
.
.
.
"Jiyoung?" Sehun. Pria itu mengucek matanya beberapakali. Ia segera bangun dari tidurnya setelah membuka matanya dengan benar.
"Oh, kau sudah bangun?" Jiyoung hendak berdiri dari duduknya. Yah. Memang sejak semalam gadis itu terus menjaga Sehun. Hingga tanpa sadar ia tertidur disisi pria itu.
"Kau benar Jiyoung!" Sehun lantas memeluk tubuh gadis-nya. Membuat Jiyoung menahan nafasnya. Rasanya aneh dan ia masih saja merasa ini tak benar.
"Yah. Sehun. Aku memang Jiyoung." Gadis itu berusaha melepaskan pelukan Sehun pada tubuhnya. Seperti mendapatkan nafasnya kembali, Sehun terlihat jauh lebih sehat daripada sebelumnya.
"Kau tau? Kurasa aku bermimpi aneh. Rasanya kemarin aku merasa aku mengiris nadiku saat kau berniat meninggalkanku sendirian disini. Aku tak suka mimpi itu. Sungguh buruk." Ujar Sehun yang kini tengah bercerita tentang dirinya.
"Jiyoung, ayo kita pulang. Aneh rasanya kenapa juga aku disini?" Ujar Sehun lagi yang kini memperhatikan sekelilingnya. Jiyoung mengeryitkan alisnya. Sungguh ia tak mengerti dengan ucapan Sehun saat ini.
Sehun, sebenarnya ada apa dengan pria itu? Apa Sehun menganggap yang dialaminya hanya sebuah mimpi buruk?
"Sehun, tunggu!" Jiyoung menahan Sehun yang hendak menariknya pergi. Pria itu bahkan melepas paksa jarum infusnya.
"Tenanglah, Sehun. Duduklah dulu." Ujar Jiyoung yang berkata setenang mungkin.
"Kau masih sakit. Kau tak boleh melepaskan infusmu dulu." Jiyoung menyentuh tangan Sehun yang masih terlihat bekas tusukan dari jarum infus tersebut. Tetesan darah masih terlihat disana.
"Kenapa kau selalu menyakiti dirimu?" Jiyoung mengambil selembar tisu yang berada dimeja. Lalu mulai mengelap darah dilengan Sehun. Pria itu tentu saja tak menolaknya. Jiyoung ternyata sangat memperhatikannya.
"Terima kasih." Ujar Sehun pelan. Jiyoung mengulas senyum tipisnya. Membuat Sehun selalu terpana dengan senyuman diwajah cantik Jiyoung.
"Jiyoung, sebenarnya kenapa kau ada disini? Tidak. Lebih tepatnya kenapa aku harus disini dan dirawat? Apa aku sakit?" Tanya Sehun yang kini mulai melontarkan pertanyaannya lagi kepada Jiyoung.
Tentu saja gadis itu terdiam dan mulai melepas pegangannya dilengan Sehun. Ia harus menjelaskan apa kepada pria itu? Ayo Jiyoung, berpikirlah. Ucapnya dalam hati mencoba memberitahu kebenaran kepada Sehun. Ia harus memberitahu pria itu, jika yang Sehun katakan sebelumnya bukanlah mimpi tapi kenyataan.
"Sehun sebenarnya kau-"
"Oh, kau sudah sadar?" Instrupsi seseorang yang masuk begitu saja keruangan itu, membuat Sehun terkejut.
"Nona! Kau kembali lagi?" Tanya Sehun yang terlihat senang melihat kakaknya itu. Tunggu, apa Sehun mengingat kedatangan kakaknya? Tapi kenapa Sehun tak mengingat kejadian kemarin?
"Yah dan aku membawakan Jiyoung makanan." Nara mengangkat bungkus makanannya setinggi yang ia bisa. Lalu tersenyum simpul sambil menatap Jiyoung. Gadis itu tentu saja merasa aneh dengan sikap Nara kepadanya.
"Lalu apa kau membelikan untukku juga?" Tanya Sehun yang seperti berharap melihat bungkus makanan lain ditangan kakaknya itu.
"Tidak. Kau masih harus memakan makanan rumah sakit." Ujar Nara kepada Sehun. Pria itu mendengus sebal saat mendengar ucapan Nara.
"Kenapa juga aku harus disini. Ini sangat aneh kan nona? Padahal, aku yakin aku tak sakit apapun. Lihatlah. Aku sangat sehat. Bukan begitu Jiyoung?" Manik mata Sehun kemudian beralih menatap Jiyoung, menuntut jawaban lagi dari gadis itu.
"Ak-aku..." Jiyoung sangat bingung berkata apa. Nara yang melihat itu langsung mengalihkan pembicaraan.
"Sehun, aku boleh pinjam Jiyoung sebentar?" Ujar Nara yang kini beralih menatap wajah Jiyoung. Kakak adik ini, kenapa membuat dirinya terintimidasi dengan segala pertanyaan?
"Tidak. Nona tak bisa membawanya. Aku dan Jiyoung akan kembali ke rumah hari ini." Tangan Sehun hendak menggenggam lengan Jiyoung tapi gadis itu refleks menepisnya.
"Jiyoung. Kenapa..." Ujar Sehun melihat tingkah Jiyoung.
"Tunggulah sebentar. Nara benar, kami butuh bicara. Aku janji akan segera menemuimu dan tak akan lama." Ujar Jiyoung lagi memberi pengertian kepada pria itu. Sehun masih menatap tak rela dengan ucapan Jiyoung kepadanya.
"Nara adalah kakakmu. Kau bisa mempercayainya. Aku tak akan lama. Jadi, tunggulah sebentar disini ya?" Ujarnya tersenyum lembut kepada Sehun. Pria itu masih terdiam tapi semenit kemudian dia menganggukkan kepalanya.
••🌷🌷••
"Luar biasa, kurasa kau memang punya keahlian mengendalikan pikiran adikku itu bukan?" Ujar Nara yang kini, nada suaranya kembali seperti semula. Dingin dan menusuk.
"Segera cabutan tuntutanmu, Park Jiyoung." Ujar Nara langsung ke intinya. Mereka saat ini berbicara disalah satu kamar inap yang tak terpakai. Berusaha, tak menimbulkan kecurigaan kepada Sehun dan tak ingin orang lain mendengar percakapan pribadi ini.
"Kau masih menahan cek mu, aku akan langsung mencabut tuntutanku kepada Sehun setelah uangnya kuterima hari ini." Ujar Jiyoung yang terkesan buru-buru. Yah. Ia harus membebaskan Lay, kakaknya itu secepatnya.
"Tanda tanganilah. Maka, kau akan bisa mencairkan dananya hari ini." Nara merogoh tasnya, lalu meraih selembar kertas berisi surat perjanjian.
"Hah, apa kau takut aku tak menepati janjiku dan kabur dengan uangmu?" Ujar Jiyoung bertanya sinis. Ia sebenarnya masih merasa kesal karena Nara seperti mengulur waktu untuk memberinya uang sesegara mungkin.
"Tentu saja. Gadis sepertimu patut diwaspadai." Ujar Nara lagi. Lalu ia memberikan penanya kepada Jiyoung yang langsung diterima olehnya.
"Ini. Aku sudah menandatanganinya." Segera Jiyoung langsung menyetujuinya.
"Wah. Kau tak ingin membaca isi perjanjian tersebut?" Tanya Nara lagi yang sangat terkejut saat gadis itu begitu cepat membubuhkan tanda tangannya.
"Yah. Aku tak punya banyak waktu. Kakakku harus segera bebas." Jiyoung lalu beranjak dari sana dengan selembar cek ditangannya.
"Ah, jadi uang yang sangat banyak itu untuk membebaskan kakakmu? Beruntung sekali dia mempunyai adik sepertimu. Tapi, aku merasa kasihan kepadamu. Sepertinya kau yang harus menanggung beban kesalahan kakakmu itu." Jiyoung mendelik, ia tak suka kakaknya dihakimi seperti itu. Nara tak tau apa-apa tentang kakaknya!
"Jangan pernah menghinanya." Ujar Jiyoung tertahan.
"Ok. Terserah." Ujar Nara tak peduli.
"Hari ini aku akan mencabut tuntutannya. Jadi, buatlah alasan untuk Sehun. Karena hari ini aku tak akan kembali kesini." Jiyoung berlalu begitu saja, membuat Nara menyunggingkan senyumnya melihat kepergiannya. Ck. Gadis arogan!
••🌷🌷••
Hari kebebasan.
Lay masih menatap tak percaya dengan semua yang ia dengar saat ini, seorang pengacara entah yang datang dari mana telah membelanya dengan sangat gigih. Bahkan tak butuh waktu beberapa lama, ternyata ia sudah dinyatakan tak bersalah. Lalu, semua tuntutan atas tindak kejahatannnya dialihkan kepada temannya itu. Yang kini menjadi buronan bagi polisi.
"Anda bisa bebas, saya permisi." Pengacara itu menundukkan kepalanya dalam, hendak pergi dari sana. Lay tentu saja menghalangi kepergiannya.
"Katakan. Kau utusan siapa?" Ujar Lay lagi yang masih sangat tak rela. Apa ini ada hubungannya dengan Jiyoung? Gadis itu, memang terlihat aneh saat mengunjunginya beberapa waktu lalu.
"Maaf, saya tak bisa memberitahukannya karena orang tersebut meminta saya menutup mulut. Kalau begitu permisi." Tanpa banyak berbicara lagi, pria berjas itu akhirnya pergi begitu saja dan menaiki mobilnya dengan cepat. Membuat Lay mengumpat tertahan karena tak bisa mengejarnya.
Meski ia terbebas dan terhindar dari tuduhan itu, entah kenapa hatinya masih merasa tak tenang. Orang itu pasti mengorbankan sesuatu untuk membebasnya. Apa dia adalah Jiyoung, adiknya?
Dengan cepat Lay mengambil beberapa barangnya yang berada dipenjara, mengemasnya dan segera beranjak dari sana dengan langkah cepat menuju kerumahnya.
••🌷🌷••
Beberapa layar berukuran sangat besar yang tertempel digedung pencakar langit itu, kini dipenuhi dengan kerumunan orang. Mereka terlihat sangat terkejut, bahkan mengumpat beberapa kali mendengar berita terpanas saat ini.
Phoenix corporation sudah mengkonfirmasi jika keterlibatan salah satu keluarganya adalah sebuah kesalahan. Hal ini dinyatakan dengan tindakan pencabutan tuntutan oleh korban.
Para media mulai mencari keberadaan korban yang disebut-sebut hanya mencari sensasi dari berita ini. Diduga orang itu hanya ingin menjatuhkan Phoenix corporation dan mengambil keuntungan dari semua ini.
Bahkan polisi sudah memberikan pernyataan, jika berita ini adalah benar. Semua tuntutan yang dijatuhkan untuk direktur Oh adalah sebuah kesalahan. Mereka berjanji akan meneliti hal ini lebih lanjut lagi agar kesalahan yang sama tak akan terulang lagi.
Dengan adanya berita ini, maka harga saham Phoenix mulai meningkat kembali. Bahkan para pemegang saham mulai banyak menanamkan modal mereka disana.
Kestabilan perekonomian perusahan terbesar itu, kini telah kembali dan disebut-sebut menjadi perusahaan terbaik untuk ikut serta dalam berinvenstasi karena pasti akan mendapatkan keuntungan yang berkali-lipat lalu....
Lay mengeratkan topinya, lalu memasukkan kedua tangannya kedalam saku. Mendengar dan melihat berita yang terpampang jelas disana membuat tingkat emosinya naik. Pasalnya, disana memberitakan tentang Jiyoung.
Meski nama Jiyoung tak disebut tapi sudah membuatnya sangat marah. Karena Jiyoung disebut-sebut sebagai orang yang mengambil keuntungan dari berita itu. Ck! Bagaimana bisa berita bodoh itu berkata begitu?
Mereka salah. Mereka tak tau apapun. Bahkan Jiyoung mengalami mimpi buruk selama ini akibat peristiwa itu.
Lay kemudian nampak berpikir, jika berita itu menyebutkan tersangka telah bebas dan korban tersebut mencabut tuntutan. Maka, Lay sangat yakin jika ini semua ada keterkaitan dengan Jiyoung. Ia harus menemui Jiyoung sekarang!