
Bujukan
Pagi kembali menyapa. Cahaya mentari telah masuk menembus kaca. Pagi ini Hana terbangun lebih dulu dari Kevin dan juga Alisa. Kedua orang tersebut masih tertidur dengan lelap di atas tempat tidur. Hana sudah memasak dan mandi, Kevin masih juga belum bangun.
Hana berdiri di ujung tempat tidur sembari memperhatikan keponakan kecil nya yang terlihat masih sangat lelap dalam tidur nya. Melihat hal itu, Hana memilih membiarkan Alisa tertidur. Hana juga memperhatikan lelaki di sebelah Alisa. Lelaki tersebut juga terlihat masih begitu terlelap. Jarang sekali suami nya tersebut bisa tidur senyaman itu. Melihat pemandangan pagi ini membuat Hana merasa senang.
Karena hari ini ialah hari libur, Hana memilih untuk menikmati waktu berada di rumah. Bukan memilih, tapi ini sudah menjadi hari-hari yang akan di lewati seorang Hana. Rutinitas Hana hari ini hanya memasak, mencuci piring kotor, memasukan baju di mesin cuci, dan membersih kan rumah. Mengingat bi Ijah belum juga kembali, jadi semua perkerjaan rumah hanya di kerjakan oleh Hana seorang. Selesai dari perkerjaan rumah, Hana melanjutkan ke bagian luar rumah yaitu menyiram bunga-bunga. Ia melakukan hal yang sama seperti yang bi Ijah kerja kan. Selesai dari semua kegiatan nya, Hana kembali ke dalam rumah untuk melihat suami dan keponakan nya. Saat pintu telah terbuka, terdengar suara tangisan Alisa yang menangis dari dalam kamar. Mendengar hal itu, Hana buru-buru berlari menuju kamar nya. Dengan nafas yang masih terengah-engah, Hana membuka pintu kamar dan terlihat di dalam sana Alisa yang sedang di gendong oleh Kevin.
"Hikss...hiksss....bibi...bibi...," Alisa melihat ke arah Hana saat pintu kamar terbuka lebar.
"Kau dari mana saja. Dia menangis terlalu keras," Kevin berjalan ke arah Hana dan memberikan Alisa pada Hana.
"Aku dari bawah." Balas Hana sembari mengambil Alisa dan menggendong nya.
"Alisa kenapa menangis?, hmm," Tanya Hana dengan menghapus air mata keponakan kecil nya tersebut.
"Saat Alisa bangun, Alisa tidak melihat bibi. Alisa pikir bibi meninggalkan Alisa hiks...hikss..," Ucap Alisa di sela-sela tangisan nya.
"Bibi sedang menyiram bunga di depan rumah. Bibi tidak mungkin meninggal kan Alisa," Hana mencium hidung gadis kecil tersebut dengan gemas. Sementara Kevin, masuk ke kamar mandi dengan membawa handuk di dalam kamar nya.
"Bibi janji tidak akan meninggalkan Alisa seperti ibu?," Tanya Alisa. Alisa trauma dengan kematian ibu nya dulu. Ibu Alisa dulu meninggal di saat Alisa sedang tertidur. Itu lah kenapa Alisa sangat takut jika tadi nya tidak melihat Hana. Ia mengira jika Hana akan meninggalkan nya.
"Bibi janji." Hana tersenyum sembari melihat wajah sembab keponakan nya.
"Nanti Alisa minta maaf dengan paman karena telah membangun kan paman dengan tangisan Alisa," Jelas Hana.
"Tapi tadi paman tidak marah di saat Alisa menangis, bibi. Paman malah berkata dengan lembut meminta agar Alisa tidak menangis. Jadi kenapa Alisa harus minta maaf?," Alisa menepis kan air mata nya yang masih menempel di kedua pipi nya. Sementara Hana, mendengar penjelasan Alisa membuat nya terdiam beberapa saat. Ia cukup kagum dengan suami nya. Hana mengira tadi nya Kevin memarahi Alisa karena mengganggu tidur nya, ternyata ia tidak marah sama sekali. Di luar dugaan Hana.
"Bibi, kenapa diam?," Tanya Alisa dengan memegang kedua pipi bibi nya.
"Walaupun paman tidak marah. Alisa tetap harus meminta maaf kepada paman karena Alisa mengganggu tidur paman," Ucap Hana.
"Baik bibi. Nanti setelah paman keluar dari kamar mandi, Alisa akan meminta maaf dan Alisa berjanji tidak akan melakukan nya lagi," Alisa tersenyum dengan memperlihat kan gigi-gigi nya dengan lucu. Hana pun membalas dengan tersenyum.
"Anak pintar." Hana kembali mencium keponakan nya.
* * * * *
Di meja makan. Hana sibuk menyiap kan sarapan untuk keponakan nya nya rewel minta di suapi. Sementara Kevin, hanya menikmati sarapan nya dengan tenang tanpa memperdulikan keributan yang di lakukan oleh Alisa.
"Bibi... Alisa tidak suka susu. Alisa hanya ingin makan ice cream saja!," Teriak Alisa dengan menutup mulut nya dengan satu tangan.
"Alisa tidak boleh makan ice cream sepagi ini sayang. Alisa harus minum susu dulu biar tubuh Alisa sehat," Bujuk Hana dengan lembut.
"Tidak mau!." Alisa menolak gelas yang berisi susu tersebut.
"Alisa harus minum susu. Jika Alisa tidak minum susu, paman bisa marah dan tidak memboleh kan Alisa untuk berada di sini. Iya kan paman?," Hana melihat ke arah Kevin dengan mengedip-ngedipkan kedua mata nya meminta Kevin mengiyakan untuk menakut-nakuti Alisa agar Alisa mau meminum susu.
"Tidak. Itu hanya akal-akalan bibi mu saja, Alisa," Ucap Kevin tanpa rasa berdosa sedikit pun. Hana membulat kan kedua mata nya ke arah suami nya.
"Bibi!, jangan coba-coba menipu Alisa!," Alisa berbicara dengan tangan yang masih menutupi mulut nya.
"Jika Alisa tidak mau meminum susu, dengan terpaksa bibi harus mengantarkan Alisa hari ini untuk kembali ke rumah sakit dan meminum pil pahit lagi," Ucap Hana.
"Tidak bibi. Alisa ingin bersama bibi di sini. Alisa tidak mau berada di rumah sakit hiks...hikss....," Alisa kembali menangis. Melihat hal itu Hana pun merasa tidak tega memarahi gadis kecil tersebut. Hana menggendong tubuh kecil Alisa dan meminta Alisa untuk berhenti menangis.
"Alisa harus minum susu agar tubuh Alisa sehat dan tidak sakit lagi. Bibi hanya ingin Alisa sehat," Jelas Hana.
"Iya bibi. Alisa akan minum nya, tapi Alisa tidak sanggup menghabiskan semua susu ini, bibi," Jelas Alisa dengan menunjuk segelas susu tersebut.
"Kau kira dia orang dewasa yang bisa menghabiskan segelas susu itu?, kau saja mungkin juga tidak sanggup meminum nya hingga habis." Ucap Kevin dengan melihat ke arah susu tersebut. Hana terdiam mendengar nya. Apa yang di katakan Kevin memang benar ada nya. Hana salah menakar ukuran susu untuk seukuran anak-anak.
"Alisa meminum sebisa Alisa saja ya," Pinta Hana dan di iyakan oleh Alisa.
Alisa pun meminum susu tersebut secara perlahan hingga menyisakan setengah susu di dalam gelas tersebut. Melihat hal itu, Hana pun tersenyum.
"Ooiya, Alisa lupa. Paman, Alisa ingin meminta maaf karena tadi Alisa menangis dan membuat paman terbangun," Ucap Alisa sembari turun dari gendongan bibi nya. Alisa berjalan mendekati Kevin.
"Alisa berjanji tidak akan melakukan nya lagi," Lanjut nya. Kevin yang mendengar pun hanya mengangguk sembari sedikit tersenyum ke arah Alisa.