
"bu-bukankah i-tu Naga?" Ucap Jendral Max dengan gugup.
Seketika Arnold, Jendral Alex, Frey dan Azka yang melihat tempat itu juga terkejut.
"He-hey Azka, apa itu termasuk naga?" Tanya Arnold dengan telepati.
"Huh, bukan Ar, monster itu bukan Naga, tapi Hydra." Balas Azka.
"Begitu ya. Untunglah dia bukan naga." Ucap Arnold dengan lega.
"Jangan menganggap remeh monster itu. Fakta bahwa dia bisa menyembunyikan keberadaannya, tanda dia sama atau lebih kuat dari ku." Balas Azka.
"Begitu ya." Ucap Arnold.
"Ya, apalagi monster itu tak akan mati jika hanya kepalanya yang terpenggal, setiap kepala yang terpenggal akan menumbuhkan dua kepala baru." Ucap Azka.
"Lalu, bagaimana cara menewaskan monster itu?" Tanya Arnold.
"Satu-satunya cara adalah, membakar habis seluruh tubuhnya atau menguburnya hidup-hidup. Berharap saja jika monster itu akan hilang jika inti dungeon juga hilang." Jelas Azka.
"Begitu ya, ini pasti jadi pertarungan yang sulit." Gumam Arnold.
"Hey Ar, a-apa monster itu naga?" Tanya Jendral Alex ke Arnold. "Soalnya monster itu terlihat berbeda dengan naga yang ada di buku." Sambungnya.
"Tidak paman, itu bukan naga. Monster itu adalah Hydra." Balas Arnold.
"Hydra? Untunglah dia bukan naga." Balas Jendral Alex.
"Paman, anda sudah bisa memanggil Raja Elf dan yang lainnya untuk membantu kita, karena kita harus menyusun rencana." Ucap Arnold.
"Baiklah." Balas Jendral Alex yang kemudian memanggil Raja Elf dan pasukann yang lain.
"Jendral Alex, apa monster itu yang kita lawan kali ini adalah naga?" Tanya Raja Elf.
"Bukan yang mulia, monster itu adalah Hydra. Karena itu kami membutuhkan bantuan kalian." Ucap Jendral Alex.
"Hydra? Apa maksud mu hydra yang tak bisa mati itu?" Tanya Raja Elf.
"Ya yang mulia. Itu yang saya maksud." Balas Jendral Alex.
"Jadi bagaimana rencananya?" Tanya Raja Elf.
"Baiklah yang mulia, Rencananya adalah, yang melawan bos dungeon itu adalah Arnold dan dua kontrak partnernya. Lalu ki-." Jelas Jendral Alex tapi terpotong.
"HA? ANAK KECIL INI AKAN MELAWAN MONSTER ITU? JANGAN BERCANDA.!!" Teriak Jendral Max dengan nada tidak senang.
"Dengarkan dulu penjelasannya Max." Ucap Raja Elf. "Apa kau yakin anak kecil itu yang melawan monster itu.?" Sambung Raja Elf.
"Ya yang mulia. Karena monster kontrak partnernya adalah..." Ucap Jendral Alex menunjuk ke arah Azka yang ada disamping Arnold.
Ketika Jendral Alex berkata seperti itu, Azka berubah menjadi bentuk semulanya, menjadi seekor naga yang sangat besar, gagah, dan berwarna emas.
"...Naga yang mulia." Sambung Jendral Alex.
Seketika orang yang berada ditempat itu terkejut dengan wujud asli kontrak partner Arnold. Mereka tidak menyangka jika kadal yang selama ini menggantung di pundak Arnold memiliki wujud asli naga.
"Be-begitukah, pantas saja kau percaya dengan perkataan Anak itu." Ucap Raja Elf. "Baiklah, aku setuju dengan rencana mu itu, lalu bagaimana dengan yang lain?" Sambung Raja Elf.
"Hmm? Untuk kecepatan, aku termasuk yang tercepat di kerajaan Aggrasia." Ucap Duke Albion dari belakang.
"Aku juga cepat, apa lagi aku adalah setengah serigala." Ucap seseorang dari kerajaan Demi human.
"Aku juga cepat." Ucap Jendral Max.
"Baiklah, paman-paman bertiga memiliki tugas utama untuk mengincar inti dungeon yang ada di dekat monster itu ketika aku dan partner ku membuat monster itu sibuk. Lalu yang lainnya bertugas untuk membuka jalan dan melawan bawahan dari Hydra nanti." Jelas Arnold.
"Bawahannya? Aku tidak melihat monster lain selain dia?" Tanya seseorang dari bagian belakang.
"Ya, karena Hydra belum memanggilnya." Balas Arnold dengan singkat.
"Begitu ya, baiklah. Kami akan mengerjakan bagian kami masing-masing." Ucap Raja Elf.
"Ya, kalau begitu aku akan melawan monster itu sekarang." Ucap Arnold yang kemudian melesat dengan cepat bersama Azka dan Frey.
""Cepatnya."" Pikir semua orang yang melihat itu.
Arnold, Azka dan Frey pun berlari menuju ke arah Hydra. Mereka perlu mengalihkan perhatian monster itu agar menjauh dari inti dungeon.
"Frey, serang dia." Ucap Arnold.
"Baiklah." Ucap Frey yang kemudian menyerang Hydra dengan sihir anginnya.
Magic Of Wind: Thousand Slice
Sebuah sihir angin yang membentuk bilah pedang diarahkan ke Bos Dungeon.
SLASHH SLASHH SLASHH
Ratusan tebasan diarahkan langsung ke arah Hydra.
"GROAGGHH...," Teriak Hydra karena marah dengan serangan Frey.
Hydra langsung berlari ke arah Arnold dan yang lain untuk membalas menyerang. Hydra menggunakan sihir api ke arah Arnold. Sebuah sihir berbentuk bola yang memiliki ukuran sebesar rumah.
DHUAR
Lalu dengan cepat menghempaskan ekornya ke arah Arnold dan yang lain.
Tapi Arnold dan yang lain bisa dengan mudah menghindari serangan itu karena gerakannya yang lumayan lambat. Tapi bagi Raja Elf dan yang lain serangan itu sangat cepat, sehingga mereka tidak dapat melihat dengan jelas dari kejauhan. Arnold kemudian melesat ke arah Hydra dengan pedangnya yang dilapisi mana.
SLASHH
Serangan itu berhasil di hindari Hydra, tapi serangan mereka bukan disitu saja, Azka langsung menggunakan sihirnya untuk menahan pergerakkan Hydra, kemudian Frey langsung menggunakan sihir angin yang sangat kuat ke arah Hydra.
DHUAR.
Serangan itu tepat mengenai kepala Hydra, sehingga Hydra jatuh tewas. Raja Elf dan yang lain merasa semangat melihat itu.
"Apa mereka berhasil mengalahkan monster itu?" Tanya Jendral Max.
"Tidak, Hydra adalah mahkluk abadi. Lihat monster itu sudah mulai bergerak lagi." Jawab Raja Elf.
"Ke-kepalanya tumbuh lagi?"