Bad Husband

Bad Husband
Aku Kuat



Aku Kuat


Sudah satu Minggu berlalu. Kevin masih belum juga tersadarkan diri dari kritis nya. Hana masih sangat berharap suami nya terbangun dan membuka kan kedua mata nya. Masa libur Hana juga sudah habis dan Hana sudah kembali berkerja. Di waktu luang dan istirahat, Hana memilih untuk menemani suami nya. Sebagai seorang istri dan sekaligus calon ibu, Hana harus berusaha menyeimbang kan diri nya sendiri untuk tetap sehat dan juga kuat walaupun kadang juga sering kelelahan karena harus berkerja di rumah sakit, dan juga harus menjaga suami nya. Itu lah rutinitas Hana setelah Kevin terluka.


Sama hal nya siang ini. Setelah masuk jam beristirahat, kini Hana langsung membawa makan siang nya yang ia bawa dari rumah untuk di makan di ruangan suami nya. Setelah makan, Hana tidak lupa untuk membersihkan tubuh suami nya dengan kain basah.


"Kapan kau akan sadar?, ayolah bangun," Gumam Hana sambil membersihkan wajah Kevin yang terlihat masih tertidur itu.


"Bangun ayo. Ini calon anak mu ingin mendengar suara bapak nya," Lanjut Hana sambil menahan tangis.


"Seharus nya aku senang melihat mu terbaring begini, tapi aku tidak bisa tenang. Ayo bangun, kau harus tanggung jawab dengan calon anak mu," Air mata Hana mengalir di kedua pipi. Hana mencoba untuk tidak menangis, namun ia selalu menangis.


Mengingat bekas peluru yang bersarang di dada Kevin cukup dalam, serta banyak lagi bekas peluru di bagian dada dan punggung, hal itu lah yang membuat keadaan Kevin cukup parah. Semua itu membuat Hana selalu menangis.


Di saat Hana masih menangis, Zero dan Alya yang ingin melihat bagaimana keadaan Kevin, malah ikut prihatin dengan teman nya itu. Alya berjalan mendekati Hana dan kemudian memeluk teman nya itu. Begitu pun Zero yang hanya menepuk bahu Hana untuk menenangkan Hana.


Melihat kedatangan kedua teman nya itu, Hana semakin menangis untuk melepaskan kesedihan nya. Hana membalas pelukan Alya dan menangis di bahu Alya. Alya pun ikut menangis karena tidak tega melihat teman nya itu.


"Sabar Hana. Ada aku dan Zero yang selalu ada untuk mu," Ucap Alya sambil memeluk erat teman nya itu.


"Alya, aku tidak tau harus bagaimana jika ia tidak bangun hiks...hiks...," Gumam Hana sambil menangis.


"Hana, kita berdoa saja supaya suami mu bangun. Aku yakin suami mu orang yang kuat, dia pasti akan bangun," Ucap Alya berusaha menyemangati Hana.


"Benar Hana. Jangan menangis begini," Zero melihat Hana dan mencoba untuk ikut menenangkan.


"Hiks.....hiks... dokter Qina memberitahu ku jika kemungkinan Kevin bangun sangat kecil," Hana kembali menangis semakin menjadi-jadi.


Dokter Qina ialah dokter senior di rumah sakit yang merawat Kevin. Setelah operasi kemarin, dokter Qina memang memberitahu Hana jika kemungkinan suami nya Kevin untuk bangun hanya beberapa persen karena luka akibat peluru cukup dalam masuk ke dalam dada nya.


"Kau harus yakin Hana. Suami mu pasti akan bangun," Ucap Alya.


"Benar Hana" Lanjut Zero.


"Jangan bersedih Hana. Ingat lah bahwa kami akan selalu ada untuk mu," Ingat Alya, Hana membalas dengan anggukan.


* * * * *


Di rumah. Alisa duduk di temani bi Ijah di dalam kamar. Karena sudah terbiasa ada yang menemani, membuat Alisa tidak nyaman jika hanya sendirian di dalam kamar. Untuk itu lah Alisa meminta bi Ijah untuk menemani nya sampai Hana pulang.


Menunggu Hana pulang, bi Ijah membacakan buku-buku dongeng yang di beli oleh Hana untuk keponakan nya itu sebagai pengantar tidur siang.


Baru setengah halaman saja, Alisa sudah tertidur dengan pulas. Melihat Alisa yang telah tertidur, bi Ijah menarik selimut dan menyelimuti nya. Bi Ijah tersenyum melihat wajah polos Alisa yang tertidur.


"Anak yang sopan sama seperti Hana." Ucap bi Ijah sambil tersenyum.


Dalam beberapa hari ini, bi Ijah menjaga Alisa di rumah, memang Alisa tidak merepotkan nya sama sekali. Alisa bahkan mandi dan ganti baju sendiri. Jika lapar, Alisa akan mengambil makanan nya sendiri di dapur dan makan bersama bi Ijah. Untuk anak yang masih berumur sangat muda begitu, biasa nya sangat rewel, namun berbeda dengan Alisa yang terlihat sangat dewasa.


Setelah menyelimuti Alisa, bi Ijah pun akhirnya turun dari tempat tidur dan keluar dari kamar untuk kembali melakukan perkerjaan nya. Namun setelah bi Ijah keluar dari kamar, Alisa kembali membuka mata nya. Ternyata sejak tadi Alisa tidak tidur. Alisa hanya berpura-pura tertidur saja. Alisa bangun dan duduk, kemudian mengambil buku gambar dan juga pensil warna untuk menggambar.


"Menunggu paman pulang dari rumah sakit, Alisa akan membuatkan gambar untuk paman sebagai hadiah." Ucap Alisa sambil tersenyum. Alisa mulai menggambar dan mewarnai nya.


Gambar yang ia tulis ialah sebuah rumah dan juga menggambarkan dirinya, Kevin, Hana, dan juga bi Ijah. Ia melukis semua itu hanya untuk memberikan nya pada Kevin. Tidak lupa, Alisa menggambarkan bayi yang di pangku oleh Hana.


"Ini sudah lengkap. Yeayyy, tidak sabar menunggu paman untuk kembali pulang," Alisa melihat hasil karya nya dengan sangat senang.


Setelah selesai melukis, Kini Alisa kembali menyimpan hasil gambar nya di bawah bantal dan kemudian ia kembali membaringkan tubuh nya untuk kembali tidur di siang itu. Walaupun sebenar nya Alisa sebenar nya tidak suka tidur siang, namun karena ini perintah bibi nya Hana, membuat Alisa tetap menuruti perintah bibi nya.


Hana memang meminta Alisa untuk tidur siang agar tidak terlalu mengganggu bi Ijah. Itu lah alasan Hana meminta Alisa untuk tidur siang.


Bi Ijah kembali ke kamar Alisa setelah semua perkerjaan nya selesai. Bi Ijah ikut tidur di samping Alisa menemani Alisa. Alisa yang merasakan bi Ijah pun, akhirnya memeluk binIjah sambil melanjutkan tidur siang nya.


"Anak yang baik dan cantik." Gumam bi Ijah sambil mencium kening Alisa. Entah mengapa bi Ijah sangat menyayangi Alisa. Bersama Alisa membuat bi Ijah sangat bahagia karena Alisa sangat sopan dan patuh padanya.


Di saat bi Ijah mulai ingin menjadikan mata, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar. Mendengar hal itu, bi Ijah pun turun dan membuka pintu. Saat pintu terbuka terlihat Prislo tuan nya yang berdiri di depan pintu.


"Ya tuan,"


"Ini saya pulang dari rumah sakit, bertemu orang jual buah di pinggir jalan. Buah rambutan dan salak. Makan lah untuk bibi dan Alisa," Ucap papa Prislo sambil mengulurkan dua plastik berisi buah. Bi Ijah mengambil nya dan berterima kasih.