
.
.
.
Angin berhembus dengan kencangnya, suara gemuruh petir terdengar memekakan telinga pertanda jika hari ini akan turun hujan dengan lebatnya dan hal itu membuat gadis bernama Park Jiyoung sedikit tersentak kaget tapi untungnya ia sekarang berada disebuah cafe yang terasa nyaman. Jadi, ia memutuskan untuk berdiam diri lebih lama lagi disini, daripada saat ia pulang hujan turun dengan deras?
"Ini menyenangkan, lebih baik aku meminum secangkir teh lagi sambil melihat hujan." Ujar Jiyoung disertai helaan nafasnya, karena menyadari jika hujan sudah mulai turun sedikit demi sedikit.
Maksud kedatangannya kesini karena ingin menikmati secangkir teh yang terkenal sangat enak dan bisa menenangkan hatinya dengan aroma harum yang dimiliki teh tersebut. Cafe ini saja baru ia ketahui dari teman kantornya. Katanya cafe ini baru buka sekitar dua minggu lalu.
"Membaca buku sambil menikmati secangkir teh memang sungguh menyenangkan." Gumam gadis yang kini sedang memakai kacamata berbentuk bulat tersebut yang membuat ia semakin cantik saja dengan dandanan kasualnya. Tanpa memakai polesan make up saja sudah membuat Jiyoung terlihat cantik apa lagi jika berdandan? Bisa dipastikan Minho akan terus menceramahinya karena tak suka jika Jiyoung berdandan cantik jika tak ada dirinya, karena bagi pria itu hanya dia yang boleh melihat Jiyoung berdandan dan terlihat cantik. Ah. Mengingat itu membuat Jiyoung segera mengetikkan pesan untuk kekasihnya tersebut agar cepat menemuinya di cafe ini.
"Yah. Mari kita menunggu pangeran tampan datang menjemput sang putri cantik ini hihi." Ujar Jiyoung bermonolog sendiri dengan tatapan mata masih mengarah ke telponnya.
Jiyoung tersenyum lebar saat terus memperhatikan wallpaper foto dirinya dengan Minho saat di Incheon musim dingin lalu dimana saat itu Minho memberikannya sebuah boneka dengan bentuk seperti hiu? Ah. Sebenarnya ia tidak begitu tau dengan model boneka itu. Lihat saja bahkan boneka itu sedikit menyeramkan tapi jika Minho yang memberinya jadi terlihat menggemaskan.
Perasaan senangnya tak berlangsung lama karena suara berbisik dari orang-orang di cafe ini sekarang mengusiknya. Mau tak mau Jiyoungpun terus mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan.
"Hei, kurasa ada pria gila diluar sana."
"Huh benarkah?"
"Aku dengar mereka tak menginjinkan pria itu masuk karena penampilannya."
"Maksudmu?"
"Kau tau? Pria itu tak memakai alas kaki dan lebih parahnya lagi seluruh bajunya telah basah kuyup."
"Huh? Benarkah itu?"
"Yah. Mungkin karena itu penjaga diluar sana tak menginjikan ia masuk terlebih pria itu bahkan tak berbicara saat penjaga diluar sana menanyakan namanya."
"Tapi bukankah penjaga itu keterlaluan? Kenapa tak membiarkan pria itu masuk saja?"
"Yang benar saja? Itu tidak mungkin, kau tau? Kurasa karena ditambah sikap pria itu yang terlihat menakutkan."
"Aku tak mengerti?"
"Kau tau? Dia bahkan tak menggubris ucapan para penjaga dan terus berusaha memberontak masuk kedalam sini."
"Haha. Dia gila, yang benar saja. Ini kan termasuk cafe mahal. Aku yakin para penjaga itu akan segera mengusirnya saat polisi datang kemari."
"Yah. Kurasa begitu."
"Dan lebih parahnya, pria itu terus bilang ingin menemui seseorang dan namanya Jiyoung."
Jiyoung? Seperti namanya tapi itu tak mungkinkan? Tak mau ambil pusing, iapun kembali terlihat fokus dengan buku dan tehnya tapi entah kenapa matanya seakan menuju kearah jendela transparan disampingnya. Melihat kejadian diluar sana yang terdengar gaduh hingga kedalam.
"Yak! Pria gila! Cepat pergi! Sebelum kami memanggil polisi kemari!" Teriak penjaga itu, Jiyoung mengeryitkan alisnya. Astaga, apa pria itu memang gila? Oh. Ayolah. Kenapa ia tak bisa menikmati waktunya yang tenang ini?
Dengan rasa penasaran, langkahnyapun mulai mendekati kerumunan didepan pintu cafe ini, sebenarnya ia tak ingin keluar hanya saja karena merasa namanya disebut berulang kali oleh para penjaga itu, membuat Jiyoung sedikit geram. Ia harap bukan dirinya yang mereka maksud.
"Kalian berhentilah mengganggunya!" Teriak Jiyoung tak terima saat dua penjaga itu hendak melakukan kekerasan fisik terhadap pemuda yang terlihat lusuh tersebut. Astaga! Lihatlah perbuatan mereka, bagaimana bisa mereka membuat tubuh pemuda itu menjadi memar?
"Tapi nona, kami melakukan ini karena pemuda ini tak mau pergi dan terus memanggil nama seseorang. Lalu lihatlah penampilannya. Ia seperti orang gila bukan?" Ujar salah satu penjaga itu mencemooh, menyunggingkan senyum tak sukanya.
"Astaga, apa karena penampilannya seperti ini. Jadi, kalian berhak menghakiminya? Yang benar saja? Ckck." Jiyoung berdecak tak suka. Ia memutarkan bola matanya malas.
"Dengar, apapun yang kalian katakan itu hanya pembelaan diri dan itu semua tak berarti dimataku, karena bagiku semua ini adalah tindak kekerasan."
"Kalian terus membela diri, aku bisa membantu pemuda ini menjebloskan kalian karena kekerasaan fisik yang ia terima. Apapun alasannya, kalian tak berhak untuk memukulnya. Dan apa tadi kalian bilang ia mengganggu ketenangan? Aku rasa ia hanya berdiri didepan cafe sejak tadi. Ia bahkan tak melakukan apapun. Jadi, apa ini yang kalian bilang mengganggu ketenangan?"
"Tapi nona-"
"Jika kalian masih membela diri kalian, aku tak segan untuk menjebloskan kalian kepenjara detik ini juga. Kalian tau? Kekasihku punya kuasa atas hal itu. Dan aku harap kalian tak menilai orang dari penampilan lagi." Dua penjaga itu terdiam, mereka menduduk dalam. Sial. Benar apa kata gadis itu. Mereka sebenarnya hanya kesal karena pemuda itu tak menjawab pertanyaan mereka dengan benar dan itu sungguh menjengkelkan.
"Kau tak apa?" Tanya Jiyoung khawatir, ia ikut memberi teduhan payung untuk pria itu. Meski bajunya sudah basah kuyup, setidaknya pria itu tak kehujanan lagi. Jiyoung membimbing pria itu untuk singgah disalah satu cafe yang tak jauh dari sana.
••🌷🌷••
Setelah selesai mengobati pria itu dengan obat dan plester. Jiyoung pun menghela nafasnya lega. Setidaknya luka pria itu sudah diobati.
"Tunggulah disini, aku akan memesankan coklat hangat untukmu." Pria itu mengangguk, ia merasa kasian terhadapnya. Kenapa pria itu tak berontak saat orang-orang itu memukul dirinya? Lalu ada apa dengan penampilannya? Apa ia tunawisma?
Pria itu terus memperhatikan sosok Jiyoung dari jauh, bagaimana cara Jiyoung memesankan secangkir coklat dimeja kasir sana untuknya, lalu wajah khawatir gadis itu saat melihat dirinya terluka, membuatnya bahagia. Keinginannya akan Jiyoung semakin kuat, dia harus memliki gadis itu. Bagaimanapun caranya. Yah. Sepertinya mereka memang ditakdirkan untuk bersama. Buktinya, Jiyoung selalu membantunya dan memperhatikannya. Itu buktinya Jiyoung juga tertarik kepadanya bukan?
"Hot chocolate dua." Jiyoung memesan minuman tersebut sambil memperhatikan sang barista membuatkan minumannya. Pikirannya menerawang. Astaga. Sebenarnya apa yang ia lakukan tadi? Kenapa ia terlalu ikut campur urusan orang lain? Ah. Ini menyebalkan. Seandainya saja ia tak merasa kasian terhadap pria itu. Ia tak perlu bersusah payah begini. Rasanya ia sudah gila. Yah. Tapi bagaimanapun juga ia merasa senang juga bisa membantu pria itu.
'Astaga aku lupa menghubungi oppa!'
Jiyoung merogoh saku jaketnya, dan segera menelpon pria itu, syukurlah Minho belum sampai sana. Jadi, ia menyuruh pria itu untuk langsung saja bertemu dirumahnya esok hari, entah kenapa ia merasa begitu lelah hari ini. Lagipula ia tak ingin berlama-lama diluar. Hujan juga sudah mulai reda. Ia sudah merasa kedinginan. Ia harus segera pulang untuk mengganti pakaiannya yang sedikit basah saat berjalan kesini. Yah. Setelah memberi pria itu minum tentunya.
Ia tersenyum senang saat melihat Jiyoung kembali dengan memegang dua gelas plastik ditangannya. Rambut Jiyoung yang terurai membuatnya tampak cantik, jauh lebih cantik dari yang ia duga.
"Habiskanlah dan pulanglah kerumahmu." Sehun mengangguk senang, dengan cepat ia menyeruput minuman itu.
"Pelan-pelan, itu masih panas." Ujar gadis itu memperingatinya.
"Terima kasih."
"Wah. Kukira kau malas bicara." Ujar Jiyoung yang terkesan mengejek. Mungkin karena saat tadi Jiyoung berbicara kepadanya, ia hanya mengangguk saja.
"Habiskanlah. Kuharap kau tak mengulangi perbuatanmu tadi ditempat lain karena bisa kupastikan nanti kau benar-benar dianggap gila." Ujar Jiyoung sedikit tajam. Bukan Sehun namanya jika ia merasa tersinggung dengan ucapan gadis itu. Baginya, gadis itu terlalu mengkhawatirkannya.
"Kau mau kemana?" Tanya Sehun, saat melihat Jiyoung hendak pergi dan itu membuatnya tak suka.
"Tentu saja pulang."
"Kau tak bisa meninggalkanku." Suara berat itu terdengar menusuk. Sekilas Jiyoung dapat melihat mata pria itu berubah sedikit menyeramkan. Seakan ia sudah mengucapkan sesuatu yang terlarang.
"Ne?" Gadis itu mengeryit bingung.
"Maksudku, temanilah aku sampai minuman ini habis." Sehun mengontrol emosinya sesaat. Ia menghela nafas kasar. Jiyoung masih berdiri kaku.
"Kumohon atau tidak, aku bisa membuat hal gila lagi disini."
"Wah. Kau mengancamku?"
"Jika kau sebut itu ancaman. Maka jawabanku iya." Jiyoung sedikit berdecak, mimpi apa ia semalam bertemu orang gila ini?
"Maaf, aku hanya merasa kesepian." Kini nada pria itu sedikit memelas. Membuatnya terlena karena merasa kasian lagi. Ayolah Jiyoung wake up! Ia memijit pelipisnya yang terasa berdeyut. Baiklah. Ia akan menemaninya sebentar. Membiarkan pria itu menghambiskan minumannya sebelum benar-benar enyah dari pandangannya.
'Astaga, Tuhan. Kenapa aku merasa lemah dengan pria asing ini?'
"Baiklah tapi berjanjilah jika kau akan pulang setelah ini." Sehun tersenyum, wajahnya terlihat senang seperti memenangkan lotre seharga jutaan won.
Andai saja Jiyoung menolak permintaan pria itu, mungkin ia masih bisa menikmati kasur empuk dirumahnya dan bertemu Minho keesokan harinya dan bukannya suasana kelam juga menakutkan yang ia rasakan setelah tertidur hampir enam jam lamanya. Entah apa yang terjadi saat itu. Ia bahkan belum mengingat semuanya dengan jelas. Ingatannya masih begitu samar.
Seingatnya ia masih menemani pria asing yang ia tolong saat itu, sampai mereka menghabiskan minumannya. Sebelumnya ia sempat pamit ketoilet sebentar di cafe lalu menengguk minumannya lagi sampai merasa minuman itu membuat matanya terasa berat. Kepalanya benar-benar pusing lalu semuanya tampak gelap.
TBC