
Arnold sudah memberitahu Azka dan
Frey tentang pemeriksaan gua itu. Tapi Arnold tidak tahu jika Maggie mendengar
pembicaraan mereka.
DORR. (Bunyi pintu dibuka dengan
kekuatan.)
"Ar, apa maksud dari
penjelajahan gua itu?" Tanya Maggie dengan ekspresi wajah tidak percaya.
"Ma-maggie? Apa kau mendengar
pembicaraan kami?" Tanya Arnold.
"A-aku mendengar semuanya.
Mengapa kalian harus kesana jika ada monster Rank SSS disana? Apa kamu mau
meninggalkan ku sendiri?" Tanya Maggie dengan mata yang sudah
berkaca-kaca.
"Ma-maggie jangan menangis
aku bisa menjelaskannya. Duduklah du-" ucap Arnold yang terpotong sambil
memegang tangan Maggie.
"GAK PERLU, yang penting kamu
jelaskan terlebih dulu." Ucap Maggie dengan marah sambil menangis dan
melepaskan pegangan Arnold.
TUK TUK TUK (suara orang berlari
kearah kamar Arnols.)
"Ada apa ini? Tadi aku
mendengar suara teriakan." Tanya ibu Arnold yang berlari kearah kamar
Arnold.
"Mengapa Maggie menangis
Nak?" Tanya ayah Arnold yang juga berada disana.
"Apa kau melakukan
kesalahan?" Tanya ibu Arnold.
"Maggie, mengapa kamu
menangis?" Sambungnya bertanya ke Maggie.
"Bu-bukan Bu, aku tidak
melakukan kesalahan." Balas Arnold.
"Kalau begitu ada masalah
apa?" Tanya ibu Arnold.
"Huh, baiklah akan aku
jelaskan." Ucap Arnold yang kemudian menjelaskan seluruh kejadiannya.
"Begitu ya, jadi Maggie
khawatir dengan Arnold." Ucap ibu Arnold.
"Ya bibi, disana merupakan
tempat monster yang berbahaya, ba-ba-bagaimana jika terjadi sesuatu?" Ucap
Maggie terbata-bata sambil tersedu.
"Dan ia tidak memberitahukan
hal ini kepada ku." Sambungnya.
"Tenang saja Maggie, Arnold
tidak memberitahu kita tentang hal itu, karena mereka tidak ingin kita khawatir
dengannya. Ibu juga tidak diberitahu oleh ayahnya." Ucap ibu Arnold yang
menoleh kearah Ayah Arnold. Seketika ayah Arnold mengalihkan pandangannya
kearah lain.
"Bu, akulah yang menyuruh
ayah dan Amos agar tidak memberitahu kalian. Supaya kalian tidak khawatir
dengan kami. Tenang saja Maggie, Bu, kami pasti baik-baik saja. Kan ada Azka
dan Frey yang membantu kami. Ya kan.." ucap Arnold sambil menoleh ke arah
Azka dan Frey.
"Hahah, tenang saja muridku,
aku akan menjaga tunanganmu. Jadi jangan khawatir kehilangan tunangan yang satu
ini." Ucap Azka dengan semangat.
"Da-dasar naga sombong"
pikir Arnold.
"Hiks,hiks,hiks, apa kamu
berjanji akan pulang dengan selamat?" Tanya Maggie.
"Ya, aku berjanji." Ucap
Arnold. "Aku akan kembali sebelum hari acara pertunangan kita."
Sambung Arnold.
"Hmm, kalau begitu
baiklah." Ucap Maggie.
Sebuah masalah yang muncul secara
tiba-tiba akhirnya selesai juga. Hanya butuh sebuah janji, masalah dilupakan.
Tapi janji harus ditepati, sebelum maslaah baru muncul.
Hari sudah berlalu, saat ini
Arnold dan yang lainnya sedang berada di depan mansionnya untuk memastikan
semua perlengkapan sudah lengkap. Penjelajahan ini hanya beranggotakan enam
orang dengan dua bantuan. Mereka semua berharap jika penjelajahan ini berakhir
dengan hasil yang baik. Dengan membawa kabar gembira bagi wilayah ini dan
keluarga.
"Berhati-hatilah kalian
semua, utamakan keselamatan." Ucap ibu Arnold.
"Ya sayang, kami akan kembali
dengan selamat." Balas Ayah Arnold.
"Terimakasih nyonya, kami
pasti akan kembali dengan selamat." Ucap Sova.
"Ar, berhati-hatilah."
Ucap Maggie sambil memegang tangan Arnold.
"Ya, aku pasti kembali."
"Dasar pasangan muda."
Pikir ayah Arnold.
"Sayang apa kau mau aku
pegang juga?" Ucap ibu Arnold yang peka melihat kejadian itu.
"Tidak sayang, aku tidak
perlu." Ucap ayah Arnold bersikap tidak cemburu.
"Padahal aku mau." Ucap
ibu Arnold dengan nada sedih.
"Eh?" Kalau begi-"
ucap ayah Arnold yang terpotong.
"Tidak jadi, aku tidak mau
lagi." Ucap ibu Arnold dengan ekspresi kesal.
"Sayang ma-maafkan aku."
Ucap ayah Arnold.
"Hahaha, sayang aku hanya
bercanda." Balas ibu Arnold sambil mengelus wajah ayah Arnold.
"Dasar pasangan tua"
pikir Arnold.
"Kalau begitu kami pergi
dulu." Ucap ayah Arnold.
"Berhati-hatilah" ucap
Maggie dan ibu Arnold.
Perjalanan mereka dimulai. Mereka
mulai menjelajahi bagian hutan kematian. Diawali menuju tambang, meski kadang
bertemu monster, para pemimpin pasukan dengan sigap membersihkannya. Sehingga
waktu mereka ke tambang tidak terlalu lama. Sesampainya ditambang, terlihat
para pasukan menjaga tambang itu, agar penambang bekerja dengan baik.
"Selamat siang tuan, apa
kalian ingin menjelajah lagi?" Ucap salah satu prajurit.
"Ya, tolong jaga tambang ini
dari monster-monster ya." Balas ayah Arnold.
"Ya tuan, kami pasti
menjaganya. Semoga perjalanan kalian semua berjalan lancar." Ucap prajurit
itu.
"Ya, terimakasih" ucap
ayah Arnold yang kemudian memasuki tambang itu menuju gua yang akan mereka
jelajahi. Disepanjang jalan mereka selalu disapa para pekerja dan prajurit
disana. Mereka tahu jika yang mereka jumpai itu adalah tuan mereka dan para
pemimpin pasukan. Kumpulan orang terkuat diwilayah itu atau bahkan dikerajaan
ini.
Sesampainya di pintu masuk gua,
terlihat bagian depan gua hanya berukuran seperti pintu biasa tapi semakin
dalam mereka berjalan luas gua semakin besar. Monster-monster Rank A juga sudah
mulai menyerang mereka. Monster itu adalah troll, monster yang bergerak secara
kelompok dengan membawa sebuah senjata berupa kayu. Monster ini dengan cepat
langsung ditebas Kelvin, terlihat Kelvin mengayunkan pedangnya secara
horizontal dan vertikal yang mengenai leher dari Troll. Sehingga tidak butuh waktu lama, Troll yang
berjumlah dua puluh langsung tewas.
"Kerja bagus paman Kelvin.
Tapi paman harus menjaga stamina paman, karena kita tidak tau tingkat kekuatan
monster yang akan kita lihat." Ucap Arnold.
" Maaf tuan muda, aku hanya
ingin unjuk gigi." Ucap Kelvin dengan tersenyum.
"Haha, selanjutnya tolong
jagalah staminamu." Ucap Arnold.
"Ya tuan muda." Balas
Kelvin.
Mereka pun melanjutkan perjalanan
nya. Mereka berjalan selama sehari agar mencapai cabang itu, meski jaraknya
cukup dekat, monster yang mereka lawan memiliki jumlah yang banyak. Sehingga
mereka harus mengisi stamina mereka sebelum memasuki salah satu cabang itu.
"Baiklah, istirahat kita
sudah cukup. Mari kita masuk ke gua yang kanan terlebih dahulu." Ucap
Arnold.
Mereka pun memasuki ruangan itu.
Belum jauh berjalan mereka sudah menjumpai monster Rank S Giant Golem berjumlah
ratusan. Mereka langsung melesat menyerang itu. Arnold langsung maju dan
melapisi pedangnya dengan mana, karena Giant Golem memiliki daya tahan yang
kuat, mereka harus mempertajam pedang dengan mana. Arnold melesat dan
mengayunkan pedangnya kearah satu Giant Golem secara vertikal dibagian dada.
Serangan Arnold memberi efek yang lumayan besar, sehingga Giant Golem
disekitarnya terdorong. Tak ingin lengah, Arnold langsung menebas Giant Golem
yang lain. Tebasan pedang, tembakan panah, serangan sihir dilepaskan mereka.
Ratusan Giant Golem bukan masalah besar Bagi mereka. Setelah selesai
mengalahkan monster itu, mereka kemudian pun melanjutkan oerjalan mereka.
Untungnya diperjalan mereka hanya menemui beberapa monster Rank SS berjenis
Cyclops yang memiliki ukuran setinggi sepuluh meter.
Sudah selesai mengalahkan monster
itu, mereka kemudian berjalan semakin dalam. Sehingga mereka berjalan sampai
diruangan terakhir kali grup penjelajah. Sebuah ruangan didalam gua yang
terdapat danau, dan batu sihir tingkat menengah dan tinggi di seluruh ruangan
itu.