
Aku pasti sudah gila. Untuk apa aku masih menangisi pria yang sudah beristri? Dan kenapa juga aku merasa menjadi istri yang buruk bagi suamiku saat ini karena air mataku yang sejak tadi mengalir tak kunjung berhenti?
"Aku akan meninggalkanmu sendiri disini. Aku memberimu waktu satu jam. Kuharap setelah aku kembali kekamar kau sudah meredakan tangisan bodohmu untuk lelaki brengsek itu." Sehun. Aku tau jika Sehun tidaklah terlalu peduli dengan keadaanku saat ini. Pria itu bahkan dengan cepat meninggalkan aku sendiri didalam kamar kami.
Setelah melihat dan merasakan Sehun sudah tak ada dalam jarak pandangku. Akupun menangis dengan lirih bahkan sangat lirih. Hatiku masih sangatlah sakit. Memang, aku selalu mengatakan akan selalu baik-baik saja tentang semua keputusan yang sudah kuambil. Salah satunya dengan merelakan Minho, pria yang pernah sangat kucintai.
Hati terkecilku tak bisa memungkiri jika cinta itu masih saja ada untuknya. Tapi, hari ini. Aku bersumpah akan melupakan pria itu. Maka dengan sumpah itu pun aku mulai menepuk dadaku kembali. Merasakan sakit yang sudah kucoba tahan selama ini.
'*Sekali lagi.'
'Cukup hari ini.'
'Dan hanya hari ini saja.'
'Aku menangisi Minho.
'Cintaku telah pergi.'
'Dan aku akan merelakannya dengan benar kali ini*.'
Sehun ternyata setia berdiri didepan kamar Jiyoung dan sejak tadi ia mengepalkan tangannya keras. Ia marah. Tentu saja. Kenapa juga Jiyoung menangisi pria sialan itu?! Ia jauh lebih baik darinya!
Ia tak suka jika Jiyoung menangis. Apalagi menangis dengan lirih seperti tadi.
Ia tak pandai menghibur seseorang. Jadi hanya sikapnya tadi yang memutuskan untuk meninggalkan Jiyoung sendiri yang menurutnya benar. Ia hanya merasa jika Jiyoung butuh waktu saja.
Setelah mencari beberapa lama, akhirnya Jung Suk dapat menemukan alamat rumah Jiyoung. Ia jadi ingin memuji dirinya yang bisa sepintar ini. Ia mengetahui perihal pernikahan Minho. Dia diam-diam menyamar menjadi salah satu tamu dan dibuat terkejut dengan kedatangan Jiyoung.
Ia tak salah prediksi. Jika begini ia akan mudah mengatakan masalah hilangnya Park Lay kepada gadis itu. Tapi, lagi-lagi niatnya terhalang karena ia melihat Minho yang sepertinya ingin berbicara serius. Ia pun mengikuti mereka diam-diam.
Dan betapa terkejutnya ia saat mendengar hal yang tak seharusnya ia dengar. Pria itu Sehun? Si brengsek itu bagaimana bisa dengan Jiyoung? Sial! Karena banyak media yang tak pernah menampilkan wajah Sehun ia jadi sulit untuk mengenali pria itu. Ck! Benar juga. Sehun itu bukankah sangat kaya? Ia yakin jika pria sialan itu telah menyumpal media serta polisi dengan lembaran dollar yang dia miliki.
Ia pun terus mengikuti Jiyoung. Hingga menemukan rumah baru Jiyoung dengan tepat.
"Jadi, kau tinggal disini? Kenapa kau bisa tinggal bersama dengan pria itu Jiyoung?" Itu adalah beberapa pertanyaan yang terlontar untuk Jiyoung. Tapi sayangnya ia tak bisa mengajukan hal itu secara langsung.
Besok. Ia harus segera mendapatkan jawaban itu dari mulut Jiyoung secara langsung.
Tepat setelah mobil Jung Suk pergi dari rumah Jiyoung berada, ternyata ada seorang pria lagi masih menatap rumah Jiyoung dari kejauhan.
"Aku harus cepat memberitahukan Jiyoung berita besar yang sudah kuketahui ini." Pria itupun berjalan pelan menjauhi rumah tersebut dan menutupi wajahnya dengan topi hitam yang ia kenakan. Yeon ternyata memundurkan rencananya untuk bisa berbicara kepada Jiyoung secepatnya. Mungkin besok adalah waktu yang tepat. Ia pun pergi dengan selembar foto yang pastinya akan sangat mengejutkan jiwa gadis itu.
.
.
.
To be continue