
"Selamat pagi Maggie."
Ucap Arnold sambil memberi bunga yang sudah ia siapkan.
"Se-selamat pagi Ar."
Balas Maggie "Bu-bunga ini untukku?" Sambungnya.
"Ya, ini bunga untukmu. Nama
bunga ini Carnation White." Balas Arnold.
"Me-mengapa kau datang
pagi-pagi begini dan memberiku bunga ini?" Tanya Maggie.
"Begini Maggie, keluargaku
dan aku akan kembali kewilayah kami nanti siang. jadi aku ingin berbicara untuk
mu." Balas Arnold.
"Benarkah?" Tanya Maggie
yang sedikit sedih dengan perkataan Arnold.
"Ya, karena itu aku ingin
berbicara kepadamu." Ucap Arnold.
"....." tak ada jawaban
dari Maggie, ia hanya tertunduk.
"Maggie, jangan bersedih. Aku
pasti akan kembali menemui dilain waktu. Karena itu jangan bersedih,
Tersenyumlah." Ucap Arnold sambil memegang kedua tangan Maggie.
"Apa itu beneran? Apa kau
berjanji akan menemuiku?" Balas Maggie.
"Ya aku berjanji. Jadi
tunggulah aku." Balas Arnold.
"Hmm, aku akan menunggu
mu." Ucap Maggie
Mereka melanjutkan pembicaraannya
didepan rumah Maggie. Disaat itulah Arnold mengatakan jika dia mungkin menyukai
Maggie, ia merasa ingin selalu dekat dengannya, ia selalu ingin menjaga
senyuman Maggie. Maggie yang mendengar itu tersenyum bahagia dan menjawab dia
juga merasa hal yang sama. Karena selama dia bertemu dengan lelaki lain, ia tak
pernah merasa seperti didekat Arnold.
Mereka berbicara hampir selama dua
jam. Selama mereka berdua berbicara, mereka selalu tidak memperhatikan hal-hal
disekitar mereka. Mereka tidka tahu jika ayah dan ibunya Maggie sedang melihat
mereka dari jendela rumah. Bukan hanya mereka, Ayah dan ibu Arnold juga melihat
mereka dari kereta kuda ketika mereka menuju istana diluar gerbang rumah itu.
Sudah waktunya bagi Arnold untuk
kembali kemansionnya.
"Maggie, kurasa sudah
waktunya untuk aku kembali, karena hari sudah hampir siang." Ucap Arnold.
"Sudah waktunya ya."
Ucap Maggie sambil tertunduk.
"Jangan bersedih Maggie,
ingat janji kita." Ucap Arnold.
"Hmm, kalau begitu
berhati-hatilah. " Balas Maggie.
"Ya, sampaikan salam ku
kepada ayah mu." Ucap Arnold.
"Ehem, bukankah seharusnya
kau sendiri yang menyampaikan salam kepada Kami?" Ucap Wilson yang keluar
dari rumahnya tiba-tiba.
"Pa-paman? Bibi" "A-ayah? Ibu?" Ucap Arnold dan
Maggie.
"Sedang apa kalian
disini?" Tanya Maggie.
"Kami? Kami tadi hanya
mendengarkan pasangan berbicara." Ucap ibu Maggie.
Arnold dan Maggie langsung malu
mendengar hal itu. Mereka sadar jika pasangan yang disebut itu adalah mereka
berdua.
"Oh ya nak Arnold, apa yang
sedang kau lakukan disini sejak pagi-pagi tadi??" Ucap ayah Maggie.
"Ma-maaf sudah mengganggu
waktu tidur kalian paman, bibi. Aku kesini tadi pagi karena ingin berbicara
dengan Maggie. Soalnya aku dan keluargaku akan kembali ke wilayah Kami."
Jelas Arnold.
“begitu ya. Lalu?” tanya Ayah
Maggie.
“Aku hanya ingin mengatakan ke
Maggie bahwa aku mencintainya paman.” Balas Arnold. “Agar dia menungguku sampai
aku datang lagi paman.” Sambungnya.
“Menunggu? Mengapa anakku harus
menunggu?.” Tanya Ayah Maggie.
“karena kami saling menyukai
paman.” Jawab Arnold.
“Bukan itu, mengapa anakku harus
menunggumu disini? Bukankah dia juga bisa ikut dengan mu kesana?” uccap Ayah
Maggie.
Arnold dan Maggie langsung
terkejut dengan perkataan Ayah Maggie, karena mereka tidak pernah memikirka hal
itu sebelumnya.
“Apakah Maggie bisa ikut denganku
“Tentu saja bisa,” jawab ayah
Maggie.
“Benarkah Yah?” Tanya Maggie memastikan.
“Ya, tentu saja sayang.” Ucap ayah
Maggie
“Terimakasih ayah.” Balas Maggie
dengan semangat sambil memeluk ayahnya,
“Tapi, sebelum itu,bukankah kalian
harus melakukan sesuatu.” Ucap Ayah Maggie.
“melakukan sesuatu? Apa itu paman?”
tanya arnold.
“Bukankah seharusnya kalian
melakukan pertunangan jika kalian saling mencintai. Balas Ayah Maggie.
““Pe-pertunangan.”” Ucap Arnold
dan Maggie dengan nada Malu.
“Ya, pertunangan.” Perjelas ayah
Maggie.
“ Aku setuju dengan mu tuan
Wilson.” Kata ayah arnold yang tiba-tiba datang ketempat itu.
“ayah? Ibu?” sentak arnold terkejut
dengan kedua orantuanya.
“Apa yang kalian disini?”
sambungnya
“Maaf nak, kami tidak sengaja
mendengaar pembicaraan kalian. Tadi kami hendak pergi keistana untuk menerima
wilayah baru yang akan kita urus. Tapi aku dan ibumu melihat kau berbicara
dengan Maggie dan mendengar pembicaraan kalian sampai sekarang. Tak kusangka
jika kau melakukan hal itu demi wanita yang kaucintai. Kupikir kau hanya tau
berlatih saja” ucap Ayah Arnold.
Arnold yang mendengar itu langsung
menjadi malu mendengar perkataan ayahnya.
“Hahaha, tenang saja nak. Yang kau
lakukan itu adalah tindakan pria sejati.” Sambung ayahnya
“Terimakasih ayah.” Balas Arnold.
“Llau bagaimana dengan pertunangan
tadi?” tanya Ayah Maggie.
“Aku setuju dengan hal itu. Tapi jika
untuk perayaannya tidak sempat untuk dilakukan sekarang. Apakah Maggie tidak
masalah jika pertunangannya seperti ini saja dulu?” tanya ayah Arnold.
“Tidak apa-apa paman.” Ucap Maggie
tanpa menanyakan pendapat orangtuanya.
Orangtua Maggie hanya pasrah
melihat tingkah anaknya. Mereka merasa jika ini yang terbaik untuk anaknya.
“Kami juga tidak masalah dengan
itu, karena anak kami tidak mempermasalahkan hal itu.” Ucap Ibu Maggie sebagai
tanda persetujuan.
“Kalau begitu, Arnold dan Maggie
sudah sah betunangan, kan?” Ucap Ibu Arnold.
“Ya. Selamat ya kalian Berdua.”
Ucap Ayah Maggie
““Selamat Arnold, Selamat Maggie.””
Ucap orang tua mereka.
“Terimakasih ayah, ibu. Paman,
bibi.” Ucap mereka berdua.
Setelah itu Arnold dan keluarganya
kembali menuju wilayah mereka bersama Maggie. Ketika Arnold dan Maggie kembali
ke Mansion keluarga mereka, semua orang disana langsung menanyakan siapa wanita
yang bersama Arnold. karena itu arnold menjelaskan bagaimana Maggie menjadi tunangannya,
meski masih sedikit malu. Amos yang mendengar penjelasaan kakanya merasa
terkejut. Dia tidak menyangka jika kakanya berani melakukan hal itu.
Selama Perjalanan Arnold dan
Maggie berada di Kereta yang berbeda. Maggie berada dikereta yang sama dengan
Ibu dan ayahnya. Karena bosan didalam kereta, Arnold berpikir jika dia harus
memberi Maggie sesuatu yang menjadi bukti pertunangan mereka. Arnold berpikir
jika dia ingin memberi Maggie sebuah cincin. Karena itu dia membuat cincin dari
sebuah core sihir Great lion monster
Rank SS dan dicampur dengan sedikit tanduk Behemot untuk Maggie. Proses
pembuatan Cincin dilakukan Arnold dengan meleburkan tanduk behemoth dan Core
sihir dengan sihir api milik Arnold. Setelah selesai Arnold membuat bentuk
cincin itu dengan mananya. Setelah itu dibantu sihir angina untuk
mendingkannya.
Arnold membutuhkan waktu selama
seminggu untuk membuat cincin itu. Mengapa lama? Karena Arnold merasa jika dia
harus memberi yang terbaik untuk Maggie. Arnoldd sudah selesai membuat sebuah
cincin berwana biru tua yang sedikit mengkilau, sebuah cincin yang sangat cantic
menurut Arnold. Cincin ini akan diberi Arnold ketika mereka sudah sampai di
wilayahnya.
Karena bahan yang dileburkan masih
banyak, Arnold membuat beberapa periasan yang berbeda-beda. Periasan itu dibuat
Arnold bukan hanya untuk Maggie, tapi untuk Ibunya juga. Karena wanita yang
selalu nomor satu dihati semua anak adalah Seorang Ibu.