Bad Husband

Bad Husband
Jeruji



Jeruji


Beberapa bulan berlalu. Kini Kevin akhir nya sudah benar-benar pulih dan sudah kembali beraktifitas seperti biasa nya. Hari-hari yang ia lalui setelah kejadian itu, membuat sifat seorang Kevin menjadi sedikit berubah. Kevin yang biasa nya sangat dingin dan terkadang menjadi seorang yang sangat pemarah, kini sudah menjadi sedikit melunak dan memperlakukan istri nya dengan baik.


Hari ini contoh nya. Hana ingin keluar rumah dengan memakai sepatu di subuh hari untuk jalan santai mempermudah proses lahiran nya nanti. Namun saat ingin memakai sepatu, ia kesulitan untuk membungkuk lantaran perutnya sudah membesar. Melihat istrinya yang kesusahan, Kevin dengan sigap membantu istri nya memasangkan sepatu dan mengikat nya.


"Terimakasih telah membantu. Aku kesusahan untuk menunduk," Ucap Hana yang memperhatikan sepatu yang telah terpasang di kedua kaki nya.


"Jalan di sekitar perkarangan rumah saja. Jangan keluar,". Titah Kevin yang masih berjongkok dinhadapan istri nya.


"Aku bosan setiap hari harus jalan di perkarangan saja. Aku ingin berjalan santai di luar," Hana memperlihatkan wajah cemberut nya pada suami nya. Hana memang benar-benar sudah bosan karena sejak hamil besar nya, ia selalu jalan santai di pagi hari hanya di sekitaran perkarangan rumah saja. Maklum ibu hamil, apa-apa mudah bosan. Mood nya suka naik dan turun kapan saja.


"Jika begitu, aku akan menemani mu," Ucap Kevin sambil berdiri dan kemudian berjalan ke arah lemari untuk mengambil jaket dan bersiap.


"Benarkah?, apa tidak apa-apa kau menemani ku?," Tanya Hana, Kevin pun berjalan ke arah Hana sembari memakai jaket berwarna abu-abu.


"Memang nya kenapa jika aku menemani mu?," Kevin berbalik bertanya.


"Aku hanya takut Yuna cemburu," Jawab Hana dengan memicingkan wajah nya.


"Sudah beberapa bulan yang lalu. Masih saja kau ingat. Dasar perempuan." Ucap Kevin dengan helaan.


Kevin tidak habis pikir mengapa istri nya sangat pendendam begitu. Mengingat kejadian beberapa bulan belakangan, Yuna sempat mendatangi Kevin kerumah dan meminta Kevin menikahi nya. Yuna bahkan dengan terang-terangan mengatakan nya di hadapan Hana dan juga semua orang yang ada di rumah. Yuna bahkan berkata pada Kevin jika ia sanggup dan rela menjadi istri kedua Kevin.


Semua yang mendengar pun pada saat itu sangat terkejut. Bahkan Hana saking terkejut dan tidak terima nya, Hana sampai menampar Yuna hingga Yuna tersungkur.


Mengingat kejadian di hari itu memang sangat menegangkan bagi Kevin. Bukan apa. Namun karena kejadian itu, Hana bahkan meminta Kevin menceraikan dan meninggal kan nya jika Kevin ingin menikahi Yuna. Padahal Kevin saat itu belum mengatakan apapun, namun ia hampir saja kehilangan Hana sebagai istri nya. Teringat bagaimana Hana marah pada saat itu, benar-benar membuat panik dan kalut seorang Kevin. Walaupun pada saat itu Kevin menolak mentah-mentah ajakan menikah dari Yuna, namun Hana tetap marah pada nya. Bahkan satu bulan, Hana tidak tidur di kamar yang sama dengan suami nya. Bahkan satu bulan penuh, Hana tidak menyapa dan menghiraukan suami nya sedikit pun.


Saat itu, Kevin sempat emosi dan marah pada Hana karena Hana tidak menghiraukan nya. Namun Kevin terpaksa meminta maaf dan bahkan berlutut seperti orang bodoh di hadapan istri nya lantaran Hana tiba-tiba mengajukan surat cerai.


Karena kejadian itu, Yuna yang tadi nya sudah kembali ke Meksiko lantaran ia di tolak oleh Kevin, terpaksa harus kembali ke Indonesia karena Kevin memohon pada Yuna untuk menjelaskan jika Yuna sudah menyerah pada Kevin. Yuna terpaksa harus kembali ke Indonesia untuk menjelaskan pada Hana. Setelah di jelaskan oleh Yuna, Hana baru membatalkan pengajuan cerai. Namun Kevin butuh waktu satu bulan untuk meminta maaf pada Hana atas kesalahan yang sebenar nya ia tidak melakukan apa-apa.


Mengingat kejadian itu, membuat Kevin sedikit tunduk terhadap istri nya. Kevin angkat tangan dan tidak mau kejadian itu terulang lagi.


"Kita harus mempunya banyak anak agar nanti nya," Ucap Kevin sambil berjalan berdampingan dengan istri nya di tepian jalan.


"Tidak. Kau kira aku mesin pembuat anak," Tolak Hana sambil memegang lengan kekar suami nya.


"Jika kau tidak mau, cukup lima anak saja. Satu orang perempuan, dan empat orang lelaki," Ucap Kevin.


"Sekarang kau ingin memiliki anak dari ku. Dulu kau berkata tidak ingin memiliki anak dari perut ku. Perkataan yang tidak jelas!," Gerutu Hana dengan wajah sebal. Entah mengapa semenjak hamil Hana selalu saja mengungkit-ungkit cerita di masa lalu mereka.


"Kau pendendam sekali. Aku minta maaf. Itu masa lalu. Apa tidak bisa kau melihat kedepan saja, tidak usah melihat ke belakang. Bukan kah kita sudah berjanji untuk mengulang dari awal kisah yang indah," Jelas Kevin.


"Apa kau ingat dulu, saat aku tidak sengaja melihat mu membunuh seseorang di gudang belakang rumah?, saat itu kau hampir ingin membunuh ku juga!," Ucap Hana sambil melepaskan tangan nya dari lengan suami nya.


"Jika aku berniat ingin membunuh mu, mungkin sejak bertemu saat paman mu mengantarmu dulu, aku sudah akan membunuh mu saat itu juga. Kau hanya melihat sisi jahat suami mu saja," Jelas Kevin dengan menggenggam tangan Hana.


"Kenapa kau tidak membunuhku?," Tanya Hana penasaran.


"Karena aku tidak bisa membunuh seorang wanita yang memiliki dua gunung kembar yang besar," Ucap Kevin sambil menahan tawa. Hana yang mendengar pun menatap tajam suami nya dengan wajah datar. Entah Kenapa Kevin sudah berani bercanda begitu dengan istri nya.


"Aku serius. Pikiran mu sangat kotor!," Cetus Hana.


"Karena aku selalu menyukai mu. Sudah berhentilah marah dan kesal pada suami mu. Tidak baik." Kevin mengelus perut buncit Hana dan kemudian tersenyum ke arah Hana.


"Kau ingin masih terus berjalan?, atau kita kembali pulang?," Tanya Kevin.


"Aku ingin ke pasar pagi untuk membeli kue," Jawab Hana dengan menatap mata ke arah suami nya dengan kedua mata yang penuh harap.


"Pasar pagi masih jauh jika jalan kaki. Aku akan meminta Elbert membawa mobil dan mengantar kita," Kevin mengambil handpone nya dan kemudian menghubungi Elbert meminta Elbert untuk membawa mobil.


Selang beberapa menit, Elbert pun sampai. Kevin dan Hana masuk ke dalam mobil untuk ke pasar pagi. Pasar pagi ialah pasar di mana hanya ada di pagi hingga jam dua belas siang saja.


Tidak butuh waktu yang terlalu lama. Elbert berhenti tepat di pasar pagi. Hana dan Kevin turun dari mobil, sementara Elbert hanya menunggu di dalam mobil.


Saat turun dari mobil, Hana terlihat begitu senang berjalan menuju penjual kue. Kevin hanya berjalan mengikuti istri nya dari belakang.


Hana membeli berbagai macam kue mulai dari putu, kue lapis, moci, bola salju, coklat keju dan sebagai nya. Setelah merasa sudah banyak, Hana kemudian meminta suami nya untuk membayar nya.


"Apa masih ada yang lain lagi?," Tanya Kevin saat setelah membayar.


"Tidak. Ini saja," Jawab Hana. Kevin pun terdiam sambil mengambil alih kue yang di pegang oleh istri nya dan kemudian ia bawa menuju mobil.


"Masuklah," Titah Kevin setelah meletakan kue-keu ke bagian kursi depan yang bersebelahan dengan Elbert.


"Beri Elbert kue yang di dalam plastik kecil," Titah Hana sambil menunjuk ke arah satu plastik kecil yang berisi kue.


"Terimakasih nona. Nanti saya akan mengambil nya," Ucap Elbert.


"Baiklah." Jawab Hana.


"Jalan Elbert." Titah Kevin sambil menyandarkan kepala nya di kursi mobil. Elbert pun mengiyakan dan mulai mengemudi dengan hati-hati.


* * * *


Sementara di lain tempat. Seorang lelaki sedang duduk termenung di jeruji besi. Lelaki tersebut tidak lain ialah Arlon. Mengingat beberapa bulan yang lalu, setelah Arlon di nyatakan sembuh, Arlon kemudian di tahan oleh aparat kepolisian lantaran kasus penipuan serta percobaan pembunuhan terhadap Kevin. Karena hal itu Arlon dinjatuhi hukuman lima tahun penjara.


Sudah beberapa bulan ini Arlon berada di jeruji besi di temani tiga orang anak buah nya. Saat ini Arlon hanya bisa pasrah menunggu ia keluar dari penjara.


Setiap hari mama Gaty dan papa Prislo selalu menjenguknya. Termasuk Hana istri musuh nya juga sering menjenguknya di jeruji besi.