Dear You

Dear You
Jeritan




.


.


.


Sehun. Nama lengkap pria itu adalah Oh Sehun. Pertemuan yang tak terduga dengannya di halte saat itu, sungguh tak pernah kuprediksi sebelumnya. Kami bertemu secara kebetulan. Dia yang tiba-tiba duduk disebelahku saat itu membuatku kaget setengah mati. Ah, iya. Lebih tepatnya aku tak menyadari keberadaannya saat itu.


Hei! Lagipula mana ada yang sadar jika pria itu terdiam diujung tempat duduk tanpa mengeluarkan suara sedikitpun? Terlebih suara hujan yang begitu deras membuat pendengaran sedikit terganggu. Atau aku nya saja yang tak terlalu memperdulikan kehadirannya?


Lalu, entah takdir apa yang Tuhan ciptakan kepadaku sehingga membuat diriku menjadi tawanan Oh Sehun. Si pria tampan dengan sejuta pesona dan mematikan sekaligus berotak tak waras.


Lihat saja saat ini, bagaimana bisa pria itu dengan mudahnya mengiris lengannya begitu saja?


Oh, ayolah. Aku dulu hampir merenggang nyawa dan rasanya sangat menyakitkan. Mungkin, jika aku melihatnya sekali lagi dalam keadaan sangat mengenaskan rasa ketakutan kepada Sehun bisa sedikit berkurang. Atau setidaknya aku akan menyumpahinya dan bersyukur ia mengalami hal yang sama denganku.


Tapi, nyatanya tidak. Semua yang kupikirkan selama ini sama sekali tak membuat diriku merasa senang saat mengetahui Sehun mengalami depresi berat saat ditangkap saat itu.


Mata Sehun serta semua permohonan yang pria itu katakan justru membuatku terpuruk dan tanpa sadar terus memikirkannya.


Bahkan hari ini, melihatnya terlihat sekarat dan semakin tak waras membuat sudut hatiku yang terdalam sedikit sakit. Entah, apa sebabnya. Sebenarnya apa yang telah pria itu perbuat kepadaku?


"Aku bisa memberimu tawaran yang sangat menggiurkan." Gadis itu menyinggungkan senyum miringnya. Membuatku menoleh menatap dirinya.


Yah. Setelah berusaha pergi dari sana tiba-tiba Nara memanggilku dan berakhirlah kami ditempat makan yang berada didalam rumah sakit.


"Maksudmu?" Aku mencoba mencari arti dari kalimatnya. Mulutnya terbuka, sambil berkata lagi.


"Rawatlah Sehun, maka aku akan memberikan berapapun yang kau inginkan." Ujarnya menjelaskan lalu meminum jus jeruknya dengan wajah tak bersalahnya.


Aku mengepalkan tanganku keras. Merasa terhina dengan ucapannya. Apa dia masih tak sadar jika Sehun adalah perusak hidupku! Lalu sekarang untuk apa ia memintaku merawat orang gila itu?!


"Terima kasih, kurasa aku tak memerlukannya." Ujarku menahan marah, meski tangan ini ingin sekali menjambak rambutnya atau mungkin menamparnya supaya dia sadar dan sedikit merasa bersalah kepadaku atas sikapnya dikamar Sehun tadi.


"Kau yakin ingin menolak tawaran ini? Kuyakin seumur hidupmu kau tak akan pernah mendapatkan uang yang begitu banyak seperti ini." Ia mengaduk sedotannya lalu tersenyum meremehkan kearahku.


"Aku yakin dan sebaiknya kau cari orang lain untuk merawat pasien seperti Oh Sehun." Nara menggebrak mejanya dengan kasar. Membuat semua pengunjung menoleh melihat mereka.


"Kurang ajar." Desis Nara tak terima. Ia sangat tau dengan maksud perkataan Jiyoung barusan. Sangat jelas jika Jiyoung mengatai adiknya lagi. Ia tak terima ini.


"Nona! Tuan muda mengamuk dan mencari nona Jiyoung!" Saat perang diantara Nara dan Jiyoung terjadi, salah satu pengawal yang Jiyoung lihat tadi tergopoh menghampiri sang nona muda. Membuat Jiyoung berdecak dibuatnya.


"Kalau begitu aku permisi, ada hal yang harus kuurus." Pamit Jiyoung tanpa peduli dengan raut tak terbaca dari Oh Nara.


"Oh, nona Jiyoung. Kami sudah mencari anda kemana-mana." Dan saat itulah seorang suster datang menghampirinya. Membuatnya menganggukkan kepala. Jiyoung akan mengetahui hasil atas pemeriksaannya hari ini. Semoga ia mendapat kabar baik.


••🌷🌷••


Sudah seminggu setelah Jiyoung menginjakkan kakinya dirumah sakit itu dan hal yang ia harapkan ternyata tak terjadi.


Gadis itu menyeka air matanya. Bermaksud menghapusnya sebelum sang ibu yang tengah kesusahan menarik kopernya datang. Dengan sigap Jiyoung, membantunya.


"Eomma, tunggu saja didepan. Aku saja yang membawanya." Jiyoung merebut koper itu, lalu meletakkannya di bagasi mobil mereka. Mungkin setelah rumah yang mereka tempati ini dijual, sepertinya harta berharga mereka satu-satunya hanya mobil ini.


"Kita akan tinggal dirumah eomma waktu kecil. Karena nenek sudah meninggal rumah kecil itu jadi tak terurus tapi kau tenang saja, kita masih bisa tidur dengan nyaman disana setelah membersihkannya bukan?" Wanita itu mengusap kepala anaknya dengan penuh kasih sayang.


Jiyoung menganggukkan kepalanya dan langsung memeluk ibunya, "tentu dan aku pasti akan sangat senang disana dan syukurlah kita masih bisa punya rumah."


"Maafkan eomma membuat kalian kesulitan dan tak bisa membantu lebih banyak. Meski rumah serta harta yang eomma miliki masih saja tak membantu Lay untuk segera keluar." Jiyoung tau jika ibunya sedang menangis saat ini. Membuat gadis itu semakin memeluknya dengan sangat erat.


"Tidak. Ini semua salah kami. Maafkan aku dan oppa yang selalu membuat eomma kesulitan." Jiyoung menangis lagi lalu ibunya selalu berkata, jika semuanya hanya ujian dari Tuhan dan ia akan selalu bersyukur dengan semua hal yang mereka alami. Mungkin, suatu saat Tuhan akan merencanakan sesuatu yang lebih indah untuk mereka nantinya.


"Kajja, kita harus pergi sekarang sebelum terlalu malam sampai sana." Jiyoung berkata sambil membereskan barang-barang mereka. Ibunya menatapnya dalam diam lalu...


"Kau harus mengatakan salam perpisahan kepada Minho. Jangan biarkan pria itu selalu menunggumu, nak. Aku tau jika Minho adalah pria yang sangat baik. Katakanlah dengan jujur dan mohon pengertiannya akan keputusanmu." Jiyoung *** tangannya distir kemudi.


"Jiyoung, eomma mohon kepadamu. Eomma, tak tega melihatnya saat kau mengacuhkannya saat dulu. Jika kau melakukan hal itu lagi, eomma khawatir Minho akan melakukan hal yang sangat menyedihkan nantinya." Ujar ibunya lagi. Membuat Jiyoung sangat dilema.


"Baiklah, aku akan mengunjunginya dulu sebentar." Ujar Jiyoung memutuskan.


"Kalau begitu eomma akan tunggu disini sampai urusanmu selesai."


"Pergilah, kita bisa pergi besok atau lusa sebelum pemilik rumah datang kemari." Ujar ibunya dan langsung turun dari dalam mobil dengan Jiyoung yang meminta penjelasan untuk hal itu.


"Kita harus menyelesaikannya dengan baik-baik sebelum pergi. Dan eomma harap kau dapat melakukannya agar kau tak punya penyesalan saat meninggalkan kota ini karena kita tak akan pernah tinggal disini lagi." Ujar eomma menatap wajah Jiyoung didalam mobil. Gadis itu terdiam, tatapannya tiba-tiba kosong saat mendengarkan penjelasan eommanya. Benar. Ia harus menyelesaikan semuanya agar ia bisa meninggalkan kota ini dengan tenang dan memulai hidup baru sambil mencari uang untuk Lay.


••🌷🌷••


"Jiyoung! Kau hanya sedang mabukkan?" Minho tentu saja terkejut dengan semua perkataan Jiyoung barusan. Bagaimana bisa Jiyoung mengatakan sudah tak mencintainya dan ia hanya ingin hidup berdua saja dengan ibunya? Tak masuk akal!


"Minho, tenanglah." Ibu Minho ternyata berusaha menahan gerakan Minho yang ingin mengejar Jiyoung. Wanita itu terus memohon kepada Minho untuk sadar jika Jiyoung sudah mencampakkannya. Gadis itu sudah menorehkan luka yang sangat banyak dihati anak tercintanya dan ia sangat membenci itu.


"Maaf, sungguh maafkan aku. Kalian bisa membenciku sebanyak yang kalian inginkan. Aku sunguh tak bisa dimaafkan." Jiyoung menundukkan kepalanya berulang kali sebelum pergi dari sana.


"Jiyoung!" Teriak Minho lagi setelah genggaman erat sang ibunya yang menghalanginya terlepas, ia akhirnya bisa mengejar Jiyoung tapi terlambat gadis itu sudah pergi dengan mobilnya.


Plakk...


Satu tamparan yang kuat, cukup membuat Minho menoleh kearah sang wanita yang mengatur nafasnya berulang kali, Minho dapat melihat jika ibunya saat ini sangat kesal dan marah dengan sikap dan perkataan Jiyoung tadi.


"Sadarlah! Gadis itu sudah mencampakkanmu!" Tiba-tiba ibunya memeluknya dengan erat. Membuat Minho menahan air matanya karena rasa sakit. Ia selama ini selalu menunggu dan mencintai Jiyoung dengan tulus tapi gadis itu seperti tak memperdulikan hatinya. Terlebih disaat Jiyoung yang datang menemuinya terlebih dahulu, ternyata membuat luka hatinya tambah parah. Jiyoung sudah berubah dan Jiyoung adalah gadis paling jahat yang bodohnya sangat ia cintai.


"Relakan dia, jangan menunggunya lagi. Eomma mohon." Minho menganggukkan kepalanya. Mungkin benar, jika Jiyoung bukanlah orang yang tepat sebagai pendamping hidupnya ia harus sadar akan fakta itu.


••🌷🌷••


Jiyoung meminum beberapa kaleng minuman bersoda. Seharusnya ia membeli soju atau minuman beralkohol saat ini agar ia bisa sedikit meredakan masalah hidupnya untuk sebentar saja, tapi ia memang sangat payah dalam hal meminum minuman beralkohol. Jadi, ia hanya membeli tiga kaleng minuman bersoda dengan ramen super pedas ditangannya.


"Ck! Sial! Ini memang yang terbaik!" Jiyoung mengumpat disela makannya dengan raut wajah bahagia lalu sedih. Ini memang makanan tak sehat yang ia sukai. Sudah lama rasanya, ia tak merasakan ini dan sungguh rasanya sangat luar biasa!


"Wah.. Aku harus membelinya nanti untuk persediaan disana." Ujar Jiyoung memperhatikan bungkusan mie ramen yang telah ia masak didepan toko supermarket.


Orang-orang yang melihat Jiyoung sedikit mengeryitkan alisnya. Mungkin, cara makan Jiyoung sedikit enah. Lihat saja, bagaimana mungkin gadis itu berkata dan berkelakuan layaknya orang yang sedang mabuk? Jelas-jelas gadis itu tak mabuk tapi perilakunya sangatlah aneh.


"Cepatlah, Jisung sudah menunggumu dimobil." Pria bernama lengkap Yeon Woo itu mengalihkan pandangannya kepada gadis yang mungkin terlihat aneh. Tapi, baginya ini sangat menarik. Sebenarnya apa yang sedang gadis itu perbuat?


"Ini terlalu pedas, aisshhh sial!" Umpat Jiyoung lagi lalu setelahnya ia pergi meninggalkan sampah makanan dan minumannya begitu saja disana.


"Hei, sebenarnya apa yang kau lihat? Ayo!" Ujar temannya lagi menyadarkan Yeon agar segera kembali kedunia nyata.


••🌷🌷••


Setelah berpikir keras, sambil memakan makanan favoritnya tadi. Akhirnya, Jiyoung memutuskan untuk melihat keadaan Sehun sekali lagi sebelum pergi.


Perkataan pengawal Nara saat itu, ternyata membuatnya terus berpikir tentang keadaan Sehun. Benar. Ia disini hanya memastikan keadaan Sehun jika pria itu sudah baik-baik saja dan menghapus rasa penasarannya saja.


Ia tak akan membuat Sehun melihatnya. Jiyoung hanya akan mengintip Sehun dibalik kaca. Supaya pria itu tak melihatnya juga.


"Kau kemari?" Jiyoung tersentak saat suara yang sudah ia hafal membuatnya mendengus dengan sebal.


"Sebenarnya apa yang kau ingin pastikan?" Ujar suara itu lagi.


"Apa kau berharap kondisinya semakin memburuk?" Ada nada sinis didalam ucapannya. Jiyoung tau jika Nara tak menyukainya. Gadis itu menunjukkannya secara terang-terangan.


"Lalu, apakah aku harus memastikan hal tersebut?" Ujar Jiyoung membalasnya. Membuat Nara mengepalkan tangannya dengan keras.


"Ck! Sialan." Ujarnya kepada Jiyoung. Gadis itu hanya menunjukkan seringaiannya kepada Nara.


"Kalau begitu aku pergi." Ujar Jiyoung yang sepertinya sudah mendapatkan jawaban atas pertanyaan perihal kondisi Sehun. Yah. Pria itu terlihat baik-baik saja sekarang.


"Tawaranku masih berlaku." Nara mencekal tangan Jiyoung dengan cepat. Jiyoung mengeryirkan alisnya tak mengerti kenapa Nara terus menawarkan hal gila seperti ini.


"Jika kau bisa memberikan 10 milyar won dimuka akan aku pikirkan." Ujar Jiyoung berkata asal kepada gadis itu.


"Baik, kau bisa langsung mendapatkannya jika kau ingin. Besok? Atau hari ini sebutkan saja aku akan langsung menyediakan uangnya lewat selembar cek." Mulut Jiyoung sedikit terbuka. Ia yang tadinya ingin menatap sinis dan ingin meremehkan ucapan Nara kini dibuat terdiam. Bagaimana bisa Nara memberikan uang sebanyak itu dengan gampangnya? Seperti membelikan anak kecil sebuah permen lolipop atau gulali dengan mudahnya. Apa orang-orang kaya seperti itu?


"Lupakan. Aku rasa sedang tak waras saat mengatakannya." Ujar Jiyoung tak menanggapi ucapan Nara barusan. Ia pikir Nara akan mencegahnya lagi tapi ternyata gadis itu hanya mengangkat bahunya acuh.


"Baiklah, tapi jika kau berubah pikiran kau bisa mengunjungiku besok di Phoenix Coorporation." Setelahnya Nara pergi meninggalkannya dengan segala rasa gelisah yang Jiyoung rasakan.


TBC