Dear You

Dear You
Cahaya (1)




Untuk bagian awal ataupun akhir, bisakah aku melihat cahaya itu dengan jelas? -Jiyoung


.


.


.


Jika didefiniskan kisah diantara kami, rasanya sangat sulit dijelaskan. Aku sendiri bahkan tak mampu memperjelas keadaan saat ini. Apakah aku merasa senang, sedih, kecewa, kesal, benci kepada pria itu? Entahlah. Tapi yang aku rasakan hari ini adalah aku merasa nyaman. Pria itu ternyata tidak terlalu buruk jika saja aku tetap sabar menghadapinya.


"Apa tidurmu nyenyak?" Tanyaku saat melihat Sehun yang baru saja keluar dari kamar mengucek matanya beberapa kali. Bajunya juga masih sangatlah berantakan terlebih rambutnya itu.


"Hmm, sangat nyenyak." Dan didetik berikutnya ternyata pria itu telah memelukku dengan cepat. Aku bahkan sudah tak terlalu kaget dengan salah satu tingkah Sehun yang cukup unik ini. Yah. Dia katanya sangat menyukai memeluk diriku.


"Nyaman. Kau selalu membuatku nyaman Jiyoung." Sehun kembali mengeratkan pelukannya. Membuatku tanpa sadar terkekeh dibuatnya.


"Kau mau mandi dulu atau langsung sarapan?" Tanyaku ditengah pelukannya. Raut wajah Sehun berubah. Ia melepaskan pelukannya ditubuhku. Pria itu menatapku dengan bingung.


"Kau memasak?" Tanyanya tak percaya. Aku memutar mataku malas.


"Kenapa? Memangnya aku sangat terlihat aneh jika hari ini memasak?" Ujarku dengan sedikit mendengus. Sehunpun yang melihat itu terkekeh dibuatnya.


"Tidak. Hanya saja... Aku sangat senang." Oh.. Tolonglah.. Buatku sadar jika tingkah Sehun ini bisa berubah-ubah. Kenapa juga pagi-pagi sudah mengatakan hal seperti itu?


"Aku akan mandi dulu. Aku tak suka bau, nanti kau semakin menjauhiku." Sehun memasang wajah cemberutnya. Lihatlah sekarang, pria itu kini bertingkah seperti bocah berumur lima tahun yang terlihat takut jika aku jauhi karena hanya bau badannya yang tercium.


"Yah. Terserah kau saja. Aku akan menunggumu disini." Ujarku membalas. Tapi Sehun tiba-tiba memegang tanganku dan menatap wajahku dengan raut bahagia?


"Aku mencintaimu." Dan didetik itu pula aku merasakan Sehun menciumku begitu lembut, merengkuhku kedalam pelukannya yang begitu lembut dan semakin memperdalam ciumannya sampai akhirnya aku sadar lalu mencoba menyudahi acara mesum Sehun kepadaku.


Pria itu menjilati bibirnya. Lalu memegang salah satu pipiku dan memberikan kecupan singkat disana.


"Yak! Oh Sehun. Jika begini kapan kau mandi?" Tanyaku yang mencoba menutupi wajahku yang terlihat akan memerah.


"Haha. Apa aku tak usah mandi saja ya? Atau kita sebaiknya melanjutkan kegiatan kita seperti tadi malam? Bukankah rasanya sangat nikmat? Disatu ranjang yang sama beberapa kali, kita melebur bersama. Dan aku masih ingin mendekapmu dengan tanganku yang kokoh ini untuk kembali menyentuh kulitmu yang sangat mulus itu." Oh. Sial. Si mesum ini kenapa juga mengingatkanku dengan kejadian semalam? Membuat diriku jadi tak kuasa untuk kembali menyembunyikan wajahku yang terlihat semakin memerah.


"Haha. Baiklah. Aku bercanda. Aku akan mandi sekarang." Dan akupun menghela nafas lega saat pria itu benat-benar pergi dari hadapanku. Aku terus saja mengibaskan tanganku diwajah berharap wajahku tak meledak karena memerah. Rasanya memalukan tadi. Bisa-bisanya pria itu mengatakan hal tak senonoh itu tanpa beban. Ck. Dasar mesum!


Aku yang tak mau ambil pusing akhirnya segera menyiapkan beberapa makan diatas meja. Aku pagi ini hanya membuat omelete, nasi goreng lalu segelas susu hangat. Hmm.. Apa aku harus membeli buah ya? Rasanya sudah lama aku tak memakan buah-buahan dan memasak sayur. Aku sangat tau jika Sehun itu sangatlah suka dengan jus sayuran. Apapun itu yang menurut Sehun bergizi dan menyehatkan pasti langsung dihabiskan olehnya.


Yah. Selama bersama Sehun aku tak bisa memungkiri jika aku sudah mulai memperhatikan apa yang Sehun suka dan tidak. Aku tentu saja sudah menulis beberapa hal terkait tentang Sehun yang nantinya bisa benar-benar membantu menyembuhkan Sehun.


Jika dilihat dari luar ataupun sekilas sebenarnya Sehun itu tak terlihat sakit untuk masalah fisiknya, tapi yang sakit adalah masalah psikis pria itu. Yah. Jiwa Sehunlah yang sakit.


Setelah selesai menata meja, aku pun beralih menatap selembar surat dan sebuah koran pagi yang kuterima saat membuka pintu tadi dari seorang kurir. Sebenarnya aku tak pernah penasaran ataupun berniat membacanya tapi karena judul yang besar terpampang dengan jelas dihalaman depan koran itu mau tak mau membuatku jadi membacanya.


Tertulis disana jika pengusaha muda yang kini telah berhasil dalam pencapaian usaha akan segera melangsungkan pernikahan. Banyak dari media yang terus menyoroti hal ini. Aku bahkan jadi terus membacanya tanpa sadar hingga akhir, sampai rasanya dadaku sangatlah sesak. Entahlah. Aku pikir aku sudah memutuskan untuk mengakhiri semua hal dengan dengan pria itu maka aku sudah sangat rela tapi nyatanya masih tersisa sedikit cinta untuknya.


Yah. Aku saat ini membaca tentang Kang Minho. Si pengusaha muda itu adalah Minho, mantan tunanganku dulu.


Seharusnya aku bersyukur jika aku telah mengetahui kehidupannya sudah lebih baik, Minho telah mendapatkan pendamping yang jauh lebih pantas dibanding denganku. Pasangan Minho berasal dari keluarga terpandang. Dalam foto nya bersama Minho, gadis itu sangatlah cantik. Ji Eun. Namanya juga cantik.


Tuk...


Aku yang tadinya berniat untuk segera menyingkirkan koran tersebut lupa jika masih ada sebuah surat. Aku pun mengambil surat yang terjatuh.


Tertulis disana jika surat itu adalah untukku. Goresan tinta yang ditulis oleh Minho. Aku tentu saja terkejut bagaimana bisa Minho mengetahui keberadaanku? Apa selama ini pria itu mengawasiku? Tapi kenapa tak pernah menemuiku sedikitpun?


Didalam surat itu pasti ada penjelasannya. Aku harus membukanya segera tapi tak bisa karena suara langkah Sehun terdengar sangat jelas.


"Kenapa kau terdiam?" Sehun bertanya sambil mengusap rambutnya yang basah dengan handuk dan berjalan menghampiriku.


Aku memasang senyumku dan menariknya segera kearah tempat duduk.


"Makanlah. Nanti keburu dingin. Aku akan menaruh handukmu." Aku lantas meraih handuk Sehun dan masih menggenggam koran beserta surat itu dalam genggamanku. Membuat Sehun yang melihatku menatap curiga.


"Ini koran yang kudapat didepan teras. Aku masih ingin membacanya jadi akan kusimpan." Jelasku. Dan Sehun terlihat tak memperdulikan hal itu. Bahkan pria itu kini mengambil sendok dan memakan sarapannya.


'Maaf, bukannya aku berbohong. Aku hanya tak ingin kau langsung berpikir buruk lagi.'


Setelah meletakkan handuk Sehun dikamar mandi. Akupun segera melipat koran itu dan mengambil suratnya. Aku menyelipkan surat itu dibawah bajuku yang ada dilemari. Hmm, kurasa Sehun tak akan mungkin mengacak lemari bukan?


Dengan langkah ringan. Akupun kembali menghampiri Sehun yang masih saja asik dengan makanannya.


"Apa enak?"


"Hmm."


Kenapa respon Sehun jadi berbeda? Apa Sehun merasa jika aku berbohong? Tapi jika aku ceritakan yang sebenarnya apa pria itu akan bersikap realitis? Aku hanya takut jika emosi Sehun langsung meledak saat mengetahui jika aku masih mempunyai hubungan dengan Minho. Tidak. Lebih tepatnya aku sudah memutuskan hubunganku dengan Minho tapi pria itu yang tiba-tiba menghubungiku lebih dahulu melalui surat itu.


Aku sangat tau jika Sehun sangat membenci Minho. Bahkan saat itu aku tak sengaja mengucapkan nama Minho dalam perdebatanku dengan Sehun. Pria itu langsung marah besar karena mendengar nama Minho diucapkan dari mulutku. Dan yang terjadi selanjutnya adalah Sehun menamparku dengan keras dan tak pernah merasa bersalah kepadaku karena semua itu salahku. Selalu saja Sehun mengatakan jika semua hal yang kualami semuanya adalah salahku.


"Sehun, aku ingin membeli buah dan sayur apa kau ingin ikut?" Aku mencoba berbicara lagi. Sehun langsung mengeryit bingung.


"Aku ingin membelikanmu buah dan membuatkanmu jus sayur setiap hari." Ujarku sedikit pelan. Aku terpana saat dengan cepatnya Sehun tersenyum kepadaku.


"Tentu saja aku akan menemanimu!" Sehun kembali ceria. Membuatku langsung menghela nafas lega karena aku sangat takut jika Sehun akan menyiksaku lagi dan berbuat kasar kepadaku.


"Kau sepertinya membuktikan ucapanmu waktu itu Jiyoung." Ujar Sehun kemudian. Membuatku langsung terdiam.


"Aku senang karena telah merelakan semuanya untukmu." Ujar Sehun kembali. Yang membuatku tak tau harus berkata apa. Benarkah dengan mengajak Sehun untuk tinggal bersama adalah pilihan yang tepat?


"Yah. Jadi. Mari kita memulai hidup baru ini dengan perasaan bahagia." Kami pun tersenyum bersama. Sesuatu yang sangat jarang bahkan hampir tak pernah terjadi. Aku dan Sehun sama-sama merasakan kebahagian saat ini.


••🌷🌷••


"Apa kita perlu membawa mobilmu kesini?" Tanyaku yang merasa tak nyaman. Saat Sehun bersikeras tetap membawa salah satu mobilnya untuk ditempatkan dirumah kami. Katanya, kami pasti perlu mobil untuk berpergian. Dengan uang yang terbatas pasti akan sulit jika membeli mobil baru. Jadinya. Pria itu dengan lantangnya berkata jika ia harus mempunyai mobil.


"Yah. Tentu saja. Aku tak ingin kau terus menaiki kendaraan umum. Aku juga tak menyukai hal itu. Lagipula kita bisa lebih menghemat ongkos untuk biaya hidup sampai aku menemukan pekerjaan." Ujar Sehun yang memang benar. Sial. Aku memang selalu tak bisa membalas perkataannya yang sialnya terkadang selalu saja terdengar benar.


"Hmm, baiklah. Aku juga senang jika aku tak perlu berjalan kaki selama 20 menit untuk sampai halte bus." Ujarku menanggapinya.


"Ngomong-ngomong kenapa letak supermarketnya jauh?" Ujar Sehun yang terdengar berdecak dan sedikit kesal karena mereka sudah lama tak menemukan supermarket itu.


"Iya. Karena supermarket nya lumayan jauh dari rumah. Oh iya, pokoknya nanti kita harus membeli bahan secukupnya." Ujarku mengingatkan Sehun karena aku tau jika Sehun terkadang selalu saja membeli barang-barang tak berguna sama sekali. Maksudku Sehun selalu membeli barang-barang yang bukan kebutuhan pokok. Pria itu hanya asal menunjuk ini itu karena duitnya banyak. Bukan karena benar-benar membutuhkannya.


"Hmm, ok." Ujarnya yang sedikit cemberut. Membuatku yang melihatnya yang sedang menyetir berusaha menahan tawa. Sangat lucu rasanya melihat Sehun yang cemberut seperti ini. Aku yakin sebenarnya Sehun tak suka diatur ini itu tapi entah kenapa Sehun selalu saja menuruti keinginanku dan hal ini rasanya membuatku tambah senang.


.


.


.