Bad Husband

Bad Husband
Jangan Berbohong



Jangan Berbohong


Di pagi yang cerah. Dua orang lelaki terlihat sangat serius berbincang pagi ini. Kedua lelaki tersebut tidak lain ialah Kevin dan juga Elber. Kedua orang tersebut sedang membahas keadaan yang sangat serius mengenai satu perkerjaan penting. Elber menjelaskan panjang lebar pada tuan nya sekaligus teman nya itu.


"Kita harus bagaimana tuan?, kita tidak bisa menunda lagi. Proyek itu di ganggu oleh mafia dari meksiko," Jelas Elber. Elber menjelaskan mengenai sebuah proyek antar mafia yang berkerja sama dengan mereka. Proyek tersebut tiba-tiba bermasalah di saat Kevin masuk rumah sakit. Bos Mafia asal Meksiko tiba-tiba ingin merebut nya dari tangan Kevin.


"Tidak ada cara lain. Aku sendiri lah yang harus menyelesaikan nya dengan tuan Anho," Kevin menarik nafas nya sambil berpikir.


"Tapi bagaimana cara nya kau menyelesain kan nya tuan?, di lihat keadaan mu masih begini," Elbert memperhatikan tuan nya dari ujung kepala hingga ujung kaki yang masih beberapa bagian tubuh nya yang terpasang perban.


"Aku butuh bantuan mu kali ini," Ucap Kevin sambil turun dari tempat tidur. Sementara Elber yang mendengar pun hanya ternganga memperhatikan tuan nya. Elber masih kebingungan dengan maksud tuan nya yang mengatakan membutuhkan bantuan nya.


"Bantuan apa, tuan?," Tanya Elbert.


"Hana dalam keadaan hamil. Dokter Qina sempat mengatakan pada ku tadi, jika ibu hamil tidak boleh terlalu stres apa lagi lelah. Kedua itu bisa berdampak bahaya pada bayi terutama ibunya. Untuk itu aku butuh bantuan mu Elbert," Kevin meleoaskan baju nya dan memberikan nya pada Elbert.


"Jadi maksud mu apa tuan?, aku tidak mengerti," Tanya Elbert melihat ke arah tuan nya dengan kebingungan.


"Kenapa kau bodoh sekali. Kau gantikan aku di tempat tidur dan aku menyelesaikan masalahnya!," Ujar Kevin dengan melempar baju tidur tersebut pada Elbert.


"Tuan, kau jangan gila. Bagaimana aku bisa menggantikan mu. Tidak mungkin. Aku tidak bisa tuan," Tolak Elbert.


"Pakai baju ku sekarang. Cepat!," Desak Kevin sambil menarik hodie putih yang melekat pada tubuh Elbert.


"Tapi tuan," Elbert masih tidak yakin dengan ide tuan nya kali ini.


"Tidak ada tapi. Cepatlah. Aku tidak punya banyak waktu, Elbert." Ucap Kevin.Elbert pun akhirnya terpaksa harus menyetujui nya.


Mereka pun saling bertukar pakaian. Kevin memakai hodie dan juga celana Levis hitam milik Elbert serta tidak lupa memakai topi hitam. Sementara Elbert, memakai pakaian milik Kevin baju tidur biru polos dan juga celana pendek hitam.


Elbert menggantikan posisi Kevin berbaring di tempat tidur dan menempelkan selang infus di tangan nya. Sementara Kevin, telah bersiap untuk keluar rumah sakit.


"Apa kau yakin tuan?," Tanya Elbert dengan ragu.


"Yakin. Aku akan menyelesaikan dengan cepat." Jawab Kevin sambil keluar dari ruangan.


Setelah Kevin keluar, Elbert hanya berbaring dengan kekwatiran.


* * * * *


Siang adalah waktu istirahat makan siang bagi semua yang berkerja di rumah sakit. Namun di siang itu, Hana bermaksud untuk makan siang di ruangan tempat suami nya di rawat. Hana membawa sekotak nasi Padang untuk makan siang. Iya entah mengapa siang ini Hana tiba-tiba terasa ingin makan nasi Padang. Karena merasa sangat ingin, membuat Hana membelinya sendiri keluar.


Hana juga membawa satu buah infus untuk Kevin karena Hana menerka jika infus suami nya akan habis siang ini.


Hana dengan senang berjalan menaiki lift untuk menuju ruangan VIP rumah sakit untuk melihat suami nya.


* * * * *


Mendengar hal itu membuat Kevin dan Elbert sangat panik. Bagaimana tidak?, sekarang ini kedua nya masih sibuk membuka kancing celana Levis yang dipakai oleh Kevin. Kevin kesusahan membuka nya karena bagian pinggang celana menyentuh bagian luka di perut Kevin dan membuat luka tersebut kembali mengeluarkan darah. Melihat hal itu membuat Elbert panik ia tidak tau harus bagaimana.


"Ayo cepat Elbert." Desak Kevin sambil mengangkat tangan kanan nya ke atas karena luka di bagian bahunya juga berdarah akibat di gerakan terlalu keras.


"Tidak bisa tuan. Luka nya semakin berdarah."Ucap Elbert.


"Nona Hana sudah mau masuk tuan." Ucap salah satu anak buah Kevin di luar pintu. Mendengar hal itu membuat Kevin dan Elbert kebingungan. Karena bingung, membuat Elbert melompat ke tempat tidur, sementara Kevin malah duduk di atas kursi sambil menurunkan topi hitam nya menutupi wajah nya.


"Aku tidak akan menolong mu lagi tuan." Busik Elbert sambil menutupi seluruh tubuhnya.


Hana membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan. Hana berjalan masuk dengan kebingungan memperhatikan seorang lelaki yang duduk. Di lihat dari postur tubuhnya, Hana sudah mengetahui jika lelaki yang sedang duduk itu adalah suami nya.


"Siapa yang berada di dalam selimut?," Tanya Hana sambil berdiri memperhatikan kedua orang tersebut.


"Tuan Kevin," Jawab Kevin sambil memegang topi nya.


"Aah. Benarkah?, Kevin, tolong buka selimutnya," Titah Hana sambil menarik selimut.


"Jangan nona. Tuan Kevin ingin beristirahat," Kevin memegang tangan Hana untuk menahan Hana agar tidak membuka selimut.


"Oo begitu. Baiklah. Kalo begitu aku keluar saja." Ucap Hana sambil meletakan nasi Padang di atas lemari kecil dan kemudian keluar dari ruangan.


"Baik nona. Saya akan menjaga tuan Kevin di sini." Ujar Kevin sambil menunduk dan berusaha menutupi wajahnya. Hana pun hanya mengangguk mengiyakan. Hana berjalan keluar dari ruangan dan menutup kembali pintunya. Di saat Hana keluar, Elbert pun membuka selimut dan buru-buru turun dari tempat tidur. Begitu pun Elbert yang juga buru-buru membuka topi dan naik ke atas tempat tidur. Elbert kembali membatu Kevin untuk membuka celana Levis tersebut, namun tiba-tiba pintu kembali terbuka. Benar saja, seseorang tersebut adalah Hana.


Hana berjalan ke arah Kevin dan Elbert. Hana melihat kedua orang tersebut yang melihat ke arah nya dengan terkejut.


"Kenapa tuan Kevin malah berpindah lagi?," Tanya Hana sambil menatap kesal suami nya.


"Aku tidak salah apa-apa. Tuan lah yang meminta tolong nona," Ucap Elbert pasrah. Elbert kelelahan karena tidak bisa lagi berbohong.


"Elbert, kau jangan menyudutkan aku." Gumam Kevin.


"Kau! sudah aku katakan kau belum sembuh. Apa tuli!," Cetus Hana sambil berjalan ke arah suami nya.


"Kau tidak perlu meneriaki ku." Ucap Kevin sambil menggosok telinga kanan nya.


"Nona, tangan dan perut tuan Kevin kembali berdarah." Ujar Elbert sambil mengambil topi hitam nya dan kemudian berlari keluar dari ruangan meninggalkan tuan nya bersama Hana.


"Elbert! kau mau kemana?, awas kau!." Panggil Kevin sambil melihat ke punggung Elbert yang berlari secepat kilat keluar dari ruangan