
Bersumpah
Pagi nya. Hana baru saja terbangun dari tidur nya. Sementara Alisa terlihat masih tertidur dengan pulas. Hana membiarkan keponakan kecil nya itu tertidur dan memilih untuk tidak membangunkan nya. Hana turun dari tempat tidur dan berjalan keluar dari kamar. Saat keluar dari kamar, Hana melihat di seisi ruangan keluarga untuk mencari suaminnya, namun Hana tidak menemukan siapapun di sana.
"Dia sudah pergi." Pikir Hana sembari berjalan ke arah kamar mandi yang bersebelahan dengan dapur.
Namun saat melewati dapur, terlihat seorang lelaki yang sedang memotong buah apel dan memasukan ke dalam piring. Lelaki tersebut tidak lain ialah Kevin.
"Kau sedang apa?," Tanya Hana sembari memperhatikan sayur dan potongan wartel yang berserakan di atas meja.
"Tidak ada. Aku akan membersihkan nya nanti," Jawab Kevin yang masi terlihat dengan santai nya memotong apel.
"Aku semalam meminta mu untuk pergi dari rumah. Tapi kenapa kau masih di sini?," Hana menatap lelaki itu dengan ketidaksukaan. Tidak peduli apa kebenaran nya, rasa nya Hana muak melihat wajah suami nya itu.
"Istri ku ada di sini, tentu saja aku sebagai suami juga harus berada di sini," Ucap Kevin sembari membawa potongan apel yang sudah di tata di dalam piring dan berjalan ke arah Hana.
"Sejak kapan kau menganggap aku sebagai istrimu?, bukankah aku ini hanya wanita pemuas nafsu mu saja!," Hana melangkah mundur menjauh dari suami nya. Hana menatap suami nya dengan kekesalan.
"Hana," Panggil Kevin yang melangkah secara perlahan mendekati wanita di hadapan nya.
"Jangan mendekat! aku muak melihat mu!," Ingat Hana. Mendengar perkataan Hana, membuatKevin harus memundurkan langkah nya.
"Hana, dengar aku. Kau harus percaya pada ku, aku berani bersumpah. Aku tidak membunuh paman mu," Ucap Kevin dengan serius.
"Atas dasar apa aku harus mempercayai mu?, kau kira aku sebodoh itu hah?," Teriak Hana dengan penuh kemarahan.
"Aku akan membuktikan sendiri pada mu. Tunggu, aku akan membuktikan dengan cara apapun. Tapi ingat, sebelum semua nya terbukti, aku mohon pada mu jangan pernah berniat untuk meninggal kan aku," Kevin berkata dengan suara serak nya. Sekali ini saja, Kevin ingin berkata jujur dengan istri nya. Percaya atau tidak, ketahui lah ini isi hati yang keluar sebenar nya.
"Berhenti bersandiwara. Kau cukup jadi seorang yang jahat saja, tapi jangan bersandiwara seolah kau takut kehilangan!," Balas Hana yang tidak percaya dengan lelaki di hadapan nya itu.
"Percaya atau tidak, aku tetap harus memberitahumu. Aku akan memaklumi itu. Sebab sangat wajar kau tidak mempercayai ku, karena aku tidak pernah menunjukan bagaimana aku takut kehilangan mu," Ucap Kevin sembari meletakan piring kembali ke atas meja dan kemudian melangkah pergi keluar dari dapur.
Ada pun Hana, hanya terdiam. Tanpa sadar kedua mata nya sudah berkaca-kaca. Bukan karena terharu dengan perkataan suami nya, melainkan ia teringat bagaimana paman nya terbaring berlumuran darah di depan Kevin. Mengingat hal itu membuat Hana sangat membenci suami nya sendiri. Walau kebenaran belum terbukti, tapi Hana cukup yakin jika suami nya itu lah yang membunuh paman nya.
Setelah Kecil menghilang di balik pintu, Hana pun melanjutkan berjalan memasuki kamar mandi. Untuk dapur yang terlanjur berantakan, terbiasa begitu saja.
* * * * *
Di tempat lain. Seorang lelaki berjalan dengan tergesa-gesa memasuki sebuah ruangan. Seseorang tersebut tidak lain ialah salah satu anak buah Arlon.
"Tuan, ada masalah dengan proyek yang kita kerja kan," Ucap seseorang tersebut menghadap Arlon.
"Ada apa?," Tanya Arlon dengan santai. Arlon duduk sembari memutar gelas berisi kopi di depan nya.
"Proyek tersebut telah di rebut oleh Kevin tuan. Kita harus bagaimana tuan?," Anak buah nya terlihat kepanikan dan gelisah, karena ia tau jika proyek itu sangat penting bagi tuan nya.
"Kita harus bagaimana tuan?," Tanya anak buah nya.
"Bunuh dia, tapi jika gagal membunuh Kevin, kalian bunuh saja istri nya," Perintah Arlon dengan senyuman miring nya. Ketahuilah ini senyum yang menggambar kan kemarahan yang membara dari dalam diri nya.
"Baik tuan. Akan kami laksanakan sesuai perintah," Anak buah Arlon menunduk menghormati tuan nya dan kemudian keluar dari ruangan.
Setelah anak buah nya keluar, Arlon pun mengambil gelas di atas meja dan melempar nya ke lantai hingga pecah dan berserakan.
"Kevin! kau memang harus mati!." Teriak Arlon.
Adapun di luar, saat mendengar suara yang keras dari ruangan tuan nya, semua anak buah yang berada di luar saat itu buru-buru masuk ke dalam ruangan untuk melihat tuan nya.
"Ada apa tuan?," Tanya salah satu anak buah nya yang baru saja masuk.
"Tidak apa-apa. Tolong bersih kan itu," Titah Arlon sembari mengambil handpone dan juga kemeja hitam nya.
"Baik tuan." Balas anak buah nya. Arlon pun akhirnya berjalan keluar dari ruangan.
* * * * *
Di tempat Hana, Kevin berjalan masuk ke kamar untuk menemui Hana yang mengurung diri dan menjauhinya. Mendengar suara ketukan yang berkali-kali dari Kevin, membuat Hana terpaksa harus membukakan pintu.
"Ada apa?," Tanya Hana dengan raut wajah dingin nya.
"Aku ingin mendengar detak jantung calon bayi kita. Aku ingin sekali mendengar nya," Jawab Kevin sembari mengatup pintu kamar.
"Paman, tolong menjauh lah dari kami!." Pinta Alisa yang terbangun dari tidur nya. Alisa menatap Kevin dengan kekecewaan. Alisa juga mengira jika Kevin itu orang jahat.
"Alisa, kau jangan begitu pada paman. Kalo bibi mu marah pada paman, kau harus berpihak ke paman," Ucap Kevin.
"Tidak. Paman orang jahat!." Tolak Alisa.
"Hana, aku ingin mendengar detak jantung calon bayi kita," Kevin berdiri di depan Hana. Hana memperhatikan raut wajah lelaki di hadapan nya itu memang terlihat begitu serius kali ini. Melihat hal itu membuat Hana membolehkan nya.
Hana pun akhirnya duduk di tepian sofa begitu saja. Melihat hal itu, Kevin pun akhirnya menunduk mendekatkan telinga nya di perut istrinya yang sudah mulai sedikit membuncit itu. Saat terdengar kehidupan di perut istrinya, tanpa sadar Kevin tersenyum dan melingkarkan tangan nya memeluk lembut tubuh istrinya. Hana yang di perlakukan begitu pun sangat terkejut dengan tingkah suami nya kali ini.
"Apa kau merasakan gerakan nya?," Tanya Kevin sembari menengadah melihat ke Hana.
"Hmm. Sudah. Pergi lah. Aku sudah mengizinkan mu mendengarnya. Sekarang keluar lah dari kamar!," Tegas Hana yang menjauhkan kepala suami nya dari perut nya.
"Aku ingin mendengar nya sedikit lama." Kevin kembali memeluk tubuh istrinya dan kembali menempelkan telinga nya ke perut Hana.