Dear You

Dear You
Bunga Mimpi




.


.


.


Jam dinding terdengar begitu jelas, jarum jam menunjukkan tepat dua malam. Udara malam mulai terasa dan ibunya sudah tidur sejak tadi.


Jiyoung menatap pantulan dirinya dicermin. Terduduk terdiam selama beberapa jam lamanya. Ia masih saja memperhatikan wajah gadis yang ada dihadapannya.


Wajahnya terlihat kusam. Kantung matanya terlihat jelas disana. Pipinya begitu tirus lalu rambut hitamnya terlihat semakin panjang. Yah. Itulah adalah pantulan tentang dirinya sendiri. Menyedihkan!


Jiyoung menatap gunting yang sudah ia genggam, lalu kembali menatap wajahnya lagi.


Ia memejamkan matanya, lalu mulai menggerakkan tangan dan guntingnya kearah rambut.


Tak...


Ia menggunting rambutnya begitu saja. Sebenarnya Jiyoung sangat menyukai rambut panjangnya tapi karena perkataan pria itu membuatnya ingin merubah penampilannya. Dulu, Sehun pernah berkata jika ia sangat menyukai Jiyoung dengan rambut panjangnya.


Ia bahkan selalu terpana dengannya terlebih jika Jiyoung mengerai rambutnya terasa sangat cantik dan Jiyoung muak mendengar hal tersebut.


Setelah memotong rambut kesayangannya, Jiyoung menaruh gunting dan beralih mengambil selembar kertas dan pulpen lalu menuliskan sesuatu disana.


______


***Aku tak percaya melihatmu lagi.


Aku ingin kau menjauh dariku.


Sekarang aku sekarat karena semua rasa sakit ini.


Jika kita bertemu, aku merasa seperti aku akan mati.


Selama ini kau menghancurkan hatiku, tapi kau tak tahu atau kau hanya tak peduli?


Apakah kau tertawa? Apa kau bahagia?


Tolong bantu aku keluar dari neraka kejam ini.


Jika ini hanya mimpi, tolong cepat bangunkan aku.


Tolong katakan bahwa segalanya adalah kebohongan.


Tolong katakan kepadaku, katakanlah, sehingga aku bisa hidup.


Tapi lingkar hidupku seolah mempermainkanku untuk bertemu denganmu lagi.


Dan membuatku harus mengorbankan diriku untuk menyelamatkan keluargaku.


Aku tak bisa menelantarkan mereka.


Aku bukan orang yang kejam.


Aku bukan orang yang jahat dan egois.


Maka, aku lebih memilih menjadi orang yang munafik.


Dengan menerima bantuan yang diberikan oleh keluarga pria jahat itu. Pria yang selalu membuatku ingin selalu mati.


Kumohon maafkan aku. Sungguh maafkan aku.


Maafkan aku. Eomma, oppa.


Sungguh aku hanya ingin melihat kalian bahagia seperti dulu.


Aku tak akan menyesalinya.


Dan untuk Tuhan. Semoga ia masih memiliki kasihnya untukku.


Kumohon bantulah aku untuk tetap bertahan untuk orang yang kukasihi.


---- Jiyoung***


---------------


Ia segera melipat kertas itu. Lalu meletakkannya didalam laci. Jiyoung masih saja terduduk dan ia mengepalkan tangannya keras.


Semuanya memang takdirnya. Tuhan seakan ikut serta dalam kehidupannya. Buktinya, semua tentang pria itu selalu saja tak pernah bisa lepas dari hidupnya.


Hanya ada satu kesempatan. Bantuan Nara dengan syarat itu sungguh membuat ia sangat ingin mati. Sangat sulit baginya melihat Sehun.


Selama hidupnya sejak mengenal pria itu, bahkan Jiyoung berharap bisa memutar waktunya kembali dan tak ingin bertemu dengan seorang bernama Oh Sehun. Jika saja Tuhan yang selama ini ia percayai maha mendengar, bisakah ia masih menaruh harapan kepadanya?


Semuanya sudah terjadi dan tulisan tangan tadi adalah bukti akan isi hatinya yang sebenarnya. Ia tak sanggup mengatakan semuanya kepada ibunya ataupun orang lain. Biarlah ia hanya menuliskan dalam sebuah tinta penuh kepiluan dan menyimpannya untuk dirinya sendiri.


Ia tak ingin menjadi beban bagi ibu serta kakaknya lagi. Serta orang-orang yang menyayanginya.


Jiyoung kembali menatap wajahnya lagi, masih sama. Bahkan kini wajahnya sembab karena air matanya seperti tak kunjung berhenti.


••🌷🌷••


"Mari, direktur sudah menunggu kedatangan anda sejak tadi." Dan disinilah ia berada. Perusahan Phoniex. Gedung pencakar langit, terkenal dan ternama yang berada dinegara besar Korea Selatan.


Padahal dulu, ia mati-matian menyusun rencana untuk keluar dari gedung ini, lebih tepatnya dari Oh Sehun tapi nyatanya ia dengan suka rela mengorbankan harga dirinya hanya untuk 10 milyar won. Wow! Kau memang munafik Park Jiyoung!


"Silahkan." Ujar wanita yang Jiyoung tebak pasti sekretaris si sialan Oh Nara itu. Ia sendiri bahkan sampai mengeryitkan alisnya berkali-kali saat karyawan digedung ini seperti menyambut kedatangannya. Aneh. Seperti semuanya tau jika dirinya pasti datang hari ini.


"Kau sudah datang? Hmm. Telat lima menit ternyata." Jiyoung tersentak dari lamunannya. Didepannya adalah Oh Nara! Gadis itu meletakkan kacamata bacanya lalu menatap dirinya.



"Ingin minum?" Tanyanya berbasa-basi, tentu saja Jiyoung langsung menolaknya dan berkata ia tak bisa berlama-lama disini.


"Aku menyetujuinya dan berikan aku 10 milyar won sekarang." Ujar Jiyoung berusaha tetap tenang.


"Wow, santailah. Duduklah dulu Park Jiyoung." Jiyoung menurutinya dan memilih duduk disalah satu sofa yang berada disana.


Nara beranjak dari duduknya dan menyenderkan tubuhnya pada meja kerjanya. Tangannya terlipat dan menatap Jiyoung.


"Rambutmu pendek." Ujar Nara lagi, memperhatikan perubahan gadis itu.


"Kuharap kau menjawab pernyataanku barusan." Ujar Jiyoung lagi. Memperingati Nara jika ia benar-benar ingin segera pergi dari sini.


Nara pun menghela nafasnya pelan. Ia mengambil lembaran cek dimeja kerjanya lalu menulisnya angka yang Jiyoung sebutkan tadi dengan mudahnya.


"Ini, kau bisa mencairkan dananya hari ini." Nara meletakkannya diatas meja yang berada ditengah. Mata Jiyoung membulat. Ia tak sangka akan mendapatkan uang dengan jumlah yang sangat besar dengan sangat mudah. Dunia ini begitu tak adil bukan?


"Pastikan kau menepati janjimu." Ujar Nara lagi memperingati Jiyoung.


"Aku tak pernah mengingkari janjiku. Aku akan berusaha melunasi utang ini karena aku hanya menganggap kau meminjamkan uang ini kepadaku." Jiyoung berujar dengan tenang kepadanya. Tentu saja membuat Nara mengeryitkan alisnya bingung.


"Kau tak perlu mengembalikannya. Itu adalah bayaran yang cukup untuk menjaga adikku." Nara mulai mengalihkan pandanganya kearah jendela.


"Tidak. Ini terlalu banyak. Aku tak pantas menerimanya." Ujar Jiyoung menolak. Ia tak bisa menerima ini dengan mudanya. Ia sungguh tak pernah mencoba memanfaatkan Nara untuk melepaskan oppanya. Dengan menerima bayaran sebanyak itu.


"Kau pantas menerimanya. Sehun sangat membutuhkanmu. Aku yakin ia bisa lebih baik jika bersamamu." Nara melangkahkan kakinya, menuju kearah jendela besar didalam ruangannya. Gadis itu melipat tangannya sambil melihat kearah luar.


"Buatlah ia sembuh dari ketergantungannya akan dirimu. Jika kau bisa membuatnya sembuh maka kau tak perlu mengembalikan uang itu sepersenpun tapi jika kau tak bisa, maka sebaiknya kau menghilanglah selamanya dari Sehun dan aku meminta uang itu kembali secepatnya. Apa kau setuju dengan syarat ini?" Ujar Nara yang seperti menyakinkan Jiyoung saat ini. Gadis itu tampak berpikir.


"Baiklah." Ujar Jiyoung cepat. Ia tak bisa setengah-tengah dengan tindakannya ini. Sejak ia memotong rambutnya, membuat keputusan untuk menemui wanita itu dan mendapatkan uangnya, maka ia harus menerima segala persyaratan yang dibuat oleh Oh Nara.


"Sebelum kau menemuinya, aku ingin kau mencabut laporanmu kepada Sehun dan buatlah ia kembali bekerja dikantor." Jiyoung menyetujui hal tersebut. Membuat Nara menyunggingkan senyumnya.


••🌷🌷••


"Bagaimana keadaan kalian? Apa semuanya baik-baik saja?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja ketika Jiyoung, sang adik memutuskan untuk menjenguknya. Lay tau jika Jiyoung dan ibunya akan segera pindah tapi kenapa Jiyoung masih berada disini?


"Lihatlah, seharusnya pertanyaan itu untuk dirimu oppa." Jiyoung tersenyum kepada Lay. Ia tau jika adiknya itu memaksakan tersenyum kepadanya.


"Apa kau memotong rambutmu?" Ujar Lay lagi. Mengalihkan pertanyaan Jiyoung barusan.


"Yah. Bukankah aku terlihat lebih cantik?" Lay mengeryitkan alisnya. Setaunya, Jiyoung itu sangatlah suka dengan rambut panjangnya. Bahkan sejak dulu gadis itu tak mau memotong rambut hingga sependek ini. Karena bagi Jiyoung ia merasa senang mempertahankan rambut lurusnya sebatas pinggang.


"Kau memang selalu cantik." Lay tersenyum lalu mengelus kaca pembatasan dihadapannya dengan adiknya itu. Jiyoung kembali tersenyum.


"Oppa, harus makan dengan baik. Kami sangat membutuhkan oppa." Jiyoung melirik bekal yang sempat ia serahkan kepada penjaga disana untuk diberikan kepada Lay. Pria itu mengangguk.


"Terima kasih." Ujar Lay kemudian.


"Oppa, apa kehidupan dipenjara begitu berat? Kau terlihat lebih kurus." Ujar Jiyoung yang masih memperhatikan oppanya itu. Gadis itu ternyata sangat peduli kepadanya.


"Benarkah? Hmm... Tidak terlalu sulit jika aku membiasakan diriku. Mungkin ini karena aku selalu merindukan kalian." Lay tersenyum diikuti dengan matanya yang juga ikut tersenyum. Tanpa Lay sadari selama terduduk, Jiyoung mengepalkan tangannya keras.


"Jiyoung, kau terlihat rapih. Aku tadinya tak ingin bertanya tapi kau sangat terlihat berbeda. Biasanya kau tak memakai make up, apa ini semua karena kau sangat ingin menunjukkan penampilanmu yang berbeda kepada oppa?" Jiyoung langsung menggangguk membuat Lay terkekeh dibuatnya.


"Kau ada-ada saja." Ujar Lay lagi.


Suara penjaga memanggilnya. Memperingati dirinya agar segera kembali. Waktu berkunjung ternyata sudah habis. Ah, cepat sekali.


"Ah, sayang sekali aku harus kembali. Kau jagalah dirimu. Semoga kalian selalu sehat." Ujar Lay yang beranjak dari duduknya. Jiyoung terdiam. Perlahan langkah kaki Lay mulai menuju pintu untuk kembali ke sel tahanan.


Srakk...


"Oppa bertahanlah beberapa hari lagi, aku akan membantumu kembali. Kau tak pantas berada disini. Ini semua bukan salahmu!" Gadis itu berdiri dari duduknya dan berujar lumayan keras. Membuat Lay menghentikan langkahnya dan menatap Jiyoung dengan raut bingung.


"Jagalah dirimu, oppa." Setelahnya Jiyoung mengambil tasnya yang tersampir dan pergi begitu saja dari sana. Sontak Lay mencoba menghentikan kepergian Jiyoung. Berteriak memanggil namanya.


"Jiyoung!"


"Jiyoung!"


"Park Jiyoung!"


Adiknya itu tak berbalik sedikitpun dan Lay sangat menyesal tak bisa menghentikan langkah Jiyoung dan semua isi pikiran Jiyoung saat itu karena setelah kunjungannya, tiga hari kemudian ia dinyatakan bebas.


------