Be Strong Together In My Territory

Be Strong Together In My Territory
CHAPTER 27: MARQUIS



Tak terasa waktu berjalan cepat,


hari sudah menjelang sore. Keluarga Baron Lawsdansky saat ini sedang bersiap


untuk berangkat ke istana untuk mengikuti acara perayaan dan penghargaan untuk


yang membantu saat terjadi pemberontakan.


"Ar, Nak, sudah hampir


waktunya berangkat. Kau sudah siap kan?" Tanya ibu Arnold sambil mengetuk


pintu.


Meski sudah bertanya ibu Arnold


tidak mendapat jawaban dari anaknya. Karena hal itu ia membuka pintu untuk


melihat keadaan anaknya. Yanh ia lihat adalah seorang anak sedang tertidur


bersama dengan partnernya, anak itu adalah Arnold.


Ibunya kemudian membangunkan


Arnold,   dan memberitahu Arnold untuk


segera bersiap. Mendengar perkataan ibunya Arnold segera bersiap, tidak butuh


waktu lama ia sudah selesai bersiap dan pergi ke ruangan keluarga.


"Nak, kau lama sekali. Kami


sudah lelah menunggu mu." Ucap ayahnya.


"Maaf Yah, aku tadi


ketiduran, jadi sedikit lama untuk bersiap." Balas Arnold.


"Ya sudahlah, kalau begitu


ayo kita berangkat." Ucap ayahnya.


Mereka kemudian berangkat ke


istana dengan menggunakan kereta kuda milik keluarga mereka. Tak butuh waktu


lama bagi mereka untuk sampai ke istana karena jarak yang tidak terlalu jauh.


Setelah sampai di gerbang istana, mereka kemudian berjalan kaki untuk sampai


keruangan acara. Ruangan yang digunakan sama seperti ruangan acara pelantikan putra


mahkota, karena itu Arnold tidak merasa sekagum pertama kali ketempat itu.


Diruangan itu sudah terdapat


banyak bangsawan dan para tamu yang kemarin ikut membantu. Saat Baron


Lawsdansky memasuki ruangan, banyak bangsawan yang tersenyum melihat kedatangan


mereka, terutama Duke Aymon.


"Selamat malam, tuan


Lawsdansky." Ucap Duke Aymon yang menuju tempat keluarga Arnold bersama


dengan istri dan anaknya.


"Selamat malam Tuan Luke.


Bagaimana kabar anda hari ini?" Ucap ayah Arnold


"Kabarku baik-baik saja. Oh ya


perkenalkan ini istriku Catrine Aymon dan ini anakku Alex Aymon." Kata


Luke.


"Salam kenal nyonya,"


balas ayah Arnold. "Perkenalkan ini istri ku Lalia Lawsdansky, dan ini


berdua putra ku Arnold dan Amos Lawsdansky." Sambungnya.


""Salam kenal


paman." Ucap Arnold dan Amos bersamaan.


"Salam kenal Tuan Alex."


Sambung Arnold


"Ya, salam kenal


Arnold." Balas Alex


"Oh iya tuan Lawsdansky,


terimakasih karena saat itu sudah menolong suamiku melawan Chimera itu, jika


kau tidak ada mungkin saat ini ia sudah tidak ada." Ucap istri Luke.


"Ah, tidak nyonya, saat itu


karena bantuan tuan Luke kami jadi dapat mengalahkan monster itu." Balas


ayah Arnold.


"Meski begitu, aku tetap


berterimakasih padamu." Sanggah istri Luke.


"Oh iya tuan Lawsdansky, ini


mungkin sedikit privat, bagaimana cara pasukanmy sekuat itu? Jika dibandingkan


dengan pasukan terbaikku pun itu masih kalah." Tanya Luke.


"Haha, anda terlalu memuji


tuan, tapi satu hal yang pasti, anak saya Arnold lah yang membuat kami semua


menjadi kuat." Balas Ayah Arnold.


"Arnold? Betulkan


begitu?" Tanya Luke yang masih tidak percaya.


"Ya tuan, jika anda tidak


percaya anda bisa bertanya kepada istri dan anak ku." Balas ayah Arnold.


"Tidak-tidak, aku percaya


dengan yang kau ucapkan." Ucap Luke


Luke sedikit terkejut dengan


pernyataan ayah Arnold, dia sedikit menoleh melihat Arnold yang sedang


berbicara dengan anaknya.


"Bagaimana anak ini bisa


membuat mereka menjadi kuat?" Pikir Luke


Setelah menunggu cukup lama,


seorang kemudian berteriak jika Raja kerajaan Aggrasia sudah datang.


"Beri hormat kepada yang


mulia Raja Arthur Aggrasia X, yang mulia Ratu Margareth Aggrasia, yang muia


Pangeran Charles Aggrasia, yang mulia Putri Diana Aggrasia dan yang mulia


Pangeran Harry


Aggrasia." Teriak seorang


ksatria.


Mendengar perkataan itu semua


orang disana langsung membungkuk tanda memberi hormat kepada keluarga kerajaan.


Tampak Raja beserta keluarganya memasuki ruangan dari pintu yang terhubung ke


istana. Setelah sampai di singgasananya, raja kemudian mengangkat tangannya


tanda penghormatan sudah cukup.


"Terimakasih semuanya sudah


menyempatkan waktu untuk datang ke acara ini, meskipun keadaan diluar masih


kontribusi semua orang yang ikut membantu saat itu. Semoga semua orang yang


menerima penghargaan, dapat menerimanya dengan hati yang terbuka." Ucap


Raja


"Kalau begitu mari kita mulai


acaranya" sambungnya.


Setelah mengatakan hal itu,


seorang juru bicara kemudian maju disamping singgasana keluarga kerajaan. Sang


juru bicara kemudian membaca isi surat titah untuk memberi penghargaan. Satu


persatu nama-nama orang disebut. Ketika namanya disebut mereka maju kedepan dan


bersujud ala kesatria kepada Raja, yan berarti dia siap menerima penghargaan


nya. Semua orang yang sudah terpanggil menerima penghargaan diangakat menjadi


kesatria kerajaan.


Kesatria kerajaan adalah kupulna


prajurit yang bertugas langsung dibawah Raja yang memiliki tugas untuk


memastika keluarga kerajaan aman. Sedangkan prajurit kerajaan adalah bertugas


untuk mengamankan keadaan disekitar kerajaan, seperti menjaga gerbang Kerajaan.


Tidak hanya prajurit yang diberi


penghargaan, bangsawan juga diberi penghargaan berupa pengurangan pajak, atau


pemberian berupa senjata harta Karun negara.


"Keluarga Baron


Lawsdansky." Ucap juru bicara memanggil.


Mendengar hal itu, Ayah Arnold


kemudian maju kedepan dan bersujud didepan Raja.


"Keluarga Baron Lawsdansky


merupakan keluarga yang berperan paling banyak dalam menyelamatkan ibukota.


Berkat dari kontribusinya Baron Lawsdansky diangkat menjadi bangsawan Marquis


Lawsdansky." Ucap juru bicara itu.


Mendengar hal itu, banyak disana


yang terkejut tapi masih ada juga yang merasa jika penghargaan itu sesuai dengan


kontribusi Baron Lawsdansky.


"TUNGGU DULU YANG MULIA,


apakah bangsawan ini berhak untuk mendapatkan penaikan menjadi Marquis?"


Ucap seseorang yang menolak penghargaan itu. Orang itu adalah Marquis Carabas.


"Apa maksudmu kau menolak


Pendapatku?" Tanya Raja.


“Bukan begitu Yang Mulia, saya


hanya tidak percaya jika bangsawan ini layak.” Jawab Marquis Carabas.


“Jika begitu apa kualifikasi


sehingga bangsawan layak menjadi Marquis?” tanya Raja.


“Tentu saja ia harus sudah sekuat


diriku yang mulia.” Jelas Marquis Carabas.


“Memang sekuat apa kau saat ini?”


Tanya Raja.


“Bukannya aku sombong yang mulia,


saat ini aku sudah berada di Peringkat S dengan poin 14.500.” Jawab Marquis


Carabas.


Setelah mendengar jawaban dari


Marquis itu, banyak bangsawan yang memikirkan hal yang sama, Dasar bangsawan


bodoh, pikir mereka.


“Baiklah kalau begitu kita akan


mengukur kekuatan Brimstone Lawsdansky dengan alat pengukur.” Kata raja yang


tersenyum.


“Terimakasih Raja.” Balas Marquis


itu.


Setelah bebeapa saat, datang


seorang prajurit yang membawa sebuah bola kaca berwarna biru diatas tumpukan


kain. Bola itu adalah alat pengukur kekuatan seseorang, hanya dengan menaruh


tangan dan mengeuarkan auranya, batu itu akan memperlihatkan tingkat Kekuatan


seseorang.


“Bailah, Brimstone tolong taruh


tanganmu diatas batu itu.” Ucap Raja.


“Baik Yang Mulia.” Jawab Ayah


arnold.


Ia kemudai menaruh  tangannya diatas bola itu dan mengeluarkan


mananya. Hal itu membuat sedikit tekanan terasa diruangan itu. Setelah melakukan


itu sebuah angka kemudian muncul di bola itu.


“Apakah kau sudah melihat angka


itu?” Tanya raja yang melihat kearah Marquis Carabas.


“Ti-tidak mu-mungkin, itu pasti


salah yang mulia. Mana mungkin jika bangsawan ini memiliki peringkat SS dengan


poin 17.500.” kata Marquis itu yang tidak percaya.


“Aku akan percaya jika ia bisa


mengalahkan ku.” Sambung baron itu yang kemudian menyerang Ayah arnold.


““huh, dasar bangsawan bodoh”” pikir orang yang sudah mengetahui


kekuatan dari Brimstone Lawsdansky.


Melihat serangan yang datang


kearah ayah Arnold, ia hanya mengeluarkan auranya untuk menekan Marquis Carbas,


tapi karena perbedaan kekuatan yang besar membuat bangsawan itu langsung


terjatuh dan merasa sulit bernafas. Melihat bangsawan itu sangat tertekan, ayah


arnold langusng menahan auranya kembali.


“Marquis Carabas, kau sudah


percaya kan?” Tanya Raja.


“ya yang mulia. Saya percaya.” Ucap


Marquis itu


“kalau begitu kembalilah


ketempatmu.” Ucap Raja.