
Siapa bilang jika dia hanya diam selama ini, disaat kekasih yang sangat ia cinta menghilang begitu saja?
Hatinya sakit, jiwanya tak tenang dan terlebih lagi ia sangat mengkhawatirkan Jiyoung. Ya Tuhan, sebenarnya dimana Jiyoung saat ini?
"Aku sudah mencoba membayar orang-orang untuk mencari keberadaannya tapi ini sangat aneh, meski sudah membayar orang terbaik dalam menemukan orang hilang, nyatanya keberadaan Jiyoung belum bisa diketahui sampai sekarang." Ujar Minho menundukkan kepalanya. Akhirnya, setelah sekian lama ia pun memberanikan diri untuk berkunjung kerumah orangtua Jiyoung. Ibu serta kakaknya tentu saja terkejut akan kedatangan Minho yang mengaku sebagai kekasih Jiyoung. Ternyata gadis itu menyembunyikan hal ini kepada mereka.
"Hikss.. Kami tau itu dan kami pun sudah melaporkan hal ini kepada pihak polisi tapi sampai sekarang tak ada kabar apapun mengenai Jiyoung. Ya Tuhan... Jiyoung.. Hiksss.." Ibunya menangis lagi, membuat Lay memeluknya dengan erat. Minho memejamkan matanya dan mengepalkan tangannya dengan keras. Sial. Sebenarnya apa yang diinginkan penculik itu?
"Aku merasa sangat bodoh, sebagai kakaknya aku bahkan tak bisa menjaga adikku dengan baik." Lay sangat menyesal dengan ketelodorannya saat itu. Andai saja, ia tak menerima telpon pasti Jiyoung masih bersama dengannya. Berkumpul bersama mereka saat ini.
"Tapi aku mendengar dari orang yang kusewa jika Jiyoung sempat kembali kerumah ini, apakah itu benar?" Mata Lay dan ibunya membulat. Tidak. Minho tak boleh mengetahui hal ini. Belum saatnya Minho mengetahui keadaan Jiyoung yang sebenarnya. Biarlah Jiyoung yang menceritakan hal tersebut kepada Minho. Saat ini, yang perlu Minho tau hanya berita hilangnya Jiyoung dan bukannya hal berharga yang telah hilang dari diri Jiyoung.
"Kami belum bertemu dengannya sampai sekarang." Ujar Lay cepat, saat merasakan tangan ibunya sudah mencengkram tangannya dengan erat. Sepertinya ibunya juga berpikiran sama dengannya. Mereka sungguh tak sanggup untuk menceritakan kejadian yang telah menimpa Jiyoung kepada Minho, sungguh tak sanggup.
"Aku tak akan menyerah untuk membantu kalian dalam menemukan keberadaan Jiyoung." Minho berkata dengan serius. Mereka mengangguk. Lay mengepalkan tangannya dengan keras. Ia yakin si penculik adiknya adalah orang yang sama dengan si bajingan yang telah menghancurkan hidup Jiyoung. Ini tak bisa dimaafkan. Ia janji, jika bertemu dengan si brengsek itu, ia akan membuat pria itu hancur dan merasakan bagaimana rasa sakit yang dirasakaan oleh Jiyoung.
••🌷🌷••
Sehun benar-benar gila! Lihatlah! Bagaimana mungkin pria itu mengubah taman belakang rumahnya sama persis dengan taman yang ada dikota Seoul?
Lalu didalam rumahnya juga dibuatkan satu cafe yang tak kalah bagus dan terkenalnya dengan tempat yang Jiyoung selalu kunjungi dan yang terakhir kini ia memiliki tempat untuk koleksi tas, sepatu, perhiasan dan baju didalam sebuah ruangan yang memang dikhususkan untuknya. Astaga, kegilaan macam apalagi yang coba Sehun buat?
"Ck! Dasar pria kaya sombong." Jiyoung berdecak saat melihat semua yang telah Sehun lakukan. Katanya ini semua adalah caranya untuk membuat Jiyoung jatuh cinta kepadanya. Semua kemewahan ini memang pantas ia berikan untuk Jiyoung-nya.
Gadis itu memijit pelipisnya. Kepalanya terasa pening saat mengetahui ini semua. Hei, dia ini bukan gadis yang tamak akan harta. Ia hanya butuh ketulusan hati seseorang untuk bisa meluluhkan hatinya, asal Sehun tau.
"Bisakah, kau pasangkan dasiku?" Jiyoung memang seharusnya sudah biasa dengan langkah kaki Sehun yang selalu saja tak terdengar, tapi lagi-lagi ia tersentak kaget saat menyadari pria itu kini berada dikamarnya.
Sehun tersenyum dan melangkahkan kakinya kearah Jiyoung. Tubuh gadis itu terdiam, membuat Sehun selalu gemas dibuatnya.
"Kurasa, mulai sekarang kau harus memakaikanku dasi saat aku hendak bekerja." Sehun meraih tangan Jiyoung dan membimbing tangan nan lembut itu untuk meraih dasi putih untuk dikenakan kekerah kemejanya. Mata Sehun selalu saja terpesona akan kecantikan yang Jiyoung miliki.
Jiyoung sedikit kaget, dan ia pun buru-buru merapihkan dasi pria itu. Tangan Sehun meraih tangan Jiyoung saat gadis itu mencoba pergi darinya. Mata mereka kembali bertemu, Sehun tersenyum tipis, tangannya meraih dagu Jiyoung lalu tanpa permisi Sehun mencuri ciuman manis dari bibir Jiyoung. Tentu saja Jiyoung merasa tak nyaman tapi untunglah Sehun hanya menciumnya dengan singkat.
"Terima kasih, sayang." Itu lah yang dikatakan oleh Sehun. Pria itu pun mengambil tas kerjanya yang tadi ia letakkan dimeja kamar ini. Jiyoung mengerjapkan matanya. Saat kesadaranya kembali, Jiyoung kembali memperhatikan Sehun.
"Hari ini aku sibuk dan sepertinya akan terlambat pulang. Kuharap selama aku dikantor kau akan bersikap manis dengan para pelayan disini dan nikmatilah hadiah yang kuberikan untukmu. Aku memberikanmu semua fasilitas itu agar kau tak merasa bosan." Sehun bersiap-siap untuk pergi. Lagi-lagi pria itu selalu meninggalkannya seperti ini. Sehun selalu bekerja dan hal itu tanpa sadar membuat Jiyoung merasa gelisah.
"Semua yang kau berikan tetap membuatku merasa bosan dan kesepian." Jiyoung berkata jujur, semua yang Sehun berikan untuknya tak berarti sama sekali, yang ada ia semakin kesepian. Semuanya hanya replika, meski Sehun memberikan semua fasilitas di Seoul kedalam rumah lalu mengubahnya menjadi sama persis, hal itu tak akan membuat Jiyoung merasa senang. Tidak. Ia tak merasa senang sama sekali. Lebih baik Sehun mengajaknya ketempat asli tersebut dibanding membuat replikanya.
"Lalu apa yang kau inginkan agar tak merasa kesepian?" Sehun membalikkan badannya dan kembali untuk menatap Jiyoung.
"Dirimu." Ujarnya, membuat Sehun membulatkan matanya. Apa ia tak salah dengar tadi?
"Aku ingin berada disisimu maka ijinkan aku untuk ikut denganmu kekantor, Sehun." Ujar Jiyoung sungguh-sungguh. Sehun berdecak saat mendengarnya. Yang benar saja? Pasti ada hal lain yang direncanakan gadis itu bukan?
"Kau pikir aku bodoh? Apa kau berencana kabur?" Sehun menyunggingkan senyumnya. Jiyoung menggeleng dengan cepat.
"Tidak. Aku tak mungkin berpikir seperti itu. Bukankah aku sudah berjanji untuk selalu berada disisimu? Lagipula bagaimana mungkin aku bisa kabur jika bersamamu? Bukankah hal itu sangat mustahil?" Ujar Jiyoung, berusaha meyakinkan Sehun dengan segala ucapannya tadi. Pria itu terlihat sedang memikirkan ucapan Jiyoung berusan.
"Bukankah kau juga selalu merindukanku? Aku pun juga Sehun. Selalu ditinggal olehmu dirumah yang sangat besar ini, membuat diriku merasa sangat kesepian meski kau telah memberikan segala macam fasilitas yang sangat mewah untukku." Ujar Jiyoung dengan nada lemah dan gadis itu melangkah kearahnya kemudian memeluknya dengan erat. Seakan tak rela dengan kepergian Sehun. Ia sungguh tak ingin ditinggal Sehun. Lama kelamaan rumah ini terasa sangat sesak baginya.
"Aku butuh udara segar dan ingin melihat dunia luar lagi bersamamu. Kau bisa memastikan aku tak akan kabur. Aku akan selalu disisimu." Ujar Jiyoung ditengah pelukannya. Membuat Sehun merasa luluh dan akhirnya pria itu membalas pelukan Jiyoung.
"Baiklah, tapi jika kau membuat ulah saat bersamaku maka kau akan tau akibatnya." Ancam Sehun sambil terus memeluk tubuh Jiyoung. Tubuh gadis itu menegang dan Sehun tak mengetahuinya.
"Aku tau, Sehun." Ujar Jiyoung pelan dan kini pelukan Jiyoung bertambah erat dan mata gadis itu terpejam berusaha menahan air matanya agar tak keluar. Ini adalah kesempatan terakhirnya.
TBC