
.
.
.
Suara ketukan pintu kamar membuatku menoleh, sosok anggun dipertengahan usianya sungguh membuat diriku mengulas senyum kepadanya.
"Eomma." Panggilku kepada ibu yang tengah membawa nampan berisi makanan dan minuman. Ibu tersenyum lembut saat menerima sapaan dariku.
"Makanlah dan kuharap kau bisa membantuku untuk menyiram bunga dihalaman belakang." Aku terdiam. Tidak berniat untuk menjawab. Aku tau jika ibu masih merasa khawatir kepadaku. Pasti ia ingin aku keluar dari kamar ini. Yah. Ini sudah hampir seminggu aku mengurung diri didalan kamar. Bukannya aku tak ingin tapi hanya saja aku selalu merasa takut jika kakiku melangkah keluar untuk meninggalkan kamar ini.
"Eomma, kapan oppa pulang?" Tanyaku, ibu pasti tau jika aku tak berniat untuk menjawab pertanyaan tadi. Ia tersenyum lagi lalu mengelus rambutku dengan pelan.
"Untuk saat ini aku juga belum tau, Lay sepertinya akan lama pulang karena harus mengurus bisnis baru dengan temannya itu." Jelasnya. Aku menghela nafas sejenak. Sejak oppa menyelamatkanku waktu itu, oppa tak terlihat sama sekali. Aku sangat merindukannya. Dia adalah kakak yang paling kusayangi didunia ini.
Aku langsung menaruh nampan tersebut di atas meja, lalu kembali memandang wajah ibu dengan seulas senyuman.
"Terima kasih atas makanannya." Ibu hanya bisa mengelus rambutku lagi. Ia terlihat merasa senang saat tau aku menyukai makanan ibu.
"Apa eomma ingin pergi?" Tanyaku saat melihat ibu yang terlihat rapih.
"Iya nak, aku ingin ke pasar membeli bahan-bahan memasak untuk nanti malam." Jiyoung hanya bisa ber"oh" saja saat mendengar jawaban ibunya.
"Baiklah, sepertinya eomma harus pergi sekarang. Jika sudah selesai makan taruh saja dimeja ya?" Saran ibu dan aku pun hanya menggangguk.
"Tentu eomma." Jawabku cepat.
"Apa kau mau ikut?" Tanya ibu saat melihat diriku lagi. Wajahnya tersirat menunggu jawaban iya dariku tapi lagi-lagi aku dengan cepat menggeleng. Ibu terlihat menghela nafasnya. Pasti ia merasa tak bisa membujuk aku untuk keluar. Maafkan aku karena membuatmu sedih.
"Tak apa Jiyoung, jangan bersedih seperti itu, hmm?" Ibu berkata seperti itu saat melihat wajahku yang merasa bersalah. Aku hanya bisa mengangguk dan menghambur memeluknya. Ibu juga balas memeluk tubuhku dengan lembut dan setelahnya ia pergi dari kamarku. Dengan perasaan kecewa.
Saat pintu kamar itu ditutup. Kembali. Aku merasa kehampaan dalam diriku.
••🌷🌷••
Prangg...
Pria itu dengan brutal melemparkan segala sesuatu yang bisa ia raih. Ia berteriak dan menarik rambutnya dengan keras. Seolah perasaan depresi sedang menyerangnya saat ini. Dan itu adalah kenyataannya.
"Jiyoung!" Teriaknya yang terlihat seperti orang gila. Pria itu memang sudah gila asal kalian tau.
Pandangan matanya mengarah kepada patung yang berjejer didalam kamarnya. Memang kamar pria itu begitu luas dan mewah, bahkan sampai muat untuk memasukkan beberapa ornamen patung berbentuk hewan tersebut. Lebih tepatnya patung berbentuk burung phoniex.
Lagi. Ia melemparnya dengan raut wajah yang sudah memerah karena marah.
Nafasnya memburu dan kemudin berteriak kembali. Setelah beberapa menit berlalu ia pun memutuskan melangkahkan kakinya untuk mengambil jaket yang pernah gadis itu berikan kepadanya. Ia duduk dikasur. Lalu mulai menyesapi aroma Jiyoung yang masih melekat dijaket itu. Ah. Ini wangi gadisnya.
"Kenapa kau tak ada di Seoul?" Tanya pria itu seperti mengajak si pemilik jaket tersebut berbicara. Ia masih menatap lekat jaket yang ada digenggamannya.
"Bukankah sudah kubilang aku akan menemuimu? Lalu kenapa kau tak ada dirumahmu hmm?" Nada pria itu terdengar kecewa dan sedih. Ia merasa kesal dan marah terhadap Jiyoung yang seperti tak ingin bertemu dengannya lagi.
Kenapa Jiyoung melakukan hal ini? Apa gadis itu tak ingin bertemu dengannya?
Padahal dirinya saja merasa gila jika tak melihat wajah Jiyoung lagi.
"Arghhhh!!!" Sekali lagi ia merasa kesal saat mengingat hal itu. Ia melempar jaket Jiyoung kekasur lalu berdiri untuk mengambil figura foto pemandangan yang cukup besar dikamarnya. Dengan perasaan kesal ia mengambil lalu melemparnya dengan keras.
Pecahan beling dari figura itu pun berserakan dimana-mana.
Kamar itu sungguh terlihat berantakan.
••🌷🌷••
Ia yang baru saja tiba dari perjalanan bisnisnya, tersentak kaget saat mendengar suara ribut dari arah atas. Membuat wanita itu memejamkan matanya erat.
Dengan cepat ia menyuruh sang pengawal yang berjejer rapih dibelakangnya untuk segera menuju kekamar sang tuan muda, sedang ia menyusul mereka dari belakang. Sepertinya ia sudah tau jika kamar tersebut pasti dikunci oleh Sehun.
"Kalian cepatlah pergi kekamar Sehun!" Teriak gadis muda itu kepada para pengawalnya. Ia merasa sangat khawatir kepada Sehun. Hal gila apa lagi yang dilakukan adiknya itu?
Brakk...
"Nona, kami sudah berhasil membuka kamar tuan muda." Lapor salah satu pengawal kepadanya. Nara pun langsung berlari menuju kekamar Sehun.
"Sehun?!" Teriaknya histeris saat mengetahui penampilan pria itu sungguh kacau. Sebenarnya kenapa bisa Sehun seperti ini lagi? Dengan hati-hati gadis itu menghampiri Sehun. Mungkin, untuk menghindari beberapa pecahan beling yang berserakan dilantai kamar tersebut.
"Nona hikss.." Ujar Sehun saat tau jika kakaknya telah datang. Tanpa ragu pria itu memeluk tubuh Nara dengan erat. Ia bahkan tak peduli pada luka dikakinya saat tak sengaja ia melangkah untuk duduk dikasurnya.
Nara yang menyadari hal itu langsung menenangkan Sehun.
"Ssttt....tenanglah." Ujarnya menenangkan Sehun. Pria itu semakin memeluk kakaknya. Membuat Nara merasa sedih.
"Kita obati lukamu dulu." Ujarnya saat melihat telapak kaki pria itu masih saja mengeluarkan darah segar. Sehun hanya bisa mengangguk.
Sambil terus memeluk Sehun, tanpa diketahui olehnya, mata Nara melirik salah satu pengawal untuk memberikan isyarat. Pria bertubuh tinggi itu pun mengerti, ia mengangguk patuh lalu dengan berani ia menghampiri kedua saudara itu.
"Tenanglah hmm?" Ujar Nara sambil mengelus bahu pria itu. Sebenarnya Sehun sudah ingin memberontak tapi sepertinya sesuatu yang terasa menembus kulit lehernya jauh lebih kuat dari tenaganya saat ini.
"Nona..." Mata Sehun melemas saat merasa caiaran dari jarum suntik itu bereaksi. Rasa kantuk itu pun tiba-tiba menyerangnya.
Setelah membaringkan Sehun dikasur dan menyelimutinya. Nara menyuruh para pengawal untuk segera membereskan kamar adiknya tersebut.
"Cari tau apa yang membuat Sehun menjadi seperti ini lagi." Ujarnya mutlak, disertai perasaan kesal didalamnya. Para pengawal itu mengangguk patuh dan perlahan mulai memundurkan diri saat tangan wanita itu menyuruh mereka segera keluar dari kamar ini.
"Kenapa kau seperti ini lagi?" Ujar Nara tertahan kepada Sehun yang terlihat tertidur pulas. Ia terus menyisir rambut Sehun yang telah memanjang. Ternyata sudah lama ia meninggalkan Sehun dalam keadaan seperti ini.
Matanya terpejam dengan kuat. Kembali ia merasa sedih jika mengingat kelakuan Sehun tadi. Bisakah Sehun sembuh?
••🌷🌷••
"***Kau mau kemana?"
"Kau tak bisa meninggalkaku."
"Maksudku, temanilah aku sampai minuman ini habis."
"Kumohon atau tidak, aku bisa membuat hal gila lagi disini."
"Jika kau sebut itu ancaman. Maka jawabanku iya."
"Maaf, aku hanya merasa kesepian.".
"Tidak! Kau tidak bisa pergi kemanapun!"
"Aku sedih jika kau berniat meninggalkanku, Jiyoung."
"Tidak sayang, mulai hari ini kau akan disini selamanya bersama denganku."
"Kau sungguh lucu, bagaimana bisa kau berkata seperti itu, padahal kau tak punya salah kepadaku?"
"Menikahlah denganku."
"Berhentilah menolakku atau kau akan menyesal dengan ucapanmu."
"Kau milikku Jiyoung. Yah. Selamanya milikku***."
"Tidak!!!!" Jiyoung mengatur nafasnya. Saat dirinya lagi-lagi mengingat pria itu dan yang lebih parahnya ia masih mengingat dengan jelas bagaimana pria itu menyentuhnya. Sungguh membuatnya merasa muak.
Lalu cara pria itu berkata dan memperlakukannya seolah dirinya ini adalah milik pria gila itu.
Semakin membuatnya marah, tanpa sadar ia mengepalkan tangan dan menangis lagi. Ia merasa hidupnya menjadi hampa, jalan hidupnya kini seperti tak terarah. Ia benar-benar tak pantas untuk pria itu.
Makanya setelah ini, ia sendiri yang akan menemui Minho untuk memutuskan pertunangan mereka karena ia merasa jika Minho pasti akan mendapatkan gadis yang jauh lebih baik dibanding dirinya.
Tiba-tiba perutnya kembali bergejolak dan ia merasa mual. Jiyoung dengan cepat berlari kekamar mandi. Rasanya sangat pening. Kepalanya berdenyut tak karuan. Setelah selesai Jiyoung berjalan gontai kearah kasur. Ia menatap jendela kamarnya dengan tatapan mata kosong.
'*Apa diluar sana akan terasa indah?'
'Apa pria itu masih mencarinya?'
'Apa kehidupannya bisa kembali seperti dulu?'
'Bisakah ia kembali bahagia*?'
Bisakah ia memutar waktu? Jika bisa ia bersumpah tak akan pernah ingin melihat wajah pria itu lagi.
Setelah melamun. Matanya beralih melihat laci meja yang ia miliki. Jarinya membuka laci meja tersebut untuk mengambil sesuatu didalamnya. Beberapa butir obat mungkin akan menenangkannya.
Tanpa ragu Jiyoung menelan obat itu dengan jumlah yang lumayan. Berharap jika obat tidur itu bisa membantunya untuk tertidur lelap.
Ia hanya ingin kembali tidur dengan tenang dan mengusir semua mimpi buruk itu dari hidupnya.
••🌷🌷••
Seoul Hospital
"Dengan sangat menyesal kami memberitaukan jika janin yang dikandung nona Jiyoung tak bisa kami selamatkan. Maaf, kami harus mengeluarkan janinnya bersama dengan obat yang ia konsumsi tapi anda tenang saja untungnya nyawa nona Jiyoung bisa kami selamatkan." Ujar sang dokter setelah keluar dari ruang operasi. Dengan sangat menyesal ia kemudian membungkukkan badannya untuk segera pergi.
Seperti tersambar petir saat mendengar ucapan dokter tersebut. Nyonya Park jatuh terduduk. Pasalnya ia baru mengetahui jika Jiyoung tengah mengandung.
Dengan cepat ia membuka pintu ruangan tersebut dan mengenggam tangan Jiyoung yang terlihat lemah. Bebeberapa selang infus bahkan masing terpasang ditubuh gadis itu. Membuat sang ibu menangis. Ia menepuk dadanya saat melihat keadaan Jiyoung saat ini.
"Astaga... Hiksss. Jiyoungku.. Hiksss... Apa salahmu nak?" Nyonya park menangis histeris dan anak sulungnya memeluk sang ibu dengan raut penyesalan.
Lagi. Jika saja eommanya tak datang tepat waktu. Pasti, adiknya sudah meninggal. Tidak. Hidup adiknya masih panjang. Jiyoung masih terlalu muda untuk mati. Jiyoung bahkan belum sempat menikah dengan pria yang dicintainya.
Pria bernama Park Lay tersebut sangat terkejut saat mendengar jika Jiyoung dilarikan kerumah sakit. Ia segera pulang untuk menolong adiknya. Ia sangat menyesal disaat ia kembali. Ia lagi-lagi menemukan Jiyoung mencoba untuk bunuh diri.
Ia mengepalkan tangannya keras. Ia tak akan pernah memafkan pria brengsek yang telah menghancurkan masa depan adiknya tersebut.
"Eomma, tenanglah." Ujarnya dan membantu sang ibu untuk duduk kembali.
"Lay.. Hikss... Sebenarnya apa salah Jiyoung sampai harus mengalami hal seperti ini?" Ujar Nyonya Park bertanya kepada putranya itu. Lay hanya terdiam, ia tak tau apa yang harus ia bicarakan. Mulutnya terasa kelu. Matanya terpejam memikirkan nasib sang adik.
Ia harap Jiyoung masih memiliki tekat untuk tetap hidup.
TBC