
.
.
.
Jiyoung masih asik menonton acara di televisi, sebenarnya tidak ada acara yang menarik sama sekali tapi semua ini harus ia lakukan agar pendengaran sedikit tuli untuk mendengarkan suara berisik diluar sana. Yah. Suara seseorang yang terus memanggil namanya sejak setengah jam yang lalu.
"Yak! Park Jiyoung! Aku tau kau didalam!" Ujar pria itu dengan suara tingginya, sepertinya dia sudah mulai kesal karena gadis itu terus mendiaminya seperti ini. Ia yakin jika Jiyoung ada didalam karena suara televisi yang terdengar cukup keras hingga keluar.
"Kau berisik oppa! Sebaiknya kau pulang saja!" Balas Jiyoung sama kesalnya dengan pria itu. Lihat saja, bagaimana mungkin Minho melupakan janjinya lalu pria itu tak mengabarinya sama sekali dan parahnya Minho tak langsung kerumahnya untuk sekedar meminta maaf.
"Mian, tapi aku sudah berusaha untuk selesai tepat waktu hanya saja pekerjaanku semakin menumpuk tadi malam." Ujar pria itu lemah, meski samar Jiyoung masih mendengarnya. Gadis itu menghela nafasnya dalam. Baiklah. Ia yang sebenarnya salah disini. Entah kenapa ia merasa kesal dengan Minho padahal sudah jelas pria itu tak salah. Ini semua karena rasa cemasnya. Sejak kejadian seminggu lalu di halte bus saat itu. Ia merasa jika seseorang terus mengawasinya dimana pun ia berada.
Entah ini hanya ketakutannya yang berlebihan atau hal lain yang pasti ia tak tau. Jiyoung ingin Minho selalu ada disisinya, sungguh ia merasa kesepian. Ini semua karena orangtua serta kakaknya tidak ingin ikut bersama dengannya untuk tinggal di Seoul. Padahal, menurut Jiyoung kota ini sungguh menyenangkan tapi mereka bilang mereka lebih suka tinggal didesa yang masih sejuk dan tenang. Yah. Memang desanya sungguh indah hanya saja untuk lapangan pekerjaan sangatlah susah jika ingin bekerja disana karena itu Jiyoung memutuskan pindah kekota, semuanya berjalan lancar termasuk kisah cintanya dengan pria lembut itu.
"Astaga! Kau membuatku khawatir!" Ujar Minho langsung memeluk dirinya saat Jiyoung membuka pintu dengan perlahan.
"Maaf. Aku tak bermaksud seperti tadi." Lirih gadis itu merasa bersalah. Minho tersenyum. Gadis itu sungguh manis jika seperti ini.
"Baiklah, aku maafkan dan maafkan aku juga yang tak memberimu kabar beberapa hari karena pekerjaanku sungguh banyak akhir-akhir ini." Jelas pria itu dan Jiyoungpun menganguk tanda mengerti. Minho semakin memeluk Jiyoung semakin erat, ia sungguh rindu dengan gadis itu. Demi apapun ia tak ingin kehilangannya.
"Haha.. Kau terlihat sangat kacau oppa." Ujar Jiyoung tiba-tiba lalu melepaskan pelukannya kemudian melihat penampilan pria itu dari atas sampai bawah. Ia tak bisa menahan tawanya karena Minho masih memakai baju piayama. Apa pria itu tak malu jika disangka gila oleh orang lain? Rambutnya acak-acakan terlebih pria itu memakai sandal rumah yang berbeda. Astaga! Apa benar pria ini pacarnya?
"Yak! Ini semua karena kau tak membalas pesanku dan mematikan ponselmu saat aku berbicara kepadamu tadi." Dengus pria itu dan menjelaskan jika penampilannya bisa sekacau ini karena sikap Jiyoung tadi. Tak taukah Jiyoung ia sungguh khawatir? Gadis itu sungguh berbahaya, ia rasa Jiyoung bisa membuatnya gila karena khawatir.
"Mian." Gadis itu tertunduk sedikit. Mengartikan jika merasa bersalah sekali lagi.
"Yah dan mulai sekarang jawablah ponselmu Jiyoung."
"Iya oppa, kau sungguh cerewet."
"Aigo. Ini semua karena aku khawatir kepadamu." Minho mencubit pipi Jiyoung dengan gemas.
"Yak! Sakit oppa." Ringis Jiyoung tak terima. Sedang pria itu hanya bisa tertawa.
"Oppa apa kau sudah makan?" Tanya Jiyoung saat menyadari jika Minho terlalu pagi datang kerumahnya. Ia menebak pasti pria itu belum makan sama sekali.
"Iya dan aku sangat lapar."
"Kajja, masuklah. Aku akan membuatmu sarapan."
"Aigo. Kau memang yang terbaik Jiyoung dan aku semakin mencintaimu." Ujar Minho yang terdengar manja. Pria itu bahkan memeluk Jiyoung lalu mengecup bibirnya singkat. Astaga! Pria ini tak tau malu! Bagaimana jika nanti ada tetangga yang lewat dan melihat hal ini? Pasti mereka akan berpikir macam-macam. Baiklah, ia rasa itu hanya pikiran yang berlebihan. Bahkan ia tau, jika Minho tidak akan melakukan yang lebih dari sekedar ciuman karena pria itu tipe penjaga perempuan. Jadi, dia tak mungkin menyerangnya kecuali jika dirinya yang menyerang Minho duluan.
"Berhentilah menggodaku."
••🌷🌷••
Minho menatap Jiyoung yang terlihat serius saat menyiapkan sarapan. Gadis itu sungguh berbeda jika sudah didapur. Padahal ia ingin membantunya tapi dia pasti marah. Minho hanya akan membuatnya susah karena pria itu sungguh buruk jika berada didapur. Mimho itu tidak tau sama sekali tentang hal-hal yang berbau masakan. Saat itu Jiyoung menyuruh Minho untuk menambahkan gula dipudingnya tapi yang terjadi pria itu malah memberi garam lalu saat membuat kopi juga seperti itu. Sejak saat itu, Jiyoung tak percaya jika Minho bilang sudah bisa membedakan garam dengan gula karena ia yakin Minho masih buta dengan perbedaan dua benda tersebut.
Minho bersenandung, sepertinya pria itu mulai bosan. Buktinya ia masih setia melihat Jiyoung yang terlihat tekun saat menggoreng telur. Pria itu menopang dagunya lalu tersenyum dan berpikir, mungkin ini rasanya saat dimana suami menunggu sang istri tercinta selesai memasak untuknya. Ah. Ini sungguh manis sekali.
"Oh iya Jiyoung, tadi didepan pintu aku menemukan susu didepan pintu rumahmu. Kupikir kau lupa membawanya kedalam jadi aku menaruhnya disini." Ujar pria senang tapi yang dirasakan Jiyoung tak sama. Tubuh gadis itu kembali menegang baru saja ia melupakan ketakutannya hari ini tapi pria itu malah mengungkitnya lagi.
Prang...
Tanpa sadar piring yang telah tersaji masakan untuk Minho terjatuh begitu saja karena tiba-tiba tangan Jiyoung kembali bergetar. Dengan cepat Minho menghampiri gadis itu. Ia sungguh terkejut. Ada apa sebenarnya?
"Kau tak apa?" Ujar Minho lalu berhati-hati mengiring tubuh gadis itu kearah sofa agar terhindar dari pecahan piring tersebut.
"I-iya." Ujar Jiyoung terbata. Tangan gadis itu terus bergetar.
"Kau kenapa? Kau terlihat takut Jiyoung." Ujar Minho khawatir. Ia meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya, berusaha agar tangan Jiyoung yang terasa dingin kembali kesuhu normalnya.
"Ma-maaf oppa. Sebenarnya ak-aku.." Ujar Jiyoung dengan nada takut yang terdengar jelas.
"Sttt... Tenanglah dan ceritakanlah kepadaku." Ujar Minho menenangkan gadis itu lalu memeluknya dan terus mengusap lembut rambut panjang Jiyoung.
"Sebenarnya aku merasa takut. Aku merasa jika ada seseorang yang terus mengawasiku. Jika aku membuka jendela itu aku merasakan sepasang mata tengah menatapku tajam lalu susu kotak yang terus ada didepan pintu rumahku. Padahal aku tak pernah memesannya. I-ini se-semua membuatku merasa takut." Ujar gadis itu akhirnya, mengungkapkan semua yang ia rasakan akhir-akhir ini.
"Tenanglah, itu hanya perasaanmu saja dan untuk masalah susu kotak itu aku akan mencari tau siapa pengirimnya. Jadi, aku mohon kepadamu jangan terlalu khawatir akan hal ini dan bila perlu kau tinggal saja dirumahku, aku akan berbagai rumah, kamar mandi bahkan kamarku denganmu, bagaimana? Bukankah ini menarik?" Tawar pria itu. Gadis itu membulatkan matanya, sedang sang pria menahan tawanya saat melihat mata bulat Jiyoung yang semakin membulat karena terkejut.
"Yak! Kenapa kau malah bercanda!" Teriak Jiyoung kesal dan mencubit lengan pria itu, Minho meringis kesakitan dan hal itu membuat Jiyoung khawatir tapi lagi-lagi pria itu hanya bercanda dan akhirnya Jiyoung melemparkan bantal sepertinya Minho menerima pukulan bantalan tersebut dengan suka rela. Ia tersenyum, ia senang akhirnya Jiyoung tak merasa ketakutan seperti tadi.
"Ini Jiyoung yang kukenal, kuharap kau seperti tadi." Jiyoung tersadar jika pria itu sudah menyembuhkan ketakutannya, dengan cepat gadis itu melompat kedalam pelukan Minho, merasa berterima kasih karena tanpa sadar pria itu sudah membuatnya merasa lebih baik. Kini rasa cemasnya benar-benar hilang.
Ucapan Minho bisa dipercaya, jika pria itu bilang akan menemukan siapa pengirim susu kotak itu, pasti akan ditemukan olehnya. Oh. Sungguh ia bersyukur karena ia mempunyai pria seperti Minho yang selalu ada untuknya. Malam ini Jiyoung bisa tidur nyenyak, akhirnya ia tak perlu memikirkan siapa pengirim misterius itu lagi tapi meski begitu bayang-bayang samar yang selalu terlihat dibalik pohon besar rumahnya itu bagaimana? Jiyong menggeleng, untuk hal itu pasti hanya halusinasinya saja. Yang terpenting sekarang Minho akan mempunyai waktu yang lebih banyak untuknya. Hanya tunggu beberapa hari lagi agar pria itu cepat menyelesaikan pekerjaannya.
"Terima kasih." Ujar Jiyoung bersyukur lalu mengecup bibir pria itu singkat dan mereka kembali tertawa bersama dan hayut dalam obrolan yang terdengar romantis bagi Jiyoung.
Tepat disebrang jalan sana. Pria yang memakai jaket cukup tebal tersebut mencengkram erat minuman yang ia bawa dengan senang hati, tapi itu tadi. Untuk sekarang rasanya ia ingin memusnahkan semua susu kotak yang ia bawa dengan penuh cinta tersebut. Dengan geram ia melempar susu kotak tersebut ketengah jalan, membiarkan susu tersebut terlindas oleh laju mobil yang sangat cepat. Sambil membayangkan jika nasib pria itu nantinya akan sama seperti susu kotak tersebut.
"Dia milikku." Geram pria itu tak terima. Saat tubuh Jiyoung dengan senang hati menerima pelukan dan ciuman dari pria lain. Semuanya dapat ia lihat, seharusnya gadis itu menutup gorden rumahnya dengan begitu ia tak perlu melihat kegiatan menjijikan itu. Pria itu sungguh membuatnya geli. Membuatnya ingin menghancurkannya detik ini juga karena terus menerus memeluk tubuh Jiyoung-nya.
"Jiyoung, kau milikku." Ujar pria itu lagi. Seakan suaranya dapat didengar gadis itu dan memberitau Jiyoung jika dialah pemilik gadis itu bukannya orang lain.
"Besok, aku akan menjemputmu sayang." Tiba-tiba pria itu tersenyum menampilkan smirknya yang terlihat menyeramkan. Wajah tampannya sungguh tak terlihat, pria itu malah terlihat menyeramkan karena bajunya yang serba hitam ditambah sosoknya yang terlihat seperti tak tampak. Mulai besok rasa aman yang Jiyoung rasakan tak akan terkabul karena nyatanya pria itu sudah mengucapkan hal yang dipastikan bisa membuat kehidupan seorang Jiyoung berubah. Kegelapan telah mengampirinya dan menginginkan cahaya itu dalam dekapannya dan tak mungkin melepaskannya begitu saja. Karena kegelapan jauh lebih kuat dibandingkan cahaya itu.
TBC