
Pernikahan Minho, mantan kekasihnya. Dilaksanakan digedung yang sangat mewah. Tentu saja akan seperti itu, mengingat Kang Minho memanglah pria kaya, ditambah gadis yang dinikahi Minho bukanlah sembarang orang.
"Kenapa kita harus kesini? Kau ingin membuatku membunuh pria brengsek itu didepan matamu, ya?" Ujar Sehun sengit. Aku yang melihat hal tersebut memutar mata malas. Sampai kapan ucapan tajamnya itu menghilang?
"Akukan sudah janji kepadamu, aku akan berusaha untuk membuka hatiku untukmu, Sehun. Jadi, dengan aku membawamu dan memperkenalkanmu dihadapan mantan kekasihku akan membuktikan jika hubungan kami sudah tak ada apa-apa lagi." Aku menjelaskan maksudku kepada pria berwajah datar disampingku. Sial. Kenapa juga Sehun begitu tampan? Apa ini karena jas mewah dan mahal yang ia bawa dari rumah mewah itu?
"Lihatlah. Bukankah aku sangat berguna membawa serta gaun dan baju-baju cantikmu kedalam koperku?" Ujar Sehun yang merasa bangga. Aku sedikit terdiam dibuatnya. Ah, iya. Mengingat koper besar yang Sehun sempat seret-seret itu membuatku sedikit kesal karena Sehun pasti membawa barang-barang mewahnya selain baju yang dia miliki.
"Yah. Dan jam tangan rolexmu juga akan sangat berguna jika kita tak mempunyai uangkan?" Ujarku lagi membalasnya, bermaksud menggodanya sedikit. Sehun langsung memicingkan matanya. Pasti pria itu merasa kesal karena aku sudah berpikiran jahat ingin menjual jam tangan mewahnya itu. Aku yakin Sehun tak akan pernah menjualnya, mengingat pria itu sangat menyayangi jam tangan tersebut.
"Ayo Sehun, kita hanya sekedar memperkenalkanmu lalu kita segera pergi dari sini." Ajakku lagi yang melihat Sehun seperti tak akan beranjak dari dalam mobil. Aku dengan perlahan memastikan kepada Sehun jika aku memanglah bersungguh-sungguh ingin memutuskan hubunganku dengan Minho karena aku tau jika Sehun mencurigaiku saat menerima koran beberapa hari yang lalu.
"Kalau begitu jangan lepaskan tanganmu, ok!" Aku meraih tangan Sehun saat pria mengulurkan tangannya dengan cepat saat sudah keluar dari mobil. Aku menahan tawaku saat melihat wajah kesal Sehun.
"Iya, kalau perlu aku akan terus melingkarkan tanganku dipinggangmu." Balasku lagi.
"Ide bagus!" Dan bukannya aku yang melingkarkan tangan terlebih dahulu tapi pria itu langsung membawa sebelah tanganku untuk segera melingkari perutnya. Oh, astaga. Aku bahkan tak terkejut lagi dengan berbagai macam tingkah kekanakan yang Sehun lakukan kepadaku.
Setelah memasuki area gedung pernikahan, aku sedikit *** dadaku. Merasa gugup. Entah karena apa.
"Kau tak apa-apa?" Tanya Sehun yang terdengar melembut. Pria itu semakin memelukku dan seperti memberikan rasa kenyamanan.
"Dia adalah pria yang sempat kau cintai." Aku menoleh kearahnya. Ucapan Sehun saat ini seakan-akan peduli kepadaku.
"Matamu masih memancarkan rasa cinta kepadanya, Jiyoung." Percayalah, aku mendengar sedikit nada sedih didalam ucapan Sehun. Aku selalu saja mengingatkan diriku jika sikap Sehun selalu saja berubah-ubah, aku tak boleh terbawa suasana oleh sikapnya ini tapi disaat sikap Sehun yang sekarang, aku selalu saja berharap jika Sehun akan selalu menjadi pribadi yang hangat dan penyayang.
"Kau benar. Tapi hari ini aku sudah memutuskan untuk mengakhiri semuanya." Ujarku berkata jujur. Sehun terlihat tersenyum mendengar perkatanku. Bahkan pria itu dengan wibawanya membimbingku berjalan ke tempat dimana Minho berada.
"Minho oppa. Selamat atas pernikahanmu. Kami turut bahagia dengan berita baik ini." Aku memberikan ucapan selamatku saat sudah berdiri dihadapannya.
"Jiyoung... Kau datang?" Itu adalah kalimat yang Minho katakan saat tak percaya jika aku benar-benar datang setelah menerima surat itu.
"Tentu saja. Bukankah kau sudah mengundangku secara resmi?" Ujarku berusaha tersenyum.
"Terima kasih Jiyoung dan ada hal yang harus kukatakan kepadamu." Sehun yang tepat berada disampingku langsung menarikku kesisinya. Minho bahkan baru menyadari hal itu.
"Ah, kau membawa kekasihmu?" Minho yang saat ini tengah berada ditengah ruangan pesta merasa terkejut saat menyadari jika aku tidaklah sendiri. Hei, mana mungkin Sehun yang sebesar ini tak terlihat?
"Aku bukan kekasih. Aku itu adalah su-" Ujar Sehun mencoba menjelaskan tapi terpotong karena Minho kembali bertanya.
"Ah, iya... Dimana Hyemi? Aku sudah memintanya datang. Awas saja jika dia tak datang hari ini. Ck!" Minho terlihat kesal. Raut wajahnya sengaja dibuat cemberut. Hal yang selalu Minho lakukan jika merasa kesal dengan seseorang ternyata tak berubah.
"Hyemi pasti datang. Dan dimana istrimu? Aku belum melihatnya." Mataku mengitari seisi ruangan. Mencoba mencari dimana istri Minho berada, tapi hasilnya nihil.
"Ah, dia sedang bersama sahabatnya. Pasti mereka sedang di halaman luar sekarang. Kau tau? Perempuan itu jika sudah berkumpul pasti bergosipnya akan sangat lama." Minho sedikit memelankan suaranya. Sepertinya dia takut jika istrinya itu mendengar hal tersebut. Aku yang menyadari hal itu berusaha menahan tawa.
"Kau tak mengajakku berbicara? Apa hanya ada kalian saja disini?" Kemudian ucapan dingin terlontar. Ah, iya. Kami sejenak melupakan keberadaannya.
"Ah, maaf. Aku hanya sudah lama merindukannya jadi ingin berbicara banyak dengan Jiyoung." Minho berkata sopan. Sehun yang mendengar hal tersebut mencibir Minho.
"Sehun." Tegurku kepadanya karena merasa sikap Sehun kurang sopan.
"Jadi, apa yang ingin kau katakan kepada Jiyoung? Katakanlah disini jadi kami bisa dengan cepat meninggalkan pesta ini." Lagi. Sehun berujar sangat dingin membuat Minho sedikit terkejut.
"Iya oppa. Dia juga berhak tau karena Sehun ini adalah suamiku." Belum menghilang rasa terkejutnya, kini aku mengatakan hal yang membuat Minho semakin bertanya-tanya. Tapi, pria itu langsung mengubah ekspresinya. Seolah paham dengan sikap pria didepannya ini.
"Jiyoung.. Kapan kau menikah? Aku bah-... Ah tidak. Lupakan. Itu sudah menjadi urusanmu. Aku sudah tak berhak mengatur kehidupanmu." Minho, pria itu langsung mengurungkan niatnya.
Minho melirik kesana kemari. Mencoba memastikan jika tak ada orang yang mendengarkan hal ini.
"Tentang laki-laki yang sudah menghancurkan hidupmu ternyata dia adalah salah satu anak pemilik Phoenix Corporation! Aku selama ini terus mencoba menemukan keberadaannya, Jiyoung. Tapi anehnya media serta kepolisian seperti menutupi kebenaran terhadap pria itu! Ck brengsek!" Minho berkata dengan sangat enteng sambil melirik kearah Sehun. Sedang Sehun yang mendengarnya mengepalkan tangannya keras. Lalu aku yang mendengar hal tersebut terkejut dibuatnya. Untuk apa Minho membicarakan hal yang sudah aku coba untuk kubur?
"Aku peduli kepadamu, Jiyoung. Sangat peduli. Aku selalu mencintaimu. Apapun keadanmu. Tapi kau ternyata dengan mudahnya mengatakan perpisahan, sebenarnya apa salahku?" Aku kembali membulatkan mata. Minho. Pria ini sedang mabukkah?
"Apa yang sebenarnya kau ingin bicarakan brengsek?" Sehun melepaskan rengkuhan tangannya pada tubuhku dan menatap tajam wajah Minho.
"Aku hanya ingin Jiyoung mengatakan alasan dia meninggalkanku dengan jujur! Dan meminta maaf dengan benar!" Minho seperti kehilangan akal. Sehun yang melihat tersebut dengan marah langsung meninju wajah pria itu. Oh, astaga! Tangannya sudah gatal. Sejak dulu ia memang ingin sekali memukul pria didepannya dan akhirnya hari ini terlaksana juga.
"Sialan!" Minho tak sampai jatuh tersungkur tapi tinju dari Sehun sangat terasa. Minho kembali menatap Jiyoung cepat.
"Katakan Jiyoung. Apa karena kau ingin bersama dengan pria yang sudah memperkosamu ini? Apa isi perjanjian diantara kalian sehingga kau memilihnya? Lalu kenapa selama ini kau tak pernah menceritakan hal ini kepadaku? Apa kau tak pernah berpikir sekalipun jika aku bisa diandalkan? Jiyoung. Seharusnya kau tau. Aku pasti dengan senang hati membantumu. Apapun kesulitanmu. Tapi, kau selalu meragukanku dan aku sangat kecewa." Aku memundurkan tubuhku tanpa sadar. Aku sangat terkejut mendengar perkataan Minho. Sejak kapan pria itu mengetahui hal ini? Tidak. Lebih tepatnya sebanyak apa yang sudah Minho ketahui?
"Jawablah Jiyoung. Katakanlah yang sejujurnya maka aku bisa merelakanmu dengan benar." Nada Minho berubah melemah. Aku mencengkram ujung bajuku. Merasa sesak dengan ucapannya.
Aku melirik Sehun. Pria itu seperti ingin memukul Minho tapi tanganku langsung mencegahnya.
"Ak-aku..." Air mataku jatuh. Tiba-tiba dadaku bertambah sesak. Sehun yang melihat hal itu langsung khawatir.
"Brengsek! Berhenti bicara!" Minho tertawa dibuatnya. Si brengsek ini sedang mengatai dirinya sendirinya ya?
"Kau yang brengsek, bajingan dan tak sadarkah kau telah menyakiti Jiyoung? Dan perkataan Jiyoung tentang statusmu tadi bukankah sangat lucu? Apa kau tak mencurigai hal tersebut?" Ujar Minho yang kini sikapnya sangat berubah. Bukan. Dia bukanlah Minho seperti beberapa menit yang lalu sedang tersenyum dengan hangatnya, dan berperilaku baik sama seperti dulu.
"Bajingan! Tutup mulutmu untuk mempertanyakan hal tersebut! Kau tak ada hubungannya!" Dan lagi Sehun memukul Minho lagi dan lagi. Kini pria itu jatuh tersungkur.
"Minho oppa!" Kami menoleh dan melihat seorang gadis dengan gaun putih menghiasi tubuhnya, berjalan tergesa menghampiri Minho.
"Yak! Apa yang sudah kalian lakukan?!" Ujar gadis itu. Ah, dia pasti istri Minho.
"Pria itu pantas mendapatkan pukulan karena mulutnya itu." Sehun berujar dingin saat menjelaskan. Tak ada rasa bersalah diraut wajahnya. Membuat istri Minho marah.
"Pergi! Cepat pergi dari pesta ini!" Teriaknya menggema, aku yakin Minho sengaja tak menginjinkan para tamu untuk kelantai atas. Pasti pria itu sudah memprediksi hal ini akan terjadi.
"Jiyoung..." Sehun memanggilku tak percaya saat tanganku melepaskan rengkuhannya. Aku menyeka air mataku. Aku menghampiri sepasang suami istri itu yang kini sedang terduduk.
"Minho..." Aku memanggil namanya. Aku bisa merasakan jika Minho tengah bersedih. Bertahun-tahun lamanya aku bersama dengan dirinya tak bisa memungkiri jika aku sudah sangat mengenalnya.
Setelah menyadari Minho sejak tadi tak membalas pukulan Sehun, aku baru sadar jika Minho tengah menyalahkan dirinya sendirinya saat ini.
"Aku tak apa-apa. Aku bahagia sekarang. Maaf jika dulu tak bisa berkata jujur kepadamu. Aku sangat menyesal. Terima kasih atas semuanya dan hiduplah dengan bahagia mulai sekarang." Aku menggenggam tangan pria dihadapanku. Ji Eun tentu saja terkejut. Gadis itu bahkan dengan lantang menepis tanganku. Tapi aku tertawa kecil menghadapinya. Ji Eun tentu saja mengeryitkan alisnya tak mengerti dengan sikapku.
"Sudah cukup kekhawatirmu kepadaku. Kini aku mohon kau memperhatikan Ji Eun lebih baik dari yang kau berikan kepadaku." Aku bangun dan tersenyum saat mengatakan hal tersebut. Minho berdiri dan dibantu oleh Ji Eun.
"Kalau begitu kami pamit. Minho oppa dan Ji Eun semoga kalian selalu bahagia ya." Aku mengatakannya dengan nada riang dan senang. Aku melirik Sehun, pria itu ternyata terdiam sejak tadi. Aku pun dengan lembut menarik Sehun untuk segera pergi dari sana secepatnya.
'Kini, aku sudah benar-benar mengikhlaskanmu.' Dan saat itu juga setetes air mata Minho jatuh dari pelupuk matanya. Ji Eun yang memang sudah sangat menyayangi Minho terlihat khawatir. Bahkan gadis itu langsung membawa Minho kerumah sakit untuk memeriksa keadaan pria itu lebih lanjut. Dan pesta pernikahan pun tetap dilanjutkan tanpa sepasang suami istri itu beberapa saat.
.
.
.