
.
.
.
"Cepatlah pergi dari sini." Ujar Jiyoung ketika sudah mengembalikan ponsel tersebut ke mereka. Sontak mereka mengangguk dan langsung pergi.
Brakk...
Nafas pria itu memburu dan langkah tegas itu langsung menghampirinya dengan tergesa.
"Se-sehun?" Pria itu memeluknya. Merengkuhnya lebih dalam lagi kedalam dada bidangnya.
"Kupikir kau akan pergi meninggalkanku." Ujar pria lirih dan sedikit bernafas lega saat mengetahui Jiyoung masih berada ditoilet. Ia bahkan tak peduli jika ada beberapa gadis lain yang tengah memakai toilet ini dan dirinya akan diteriaki karena perbuatannya barusan.
"Ak-aku maaf terlalu lama kembali, tadi perutku merasa keram dan tak enak badan. Tapi sekarang sudah tak apa. Ayo, kita kembali keruang rapat." Jiyoung melepaskan rengkuhan Sehun yang terasa menyiksanya.
"Apa sebaiknya kita kerumah sakit? lebih baik aku tak perlu mengikuti rapat itu lagi." Jiyoung melebarkan matanya. Tidak-tidak. Ini tak boleh terjadi. Ini tak sesuai rencananya.
Tanpa berkata, Jiyoung meraih wajah Sehun. Kakinya sedikit ia naikan agar sejajar dengan pria itu dan bibirnya langsung menyentuh bibir Sehun dengan lembut. Jiyoung menciumnya! Sontak, Sehun tak menyiakan kesempatan itu. Ia memperdalam ciuman Jiyoung. Terkesan lebih menuntut.
Jiyoung kembali membalas ciuman Sehun, membuat pria itu tersenyum senang dalam ciumannya kali ini. Nafas mereka terengah. Jiyoung merapihkan bajunya yang sedikit berantakan karena tangan Sehun tadi menyentuh tubuhnya dibalik baju yang ia kenakan.
"Aku tak apa. Ayo, aku akan menemanimu lagi." Ujar gadis itu lagi dan mengenggam tangan Sehun.
"Kau tak bisa pergi begitu saja, disaat sedang menjalani rapat. Terlebih semua rekanmu pasti sedang menunggu keputusan hasil rapat itu darimu bukan?" Ujar Jiyoung lagi, Sehun pun memejamkan matanya sejenak lalu mengikuti Jiyoung yang tengah menariknya kecil untuk pergi dari toilet.
Ketika mereka keluar, Jiyoung melihat pengawal yang sejak tadi menjaganya menunduk dalam dan tak berani menatap mereka.
"Aku akan bersama Sehun, jadi tak perlu mengikuti kami lagi." Ujar Jiyoung yang entah kenapa jadi lebih berani. Sikap tersebut tentu saja membuat Sehun mengeryitkan alisnya heran tapi setelahnya ia tersenyum tipis. Mengingat ciuman mereka tadi.
"Tapi saya harus memastikan anda-"
"Yah. Kau tak perlu mengikuti Jiyoung lagi karena aku dan Jiyoung akan kembali keruang rapat." Ujar Sehun memotong ucapan pengawal itu. Tentu saja, pengawal itu menundukkan kepalanya tanda patuh.
"Baik, tuan Sehun."
••🌷🌷••
Ponselnya bergetar beberapa kali. Lay pergi menjauh dari mereka. Ia mengeryitkan alisnya heran. Siapa yang telah menelponnya? Apakah rekan bisnisnya?
Dengan sedikit melangkahkan kakinya lagi, ia pun tiba diteras rumahnya.
"Hallo?"
"Op-oppa, tolong aku."
Suara ini! Apa benar dia adalah...
"Aku Jiyoung, oppa."
"Jiyoung?! Bagaimanna keadaanmu sekarang?"
"Aku baik saja oppa."
"Lalu bagaimana bisa kau menghilang begitu saja dari rumah sakit? Kau tau kami sangat mengkhawatirkanmu?"
"Hikss.. Maaf."
"Eomma dan aku terus mencarimu. Terlebih kau tau? Ada seorang pria yang mengatakan jika dia adalah tunanganmu? Aku tak percaya ini tapi semua-"
"Oppa, kumohon aku tak punya banyak waktu."
"Jiyoung? Kau-"
"Kumohon, datanglah ke Oh Corporation secepatnya sebelum jam 12, aku tak tau kapan pria itu membawaku kembali. Jika kau tak bisa menemuiku sekarang, maka aku tak akan bisa kembali lagi kerumah."
"Kumohon jangan beritahu yang lainnya. Kumohon jangan libatkan Minho dengan semua ini dan kumohon oppa segeralah kesini sekarang juga hiksss." Lanjut gadis itu lagi.
"Tentu saja Jiyoung aku-" Ucapan Lay terhenti, membuatnya mengepalkan tangannya kuat.
"Aku menunggumu oppa." Sambungan telpon itu pun berakhir. Jiyoung. Ia harus menyelamatkannya dari pria brengsek itu. Tanpa pamit, Lay pergi begitu saja dari rumahnya.
Menggunakan mobilnya menuju kearah perusahaan yang Jiyoung beritahukan. Lalu setelahnya ia menelpon polisi untuk membantunya kali ini. Hanya inilah kesempatannya untuk menebus kesalahannya karena telah gagal menjaga Jiyoung waktu itu.
"Tunggu oppa, Jiyoung. Kita akan bersama lagi. Aku dan eomma sangat merindukanmu."
••🌷🌷••
Jiyoung terus mengatur nafasnya. Terus berdo'a dalam hati. Rapat masih berlangsung dan pria itu masih saja tampak serius. Jiyoung memperhatikan jam tangannya saat ini. Katanya, rapat akan selesai sebelum jam makan siang. Kemungkinan ia masih punya waktu sekitar dua jam lagi.
Jiyoung sedikit memainkan tangannya. Ia jadi gugup. Apa Lay oppa akan bisa sampai tepat waktu? Terlebih diluar sana hujan masih saja deras. Dapat ia lihat dari jendela super besar diruangan ini.
Mata Jiyoung melirik kearah Sehun. Pria itu masih saja memasang wajah datarnya. Sambil terus memperhatikan para rekannya berbincang. Syukurlah, Sehun tak merasa ada yang janggal dengan sikapnya ini. Jadi, ia hanya perlu menunggu kakaknya itu datang kemari dengan cepat.
"Baiklah, aku rasa cukup sampai disini." Jiyoung melebarkan matanya saat Sehun tiba-tiba bangkit dari duduknya dan mengenggam tangannya erat. Tunggu, bukankah rapatnya belum selesai?
"Tu-tunggu, bukankah rapatnya belum selesai?" Ujar gadis itu bertanya, Sehun memandang wajah Jiyoung lalu merapihkan rambut gadis itu.
"Yah. Memang belum, tapi kurasa kita harus segera kembali." Tanpa berlama-lama Sehun menyeret tangan Jiyoung. Membuat para dewan direksi disana berdiri dari duduknya. Tanpa banyak protes akan sikap Sehun tadi.
"Kalian tak usah khawatir dengan kelanjutan rapat ini. Sekretarisku akan datang sebentar lagi untuk memberikan keputusanku hari ini." Sehun menatap semua yang ada diruang rapat sekilas lalu tanpa banyak bicara ia kemudian menarik Jiyoung kembali untuk segera keluar.
"Sehun. Tunggu. Sehun!" Ujar Jiyoung sambil melepaskan tangannya dari pria itu ketika mereka sudah berada dilorong.
Gadis itu memundurkan langkahnya saat Sehun ingin meraihnya lagi.
"Bukankah masih ada dua jam lagi sebelum rapat selesai? Tapi kenapa harus buru-buru? Ak-aku baru saja merasa bisa menghirup udara selain didalam rumahmu." Ujar gadis itu menjelaskan akan sikapnya tadi.
Tanpa peduli dengan Jiyoung tak ingin disentuhnya, kaki pria itu semakin saja berjalan mendekat, menyudutkannya hingga kedinding.
"Kau tau? Entah kenapa tiba-tiba aku merasa resah. Aku terus memperhatikan jam tanganku sejak tadi. Bukankah kau juga begitu, Jiyoung?" Sehun menyunggingkan senyumnya. Jiyoung melebarkan matanya. Pria itu ternyata memperhatikan sikapnya sejak tadi. Bagaimana bisa? Sial. Ia seharusnya tau jika Sehun selalu saja memperhatikannya dan pria itu memang pintar. Aishh.... Ia lupa fakta itu.
"Kau selalu saja menganggapku bodoh bukan?" Smirk pria itu terlihat membuat jantung Jiyoung terasa akan keluar. Ia sangat gugup dan resah. Bagaimana dengan nasibnya kedepan nanti?
"Aku tak tau apa yang sejak tadi kau pikirkan dan membuatmu merasa resah. Aku yakin kau sedang merencanakan sesuatu dibelakangku. Kau membuatku sangat kecewa Jiyoung." Ujar pria itu memegang dadanya. Seperti merasakan hal yang sangat menyakitkan karena dikhianati.
Jiyoung sangat takut. Gadis itu menekan tombol beberapa lantai. Ketika pintu lift terbuka, sontak Jiyoung mendorongnya dengan sekuat tenaga hingga tubuh pria itu membentur dinding lift dengan cukup keras.
Jiyoung menoleh. Sedikit merasa bersalah saat melihat Sehun meringis menahan sakit dikepalanya. Tidak. Ia pun menggelengkan kepalanya tanda tak peduli. Jiyoung terus melangkahkan kakinya lagi, lebih tepatnya mencoba berlari tapi pria itu lebih cepat dibanding dirinya.
"Akhh!" Jiyoung meringis saat tubuhnya terjatuh disaat Sehun mendorongnya cukup keras.
"Brengsek! Berani sekali kau melawanku!" Teriak Sehun menggema dilantai yang tadi sempat Jiyoung pilih. Ia tak tau ini sudah dilantai berapa. Jiyoung melirik sekelilingnya. Kenapa begitu sepi? Sial. Apa karena belum waktu jam istirahat?
Plakk...
Sehun menamparnya. Lalu kembali meraih pergelangan tangannya. Sehun gila! Ia sungguh takut sekarang. Sehun yang seperti ini membuatnya ingin memilih mati. Tuhan, tolonglah.
"Dengar. Bukankah sudah kubilang aku ini tak suka dilawan? Kau sungguh berani melawanku." Sehun mencengkram pipinya dengan kasar. Membuat Jiyoung meringis menahan sakit.
"Apapun yang terjadi kau tak akan bisa meninggalkanku! Kau harus tau itu Jiyoung!" Teriak Sehun lagi. Mata Sehun yang beberapa saat lalu terlihat teduh kini berubah menjadi menyeramkan. Bahkan raut wajah Sehun terlihat sangat berbeda. Sehun seperti mempunyai kepribadian lain. Ia sungguh tak bisa hidup dengan orang seperti ini. Sehun gila, seharusnya pria ini dimasukkan kerumah sakit jiwa!
"Lepaskan aku." Jiyoung menyingkirkan tangan Sehun yang sedari mencengkram pipinya. Lalu dengan sekuat tenaga ia menampar pipi pria itu.
"Aku bukan milikmu! Aku tak ingin hidup denganmu! Kau merampas segalanya! Aku ingin pulang!" Gadis itu menaikan nadanya lalu mengeluarkan semua jeritannya selama ini. Pria itu harus tau.
"Aku begitu tersiksa hidup denganmu. Kau selalu mengurungku. Aku ini bukanlah sebuah barang yang bisa kau simpan dan gunakan sesukamu. Kau hanya beralasan dengan semua yang kau lakukan kepadaku selama ini, jika kau mencintaiku. Tidak. Kau tak pernah mencintaiku. Kau hanya terobsesi kepadaku. Kau harus kerumah sakit jiwa Sehun! Kau sudah gila!" Teriak Jiyoung menggebu diakhir kalimatnya. Sehun membelalakan matanya. Pria itu memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit. Lalu memundurkan langkahnya.
Perkataan Jiyoung barusan ternyata memberikan efek kepada Sehun.
"Tidak! Aku tak gila! Aku hanya terlalu mencintaimu!"
"Tidak! Kau tak mencintaiku! Jika kau mencintaiku maka kau tak akan pernah menyiksaku lalu membuatku merasa nyaman sesaat, kemudian menghancurkan hatiku lagi. Membuatku selalu merasa takut denganmu. Semua itu bukanlah cinta Sehun! Aku sungguh takut berada didekatmu. Semua yang kau lakukan kepadaku membuat diriku trauma." Gadis itu menangis disela ucapannya. Sehun berteriak lagi dan mengelengkan kepalanya. Tidak. Semua yang Jiyoung katakan tidaklah benar.
"Kumohon hikss.... Jangan seperti ini hiksss... Kumohon biarkanlah aku hidup bebas... Aku hikkss... Ingin pulang Sehun... Aku hiksss.... Tak ingin bersamamu..." Ujar Jiyoung lirih. Sehun menonggakkan kepalanya disaat mendengar Jiyoung mengatakan ingin pergi darinya. Tidak. Jiyoung tak bisa meninggalkannya seperti ini.
"Tidak! Kau tak akan pernah bisa pergi dariku. Kau hanya milikku sampai kapanpun!" Sehun menghampiri Jiyoung dan memeluk gadis itu begitu erat. Menciumnya dengan ganas. Jjyoung tentu saja berontak dan mencoba melepaskan diri. Sehun yang merasa geram, merobek baju gadis itu. Tidak. Jiyoung mengelengkan kepalanya disaat Sehun menarik dirinya memasuki salah satu ruangan.
"Tidak! Lepaskan aku Sehun!" Jiyoung meronta lagi disaat Sehun melempar dirinya kesofa. Lalu pria itu semakin menindihnya dan memperdalam ciumannya. Gadis itu menangis dan tenaganya yang terus mencoba melawan Sehun semakin melemah.
"Akan kuingatkan kau lagi jika kau hanya milikku." Ujar pria itu yang kini membuka bajunya dengan tergesa. Membuat Jiyoung dapat melihat badan Sehun yang terlihat sempurna. Tidak. Ia tak menginginkan mimpi buruknya kembali terulang.
Brakkk...
"Lepaskan dia brengsek!" Sehun terlempar jauh. Gadis itu masih terisak. Wajah serta bajunya sangat berantakan.
"Kau tak apa-apa?" Pria itu langsung memberikan Jiyoung jaketnya. Segera menutupi baju Jiyoung yang telah robek dibeberapa bagian. Untung ia datang tepat waktu, jika sedikit saja ia telat mungkin Jiyoung sudah....
"Lepaskan aku! Para bedebah sialan!" Ronta Sehun disaat para polisi mulai berdatangan dan memegangi tangannya.
"Tuan Sehun, anda kami tangkap atas penculikan dan pemerkosaan yang telah anda lakukan kepada nona Jiyoung." Jiyoung menangis dengan keras saat tersadar dirinya telah selamat dan pria itu sudah diamankan.
"Sttt... Tenanglah. Oppa sudah datang. Kau tak perlu takut lagi." Lay mendekap Jiyoung kedalam pelukannya. Gadis itu masih saja menangis dan badannya bergetar. Mungkin masih mengingat kejadian tadi.
"Tidak! Kalian tak akan bisa memisahkan aku dengan Jiyoung-ku! Sayang, kumohon bicaralah kepada mereka." Ujar Sehun ketika diseret oleh beberapa polisi. Jiyoung menatap Sehun sesaat lalu memalingkan wajahnya. Sehun membulatkan matanya dan semakin berontak.
"Jiyoung! Aku hanya sangat mencintaimu hiksss... Kumohon bicaralah kepada mereka jika aku ini adalah tunanganmu. Bukankah kau berjanji akan mencintaiku dan kita sebentar lagi akan menikah bukan?" Ujar Sehun lagi. Jiyoung mengepalkan tangannya.
"Jiyoung. Kumohon bantu aku sayang." Mohon pria itu lagi. Mata Sehun berair. Ia terus menatap Jiyoung meminta pertolongan kepada gadis itu agar mengerti dengan keadaannya saat ini.
"Cepat bawa si brengsek itu pergi dari sini." Ujar Lay murka. Ia sangat marah disaat mendengar pria itu memohon kepada Jiyoung agar diselamatkan. Dasar bajingan kurang ajar!
Mata Jiyoung kembali melirik kearah Sehun dan gadis itu masih saja terisak. Ia semakin mencengkram jaket yang kini menutupi tubuhnya.
Ia tanpa sadar terus memperhatikan Sehun yang kini berlinang air mata dan terus berkata tak ingin dijauhkan oleh dirinya. Rasanya entah kenapa hatinya merasa sakit disaat melihat Sehun yang seperti itu.
Kenapa?
Kenapa ia harus merasakan perasaan bersalah seperti ini?
Tolong jelaskan, dimana letak kesalahannya.
"Ayo, eomma sudah menunggumu dirumah." Lay membantu Jiyoung berdiri. Gadis itu masih saja terdiam. Dengan lembut Lay membantu Jiyoung menuju mobilnya.
Air hujan yang jatuh semakin deras saja, seperti mencoba menutupi semua luka yang telah dirasakan.
••🌷🌷••
____________
***Mataku terbuka karena suara hujan.
Awan menutupi matahari sehingga tak ada cahaya.
Di hari-hari yang gelap seperti ini, aku tak memikirkan apapun.
Aku hanya ingin kembali berbaring, menutup mataku dan mendengarkan suara hujan yang terasa menyedihkan.
Dulu, kau bilang betapa indahnya hujan dan betapa kau sangat menyukainya.
Bagaimana kau menyukai bau hujan saat angin tengah bertiup.
Lalu aku bilang bahwa aku juga menyukai hujan.
Aku tak bersungguh-sungguh, namun aku mengatakannya.
Karena dirimu.
Saat hujan berhenti.
Saat itulah air mataku mengering.
Aku pikir aku tak akan mengingatnya lagi. Namun ternyata aku masih...
Mengingatmu.
Kumohon munculah di hadapanku.
Meski itu hanyalah sebuah kebohongan ataupun kebetulan***.
____________