
Pesan
Mengenang kematian bos mafia di masa lalu. Ayah Yuna sebelum meninggal dulunya, pernah berpesan pada Kevin. Ia meminta Kevin untuk menjaga putrinya ketika ia telah tiada. Pesan yang ia sampaikan waktu itu di dengar langsung oleh Kevin dan Yuna sekaligus semua anak buah mafia.
Hari-hari berlalu, Kevin selalu bersama Yuna. Begitupun Yuna yang selalu mengekori Kevin kemana pun. Bahkan sebenarnya sebelum ayah Yuna meninggal pun, Yuna memang selalu mengekori Kevin kemana pun dulu nya.
Namun setelah beberapa tahun kematian ayah Yuna, Yuna di bawa oleh ibu nya ke Meksiko dan mereka tinggal di sana. Yuna dan ibu nya melanjutkan hidup di Meksiko dengan bisnis besar almarhum ayah nya yang di wariskan pada Yuna dan ibunya.
Waktu beberapa tahun dulunya di saat Kevin awal masuk ke perkerjaan mafia, waktu itu Kevin baru saja di tipu oleh Hana dan Hana meninggalkan nya waktu itu. Di saat itu lah Kevin mengenal gadis cantik bernama Yuna yang saat itu selalu berada di markas bersama ayah nya.
"Alhamarhum papa pasti senang karena aku kembali ke Indonesia untuk bersama mu Kevin," Ucap Yuna sambil tersenyum ke arah Kevin.
"Yuna, sebenarnya ada yang ingin aku beritahu pada mu," Kevin mangambul bantal dan meletakan nya di belakang.
"Katakan saja. Apa?," Tanya Yuna.
"Aku sudah menikah," Ucap Kevin. Yuna yang mendengar pun terdiam beberapa saat dan kemudian tertawa.
"Hahahaahahah. Kevin, baru kali ini aku melihatmu bisa bercanda selucu itu," Yuna tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangan.
"Aku tidak bercanda. Aku memang sudah menikah," Ucap Kevin menyakin kan. Yuna pun kembali terdiam.
"Kau tidak bercanda?," Tanya Yuna dengan wajah yang terlihat sangat kecewa.
"Mmm. Aku tidak bercanda. Aku memang benar sudah menikah. Dokter yang siang tadi itu istri ku," Jawab Kevin.
"Bagaimana kau setega itu?, apa kau lupa dengan pesan papa ku dulu hah!," Yuna berkata dengan kedua mata yang sudah memerah.
"Aku tidak lupa pesan ayah mu. Aku selalu mengingat pesan itu," Balas Kevin sambil memindahkan satu tangan nya ke lutut.
"Jika kau tidak lupa, kenapa kau menikah dengan wanita lain?," Tanya Yuna yang terdengar tenang namun cukup tajam.
"Apa maksud mu Yuna?, papa mu hanya meminta aku menjaga mu saja. Bukan berarti aku harus menikahi mu," Jawab Kevin sambil melihat ke arah Yuna. Mendengar perkataan Kevin membuat Yuna sangat marah dan kecewa. Sia-sia perjuangan nya ke Indonesia hanya untuk tau berita jika Kevin telah memiliki istri.
"Kau jahat Kevin! kau benar-benar jahat!," Yuna berdiri dari kursi kemudian mengambil semua barang yang ada di atas lemari dan melemparnya ke lantai.
"Yuna!, tenanglah. Aku bisa marah pada mu jika kau tidak tenang begini!," Tegas Kevin sambil melihat ke arah wanita yang sedang berdiri di sampingnya saat ini.
"Tenang?, bagaimana caranya aku bisa tenang di saat lelaki yang paling aku cintai menikah dengan wanita lain hah?, katakan aku harus tenang bagaimana?," Teriak Yuna dengan murka.
Seisi ruangan menjadi berantakan akibat ulah Yuna yang melempar semua barang yang ada. Yuna berteriak dengan penuh amarah. Untungnya teriakan nya tidak sampai terdengar hingga keluar, karena ruangan yang di tempati oleh Kevin merupakan ruangan VIP rumah sakit yang kedap suara.
Kevin membiarkan Yuna berteriak dan kesal semaunya saja. Dari dulu Kevin memang sangat paham bagaimana sifat seorang Yuna. Karena hal itu lah, yang membuat Kevin sengaja membiarkan Yuna melepaskan rasa amarah dan kecewanya agar Yuna jauh lebih tenang nanti nya.
Benar saja, setelah beberapa lama berteriak dan marah, Yuna pun akhirnya berhenti dan keluar bsgitu saja dari dalam ruangan meninggal kan Kevin sendirian di dalam sana.
* * * * *
Di malam hari nya, Hana kembali masuk ke dalam ruangan untuk melihat keadaan suami nya. Walaupun sebenarnya ia masih kesal dan marah, namun Hana tidak bisa menutupi hati nurani nya.
Saat masuk, terlihat ruangan tersebut yang sangat berantakan dan barang-barang yang berserakan. Buah-buah yang tadi nya tertata rapi di atas meja, kini malah sudah berada di lantai semuanya.
"Kevin, kenapa seberantakan ini?," Tanya Hana sambil melihat di sekeliling ruangan.
"Kau kemana saja seharian ini?, malah sekarang kau datang," Ucap Kevin sambil memegang koran dan membaca nya.
"Aku sedang bertanya pada mu ini kenapa seberantakan ini?," Tanya Hana sambil berjongkok dan memungut buah yang berada di lantai.
"Ada masalah tadinya. Kau ribut sekali. Apa susah nya di bersihkan saja jangan banyak tanya," Balas Kevin sambil melipatkan koran dan meletakan Kiran tersebut di sebelahnya. Hana yang mendengar pun hanya terdiam sambil menggerutu di dalam hati nya.
"Jika mudah, kenapa tidak kau bersihkan." Gerutu Hana di dalam hati nya. Ia benar-benar kesal namun berusaha untuk bersabar kali ini.
"Aku bertanya kau kemana saja seharian ini?," Tanya Kevin lagi sambil memangku kedua tangan nya.
"Kenapa?, bukankah kau sendiri yang mengatakan agar aku tidak perlu kembali ke ruangan ini. Lagi pula seharian ini ada wanita cantik yang menemani mu!," Ucap Hana sambil mengambil sapu dan menyapu pecahan piring di tepian meja. Kevin yang mendengar pun kemudian mulai mengalihkan pembicaraan.
"Kemarilah sebentar," Kevin menarik tangan Hana dan meminta Hana untuk duduk di samping nya.
"Apa?," Tanya Hana sambil kembali berdiri.
"Apa kau makan dengan baik selama di rumah sakit?, kenapa wajah mu semakin kurus?," Tanya Kevin sambil memandangi wajah Hana.
"Aku lapar ya makan. Jangan seolah memperdulikan aku," Balas Hana sambil kembali memegang sapu dan melanjutkan membersihkan pecahan piring.
"Kau jangan sekasar itu pada ku. Apa kau lupa aku terluka begini karena ulah siapa hmm," Ucap Kevin sambil melirik ke arah Hana. Hana yang mendengar pun kemudian terdiam.
"Kapan aku bisa pulang?," Tanya Kevin.
"Pulang apa nya?, keadaan mu masih belum sembuh." Balas Hana.
"Aku sudah sembuh. Hanya perlu beristirahat di rumah saja," Jawab Kevin.
"Sembuh atau tidak, dokter lah yang lebih tau dari pada mu," Balas Hana.
"Kenapa kau menjadi galak sekali begini?, apa kau ingin sodor pistol di kepala mu?," Kevin menatap aneh dengan istrinya itu yang menurut nya cukup bertingkah dan mengesalkan.
"Coba saja. Karena keadaan mu masih sakit begini, aku sebenarnya bisa saja lari dan meninggalkan mu!." Cetus Hana.
"Kenapa?, kau ingin meninggalkan aku untuk kedua kali nya?," Tanya Kevin. Pertanyaan Kevin kali ini membuat Hana dan berkutik.