Bad Husband

Bad Husband
Egois



Egois


Di malam hari. Di saat Hana berniat untuk pulang malam itu, tiba-tiba dokter Qina memanggil Hana dan memberitahu Hana jika Kevin telah berhasil melewati masa kritisnya. Kevin telah terbangun dan membuka kedua mata nya. Mendengar hal itu, membuat Hana berlari menaiki lift menuju ruang ICU untuk melihat suami nya.


Selang beberapa menit saja, Hana sudah berada di depan ruang ICU dan masuk ke dalam untuk menemui suami nya. Di saat pintu terbuka, Terlihat Kevin yang telah duduk sambil menyandarkan punggung nya di atas bantal yang di tata dengan cukup tinggi sebagai penahan tubuh nya.


Dengan perasaan yang penuh haru dan kaku, Hana berjalan mendekati Kevin dan duduk di samping suami nya. Kevin yang melihat kedatangan Hana pun hanya terdiam sambil menatap Hana yang telah duduk di samping nya.


"Kau tidak apa-apa?," Tanya Hana sambil memperhatikan suami nya tersebut dengan pandangan yang mulai berkaca-kaca.


"Tidak apa-apa. Kenapa?, kau kecewa jika aku tidak mati saja mmm?," Tanya Kevin sambil menggerakkan satu tangan nya dengan gerakan pelan.


"Kau bicara apa. Coba ku periksa dulu," Hana berdiri dan mulai memeriksa suaminya di bagian-bagian yang terluka.


"Apa luka-luka nya masih sakit?," Tanya Hana.


"Tentu saja. Nama nya juga luka," Keluh Kevin sambil menghel nafas nya. Hana yang mendengar pun kembali duduk.


"Kau menghawatir kan aku?," Tanya Kevin.


"Aku tidak mengkawatir kan diri mu. Aku mengkawatirkan diri ku sendiri. Jika kau mati, bagaimana aku harus mengurus bayi sendiri!" Cetus Hana sambil menatap suami nya dengan kesal.


"Egois," Balas Kevin sambil menyelipkan anak rambut Hana di telinga.


"Tentu saja. Aku tidak mau jika masih muda begini harus jadi janda," Ucap Hana sambil menepis air mata nya yang sudah terjatuh membanjiri kedua pipi nya.


"Ku kira kau akan senang jika aku mati," Sindir Kevin.


"Pembicaraan macam apa begitu." Gumam Hana.


"Baby, lihat ibu mu. Mudah sekali menangis," Kevin mengelus perut Hana.


"Berhenti mengataiku!," Kesal Hana. Entah mengapa Hana sudah sangat sering berbicara semau nya pada suami yang dingin nya itu.


"Aku hanya bercanda. Aku senang karena masih ada orang yang menghawatir kan aku," Ucap Kevin sambil sedikit tersenyum.


"Jangan berpikir tidak ada yang peduli pada mu. Semua orang di rumah mengkawatir kan mu. Walaupun kau manusia kejam sekali pun," Ujar Hana.


"Ku lihat-lihat kau sekarang sudah sangat berani pada ku, kau terlihat tidak punya rasa takut sedikit pun mmm," Kevin memegang wajah Hana dengan kedua tangan nya dan memandangi wajah istrinya dalam jarak yang begitu dekat.


"Tentu saja. Di lihat keadaan mu begini, kau tidak akan mampu menyakiti ku," Hana melepaskan kedua tangan Kevin dari wajah nya dan menjauh memberi sedikit jarak pada suami nya.


"Kau!," Kevin merasa sedikit kesal pada istrinya tersebut sekaligus merasa gemas. Entah mengapa Hana menjadi selucu ini sekarang.


"Sudah istirahatlah. Aku akan mengambil makanan dan buah segar untuk mu," Hana beranjak berdiri namun Kevin meraih tangan nya untuk menahan nya.


"Di luar. Aku keluar untuk membeli," Jawab Hana.


"Tidak perlu. Aku akan meminta bawahan ku untuk membeli nya. Kembali duduk," Titah Kevin.


"Siapa yang akan kau suruh?, Elbert?, Elbert juga terluka," Jelas Hana.


"Aku punya banyak bawahan. Tidak hanya Elbert," Kevin mengambil ponsel milik Hana di atas meja dan menghubungi salah satu bawahan nya untuk membeli buah dan makanan untuk di antar ke rumah sakit.


Tidak butuh waktu terlalu lama, semua rekan dan bawahan nya masuk rumah sakit untuk melihat tuan nya itu dengan membawa buah dan makanan. Melihat hal itu membuat Hana hanya bisa ternganga melihat banyak orang tersebut yang hormat dengan menundukan wajah nya di depan tuan nya.


"Letakan di sini," Perintah Kevin sambil menunjuk di lemari tempat penyimpanan makanan.


"Baik tuan." Salah satu di antara mereka meletakan buah dan makanan menatap nya di dalam lemari.


"Bagaimana kabar mu tuan?, apa keadaan mu sudah baik-baik saja?" Tanya salah satu anak buah nya.


"Tidak terlalu buruk namun juga tidak terlalu baik," Jawab Kevin sambil melihat luka yang telah di tutupi perban di bagian luka nya.


"Kalian kembali lah ke markas. Kerjakan kerja sama proyek. Jangan hiraukan aku di sini karena aku sudah baik-baik saja," Titah Kevin dan diiyakan oleh semua anak buah nya.


Semua anak buah nya pun menunduk memberi hormat dan kemudian pergi dari ruangan meninggal kan tuan nya.


* * * * *


Setelah semua anak buah Kevin pergi, kini hanya tinggal Kevin dan Hana yang berada di dalam ruangan. Hana mengambil sekotak bubur di lemari dan kemudian menyuapi suami nya.


"Kau tidak perlu menyuapi ku. Aku bisa sendiri," Tolak Kevin sambil mengambil alih sendok di tangan Hana. Hana melepaskan sendok begitu saja dan membiarkan suami. Namun baru Kevin ingin menyuapi sesendok makanan ke dalam mulut nya, tiba-tiba sendok itu terjatuh karena tangan nya masih tidak bisa terlalu di gerakan akibat luka di bahu nya dan juga luka di dada nya.


"Lihat, keras kepala." Hana menghela nafas nya sambil mengambil sendok yang jatuh kemudian mengambil alih bubur dan mulai menyuapi suami nya.


"Makan lah. Aku akan menyuapi mu," Hana menyodorkan sesendok bubur ke mulut Kevin. Tanpa menunggu lama, Kevin langsung saja membuka mulut dan menelan bubur tersebut.


Hana menyuapi bubur hingga habis dan tidak tersisa lagi. Setelah habis, Hana kemudian mengambil buah melon dan memotong nya. Ia kemudian juga menyuapi potongan-potongan Kecil melon ke dalam mulut suami nya dengan menggunakan garpu. Kevin pun hanya terdiam sambil membiarkan istri nya menyuapi nya. Walau sebenarnya ia sudah sangat kekenyangan karena bubur, namun tetap menerima buah melon yang di berikan Hana.


Di saat Kevin masih memakan buah melon, papa Prislo datang masuk ke ruangan untuk melihat putra nya. Namun, saat melihat papa Prislo, Kevin memalingkan wajah nya dengan dingin. Menyadari hal itu, membuat Hana melihat ke arah papa Prislo.


"Siapa yang menyuruh dis datang?, suruh ia pergi dari ruangan ini," Ucap Kevin dengan sarkas. Papa Prislo yang mendengar pun hanya terdiam menahan sedih.


"Kevin!, itu ayah mu. Bagaimana pun juga dia ayah mu. Jangan bicara sekadar itu," Ujar Hana mencoba menyadarkan suami nya yang sangat keras kepala itu.


"Tidak apa-apa Hana. Papa akan keluar." Papa Prislo keluar dari ruangan. Melihat hal itu membuat Hana merasa sangat sedih menyaksikan bagaimana dingin dan kasarnya perlakuan Kevin.