Be Strong Together In My Territory

Be Strong Together In My Territory
CHAPTER 35: IZIN DAN MEMERIKSA KEMBALI



Arnold sudah memberitahu Azka dan


Frey tentang pemeriksaan gua itu. Tapi Arnold tidak tahu jika Maggie mendengar


pembicaraan mereka.


DORR. (Bunyi pintu dibuka dengan


kekuatan.)


"Ar, apa maksud dari


penjelajahan gua itu?" Tanya Maggie dengan ekspresi wajah tidak percaya.


"Ma-maggie? Apa kau mendengar


pembicaraan kami?" Tanya Arnold.


"A-aku mendengar semuanya.


Mengapa kalian harus kesana jika ada monster Rank SSS disana? Apa kamu mau


meninggalkan ku sendiri?" Tanya Maggie dengan mata yang sudah


berkaca-kaca.


"Ma-maggie jangan menangis


aku bisa menjelaskannya. Duduklah du-" ucap Arnold yang terpotong sambil


memegang tangan Maggie.


"GAK PERLU, yang penting kamu


jelaskan terlebih dulu." Ucap Maggie dengan marah sambil menangis dan


melepaskan pegangan Arnold.


TUK TUK TUK (suara orang berlari


kearah kamar Arnols.)


"Ada apa ini? Tadi aku


mendengar suara teriakan." Tanya ibu Arnold yang berlari kearah kamar


Arnold.


"Mengapa Maggie menangis


Nak?" Tanya ayah Arnold yang juga berada disana.


"Apa kau melakukan


kesalahan?" Tanya ibu Arnold.


"Maggie, mengapa kamu


menangis?" Sambungnya bertanya ke Maggie.


"Bu-bukan Bu, aku tidak


melakukan kesalahan." Balas Arnold.


"Kalau begitu ada masalah


apa?" Tanya ibu Arnold.


"Huh, baiklah akan aku


jelaskan." Ucap Arnold yang kemudian menjelaskan seluruh kejadiannya.


"Begitu ya, jadi Maggie


khawatir dengan Arnold." Ucap ibu Arnold.


"Ya bibi, disana merupakan


tempat monster yang berbahaya, ba-ba-bagaimana jika terjadi sesuatu?" Ucap


Maggie terbata-bata sambil tersedu.


"Dan ia tidak memberitahukan


hal ini kepada ku." Sambungnya.


"Tenang saja Maggie, Arnold


tidak memberitahu kita tentang hal itu, karena mereka tidak ingin kita khawatir


dengannya. Ibu juga tidak diberitahu oleh ayahnya." Ucap ibu Arnold yang


menoleh kearah Ayah Arnold. Seketika ayah Arnold mengalihkan pandangannya


kearah lain.


"Bu, akulah yang menyuruh


ayah dan Amos agar tidak memberitahu kalian. Supaya kalian tidak khawatir


dengan kami. Tenang saja Maggie, Bu, kami pasti baik-baik saja. Kan ada Azka


dan Frey yang membantu kami. Ya kan.." ucap Arnold sambil menoleh ke arah


Azka dan Frey.


"Hahah, tenang saja muridku,


aku akan menjaga tunanganmu. Jadi jangan khawatir kehilangan tunangan yang satu


ini." Ucap Azka dengan semangat.


"Da-dasar naga sombong"


pikir Arnold.


"Hiks,hiks,hiks, apa kamu


berjanji akan pulang dengan selamat?" Tanya Maggie.


"Ya, aku berjanji." Ucap


Arnold. "Aku akan kembali sebelum hari acara pertunangan kita."


Sambung Arnold.


"Hmm, kalau begitu


baiklah." Ucap Maggie.


Sebuah masalah yang muncul secara


tiba-tiba akhirnya selesai juga. Hanya butuh sebuah janji, masalah dilupakan.


Tapi janji harus ditepati, sebelum maslaah baru muncul.


Hari sudah berlalu, saat ini


Arnold dan yang lainnya sedang berada di depan mansionnya untuk memastikan


semua perlengkapan sudah lengkap. Penjelajahan ini hanya beranggotakan enam


orang dengan dua bantuan. Mereka semua berharap jika penjelajahan ini berakhir


dengan hasil yang baik. Dengan membawa kabar gembira bagi wilayah ini dan


keluarga.


"Berhati-hatilah kalian


semua, utamakan keselamatan." Ucap ibu Arnold.


"Ya sayang, kami akan kembali


dengan selamat." Balas Ayah Arnold.


"Terimakasih nyonya, kami


pasti akan kembali dengan selamat." Ucap Sova.


"Ar, berhati-hatilah."


Ucap Maggie sambil memegang tangan Arnold.


"Ya, aku pasti kembali."


"Dasar pasangan muda."


Pikir ayah Arnold.


"Sayang apa kau mau aku


pegang juga?" Ucap ibu Arnold yang peka melihat kejadian itu.


"Tidak sayang, aku tidak


perlu." Ucap ayah Arnold bersikap tidak cemburu.


"Padahal aku mau." Ucap


ibu Arnold dengan nada sedih.


"Eh?" Kalau begi-"


ucap ayah Arnold yang terpotong.


"Tidak jadi, aku tidak mau


lagi." Ucap ibu Arnold dengan ekspresi kesal.


"Sayang ma-maafkan aku."


Ucap ayah Arnold.


"Hahaha, sayang aku hanya


bercanda." Balas ibu Arnold sambil mengelus wajah ayah Arnold.


"Dasar pasangan tua"


pikir Arnold.


"Kalau begitu kami pergi


dulu." Ucap ayah Arnold.


"Berhati-hatilah" ucap


Maggie dan ibu Arnold.


Perjalanan mereka dimulai. Mereka


mulai menjelajahi bagian hutan kematian. Diawali menuju tambang, meski kadang


bertemu monster, para pemimpin pasukan dengan sigap membersihkannya. Sehingga


waktu mereka ke tambang tidak terlalu lama. Sesampainya ditambang, terlihat


para pasukan menjaga tambang itu, agar penambang bekerja dengan baik.


"Selamat siang tuan, apa


kalian ingin menjelajah lagi?" Ucap salah satu prajurit.


"Ya, tolong jaga tambang ini


dari monster-monster ya." Balas ayah Arnold.


"Ya tuan, kami pasti


menjaganya. Semoga perjalanan kalian semua berjalan lancar." Ucap prajurit


itu.


"Ya, terimakasih" ucap


ayah Arnold yang kemudian memasuki tambang itu menuju gua yang akan mereka


jelajahi. Disepanjang jalan mereka selalu disapa para pekerja dan prajurit


disana. Mereka tahu jika yang mereka jumpai itu adalah tuan mereka dan para


pemimpin pasukan. Kumpulan orang terkuat diwilayah itu atau bahkan dikerajaan


ini.


Sesampainya di pintu masuk gua,


terlihat bagian depan gua hanya berukuran seperti pintu biasa tapi semakin


dalam mereka berjalan luas gua semakin besar. Monster-monster Rank A juga sudah


mulai menyerang mereka. Monster itu adalah troll, monster yang bergerak secara


kelompok dengan membawa sebuah senjata berupa kayu. Monster ini dengan cepat


langsung ditebas Kelvin, terlihat Kelvin mengayunkan pedangnya secara


horizontal dan vertikal yang mengenai leher dari Troll.  Sehingga tidak butuh waktu lama, Troll yang


berjumlah dua puluh langsung tewas.


"Kerja bagus paman Kelvin.


Tapi paman harus menjaga stamina paman, karena kita tidak tau tingkat kekuatan


monster yang akan kita lihat." Ucap Arnold.


" Maaf tuan muda, aku hanya


ingin unjuk gigi." Ucap Kelvin dengan tersenyum.


"Haha, selanjutnya tolong


jagalah staminamu." Ucap Arnold.


"Ya tuan muda." Balas


Kelvin.


Mereka pun melanjutkan perjalanan


nya. Mereka berjalan selama sehari agar mencapai cabang itu, meski jaraknya


cukup dekat, monster yang mereka lawan memiliki jumlah yang banyak. Sehingga


mereka harus mengisi stamina mereka sebelum memasuki salah satu cabang itu.


"Baiklah, istirahat kita


sudah cukup. Mari kita masuk ke gua yang kanan terlebih dahulu." Ucap


Arnold.


Mereka pun memasuki ruangan itu.


Belum jauh berjalan mereka sudah menjumpai monster Rank S Giant Golem berjumlah


ratusan. Mereka langsung melesat menyerang itu. Arnold langsung maju dan


melapisi pedangnya dengan mana, karena Giant Golem memiliki daya tahan yang


kuat, mereka harus mempertajam pedang dengan mana. Arnold melesat dan


mengayunkan pedangnya kearah satu Giant Golem secara vertikal dibagian dada.


Serangan Arnold memberi efek yang lumayan besar, sehingga Giant Golem


disekitarnya terdorong. Tak ingin lengah, Arnold langsung menebas Giant Golem


yang lain. Tebasan pedang, tembakan panah, serangan sihir dilepaskan mereka.


Ratusan Giant Golem bukan masalah besar Bagi mereka. Setelah selesai


mengalahkan monster itu, mereka kemudian pun melanjutkan oerjalan mereka.


Untungnya diperjalan mereka hanya menemui beberapa monster Rank SS berjenis


Cyclops yang memiliki ukuran setinggi sepuluh meter.


Sudah selesai mengalahkan monster


itu, mereka kemudian berjalan semakin dalam. Sehingga mereka berjalan sampai


diruangan terakhir kali grup penjelajah. Sebuah ruangan didalam gua yang


terdapat danau, dan batu sihir tingkat menengah dan tinggi di seluruh ruangan


itu.