
Tak Sadar
Polisi berhasil menangkap Arlon dan semua anak buah nya. Semua anak buah Arlon di penjara, sementara Arlon di bawa ke rumah sakit karena koma dan tidak sadar kan diri. Sementara Kevin juga di bawa ke rumah sakit karena juga tidak sadar kan diri. Pun Elbert, hanya terluka di bagian kaki namun tidak terlalu parah.
Saat ini, Hana bersama papa Prislo sedang duduk melihat Kevin yang terpasang beberapa kabel dan juga incus serta alat medis lain nya yang melekat di tubuh nya. Hana dan papa Prislo sangat menunggu Kevin untu bangun. Sementara mama Gaty, ia berada di ruangan lain rumah sakit untuk menjaga putra nya Arlon yang juga sedang kritis. papa Prislo dan maam Gaty sangat menunggu kabar baik dari anak mereka. Begitu pun Hana yang juga menunggu kabar baik suami nya. Hana sangat berharap kesembuhan suami nya.
Saat ini, Hana duduk sembari memegang tangan suami nya. Hana mencium tangan Kevin sembari menitikan air mata. Papa Prislo yang melihat pun hanya bisa menenang kan Hana dengan cara mengelus punggung Hana meminta Hana untuk tetap kuat.
"Hana, tenang lah. Kita serah kan semua pada yang maha kuasa," Ucap papa Prislo.
"Pa, Dulu Hana sangat membenci lelaki ini. Tapi Hana ingin tetap bersama nya pa hiks...hiks...," Ucap Hana sembari menangis dengan tersedu-sedu.
"Iya Hana. Papa sangat mengerti perasaan mu. Papa juga tidak mau kehilangan Kevin. Tapi Hana, kita tetap harus menerima semua takdir. Kita doakan saja supaya Kevin bisa bangun dari koma nya," Tutur papa Prislo. Hana yang mendengar pun kembali menangis.
"Ini semua salah papa. Jika saja papa tidak melakukan kesalahan, mungkin semua ini tidak akan terjadi." Papa Prislo menarik nafas nya dengan dalam kemudian mengembuskan nya keluar.
Papa Prislo teringat kesalahan nya di masa lalu dan menceritakan semua pada Hana. Masa di saat ibu Kevin meninggal. Papa Prislo saat itu merasa sangat terpuruk hingga ia mabuk dan membawa mama Gaty pulang kerumah dan tidur di kamar nya. Waktu itu Kevin masih kecil. Itu lah awal nya Kevin sangat membenci papa Prislo hingga sekarang. Hana yang mendengar pun semakin menangis. Hana sangat merasa kasihan pada suami nya.
"Hiks...hiks.. Pa, ternyata selama ini Kevin sudah menyimpan begitu banyak luka sejak dulu. Hana juga malah ikut membuat luka pada nya. Maaf kan aku," Gumam Hana di Sertai tangis. Hana merasa sangat menyesal karena pernah menipu Kevin di masa lalu. Hana juga sangat merasa bersalah karena diri nya lah Kevin menjadi terbaring di rumah sakit.
"Ini semua salah ku. Seharusnya aku tidak mempercayai orang itu. Hiks...hiks....," Hana mencium tangan Kevin. Hana sangat menyesali perbuatan nya.
"Sudah Hana. Semua ini sudah menjadi takdir. Jangan menangis, Pikirkan bayi di perut mu," Ucap papa Prislo. Hana yang mendengar pun hanya mengangguk sembari menepis air mata nya yang tetap mengalir dengan deras nya.
Papa Prislo keluar dari ruangan dan duduk di kursi tunggu rumah sakit untuk menenangkan dirinya. Sementara Hana, masih setia duduk menemani suami nya yang terlihat seolah tertidur.
* * * * *
Sudah dua harian berlalu, Kevin masih juga belum sadar kan diri. Selama dua harian ini, Hana masih setia menemani suami nya di dalam ruangan. Bahkan Hana tidak pulang sekali pun. Hana hanya menghubungi bi Ijah dan meminta bi Ijah menjemput Alisa dan menjaga Alisa sementara di di rumah menunggu nya pulang ketika Kevin tersadar.
Saat ini, Hana sedang duduk di temani oleh Zero dan juga Alya yang kebetulan sedang beristirahat siang itu. Alya dan Zero ikut prihatin dengan kejadian yang menimpa teman nya itu. Zero sekaligus ikut kecewa karena baru mengetahui jika wanita yang ia sukai sejak lama itu ternyata sudah menikah. Begitu pu Alya.
"Hana, sejak kapan kau menikah?," Tanya Alya setelah mengetahu jika teman nya itu mengaku jika yang terbaring itu ialah suami nya.
"Seharusnya kau tetap harus mengundang kami, Hana," Ucap Alya.
"Maaf." Balas Hana.
"Lihat lah Elbert di sebelah Alya. Elbert juga terluka," Ucap Hana. Alya yang mendengar pun sangat terkejut.
"Elbert?, di mana?," Tanya Alya sambil berdiri dari duduk nya. Hana memang sudah lama mengetahui jika Alya dan Elbert memiliki hubungan. Walau hubungan tanpa status.
"Elbert luka di bagian kaki. Cepat lihat lah sendiri." Jawab Hana. Alya pun pergi keluar dari ruangan untuk masuk ke ruangan Elbert.
Sementara Zero. Setelah Alya keluar, Zero duduk sambil melihat ke arah Hana. Dari kedua mata nya terlihat jelas bagaimana kekecewaan seorang Zero pada Hana. Zero sangat tidak menyangka jika Hana menikah dengan orang lain.
"Kenapa kau bisa sampai menikah dengan suami mu ini Hana?," Tanya Zero yang berusaha untuk tetap terlihat baik-baik saja walau sebenar nya sedetik pun ia tidak baik-baik saja.
"Pertanyaan semacam itu Zero hmm," Balas Hana sambil melepaskan tangan Kevin. Kini Hana mengalihkan pandangan nya melihat ke arah Zero.
"Maksud ku, apa kau menikah karena kemauan mu sendiri atau karena dijodohkan?," Tanya Zero. Zero masih sangat penasaran dengan kabar pernikahan Hana wanita yang ia sukai itu.
"Cerita nya sangat panjang. Tidak bisa aku ceritakan pada mu Zero," Balas Hana sambil menghela nafas nya.
"Hmmm. Baiklah jika kau tidak ingin memberitahu ku. Maaf jika pertanyaan ku membuat mu kesusahan untuk menjawabnya. Aku hanya terkejut karena baru mengetahui jika kau sudah menikah," Ucap Zero sambil tersenyum simpul. Ketahui lah jika senyum ini hanya terpaksa agar dirinya tidak terlihat terlalu menyedihkan di depan Hana.
"Tidak apa-apa Zero. Aku yang salah karena tidak memberitahu kau dan Alya," Balas Hana.
"Hmmm, ya sudah. Seperti nya jam istirahat ku sudah habis. Aku harus kembali," Ucap Zero sambil melihat ke arah jam yang melingkar di tangan nya.
"Baik lah. Hmm, aku dua hari ini mengambil cuti. Karena suami ku tidak ada yang mengurus dan menjaga nya. Mengingat kondisi nya saat ini, aku tidak bisa berkonsentrasi dalam merawat pasien lain," Tutur Hana sambil memandangi wajah Kevin suami nya yang masih belum tersadar kan diri.
Mendengar perkataan Hana, membuat perasaan Zero sangat terluka. Namun Zero tetap bersikap tenang dan seolah biasa saja.
"Tidak apa-apa Hana. Aku kembali berkerja dulu. Kau juga ingat untuk makan dengan baik. Jangan lupa merawat diri mu sendiri juga." Ingat Zero. Hana yang mendengar pun hanya mengangguk mengiyakan.