Bad Husband

Bad Husband
Ingin Memulai



Ingin Memulai


Di pagi yang cerah. Seorang gadis kecil berlari keluar dari kamar dengan membawa tesh pack dan juga buku hasil cek kandungan. Gadis kecil tersebut berlari membawa buku dan juga benda kecil tersebut turun kebawah untuk memberikan pada Kevin yang saat itu sedang kebetulan sedang duduk di ruang bersantai sendirian sembari menikmati secangkir kopi hangat yang di buat oleh bi Ijah.


Kebisingan yang terdengar dari mulut gadis kecil tersebut terdengar jelas di telinga nya. Gadis kecil tersebut tidak lain ialah Alisa. Alisa berlari ke arah Kevin dan mengulurkan dua benda tersebut pada paman nya.


"Paman! paman!, ini," Alisa duduk di atas meja kaca di depan Kevin.


"Ada apa?, kau mengganggu sekali," Kevin mengambil dua benda tersebut dari tangan Alisa dan meletakan nya di atas meja.


"Paman, tolong baca kan buku dongeng ini pada Alisa. Alisa ingin mendengar nya," Mohon Alisa. Alisa mengira jika buka tersebut ialah buku dongeng anak-anak.


"Itu bukan buku dongeng." Ucap Kevin.


"Kalau bukan buku dongeng, kenapa ada gambar ibu hamil dan bayi di sana?," Tanya Alisa. Kevin mengambil buku tersebut dan membukanya. Tertulis di sana pemilik buku itu Hana.


"Kau mengambil buku ini di mana?," Tanya Kevin dengan suara yang cukup pelan.


"Di tas yang sering di pakai oleh bibi Hana," Jawab Alisa dengan polos nya.


"Alisa juga mencuri pena milik bibi Hana yang ini paman," Lanjut Alisa dengan menunjukan alat tash pack pada Kevin. Melihat hal itu, Kevin pun langsung mengambil benda kecil tersebut dari tangan Alisa.


"Apa benar?," Tanya Kevin di dalam hati nya. Kevin memperhatikan alat tersebut yang terlihat positif hamil. Masih tak percaya, Kevin kembali membuka buka kandungan dan membaca nya berkali-kali dan tidak ada yang salah di sana. Semua sudah cukup jelas bagi Kevin jika itu semua milik Hana.


Kevin membawa buku dan juga benda kecil tersebut untuk mencari Hana. Dengan perasaan yang sangat bahagia, tidak terasa ia juga menitikan air mata bahagia.


"Hana! Hana!!," Teriak Kevin yang berjalan ke arah dapur untuk mencari istrinya.


"Iya, ada apa?," Tanya Hana saat suami nya sampai di dapur.


"Hana!, kenapa kau tidak memberitahu ku?," Kevin bertanya dengan berjalan mendekati istri nya.


"Ada apa tuan?," Tanya bi Ijah yang juga sedang berada di dapur.


"Memberitahu apa?," Tanya Hana keheranan.


"Ini apa?," Tanya Kevin sembari memperlihat kan buku dan juga benda kecil di tangan nya. Pun Hana yang melihat pun, dengan cepat mengambil dua benda tersebut dari tangan suami nya dan menyembunyikan nya.


"Kau menemukan ini di mana?," Tanya Hana dengan ragu.


"Alisa yang memberikan pada ku. Ia mengambil di dalam tas mu. Ini milik mu Hana?, kau tengah hamil anak ku. Kenapa tidak memberitahu ku?" Kevin menatap Hana.


"Maaf aku tidak memberitahu mu. Tapi aku mohon jangan menyakiti calon bayi ini. Dia tidak salah apapun. Aku berjanji pada mu dia tidak akan mengganggu ataupun menyusahkan mu. Jadi aku mohon jangan menyakiti nya," Ucap Hana dengan mengatup kedua tangan memohon di hadapan suami nya. Hana memohon dengan kedu mata yang sudah mulai berkaca-kaca.


"Apa yang kau katakan?," Tanya Kevin.


"Kau boleh menyakiti ku. Tapi tolong jangan pernah menyakiti calon bayi ini. Dia tidak mengerti apa-apa," Ucap Hana. Kevin terdiam memperhatikan wanita di hadapan nya yang terlihat begitu takut dengan diri nya. Kevin juga tidak tau harus berbuat bagaimana untuk menenangkan istri nya itu. Mengingat dulu ia memang pernah asal bicara pada Hana dengan mengatakan jika ia tidak ingin memiliki anak dadi Hana. Mengingat hal itu membuat nya hanya bisa terdiam. Ia tak tau harus menenangkan istrinya itu dengan cara apa.


"Aku sekedar bertanya. Kau tidak perlu menangis begitu." Gumam Kevin sembari keluar dari dapur dan menjauh dari istrinya.


* * * * *


"Di tempat lain. Arlon tengah duduk bersama Ardi. Sekarang ini Arlon membawa paksa Ardi ke sebuah gedung kosong miliknya. Kedua nya duduk berhadapan dengan di batasi meja di tengah nya. Dua orang anak buah Alon tengah berdiri di belakang Ardi dengan menodongkan pistol di kepala lelaki tersebut. Melihat situasi saat ini membuat Ardi sangat ketakutan.


"Kalian siapa?, kenapa kalian membawaku di tempat ini?," Tanya Ardi dengan suara yang menggil penuh dengan takut. Kedua tangan dan kaki Ardi di ikat sehingga Ardi tidak bisa bergerak dengan bebas.


"Aku Arlon. Sebelum kau mati, kau harus mengingat nama ku terlebih dahulu hahahahahaha," Arnol tertawa dengan sangat puas di depan Ardi. Pun Ardi, mendengar perkataan Arlon, membuat nya semakin ketakutan.


"Tolong lepaskan aku!," Teriak Ardi yang berusaha melepaskan kedua tangan nya.


"Santai dulu. Jika kau ingin ku lepas, kau harus menghubungi Kevin terlebih dulu. Suruh ia menemui mu di sini," Titah Arlon dengan mendekat ketelinga Ardi.


Ardi menuruti permintaan Arlon. Ia mengirim pesan ke Kevin dan meminta nya untuk ke gedung kosong itu sendirian malam ini. Setelah beberapa menit pesan terkirim, Kevin menghubungi Ardi namun Arlon mematikan panggilan tersebut.


"Jangan menerima panggilan nya!," Ucap Arlon sembari mengambil benda pipih tersebut dan memasukan nya ke dalam saku jaket nya.


"Urus dia. Jangan sampai ia kabur dan lepas," Ingat Arlon pada dua anak buah nya.


"Kevin, aku akan menghancurkan dan membunuh mu secara perlahan." Arlon mengangkat satu sudut bibir nya ke atas dengan sinis dan dingin. Arlon keluar dari ruangan tersebut beberapa saat untuk mempersiapkan rencana nya. Sementara Ardi, di jaga dengan ketat oleh dua orang anak buah Arnol. Tidak lupa juga mereka bermain-main dengan Ardi untuk kesenangan nya dengan cara memukuli Ardi hingga berdarah.


"Kevin, tolong aku." Teriak Ardi.


"Hahahahaha. Penipu yang sangat lemah," Ucap salah satu anak buah Arlon. Kedua orang tersebut masih memukuli Ardi hingga puas. Mereka melakukan nya semata-mata hanya untuk sekedar kesenangan. Setelah meresa cukup puas, mereka membiarkan Ardi duduk di kursi dengan keadaan babak belur. Ardi sempat pingsan, namun salah satu di antara mereka menyiramkan Ardi dengan seember air dingin hingga membuat Ardi kembali tersadar. Ketahuilah ini pertama kali nya seorang penipu seperti Ardi di siksa sedemikan parah begini sampai tak sadarkan diri.