
Tersadar
Di rumah sakit. Papa Prislo dan mama Gaty masih berada di ruangan ICU menemani Arlon yang baru saja sadarkan diri. Arlon menatap kedua orang yang berdiri di dekat nya. Kedua orang tersebut tidak lain ialah ayah tirinya dan juga mama Gaty. Mama Gaty menggenggam erat tangan putra nya sambil terus mencium nya.
"Arlon, anak mama sudah bangun?," Mama Gaty memperhatikan kedua mata putra nya yang sudah mulai terbuka. Ada pun papa Prislo buru-buru keluar dari untuk memanggil dokter.
Tidak butuh waktu lama, dokter pun datang memeriksa keadaan Arlon. Setelah di periksa, dokter pun tersenyum ke arah mama Gaty dan juga papa Prislo.
"Anak ibu dan bapak sudah sadar. Pasien hanya perlu beristirahat saja," Jelas dokter. Mama Gaty dan papa Prislo yang mendengar pun merasa sangat lega.
"Syukurlah. Terima kasih banyak dok," Ucap papa Prislo.
"Saya permisi dulu pak buk." Pamit dokter dan di iyakan oleh mama Gaty dan papa Prislo. Dokter pun keluar dari ruangan.
Mama Gaty kembali duduk dan mengambil tangan putra nya kemudian mendekatkan tangan tersebut ke pipi nya.
"Arlon anak mama. Mama sangat senang karena akhirnya Arlon membuka kedua mata," Ucap mama Gaty dengan lirih. Tak terasa air mata nya berhasil terjatuh di pipi nya karena terharu karena pada akhirnya putra nya bisa melewati koma nya.
"Benar Arlon. Kami senang kau akhirnya bangun," Lanjut papa Prislo sambil berdiri melihat ke arah Arlon. Papa Prislo ikut senang karena walau bagaimana pun, Arlon tetap anak tirinya.
Arlon hanya terdiam memperhatikan kedua orang yang berada di sisi nya saat ini. Ia memperhatikan kedua orang tersebut dengan kedua mata yang memerah dan berkaca-kaca. Di saat seperti ini, Arlon baru menyadari jika kedua orang tersebut masih peduli pada nya. Mengingat selama ini, Arlon selalu berpikir jika ibu nya tidak memperdulikan nya lagi sejak menikah dengan suami baru nya papa Prislo. Namun hari ini ia menyadari jika ibu nya memperdulikan nya dan menyayangi nya. Karena itulah awal mula Arlon sangat membenci Kevin.
Sejak mama Gaty menikah dengan papa Prislo dulu, Arlon di tinggalkan sendiri bersama pembantu di rumah. Dan dia di besarkan oleh pembantu yang di gaji ibu nya. Sementara ibu nya mama Gaty pergi dan tinggal di rumah Papa Prislo dan anak nya Kevin. Arlon lebih banyak menghabiskan waktu sendiri di rumah bersama pembantu tanpa ada nya mama Gaty yang menemani nya.
Pada saat itu, mama Gaty bahkan sangat jarang pulang untuk menjenguk keadaan nya. Mengingat hal itu membuat Arlon sangat bersedih. Arlon merasa jika ibu nya saat itu sangat egois karena tidak memikir kan perasaan anak nya dan hanya memikirkan perasaan diri sendiri. Arlon bahkan beranggapan jika di masa kecil nya saat itu bahwa mama Gaty tidak menyayangi nya. Mama Gaty lebih menyayangi anak tiri nya ketimbang anak kandung nya. Itu lah permulaan kenapa Arlon sangat membenci Kevin.
* * * * *
Di rumah. Kevin masuk ke dalam rumah di bimbing oleh Hana dan juga Elbert yang membawa barang di belakang tuan nya. Saat masuk, Kevin langsung di sambut oleh bi Ijah dan juga penjaga rumah. Termasuk Alisa juga ikut menyambut kepulangan Kevin kerumah.
"Selamat datang tuan," Begitu lah kalimat yang pertama kali terdengar dari para penjaga di rumah.
"Kalian tidak perlu menyambut ku begitu. Kembali lah ke tempat kalian masing-masing," Titah Kevin sambil berjalan menuju tangga.
"Kau tidak pernah menghargai kebaikan orang lain," Kesal Hana. Hana merasa kasihan pada para penjaga di rumah yang mengkawatirkan tuan nya namun tuan nya malah tidak menghargai mereka sama sekali.
Kevin terdiam dan melihat ke arah istri nya kemudian kembali mengalihkan pandangan lurus kedepan.
"Alisa, jangan lari begitu sayang. Pelan saja," Titah Hana. Alisa pun kembali berjalan dengan hati-hati.
Kevin masuk ke dalam kamar bersama Hana yang juga ikut masuk. Hana membawa suami nya naik ke atas tempat tidur dan kemudian membaringkan nya dengan hati-hati.
"Paman, ini untuk mu," Alisa mengulurkan secarik gambar yang sudah di bingkau dengan kardus pada Kevin. Di saat Kevin ingin mengambil nya, Hana malah mengambil gambar tersebut dan meminta Alisa untuk tidak memberi nya.
"Alisa sayang, jangan beri apa pun pada paman. Paman tidak suka," Ucap Hana dengan lembut. Hana sebenar nya merasa sangat kesal pada suami nya karena tidak menghargai orang lain saat masuk tadi nya.
"Tapi bibi, Alisa sudah membuat nya dengan susah payah hadia ini untuk paman," Jelas Alisa dengan wajah murung.
"Kemari lah Alisa. Paman ingin hadiah nya," Ucap Kevin sambil mengulurkan tangan meminta Alisa memberikan gambar tersebut.
"Ini paman. Alisa menggambar kan bibi, dan paman, kemudian ada Alisa dan juga adik kecil Yang ada di perut bibiHana," Jelas Alisa sambil menunjukan setiap gambar yang ia buat.
"Adik bayi?, wah paman akan menyimpan nya," Balas Kevin sambil memperhatikan gambar tersebut.
Kevin dan Alisa masih sibuk membicarakan gambar tersebut. Sementara Hana hanya memperhatikan suami nya dengan kesal. Bukan tanpa sebab, Hana kesal karena Kevin tidak memperdulikan keperdulian bawahan nya yang memperduli kan nya.
"Alisa, Alisa sekarang masuk ke kamar Alisa. Ajak bi Ijah untuk bermain bersama Alisa. Paman perlu istirahat, jadi paman tidak boleh di ganggu," Jelas Hana pada keponakan nya. Alisa yang mengerti pun mengangguk mengiyakan.
"Baik bibi. Paman, istirahat ya. Alisa pergi dulu," Ucap Alisa sambil keluar dari kamar.
"Kau lihat Alisa yang memperdulikan mu. Lihat semua orang di rumah ini memeperdulikan mu. Walaupun kau tidak suka di perdulikan, setidak nya kau menghargai keperdulian mereka. Jangan menganggap sepele orang lain," Ucap Hana. Hana memang sengaja meminta keluar karena ia ingin menceramahi suami nya.
"Aku salah apa lagi?," Tanya Kevin dengan helaan.
"Kesalahan mu, adalah kau tidak peduli dengan kebaikan orang lain!," Tegas Hana.
"Hana, aku sejak masih kecil sudah kehilangan sosok ibu yang mengajarkan aku hal baik dan buruk. Jadi aku tidak mengerti bagaimana cara nya menyampaikan rasa peduli dan membalas hal yang serupa," Jelas Kevin. Hana yang mendengar pun terdiam dan menatap suami nya. Hana kemudian mendekati suami nya dan kemudian memeluk tubuh kekar Kevin. Mendengar perkataan suaminnya, membuat Hana merasa sangat iba.
"Maaf. Aku tidak bermaksud memarahi mu. Aku hanya ingin kau sebagai suami dan calon ayah yang baik," Tutur Hana dengan melunak. Kevin membalas pelukan istri nya sambil menghirup aroma leher Hana.
"Tidak apa-apa. Aku akan mendengarkan mu." Balas Kevin.