
.
.
.
Gadis itu masih memeluk anjing kecil dalam gendongannya. Lalu seorang pengawal yang menunggu kedatangannya diluar taman menundukkan kepalanya.
"Kita kerumah sakit sekarang." Ujarnya dan menyerahkan anjing itu kepada salah satu pengawal lainnya.
"Baik." Setelahnya pengawal itu membukakan pintu mobil untuknya.
"Ah iya, jangan lupa untuk terus mengawasi gadis itu." Ujarnya. Yang tentu saja diangguki oleh pria itu. Tanpa menyebut namanya tentu saja pengawal itu sangat mengetahui apa yang diinginkan atasannya tersebut.
Sejak tuan mudanya dikabarkan ditangkap oleh polisi, sang nona muda tentu saja sangat terkejut. Dia bahkan langsung mempersiapkan kepulangannya ke Seoul meski saat itu dia sedang menghadiri bisnis besar di Inggris.
Setelahnya, semua yang berhubungan dengan Sehun digali cukup dalam termasuk siapa saja yang Sehun temui dan lakukan selama ini.
"Baik, nona." Ujarnya lagi dan setelahnya mereka meninggalkan taman tersebut begitu saja.
"Park Jiyoung sialan." Desisnya dari dalam mobil dan mengepalkan tangannya kuat. Mengingat pertemuannya dengan gadis itu membuat aliran darahnya terasa ingin meledak. Pertemuan mereka yang tentu saja telah ia rencanakan. Ia sangat penasaran dengan gadis itu, sampai ia meminta pengawalnya membuat skenario pertemuan mereka hari ini. Gadis itulah penyebab hancurnya seorang Oh Sehun. Jiyoung yang membuat Sehun semakin terpuruk dan ia tak bisa tinggal diam akan hal ini. Gadis itu harus mendapatkan balasannya.
β’β’π·π·β’β’
"Kau tak bisa terus menghindarinya Jiyoung." Ujar Lay yang telah berdiri didepan pintu dan melipat tangannya. Gadis itu hanya menghembuskan nafasnya dalam.
"Oppa tak perlu ikut campur." Jiyoung menerobos tubuh kakaknya itu yang tengah menghalangi jalannya untuk masuk kedalam rumah.
"Apa kau tak merasa kasihan kepadanya? Pria itu sungguh mencintaimu. Dia bahkan terus mencari keberadaanmu." Ujar Lay, tapi Jiyoung tetap melanjutkan langkahnya.
Jiyoung mengamati seisi rumahnya dengan tatapan mata yang kosong. Seperti perkataan Lay barusan mempengaruhi isi pikirannya saat ini.
"Jiyoung." Gadis itu tersentak dari lamunannya dan tampak terkejut saat melihat pria yang selalu ia hindari kini menghampirinya. Tunggu, sejak kapan Minho berada dirumahnya?
"Kau? Sejak kapan ada disini?" Tunjuk Jiyoung tak percaya. Apa Minho sengaja menunggunya pulang? Padahal Jiyoung sudah memprediksi pria itu akan lelah menunggunya dan semakin menjauhinya tapi kenapa justru sebaliknya?
"Aku sangat merindukanmu." Tanpa berkata lagi Minho langsung memeluk tubuh Jiyoung. Memeluknya erat. Aroma Minho sungguh menenangkan. Sesaat membuat Jiyoung memejamkan matanya dan tanpa sadar ikut memeluk pria tersebut.
Jauh didalam lubuk hatinya. Jiyoung sangat merindukan pria itu. Hanya saja ego dan keadaannya saat ini membuatnya terus berpikir untuk menjauhi Minho. Pria itu berhak bahagia dan hal itu tentu saja bukan dengan dirinya.
Lay yang tadinya ingin menghampiri Jiyoung seketika menghentikan langkahnya saat melihat adiknya itu tengah berpelukan. Pandangan mata Lay terlihat nanar. Ia sangat mengetahui jika Jiyoung masih sangat mencintai Minho hanya saja adiknya itu terlalu menahan diri kepada pria itu.
Bunyi getaran diponsel, membuatnya langsung berbalik. Telpon itu dari temannya. Bisnis baru yang tengah ia jalani bersama temannya ini syukurlah berjalan lancar, bahkan ada invenstor baru yang ingin menanamkan modal kepada mereka.
Jika seperti ini Lay sangat berharap semoga untuk kedepannya, ia bisa memberikan lebih kepada Jiyoung dan ibunya. Semoga kehidupan mereka menjadi lebih baik lagi.
"Ayo, hari ini eomma dan aku sedang mengadakan makan malam bersama. Sudah lama bukan kau tak berkunjung? Pasti eomma sangat menantikan kehadiranmu." Minho melepaskan pelukannya dengan erat. Lalu menggenggam kedua tangan gadis itu dan menatapnya dengan lembut.
"Ak-aku..." Jiyoung ragu ingin menjawab apa saat ini.
"Ayo, kita tak punya banyak waktu. Pasti eomma sedang kerepotan menyiapkan makanan dirumah." Ujar Minho sambil tersenyum. Tanpa menunggu jawaban Jiyoung, Minho langsung menariknya dan membawa Jiyoung masuk kedalam mobilnya. Jiyoung terdiam dan ia pun mengikuti perkataan pria itu.
β’β’π·π·β’β’
Minho berjalan menghampiri Jiyoung yang terdiam kaku didepan pintu rumahnya. Gadis itu masih saja menundukkan kepalanya. Seperti enggan untuk memasuki rumah tersebut.
"Kenapa tak langsung masuk?" Ajak Minho lagi dan menggenggam tangan Jiyoung dengan lembut.
"Oh, Jiyoung. Kau sudah datang nak?" Sambutan yang lembut dari arah dapur, membuat Jiyoung tersenyum kikuk. Itu ibu Minho, yang seharusnya akan menjadi mertuanya.
"Nah, cepatlah duduk. Eomma sudah menyiapkan semuanya untuk kalian." Wanita itu melepaskan apronnya lalu menggiring mereka untuk segera memulai acara makan malam.
Semuanya, seperti mengingatkan Jiyoung saat dulu. Dimana, eomma Minho selalu memperlakukannya sebagai anaknya sendiri. Ia sangat bersyukur akan kebaikan ibu Minho kepadanya.
Segala macam masakan yang menggiurkan tepat tersaaji didepan matanya. Jiyoung tersenyum dan mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Minho yang mengambilkannya beberapa lauk dan nasi diatas piring untuknya.
"Aigo. Kalian sangat serasi ya?" Goda ibu Minho yang memunculkan semburat kemerahan dipipi Jiyoung.
"Eomma." Ujar Minho memperingatkan ibunya agar tak berkata seperti itu lagi. Memang sikap pemalu Jiyoung tak pernah berubah dan ibunya ini masih saja senang menggoda gadisnya.
β’β’π·π·β’β’
Nara memejamkan matanya kuat beberapa saat, tangannya meraih jemari adiknya itu dan ia kembali melihat wajah pucat Sehun dengan raut wajah sendu.
"Bangunlah, apa kau ingin tidur terus?" Ujarnya melembut lalu mengelus pucuk kepala Sehun dengan lembut.
Ia melihat beberapa peralatan medis yang Sehun gunakan. Membuat hatinya seakan teriris.
"Nona, maaf. Tapi malam ini anda harus pergi ke Jepang." Satu pengawal kepercayaannya itu masuk setelah mengetuk pintu kamar itu beberapa kali. Kalimat barusan, membuat Nara menoleh lalu menghembuskan nafasnya kasar.
"Baiklah." Setelah melihat wajah Sehun lagi ia pun mulai meninggalkan adiknya dan menyuruh orang-orang kepercayaannya untuk tetap mengawasi kondisi Sehun lebih lanjut.
Butir-butir keringat mulai bermuculan setelah Nara keluar dari ruangan itu. Tangan putih pucat milik Sehun terkepal. Nafasnya sedikit tersengal. Lalu pria itu mulai menggumamkan nama 'Jiyoung' beberapa kali.
β’β’π·π·β’β’
Drrttt... Drrttt... Drrttt...
Jiyoung melihat id caller pada ponselnya.
"Maaf, aku harus mengangkat telpon." Ditengah perbincangan antara Minho dan ibunya tadi membuat Jiyoung harus menghentikan beberapa ceritanya atau lebih tepatnya pertanyaan yang diajukan oleh ibu Minho tadi.
"Tentu, kalau sudah selesai cepatlah kemari." Wanita itu mengulas senyumnya kepada 'mantan tunangan anaknya' tersebut.
"Berhentilah menatapnya dengan raut sedih seperti itu, Minho." Ujar wanita itu lagi saat melihat wajah sedih yang Minho tunjukkan kepada Jiyoung.
"Aku sangat mencintainya, eomma." Ibunya meraih telapak tangan Minho lalu mengusapnya dengan lembut.
"Dia butuh waktu dan kau harus tetap bersabar dengan sikapnya saat ini." Minho telah menceritakan semuanya. Bahkan ibunya sangat terkejut melihat kedatangan Jiyoung setelah gadis itu dinyatakan hilang karena penculikan, tepat tiga hari setelahnya ibu Jiyoung datang dan meminta agar pertunangan Jiyoung dan Minho dibatalkan.
Lalu yang lebih mengejutkannya lagi, saat Minho menanyakan dan menyangkal jika ia tak pernah bertengkar parah dengan Jiyoung sehingga membuat Minho sangat tak menyetujui hal tersebut.
Minho terus bertanya, tapi tak ada jawaban. Lalu ia terus menerus mencoba menemui Jiyoung secara langsung tapi lagi-lagi gadis itu menolak untuk menemuinya dengan berbagai cara yang Jiyoung buat.
"Aku selalu menunggunya eomma, meski appa tak menyukai Jiyoung. Aku akan tetap bersamanya dan aku harap eomma akan terus mendukungku sampai akhir." Minho memandang wajah ibunya, sarat akan permohonan tapi yang ia dapat hanyalah tatapan sedih wanita itu kepadanya. Membuat Minho mengepalkan tangannya keras. Sangat tau arti dari tatapan yang ibunya berikan.
"Maaf, aku harus pulang sekarang." Jiyoung berkata cepat. Kedatangannya bahkan tak diketahui oleh kedua orang itu.
"Kau tak apa?" Pasalnya setelah menerima telpon itu raut wajah Jiyoung terlihat gelisah dan Minho dapat melihat semua itu dengan sangat jelas.
"Ak-aku tak apa. Maaf, aku harus pulang sekarang."
"Tunggu! Biar kuantar." Minho mencekal tangan Jiyoung saat gadis itu menundukkan kepalanyaΒ bermaksud memohon ijin untuk pergi.
Dan tanpa harus menolak, Jiyoung pun mengiyakan bantuan Minho.
β’β’π·π·β’β’
"Apa terjadi sesuatu?" Jiyoung menggeleng. Lalu tersenyum kepada pria itu.
"Tak ada. Eomma hanya berkata lupa mengunci pintu karena oppa tak bisa pulang malam ini dan eomma masih diluar karena ada urusan." Minho menghembuskan nafasnya lega setelah mendengar ucapan Jiyoung barusan. Syukurlah tidak terjadi hal yang buruk.
"Syukurlah, kalau begitu cepatlah masuk. Aku akan menemuimu lagi besok." Jiyoung menganggukkan kepalanya. Lalu tanpa diduga Minho mengecup pucuk kepala Jiyoung dengan lembut.
"Selamat tidur." Dan Minho pun melambaikan tangannya sebagai salam perpisahan. Jiyoung pun membalas dan mengulas senyumnya.
Setelah melihat mobil Minho sudah tak terlihat ia kembali keluar dari pekarangan rumahnya.
Lalu melambaikan tangannya kearah taxi yang sedang melaju. Taxi tersebut berhenti dan pintu pun terbuka tanpa menunggu lama Jiyoung pun langsung naik.
"Tolong, antarkan saya ke kantor polisi Seoul pak."
β’β’π·π·β’β’
"Astaga hiksss... Anakku yang malang hiksss..." Lay memandang sedih wajah ibunya yang sedari tadi menangisi nasibnya kini. Sudah sejam sejak ia dikurung dibalik jeruji besi ini dengan tuduhan yang tak ia perbuat sama sekali. Demi Tuhan, ia tak pernang melakukan penggelapan dana!
"Aigo.. Apa yang harus kita lakukan? Hikss..." Lay menggenggam tangan ibunya dengan erat. Lalu mengucapkan permintaan maaf berulang kali.
"Oppa!" Disaat yang tepat Jiyoung berlari cepat menghampiri keberadaan oppa dan ibunya diruang khusus penjara disana. Mereka hanya diberi waktu 15 menit untuk berbicara setelahnya tersangka harus kembali masuk kepenjara.
"Kenapa kau melakukannya oppa?! Apa kau tak sadar dengan hidup kita saat ini?! Kenapa kau semakin membuat kehidupanku bertambah hancur?!" Jiyoung sangat kalut, dan tanpa sadar gadis itu berteriak dan mengeluarkan amarahnya kepada kakaknya itu tanpa mau mendengarkan penjelasannya.
"10 milyar won! Meski aku dan eomma bekerja seumur hidup lalu menjual semua yang kami miliki kami tak akan bisa membantumu. Dan bagaimana bisa kau sangat bodoh sampai bisa ditipu oleh temanmu itu?"
"Jiyoung! Apa yang kau katakan nak?" Tegur ibunya merasa kesal mendengar ucapan yang Jiyoung katakan.
"Eomma! Oppa sungguh keterlaluan. Lalu dengan apa kita bisa membebaskannya? Rasanya aku lebih baik mati saja saat itu."
"Jiyoung!" Teriak eommanya lagi bermaksud menghentikan ucapan Jiyoung. Kemudian gadis itu menangis, membuat mereka tersadar jika ucapan Jiyoung tadi sebenarnya adalah bentuk kekhawatiran yang gadis itu rasakan.
"Maafkan oppa, aku tak tau jika teman bisnisku bisa menipuku seperti itu. Aku sudah mengatakan sejujurnya kepada polisi tapi mereka tak percaya karena semua bukti tertuju kepadaku lalu teman oppa tak bisa ditemukan dimanapun." Lay menunduk kepalanya sedih. Pria itu mengepalkan tangannya erat dan menangis dalam diam.
"Oppa..." Jiyoung memeluk tubuh Lay. Mendekapnya. Kini masalah yang menimpa keluarga mereka sangat besar. Lalu dengan apa Jiyoung bisa membantu kakaknya itu?
"Maafkan aku." Gadis itu terisak dalam dekapannya. Membuat Lay mengangguk mengerti. Pasti sangat berat bagi Jiyoung mendengar hal ini. Setelah semua yang telah dia lalui dan kondisi Jiyoung yang berangsur sembuh lalu dirinya yang bodoh ini membuat Jiyoung harus merasakan tekanan berat lagi.
"Maaf, waktu saudara Lay sudah habis. Kalian bisa menemuinya lagi besok." Tanpa penolakan Lay menuruti ucapan kepala penjaga.
"Kau tak perlu pusing dan memikirkan keadaanku. Oppa lebih baik dipenjara daripada harus membuat dirimu dan eomma mencari cara untuk membebaskanku." Lay tersenyum lembut dan mengusap air mata diwajah Jiyoung. Adiknya yang sangat ia sayangi.
Jiyoung tak bisa berkata lagi. Ia juga bingung harus menjawab apa. Lalu matanya kembali mengalirkan air mata saat tak bisa melihat wajah Lay lagi. Jiyoung beralih menatap wajah ibunya dengan raut wajah sedih dan khawatir.
"Semuanya akan baik-baik saja, eomma." Jiyoung mendekap tubuh ibunya mencoba menenangkan. Meski ia sendiri tak akan bisa tenang dengan kondisi Lay saat ini. Ia harus mencari cara untuk membebaskan kakaknya itu.
TBC