
.
.
.
"Dengan ini saudara Oh Sehun dinyatakan tak bersalah dan dibebaskan dari hukuman."
Saat ketukan palu yang terdengar sebanyak tiga kali, langsung membuat emosi Lay mendidih. Pasalnya pria itu sudah menebak-nebak apa yang akan hakim putuskan.
Bersama dengan si pelaku, dirinya dan Jiyoung dan beberapa orang yang menyaksikan ini, ia sudah mencoba berbicara kepada Jiyoung yang terlihat tak waras karena menginginkan kebebasan seorang bajingan seperti Sehun. Apa Jiyoung sudah gila dengan keputusan yang dia ambil itu? Lay bahkan memijit kepalanya beberapa kali memikirkan hal ini. Merasa pening.
Setelah memutuskan untuk menjauhi kerumunan yang lebih banyak terdapat awak media itu, Lay mencoba menarik Jiyoung menjauh kesalah satu sudut di gedung itu yang terlihat sepi.
"Jiyoung, apa kau sadar dengan ini semua?" Lay mencoba menyadarkan Jiyoung yang sepertinya ikut syok dengan keputusannya sendiri. Membebaskan orang yang telah mengambil harga dirinya dan memutuskan untuk tinggal bersamanya untuk merawat orang tersebut? Hah. Memang ia sudah sangat gila.
"Op-oppa... Ak-aku..." Jiyoung terlihat bingung untuk mengatakan sesuatu membuat Lay hendak meraih pundaknya sampai sebuah tangan menepis tangannya dengan kasar.
Dia Sehun!
"Yak! Kau! Apa yang kau lakukan?" Lay menunjuk-nunjuk wajah Sehun dengan murka. Lay sangat marah dengan tindakan orang ini. Terlebih dia adalah orang yang disebutkan menerima kebebasan atas tindak kejahatannya.
"Jangan mencoba menyentuh Jiyoung-ku." Balas Sehun yang langsung memeluk tubuh Jiyoung begitu saja, tentu saja Lay terkejut melihatnya. Membuat pria itu lantas mencoba melepaskan tangan kotor Sehun agar menjauhi adiknya itu. Tapi sayang, tenaga si gila Sehun itu ternyata lebih besar, membuatnya harus terjatuh ke lantai.
"Oppa!" Jiyoung melepaskan pelukan Sehun dengan tenaga yang bisa dibilang cukup besar. Membuat pria itu sedikit terhuyung kebelakang.
"Yak Jiyoung!" Tentu saja Sehun menarik Jiyoung kembali. Ia bahkan memegang lengan Jiyoung dengan sangat erat. Membuat gadis itu meringis dibuatnya.
"Sehun! Dia kakakku! Kau membuatnya terluka." Jiyoung menatap wajah Sehun dengan nafas memburu. Ia tau jika Sehun memang gila tapi apa kegilaan Sehun akan separah ini?
"Aku tak peduli! Dia hanya pengganggu dalam hubungan kita! Dia tak berhak menyentuh milikku! Terlebih dia seperti berusaha merampasmu dariku." Tatapan Sehun berubah tajam. Jiyoung mengontrol amarahnya yang akan meledak. Gila! Sehun masih saja memperlakukannya sebagai barang.
"Sehun. Dengar. Dia kakakku jadi tak mungkin ia mencoba menjauhiku darimu." Ujar Jiyoung yang berusaha mati-matian berujar lembut. Mendengar hal itu tentu saja membuat Lay menantangnya.
"Jiyoung. Sadarlah! Sebenarnya ada apa denganmu? Berhentilah seakan kau mencoba untuk peduli kepada si brengsek itu. Ayo kita pulang. Dan jangan pernah menemuinya lagi." Mendengar kalimat terakhir Lay, tentu membuat Sehun seakan gelap mata. Bahkan pria itu mencoba mendekati Lay dan berencana untuk menginjak tulang pada tubuh pria itu agar remuk.
Lay yang melihat kilatan amarah dimata Sehun hanya menyeringai. Lay lantas berusaha bangun dari acara terjatuhnya tadi, lalu berdiri setenang mungkin. Lalu balik menatap Sehun dengan tatapan tajamnya.
"Ayo, Jiyoung. Kau harus ikut denganku. Oppa butuh kau menjelaskan tentang semua ini." Lay mencoba meraih tubuh Jiyoung tapi langsung dihadang oleh Sehun. Kini, Jiyoung berada dibelakang tubuh tinggi seorang Oh Sehun.
"Jiyoung tak akan kemana-mana. Ia akan bersamaku." Ujar Sehun begitu dingin.
"Dia adikku. Keparat!" Gigi Lay bergemeletuk. Menandakan ia tak bisa menahan emosinya lagi. Sebelum mereka memulai pertengaran yang lebih parah, Jiyoung tiba-tiba memeluk Sehun dengan sangat kencang dari belakang.
"Sehun. Kumohon. Beri aku kesempatan untuk berbicara dengannya. Hanya hari ini. Aku janji akan ikut bersama denganmu setelah ini." Janji Jiyoung kepadanya. Membuat Sehun seakan terbuai akan ucapannya tapi tiba-tiba Sehun menggelengkan kepalanya. Tidak. Ingatlah Sehun, Jiyoung itu pembohong. Buktinya saat ia menunggu Jiyoung dirumah sakit saat itu, Jiyoung tak kembali dengan Nara. Bahkan kakaknya itu seakan membiarkan Jiyoung-nya pergi begitu saja.
"Tidak. Kau tidak bisa dipercaya." Ujar Sehun yang masih keras kepala.
"Jiyoung. Apa gunanya kau berbicara dengan si brengsek ini? Lihatlah dia. Kau harus cepat menjauhinya. Oppa tak ingin kau menderita lebih jauh." Ujar Lay yang seperti mencoba membujuk Jiyoung agar tak perlu memperdulikan keberadaan Oh Sehun.
Jika ia pergi bersama kakaknya sekarang, itu namanya ia lari dari tanggung jawabnya bukan? Lay bahkan tak tau tentang siapa yang sudah menyelamatkannya dipenjara. Berkat bantuan Nara juga memungkinkan Lay terbebas sangat cepat.
"Sehun. Kumohon. Aku janji akan ikut denganmu. Sekali saja. Kumohon kepadamu." Ujar Jiyoung yang kian memeluk tubuh Sehun dengan erat. Pria itu tiba-tiba melepaskan pelukan Jiyoung dari tubuhnya tanpa berkata apapun lagi.
Membuat Jiyoung menatap punggung Sehun yang menjulang dengan sedikit bingung. Ini artinya Sehun menginjinkannya berbicara kepada Lay bukan?
Dengan cepat ia menarik tangan Lay dari sana. Mereka tak sepenuhnya meninggalkan ruangan itu. Jiyoung tau, Sehun tak akan membiarkan dirinya hilang dari pandangan Sehun. Maka itu Jiyoung hanya membuat beberapa jarak agar Sehun tak bisa mendengarkan ucapan mereka.
"Jiyoung, apa kau sudah gila? Sebenarnya apa yang tengah kau rencanakan? Aku bahkan eomma sangat khawatir dengan keadaanmu karena keberadaan pria itu. Tapi, ini... Apa? Kau sendiri yang mencoba mendekatkan dirimu kepadanya." Ujarnya yang dirundung berbagai pertanyaan. Ia tak habis pikir dengan pikiran adiknya itu.
"Oppa. Kumohon percayalah kepadaku. Dan kumohon buatlah alasan kepada eomma jika aku baik-baik saja. Kau bisa mengatakan kepadanya jika aku akan jarang pulang kerumah karena aku sudah mempunyai pekerjaan dengan gaji yang besar. Jadi, kalian tak perlu menjual rumah peninggalan appa. Bisakah?" Ujar Jiyoung yang tak bisa dicerna otak cerdas seorang Lay. Permintaan Jiyoung tadi membuat kepalanya kembali pening.
"Kumohon jangan tanyakan alasanku melakukan ini. Jika sudah saatnya aku janji akan menceritakan semuanya kepadamu, oppa." Balas Jiyoung lagi, yang melihat Lay seperti akan menanyakan hal tersebut.
Lay mengangkat tangannya diudara, lalu mengepalkannya dengan sangat keras.
"Shit! Baiklah! Terserah dengan semua rencanamu itu, tapi pastikan kau pulang kerumah. Karena aku tak yakin bisa membohongi eomma lebih lama jika kau tak pernah kembali kepada kami. Dan terakhir aku akan sangat menantikan jawaban jujurmu perihal ini semua." Ujar Lay yang akhirnya mengalah demi adik yang paling ia sayangi itu. Ia sangat menyayangi Jiyoung melebih apapun. Eomma selalu berpesan jika ia harus selalu menjaga Jiyoung tapi sekarang? Lihatlah. Ia bahkan tak bisa melindungi Jiyoung dari Sehun.
"Setiap akhir bulan. Aku janji akan menemui kalian." Ujar Jiyoung yang sedikit dipelankan, sangat takut jika Sehun yang berjarak radius empat meter itu mendengarkan ucapannya.
Lay menghembuskan nafasnya dalam, "Jagalah dirimu baik-baik. Oppa selalu percaya dengan semua tindakan yang kau ambil, adikku. Ingatlah oppa selalu menyayangimu." Ujar Lay yang sangat lembut, kakaknya itu bahkan memeluknya dengan sangat erat. Seakan takut kehilangan adik kecilnya itu.
Kalimat Lay barusan seakan membuat kristal bening dari sudut matanya seperti akan keluar. Tidak. Ia tak boleh cengeng. Ia harus tegar. Membantu Sehun sembuh bukan perkara sulit bukan? Lagipula Sehun seperti menuruti ucapannya jika ia sedikit memelasnya, contohnya seperti tadi.
"Jiyoung, mari kita pulang." Desis Sehun yang terdengar kesal. Sontak pelukan mereka terlepas. Membuat Jiyoung merasa terkejut dengan derap langkah Sehun yang tak terdengar.
"Yah. Ayo Sehun." Tidak ada perlawan. Jiyoung menerima tarikan Sehun untuk segera menjauh dari sana. Jiyoung melirik kebelakang kearah kakaknya. Mata Lay tampak berkaca, membuat Jiyoung merasakan nyeri didadanya. Sangat sakit berpisah dengan orang yang sangat disayangi. Terlebih kebersamaannya dengan Lay cukup singkat.
••🌷🌷••
Sehun membukakan pintu mobilnya. Ia mengulurkan tangannya kearah Jiyoung. Sehun terlihat memperlakukan Jiyoung seperti seorang putri. Jika Sehun bisa diibaratkan, dia terlihat seperti seorang pangeran. Bukan pangerang berkuda putih, tapi lebih kepada pangeran kegelapan bagi hidupnya. Semenjak kemunculan Sehun didalam hidupnya. Kehidupannya yang dulu, tak pernah tenang sedikitpun. Selalu saja ada hal yang berantakan dan terlihat sulit.
Ia merasa jika Sehun lah perusak hidupnya tapi ia merasa jika Sehun jugalah yang bisa memperbaiki hidupnya. Entah, apa yang sedang ia pikirkan saat ini. Ia rasa ia sudah benar-benar gila.
"Ini adalah kamarmu, untuk sementara. Karena setelah kita menikah kau akan tidur dikamarku yang tentunya jauh lebih besar dari ini." Sehun membukakan ruangan yang terlihat besar itu dengan raut wajah berbinar. Ia menunjukkan segala perabotan yang ada disana. Bercerita jika ia sengaja mentata kamar ini khusus untuk Jiyoung-nya seorang.
Tanpa memperdulikan isi kamarnya dan celotehan Sehun, Jiyoung kini baru sadar jika rumah yang mereka tempati benar-benar berbeda daripada sebelumnya. Sehun ternyata tak mengajaknya untuk tinggal dirumah seperti ditengah hutan ataupun rumah yang sangat jarang penduduk. Ini aneh. Kenapa Sehun seakan mengajaknya tinggal diarea perumahan seperti ini?
"Nah, kau istirahatlah dahulu. Aku ingin mandi sebentar. Nanti aku akan kembali lagi." Sehun mengecup pipi Jiyoung tanpa permisi. Sangat terlihat jika Sehun sangat bahagia. Sebegitu berartikah dirinya dimata Sehun?
Sehun yang seperti ini terlihat waras, tapi sewaktu-waktu pria itu sungguh menakutkan. Sangat membuat dirinya ketakutan setengah mati.
"Oh iya, jangan mencoba kabur ok? Atau aku akan mematahkan kakimu agar tak bisa lari lagi." Pria itu tiba-tiba menghentikan langkahnya didepan pintu, lalu berbalik menatap gadis itu. Sehun ternyata tersenyum saat mengatakan hal menakutkan seperti itu. Benarkan? Sehun itu memang tak normal! Bagaimana bisa ia mengucapkan hal sekejam itu dengan wajah berserinya? Gila!
'Well, welcome to hell Park Jiyoung.'
To be continue