
Bagaimana Mungkin
Siang ini, Hana baru saja mendapat sebuah pesan dari seseorang. Pesan tersebut berisikan mengenai kematian paman nya. Seseorang yang mengirim pesan itu mengatakan pada Hana bahwa paman nya mengatakan suatu rahasia yang perlu ia sampaikan pada Hana. Seseorang itu mengatakan pada Hana jika ia adalah teman dekat paman nya semasa hidup. Mendengar hal itu, membuat Hana mempercayai orang tersebut walaupun sebenarnya ada keraguan pada diri nya. Namun karena ini mengenai almarhum paman nya, Hana pun tetap memutuskan untuk menemui seseorang tersebut.
Seseorang tersebut mengirimkan alamat pada Hana dan meminta Hana untuk datang sendiri ke sana. Mendengar hal itu Hana pun mengiyakan.
Sangat kebetulan siang itu, Kevin sedang tidak di rumah. Hana memutus kan menitipkan Alisa sebentar di rumah tetangga yang bersebelahan dengan rumah paman nya. Setelah menitip kan Alisa, Hana buru-buru masuk ke dalam taksi untuk menuju alamat yang di kirim kan oleh seseorang itu.
Butuh waktu dua jam lama nya, sampai lah Hana di alamat yang di tuju. Hana turun dari taksi sembari memandangi sekeliling nya. Ternyata alamat yang di kirim kan oleh seseorang itu ialah di rumah kosong yang masuk ke dalam hutan namun agak sedikit dekat dengan pedesaan warga. Melihat bagaimana keadaan saat sampai, membuat Hana menjadi sedikit ketakutan tapi Hana tetap ingin bertemu dengan seseorang tersebut.
"Pak, tunggu saya sebentar di sini ya," Pinta Hana sembari memberikan beberapa lembar uang seratus ribuan pada sopir taksi.
"Baik mbak. Tapi jangan terlalu lama ya." Balas pak taksi dan diiyakan oleh Hana.
Hana berjalan mendekati rumah kosong tersebut dan berdiri tepat di halaman rumah itu. Tidak butuh waktu lama, seseorang memanggil Hana untuk masuk ke dalam rumah itu.
"Nona, kemarilah. Masuk saja. Tidak apa-apa." Ucap seseorang tersebut. Di lihat dari nada bicara nya, membuat Hana percaya jika orang tersebut tidak seperti apa yang ia pikirkan. Hana berjalan masuk ke dalam rumah itu mengikuti orang yang memanggil nya. Seorang lelaki yang berumur sekitar 30an itu tersenyum ke arah Hana.
"Apa hubungan mu dengan paman ku?," Tanya Hana saat sampai di dalam ruangan. Ruangan di mana terlihat berantakan sekali.
"Iya benar, nona," Jawab seseorang tersebut dengan santai.
"Apa yang di katakan paman ku sebelum ia meninggal?," Tanya Hana dengan serius.
"Paman mu?, hahahaahah," Lelaki tersebut tertawa di depan Hana. Melihat hal itu membuat Hana menjadi mulai curiga.
"Kenapa kau tertawa?, apa kau menipu ku?," Tanya Hana sembari memundurkan langkah nya kebelakang. Hana mulai melihat lelaki dinhafapan nya itu dengan penuh kewaspadaan.
"Paman mu mengatakan jika ia ingin kau ikut dengan nya. Hahahaahahha," Seorang lelaki tersebut berjalan mendekat ke arah Hana sembari mengeluarkan sebilah pisau.
"Kau menipu ku!, kau berani berbohong atas kematian paman ku hah!," Teriak Hana dengan kemarahan namun masih di selingi ketakutan melihat lelaki di depan nya sekarang ini.
* * * * *
Sementara di tempat lain. Kevin baru saja kembali ke rumah yang di tempat Hana atau rumah almarhum paman Hana. Sesampai nya di sana, ia melihat jika pintu rumah terkunci. Melihat hal itu membuat Kevin buru-buru menghubungi Hana namun Hana tidak mengangkat nya. Di saat Kevin masih mondar-mandir di depan rumah, Tidak sengaja ia bertemu tetangga yang kebetulan sedang melewati depan rumah bersama Alisa. Tetangga tersebut menghampiri Kevin, dan di ikuti Alisa juga.
"Hana sedang tidak di rumah, ayo mampir kerumah saya saja dulu. Menunggu Hana pulang," Ucap seorang tetangga wanita paruh baya tersebut.
"Jangan nek. Paman ini jahat," Alisa menatap Kevin dengan sinis. Mendengar hal itu membuat wanita paruh baya terdiam dan memaklumi Alisa. Ada pun Kevin, ia tidak terlalu menghiraukan perkataan gadis kecil tersebut, yang ia perlu kan hanya dimana istri nya.
"Hana kemana?," Tanya Kevin.
"Hana berkata jika ia mendapatkan sebuah pesan orang yang mengaku teman dekat Ardi paman nya. Hana di minta bertemu dengan orang tersebut," Jelas wanita paruh baya tersebut. Kevin yang mendengar pun mulai gelisah namun ia mencoba untuk tetap terlihat tenang.
"Dia bertemu di mana?," Tanya Kevin.
"Untuk itu saya kurang tau. Hana cuma berkata jika ia akan bertemu seseorang. Seseorang tersebut ingin mengatakan sesuatu hal penting mengenai kematian paman nya," Jelas wanita paruh baya dengan serius. Mendengar hal itu membuat Kevin buru-buru mengambil handpone nya di dalam saku celana nya. Beberapa hari kemarin, Kevin sempat memasang alat pelacak di handpone Hana. Kevin mengecek lokasi di mana Hana saat ini. Terlihat di sana Ponsel Hana berada di sebuah rumah yang agak sedikit jauh dari desa.
Melihat hal itu, membuat Kevin buru-buru masuk ke dalam mobil dan keluar dari halaman rumah. Sementara wanita paruh baya dan Alisa hanya memperhatikan kepanikan seorang Kevin yang pergi begitu saja tanpa sepatah kata.
Kevin mengemudi dengan kecepatan sedang penuh untuk menuju lokasi keberadaan istri nya. Tidak butuh waktu lama, Kevin pun sampai di lokasi tersebut. Saat turun ia melihat sebuah taksi. Kevin pun menghampiri taksi tersebut dan sopir taksi tersebut turun dari mobil.
"Pak, anda sedang menunggu siapa di sini?," Tanya Kevin.
"Saya menunggu seorang wanita yang masuk ke dalam rumah itu. Dia meminta saya menunggu di sini. Tapi sudah agak lama, saya juga tidak tau kenapa wanita itu sangat lama," Ucap sopir taksi tersebut.
Mendengar perkataan sopir taksi, membuat Kevin semakin gelisah. Kevin buru-buru masuk ke dalam rumah kosong tersebut sembari membawa pistol di tangan nya.
Kevin membuat pintu rumah kosong tersebut dengan waspada. Sesampai nya di dalam, ia melihat Hana yang sudah terikat di salah satu tiang di rumah itu. Melihat Kevin, membuat Hana menggelengkan kepala meminta Kevin untuk tidak mendekat ke arah nya namun Kevin tidak memperdulikan nya. Ia tetap mendekati Hana dan menolong istri nya.