
Saat ini Arnold masih berbicara
santai dengan Maggie. Mereka terkadang saling bercanda sehingga membuat mereka
berdua tertawa. Arnold dan Maggie saat ini menjadi pusat perhatian bagi orang
yang lain. Meski begitu, mereka tidak terlalu mempermasalahkan perhatian orang
lain.
“Ehem-ehem.” Kata Wilson yang
mengganggu mereka.
“A-ayah?ada apa yah?” tanya
Maggie.
“bukan apa-apa nak, aku hanya
mengingatkan sudah hampir waktunya acara ini selesai.” Balas Wilson
Arnold dan Maggie yang mendengar
perkataan Wilson terkejut. Mereka tidak sadar jika sudah berbicara sangat lama.
“Benar nak, kalian sudah berbicara
sangat lama. Ketika kalian berbicara Nampak seperti dunia ini hanya milik
kalian berdua.” Ucap Ayah Arnold yang muncul tiba-tiba.
Perkataan ayah arnold membuat
mereka berdua malu, saat itu juga keluarga mereka berdua yang sudah dari tadi
mendengar percakapan mereka keluar dari tempat persembunyiannya. Hal itu
membuat arnold sangat malu seketika wajahnya memerah.
“Selamat kak. Karena kau sudah
berani berbicara didepan wanita.” Ucap Amos sambil mengeledek Arnold yang
membuat orang disekitar sedikit tertawa.
“Da-dasar kau ini!” Balas Arnold
sambil memukul kepala Arnold.
“Lalu mari kita kedalam, acaranya
sudah mau berakhir.” Ucap Wilson
Mereka pun masuk kedalam ruangan
itu karena acaranya perayaan itu sudah berakhir. Setelah acara itu berakhir,
keluarga Arnold kemudian pulang ke mansion mereka, karena hari sudah sangat
larut malam. Selama perjalanan pulang, keluarganya merasa aneh dengan tingkah
Arnold, karena Arnold dari tadi senyum-senyum sendiri sambil menatap jendela
kereta. Ia bahkan mengabaikan keluarganya yang lain.
“Hey Ar, mengapa kau dari tadi
senyam senyum saja?” tanya Ayah Arnold.
“Ah tidak ada apa-apa yah, aku
hanya merasa senang karena keluarga kita sudah menjadi Marquis” Jawab Arnold.
“hmm? Tidak seperti kau biasanya.
Biasanya kau tidak peduli dengan hal itu.” Balas Ayahnya
“Benar, bukankah kakak membenci
politik? Jika tingkat bangsawan ayah meningkat, bukankah politik keluarga kita
akan semakin banyak?” sambung Amos.
“Benar-benar.” Ikut Ibunya.
“EH?” Ucap arnold sambil tersentak
dengan perkataan keluarganya.
“Apa kau menyukai wanita tadi? Si
Maggie?” Tanya Ibunya yang membuat keluarga Arnold yang melihat kearah arnold
karena penasaran.
“A-aku masih belum tau bu.” Balas
Arnold.
Semua keluarganya yang mendengar
Jawab dari Arnold menghela nafas. Mereka bingung bagaimana bisa Arnold tidak
tau jika ia menyukai Maggie. Mungkin ini adalah salah satu dampak jika Arnold
hanya tau berlatih dan menjadi kuat.
“Oh iya nak, karena ayah baru saja
dinaikkan menjadi Marquis, besok kita akan pulang kembali kewilayah kita.
Banyak hal yang harus ayah persiapkan.” Ucap Ayahnya.
“Apakah begitu?” tanya arnold yang
langsung murung dengan perkataan ayahnya.
“Ya nak, bukankah seharunya kau
senang?” tanay ayahnya.
“Ya yah, aku senang.” Jawab
arnold, tapi apa yang dimulut berbeda dengan yang dihati.
Setela beberapa saat mereka sudah
sampai ke mansion mereka. Arnold langsung memberi tahu orangtuanya jika ia
sangat letih hari ini dan ingin beristirahat. Setelah itu, ia langsung pergi
menuju kamarnya dan langsung membaringkan dirinya diatas Kasur.
“Kau sudah pulang Ar,” ucap Frey
yang berada dikamar Arnold.
“Hmm.” Balas Arnold dengan
singkat.
“Bagaimana Acaranya tadi?” tanya
Frey lagi.
“Biasa aja.” Balas Arnold dengan
singkat.
Hal itu membuat Frey dan Azka
penasaran, karena selama mereka bersama, arnold tidak pernah tidak selemas ini,
“Ada masalah apa Ar? Mengapa kau
kelihatan tidak bersemangat?” tanya Azka
“Apakah aku kelihatan seperti
itu?” tanay arnold kembali.
““Ya, jelas sekali.”” Balas Frey
dan Azka bersamaan.
“Aku tidak tau menjelaskannya dari
mana, tapi intinya, aku sepertinya sudah menemukan orang yang kucintai, aku
merasa jika ia mungkin jodohku. Ketika ia tersenyum, aku merasa seperti melihat
malaikat, aku ingin jika setiap hari bisa melihat senyum itu. Bagaimana pun
masalahnya aku merasa jika aku sangat melindungi senyum itu dari wajahnya.”
Jelas Arnold.
“Benarkah? Bukankah itu bagus?”
balas Azka.
“Ya itu bagus, tapi aku tidak bisa
melihat senyum itu lagi besok. Karena ayah bilang kita akan pulang besok.” Ucap
Arnold.
“Begitu ya, jika begitu maka
masalahnya sangat rumit.” Ucap Azka.
“Benarkan.” Balas arnold.
“Hmm, sepertinya aku punya ide,
bagaimana jika kau mendatangi tempat tinggal wanita itu besok saat masih pagi.
Disaat itu, coba kau mengungkapkan semua yang ingin kau ucapkan,” Jelas Azka.
“Benar juga, sepertinya itu ide
yang bagus. Tapi apakah itu saa cukup?” Tanya Arnold.
“Tentu saja tidak bodoh, apakah
kau selama ini belum pernah berbicara dengan wanita?” Ucap Azka yang sedikit
kesal.
“Mu-mungkin ini yang pertama.” Balas
Arnold sambil tersenyum.
“Haah, Dasar kau ini. Jika kau
ingin bertemu wanita, setidaknya bawalah sebuah bunga sebagai pembuka ketika
kalian bicara.” Ucap Azka
“Begitu ya, kalau begitu aku akan
melakukan itu besok.” Ucap Arnold. “ Makasih Azka, Frey karena sudah mau
membantuku.” Ucap Arnold.
“Tentu saja Ar,” ucap Azka.
“Maaf Ar, aku tidak bisa
membantumu, karena aku juga belum pernah bertemu serigala wanita.” Ucap Frey.
Azka pusing mendengar perkataan
Frey. “Huh, kedua temanku ini masih bocah
ternyata.” Pikir Azka.
Setelah selesai berbicara dengan
Azka, Arnold langsung bersiap untuk tidur. Karena ia tidak ingin melewatkan
kesempatan besok. Meski begitu, ntah kenapa Arnold tidak bisa tertidur, ketika
ia memejamkan matanya, seketika ia langsung memikirkan tentang esok hari. Waktu
berlalu dengan sangat lama, Arnold tidak tidak bisa tidur hingga waktu sudah
menjelang pagi.
Saat ini sudah waktunya bagi
arnold untuk menuju ketempat tinggal Maggie. Meski tidak tidur, arnold masih
tidak mengantuk, Karena bagi Arnold tidak tidur satu duda hari adalah hal biasa
di hutan kematian. Saat ini hal pertama yang perlu lakukan adalah mencari bunga
yang cocok untuk Maggie. Bunga yang dibawa arnold untuk Maggie adalah Bungan
Carnation White, karena bunga ini bermakna Cantik dan Manis atau Cinta yang
ditujukan kepada perempuan.
Setelah selesai mempersiapkan
semuanya, Arnold kemudian berangkat menuju tempat Maggie tinggal. Tempat itu
tidak terlalu dari istana, jadi arnold memakan sedikit waktu untuk sampai
kesitu. Arnold sudah sampai di depan rumah yang ditempati Maggie, ia mengetahui
tempat tinggal Maggie ketika mereka sedang berbicara di acara kemarin, jadi ia
sangat yakin jika Maggie berada disitu.
Rumah itu lumayan besar dengan
ssedikit taman yang indah dibagian depan rumah itu.
Arnold kemudian memberanikan diri
untuk mengetuk pintu rumah itu. Saat ini hari masih sangat pagi, jadi kemungkinan
keluarga Maggie masih tertidur. Arnold mengetuk beberapa kali karena belum ada
jawaban dari dalam rumah.
“Tunggu Sebentar.” Ucap seorang
wanita dengan Nada yang masih sedikit mengantuk.
“Ada apa sih pagi-pagi datang kema-”
Ucap wanita tak terselesaikan itu yang terkejut ketika melihat Arnold di depan
rumahnya, wanita itu adalah Maggie
“Ar-arnold?” ucap Maggie yang
secara spontan menutup wajahnya yang masih belum ada persiapan.
“Selamat pagi Maggie.” Ucap Arnold
sambil memberi bunga itu kepada Maggie.