Bad Husband

Bad Husband
Yuna menangis



Yuna Menangis


Yuna berjalan ke arah Kevin dan Hana. Yuna membawa bunga dan juga buah untuk Kevin. Yuna menyapa Kevin dan melewati Hana begitu saja seolah tidak melihat Hana di sana. Yuna meletakan buah di atas meja dan kemudian ia memberikan setangkai bunga edelweis untuk Kevin.


"Ini untuk mu," Ucap Yuna sambil tersenyum ke arah Kevin. Sementara Kevin hanya terdiam tidak menerima bunga tersebut, namun Yuna memaksa Kevin mengambil nya dengan meletakan bunga tersebut di tangan Kevin.


"Ehem... Kevin, aku keluar dulu," Pamit Hana sambil berdehem.


"Silakan!," Jawab Yuna dengan sinis. Hana yang mendengar pun mengalih kan pandangan ke arah Yuna.


"Maaf, saya bicara dengan suami saya!," Ucap Hana dengan menatap Yuna. Tatapan sengit yang terjadi antara Hana dan Yuna membuat Kevin menganga memperhatikan dua orang di hadapan nya. Yuna terdiam menatap Hana dengan kesal.


"Kevin, aku keluar dulu. Apa kau dengar?," Tanya Hana dengan penuh penegasan. Hana berkata begitu semata hanya ingin suami nya menjawab perkataan nya.


"Iya. Jangan lama-lama, kembali lah jika perkerjaan mu sudah selesai," Balas Kevin. Hana yang mendengar pun tersenyum sambil melirik ke arah Yuna bermaksud untuk memanas-manasi Yuna.


"Secepatnya aku akan kembali." Ucap Hana sambil berlalu pergi dan keluar dari ruangan.


Setelah Hana benar-benar keluar, Yuna menendang kursi untuk melepaskan kekesalan nya. Setelah menendang kursi, kini ia menarik kursi tersebut dan duduk.


"Apa yang kau bawa?," Tanya Kevin sambil melihat ke plastik yang di letakan Yuna di atas meja.


"Racun tikus!," Cetus Yuna. Kevin mengalihkan pembicaraan seolah tak menghiraukan kemarahan Yuna.


"Kapan kau akan kembali ke Meksiko?," Tanya Kevin.


"Setelah aku menikah dengan mu," Jawab Yuna sambil memegang tangan Kevin.


"Tidak akan," Jawab Kevin santai.


"Apa kurang nya aku?, aku lebih cantik dari dia! seksi, dan kaya. Sementara dia, hanya ya cantik saja tapi lebih cantik aku!," Ucap Yuna.


"Aku menyukai Hana sebagai pasangan, dan kau hanya ku anggap adik sendiri. Hanya itu saja perbedaan nya," Jawab Kevin sambil melihat ke Yuna yang duduk di samping nya.


"Aku tidak percaya kau hanya menganggap aku sebagai adik selama ini. Kau bohong!," Teriak Yuna tak percaya. Mengingat bagaimana kedekatan mereka dulu, tidak mungkin sekali jika Kevin tidak memiliki perasaan sedikit pun pada Yuna.


"Yuna, kau jangan terlalu berlebihan begitu. Aku menganggap mu hanya sebagai adik. Tolong jangan membuat masalah pada ku," Ucap Kevin sambil meraih bintang buah pir di atas meja dan memakan nya.


"Tapi aku tidak pernah menganggap kau sebagai lelaki biasa. Aku mencintai mu Kevin. Sejak dulu kau juga tau hal itu," Rengek Yuna sambil menggoyang-goyangkan kaki kanan Kevin.


"Jika kau terlanjur suka, kau bisa perlahan mengubah nya sekarang. Jangan lagi menyukai ku karena aku tidak menyukai mu," Ingat Kevin. Yuna tertunduk diam.


"Yuna, Istri ku Hana sedang hamil. Jadi aku mohon pada mu jangan menambah beban stres untuk nya," Tutur Kevin dengan tenang.


"Kau begitu mencintai istri mu itu?," Tanya Yuna dengan kedua mata yang mulai berkaca-kaca.


* * * * *


Setelah Yuna keluar dan pergi dari rumah sakit, Hana pun kembali masuk ke ruangan suami nya dan membersihkan ruangan tersebut. Hana juga merapikan pakaian dan barang lainya untuk di kemas.


"Kenapa kau berkemas?, apa sudah boleh pulang?," Tanya Kevin sambil melihat ke arah istri nya yang sedang berjongkok di depan lemari mengeluarkan isi lemari tersebut.


"Iya. Dokter Qina sudah membolehkan kau pulang, asal kan kau mau beristirahat dengan baik hingga luka mu benar-benar pulih total," Jelas Hana sambil memasukan barang-barang ke dalam tas ukuran sedang.


"Baguslah. Akhirnya aku bisa pulang juga," Kevin menghembuskan nafas nya dengan lega. Senang sekali rasa nya mendengar kata pulang. Berada di rumah sakit sangat membozan kan bagi Kevin.


"Kau pulang besok pagi. Bukan sekarang," Jelas Hana.


"Apa tidak bisa pulang sekarang saja?," Tanya Kevin.


"Tidak!," Jawab Hana sambil melihat tajam ke arah suami nya. Kevin terdiam dan hanya mengiyakan saja.


"Oo jika tidak bisa ya besok pagi saja," Balas Kevin. Entah sejak kapan seorang Kevin menjadi sepatuh itu.


Kevin hanya bisa berbaring sambil memperhatikan istrinya yang mondar mandir membersihkan ruangan tersebut.


* * * * *


Di hotel. Seorang gadis cantik duduk di depan balkon kaca sambil melihat pemandangan di bagian bawah. Gadis tersebut tidak lain ialah Yuna. Yuna saat ini tengah menghubungi ibu nya untuk memberitahu kan mengenai Kevin pada ibu nya.


"Mami, Kevin sudah menikah. Yuna harus bagaimana?," Tanya Yuna sambil menghisap sebatang rokok di tangan nya.


"Kevin sudah menikah?, dengan siapa?," Tanya Mami Yuna terkejut.


"Dengan seorang dokter di rumah sakit. Yuna bagaimana mami?," Tanya Yuna lagi.


"Yuna, jika Kevin sudah menikah. Sebaik nya Yuna lupakan Kevin. Jangan mengganggu lelaki yang sudah menikah sayang," Tutur mami Yuna di telpon. Mami Yuna berkata dengan begitu lembut pada putri nya.


"Tapi mami, Yuna menyukai Kevin dari lama," Rengek Yuna.


"Jangan begitu sayang. Jangan merebut Kevin dari istrinya. Kau perlu ingat, secantik apapun wanita, jika ia merebut suami orang lain maka wanita tersebut tidak ada guna nya," Tutur mami nya di telpon. Mami Yuna berkata begitu pada putri nya karena mami Yuna dulu pernah menjadi perebut suami orang lain yang tak lain ayah kandung Yuna sendiri ketua bos mafia sebelum Kevin. Setelah berhasil merebut dari wanita lain, nyatanya mami Yuna juga tidak bahagia bersama ayah Yuna dulu. Ayah Yuna tidak terlalu mencintai mami Yuna. Mereka menikah karena terpaksa lantaran mami Yuna sudah terlanjur hamil sebelum menikah.


"Mami, hiks...hiks... Yuna bimbang harus bagaimana mami," Yuna menepiskan tangisan nya.


"Kembali lah ke Meksiko sayang. Jangan berada di Indonesia lama-lama. Kau harus mencari lelaki yang lebih tampan dan kaya dari Kevin di sini," Ucap mami Yuna berusaha menghibur putrinya tersebut.


"Iya mami. Tapi Yuna harus mrngusaha kan Kevin lebih dulu sebelum ke Meksiko," Balas Yuna sambil menutup panggilan.


"Aku harus menyerah atas dasar aku ingin menyerah. Bukan karena erkataan mami. Aku akan mencoba nya sebelum kembali ke Meksiko," Ucap Yuna sambil mengangkat kedua sudut bibir nya ke atas. Yuna tersenyum membayangkan rencana yang akan ia lakukan.