekamar.
Ia menangis sekeras mungkin, membersihkan dirinya dengan sabun berharap tubuhnya tak kotor lagi tapi meski sudah mandi sebersih mungkin, dirinya tetaplah kotor. Ia merasa kotor karena pria itu. Mengingat hal itu lagi membuat dirinya menjadi gila.
Tanpa sadar, ia mengambil tambang yang sempat ia simpan dilemari untuk menjemur pakaiannya. Untung saja tali itu masih ada. Jadi, ia bisa memutuskan untuk menggantung dirinya.
Disaat ia hampir meregang nyawa, bunyi dobrakan pintu membuatnya melihat siapa orang tersebut. Ternyata itu adalah kakaknya. Park Lay. Pria itu berteriak lalu segera menghampiri Jiyoung. Mencoba menyelamatkan gadis itu. Untung saja ia datang diwaktu yang tepat. Jika semenit saja ia telat, bisa dipastikan Jiyoung pasti tak selamat. Ia tak ingin itu terjadi. Ia sungguh menyayangi adiknya itu.
"Ne, eomma. Maafkan aku telah membuatmu dan oppa khawatir." Ujar Jiyoung menenangkan ibunya yang masih saja menangis didalam pelukannya.
"Kami sangat menyayangimu dan akan selalu menjagamu. Jadi, kami harap kau tak melakukan hal itu lagi." Jiyoung menganggukkan kepalanya. Wanita parah baya itu kembali memeluk anak bungsunya itu dengan penuh kasih sayang. Ia menyuruh Jiyoung untuk memakan buburnya dan gadis itu menerimanya dengan senang hati.
"Eomma, mulai sekarang aku ingin tinggal disini, aku tak ingin kembali ke Seoul." Wanita itu mengangguk kepalanya. Ia tau pasti, sepertinya hal yang membuat Jiyoung sampai begini pasti berada di kota tersebut.
"Tentu saja sayang, kami bahkan sangat senang kau tinggal disini bersama kami." Gadis itu tersenyum, meski terpaksa karena merasa lega juga merasa tertekan?
Entahlah, meski ia merasa lega bisa tinggal disini tapi ia selalu merasa jika pria itu masih mencari keberadaannya. Tidak. Ia yakin jika pria itu tak akan menemukan dirinya karena ia berjanji tidak akan kembali ke Seoul lagi untuk selamanya.
"Terima kasih eomma."
TBC