Bad Husband

Bad Husband
Ada Sesuatu



Ada Sesuatu


Setelah beberapa menit perjalanan, mereka pun sampai di depan rumah sakit. Hana membawa Alisa turun dari mobil dengan hati-hati. Saat turun, kebetulan ada Zero yang juga baru saja datang kerumah sakit pagi itu. Melihat Hana, Zero pun menyapa dan tersenyum dengan hangat.


"Hana," Panggil Zero yang baru saja keluar dari mobil nya yang tak jauh dari tempat Hana berada. Hana membalas sapaan teman nya tersebut. Begitu pun Alisa yang telah berlari ke arah Zero.


"Dokter!...dokter," Panggil Alisa sambil berlari. Hana yang melihat pun hanya tersenyum.


"Siapa lelaki itu?," Tanya Kevin yang memasang wajah dingin nya ke arah Hana.


"Dia Zero," Jawab Hana sambil mengambil tas kecil milik Alisa yang tertinggal di dalam mobil.


"Aku tidak menanyakan nama nya. Aku bertanya ada hubungan apa kau dengan nya?," Tanya Kevin sembari membuka kaca mobil. Kevin melihat ke arah Zero yang terlihat sedang tertawa bersama Alisa.


"Dia?, dia dokter di sini dan dia teman ku juga," Hana berkata sembari melihat ke arah suami nya dengan kebingungan. Hana tidak mengerti mengapa suami nya itu terlalu banyak tanya pagi ini.


"Besok-besok kau tidak perlu berkerja lagi!,." Ucap Kevin sambil mengemudi dan pergi. Hana yang melihat pun menjadi keheranan dengan suami nya itu.


"Kenapa?, apa yang salah?," Tanya Hana, namun Kevin tidak memperdulikan pertanyaan Hana sedikit pun. Kevin mengemudi dan menjauh dari rumah sakit.


Melihat hal itu membuat Hana hanya terdiam beberapa saat memperhatikan mobil suami nya itu menjauh dan perlahan menghilang tidak terlihat lagi.


"Hana!," Panggil Zero lagi. Hana pun berjalan ke arah Zero dan juga Alisa.


"Kau baru datang?," Tanya Hana.


"Iya. Siapa yang mengantar mu?," Tanya Zero.


"Aaa, dia teman ku," Jawab Hana.


"Teman?," Zero melihat Hana dengan penuh ragu. Ia tak yakin jika yang mengantar Hana hanya seorang teman.


"Teman bibi. Alisa memanggil nya paman jahat pak dokter," Alisa menggoyang-goyang kan tangan kanan Zero sembari menariknya masuk ke dalam rumah sakit. Begitu pun Hana yang juga ikut berjalan mengikuti dua orang di samping nya.


Mendengar perkataan Alisa membuat Hana menjadi panik. Namun ia tetap seolah tenang dan biasa saja. Hana sebenarnya tidak mau jika di dalam rumah sakit mengetahui jika diri nya sudah menikah.


"Paman jahat?, siapa teman mu itu sebenarnya Hana?," Zero bertanya dengan penuh selidik.


"Hanya teman. Bukan siapa-siapa. Ayo masuk," Hana memegang bahu Zero dan membawa nya masuk ke dalam rumah sakit. Hana seberusaha mungkin untuk mengalihkan pembicaraan lain. Hana juga meminta Alisa untuk bermain bersama Alya yang kebetulan sedang berada di ruang UGD.


* * * * *


Mendengar semua yang di katakan oleh anak buah nya, membuat Arlon tertawa dengan senang. Kali ini ia begitu senang karena informasi yang di berikan oleh anak buah nya itu sangat menarik bagi nya.


"Hahahaahah..... bagus. Ini baru bagus," Arlon bertepuk tangan setelah mendengar semua informasi yang anak buah nya dapat kan.


"Sekarang, kalian cari paman istri nya itu dan bawa kemari ke hadapan ku," Perintah Arlon pada anak buah nya. Anak buahnya pun mengiyakan dan keluar dari ruangan untuk menjalankan perintah tuan nya itu.


"Baik tuan." Ucap anak buah nya serentak.


"HahahahahahhahH..... Kevin Kevin. Kau akan ku permain kan terlebih dahulu sebelum aku menghabisi mu," Arlon menarik satu sudut bibir nya keatas dan tersenyum. Arlon merasa tidak sabar untuk melihat bagaimana Kevin akan jatuh dan hancur di tangan nya.


* * * * *


"Di rumah sakit. Siang ini, Hana memilih untuk memeriksa diri nya pada seniornya yang berada di ruangan sebelah. Hana menceritakan semua tentang diri nya yang beberapa hari ini sering merasa mual dan muntah, bahkan tidak memiliki nafsu untuk makan sama sekali. Mendengar semua yang di katakan oleh Hana, membuat dokter memanggil dokter kandungan ke ruangan nya untuk memeriksa Hana.


Hana di periksa dan benar saja. Dari hasil tes dan juga uji diagnostik. Terlihat ternyata sudah ada kehidupan di dalam perut nya. Melihat hal itu membuat Hana sangat terkejut. Hana terdiam beberapa saat memperhatikan perutnya itu.


"Selamat Hana. Kapan kau menikah hah?, kenapa tidak mengundang ku," Ucap teman senior nya dengan tersenyum ke arah Hana. Hana yang mendengar pun hanya membalas dengan senyuman.


"Tolong rahasiakan ini ya mbak. Akan menjadi bahan gosip jika rumah sakit tau jika saya sedang hamil," Hana menghela nafas nya dengan berat. Hana tidak mau di pandang buruk oleh pikiran buruk orang-orang yang tidak mengetahui kebenaran yang sebenar nya.


"Baik Hana. Mbak tidak akan memberitahu siapa-siapa." Balas senior nya sembari memegang bahu Hana. Hana yang mendengar pun akhirnya merasa sedikit lega.


Seusai memeriksa, Hana kembali ke ruangan nya dan duduk. Hana memeperhatikan perut nya dan kemudian mengelusnya dengan lembut. Hana tidak tau harus bahagia atau pun sedih karena kehamilan nya itu.


"Aku harus bagaimana?," Hana mengelus perutnya dan memegang nya. Mengingat bagaimana Kevin, membuat Hana sangat kawatir dengan kehamilan nya itu. Hana yakin jika Kevin tidak mau memiliki anak dengan nya. Memikirkan saja membuat Hana sangat kawatir. Hana kebingungan harus bagaimana.


Teringat kembali perkataan Kevin dulu nya yang mengatakan jika Hana hanya sekedar pemuas nafsunya saja. Mengingat hal itu membuat Hana mengerti jika Kevin tidak mungkin mau menerima anak di dalam perut nya itu.


"Sayang baby, kita harus bagaimana?," Ucap Hana yang terus mengelus perutnya yang masih datar. Hana berbicara dengan calon bayi nya itu dengan menitikan air mata.


Perasaan Hana kali ini sungguh tidak bisa di jelaskan. Hana cukup senang karena kehadiran buah hati nya, namun di lain sisi Hana juga cukup takut dengan suami nya. Hana menangis sendirian di dalam ruangan nya. Ia tidak tau harus berbuat apa.


Di saat Hana sedang menangis, tiba-tiba Alisa masuk ke ruangan nya dan berlari ke arah nya. Melihat Alisa membuat Hana buru-buru menghapus air mata nya dan berusaha untuk tersenyum di depan Alisa.