
"Anjiiir... gak nyangka gue ternyata tuh cewek kembaran Samuel" Azka dan yang lain nya menggelengkan kepala tak percaya usai mendengar cerita Kenzi.
Mereka masih tak percaya Queen mantan si ratu bully kembaran Samuel dan lebih parahnya lagi Samuel sendiri membencinya dan tak menganggap nya, Yang lebih menyedihkan dia di buang keluarga nya sendiri.
"Bangsat banget tuh keluarga, masa anak sendiri gak dianggap malah lebih percaya anak angkatnya" Radit menjadi emosi, tak juah beda dengan Fano, Lio dan Bagas. Karena bagaimanapun bos mereka juga mengalami hal yang sama.
Azka tampak termenung mendengar tentang keluarga Queen sebenarnya, karena sejak ia kenal dengan Queen tuh anak belum pernah menceritakan tentang siapa keluarga nya.
"Kok gue kesal ya sama Samuel, seharusnya bagaimana pun sikap kembaran gak seharusnya dia juga ikut membenci... Ck, benar-benar bangsat tuh anak" Degus Azka.
Alister, Kenzi dan Naufal menyetujui perkataan Azka, sudah sering mereka menegur Samuel tapi tetap keras kepala dan lebih mementingkan ego nya.
"Terus gimana sama berita kehamilan tuh cewek, apa benar dia hamil?" Tanya Azka masih tak percaya.
"Kita gak tau, tapi kemarin ada siswi yang mendengar dari ruangan UKS karena pas itu Queen tiba-tiba pingsan. Kita gak tau pasti sih, cuman yang jelas membuktikan dokter sendiri yang bilang Queen hamil" Jelas Naufal mengedikkan bahunya.
"Teruuss gimana reaksi Queen"
"Heboh lah, dia nolak kalo dirinya hamil. Dia bilang tuh dokter gila atau apalah"
Azka mengerutkan keningnya. Semenjak kenal dengan Queen dia merasa tuh cewek, cewek baik-baik tidak seperti yang dipikirkan Samuel dan keluarga nya.
"Dan Lo tau, Samuel pas dengar waktu itu langsung ngamuk. Dia ngatain Queen segala macam, bahkan langsung meminta kepala sekolah buat keluarin Queen. Bukan hanya itu saja hampir semua murid dan guru menyetujui permintaan Samuel dan yah... hari itu juga Queen dikeluarin dari sekolah" Ucap Radit.
"Ck, gue jadi kasihan liat dia, bahkan kedua sahabatnya aja gak ada yang belain mereka malah tidak peduli" Ujar Lio geleng-geleng.
"Itu yang nama nya sahabat anjiiing, dia maunya pas senang-senang aja" Celetuk Fano.
Mereka menggeleng tak percaya.
"Eh... Tapi Lo benaran suka sama tuh cewek" Pertanyaan Naufal membuat pandangan mereka semua ikut menatap Azka, apalagi Alister sedikit tak percaya bontotnya menyukai Queen.
Melihat tatapan mereka semua membuat Azka memutar bola matanya males, "Apaan sih, ya kagak lah. Gue emang dekat sama tuh cewek tapi belum ada tuh perasaan suka dan menyukai, gue masih kecil belum ngerti cinta-cintaan"
Hampir saja mereka tertawa mendengar kata-kata terakhir Azka, apa katanya tidak mengerti cinta-cintaan, pendusta sejati.
"Gaya Lo kagak ngerti, bukannya dulu Lo yang ngajarin Nano bahkan sampe jadi playboy sekarang" Cibir Lio yang hanya dibalas tatapan datar oleh Azka.
"Sejak kapan gue ngajarin begituan, tuh anak emang udah dari sononya kek gitu, bukan salah gue" Elak Azka.
Bagas hanya menggeleng, seorang Azka mana pernah mau disalahkan.
...
...
...
Sementara kondisi Queen sekarang benar-benar tidak baik.
"Hiks... K-kenapa hidup g-gue menyedihkan banget! di usir, dituduh dan sekarang dikeluarin dari karena berita palsu itu... Ya tuhan! Kapan gue bisa hidup tenang...Bahkan kedua sahabat gue aja gak ada disaat gue butuh... bangsat emang?!"
Queen terlihat sangat kacau sembari meringkuk di sudut kamarnya, bahkan matanya sudah bengkak karena terlalu lama menangis.
Dia benar-benar sendirian sekarang.
Dan sekarang yang lebih menyakitkan ia malah dituduh hamil, padahal sudah jelas ia masih tersegel, gimana mau hamil. Sudah jelas ada yang sengaja membayar dokter tersebut.
Tentu ia sangat ingin menghajar orang tersebut, jika saja ia tau siapa orangnya.
Disaat sedang menangis tiba-tiba saja ia terdengar dengan seseorang yang sering memberikan bantuan secara cuma-cuma terhadap nya.
"Azka..."
"Bagaimana kabar tuh cowok ya?, kenapa gue jarang liat dia disekolah, apa dia sakit?!" Mengingat nama itu entah kenapa membuat nya sedikit tenang.
...
...
...
Setelah seminggu, akhirnya Azka sudah diperbolehkan pulang karena luka bekas tembakan di punggung nya sudah menggering tidak perlu perawatan lagi. Tentu Azka langsung syukuran mendengarnya karena ia sudah sangat suntuk berada ditempat berbau obat itu.
Dalam Mobil.
"Bang, Dad... berarti boleh dong aku makan seblak" Ujar Azka menatap bang Rafa dan Daddy-nya yang berada disebelah kanan dan kirinya.
"Gak" Jawab seterentak mereka seketika membuat Azka tidak senang hati. Mereka benar-benar ingakar janji dan menyebalkan.
"Bukan kalian udah janji, janji itu harus ditepati. Bukan kalian yang ngajarin kok sekarang kalian yang ingkar sih" Apa mereka melupakan ucapan nya beberapa hari yang lalu dan sekarang seenak nya saja mengatakan tidak lagi.
"Kapan Daddy pernah mengatakan hal itu, kamu kali yang salah dengar, benar bukan Raf" Antonio berkata dengan wajah pura-pura bingung.
"Benar. Mungkin kamu salah dengar" Rafa ikut membenarkan. Yang mana membuat Azka kesal.
"Gak asik banget sih" Rasa nya ia ingin sekali mencakar tuh muka kedua makhluk setan itu, benar-benar menyebalkan.
...
Di sisi lain, dalam satu-satunya ruangan rawat utama yang berada di rumah sakit keluarga Anderson. Terlihat sepasang suami istri dan seorang dokter muda sedang membicarakan sesuatu.
"Gimana ma, Pa? Kapan kita melakukan operasi untuk adik?" Tanya dokter muda tersebut sembari memandang sekilas kearah seseorang yang terbaring diatas brankar dengan beberapa alat medis melekat di tubuhnya.
Kedua pasang suami istri tersebut terlihat menghela nafas agak berat saat menatap kearah putra kecilnya. " Kita sama sangat ingin melakukan secepatnya, sudah hampir dua tahun Gino menahan sakit, kita tidak sanggup melihat kondisi nya seperti ini terus. Tapi kamu tau bukan dia baru saja sembuh, tidak mungkin kita melakukan nya sekarang lebih baik tunggu beberapa hari lagi" Ucap Papa.
"Tapi bagaimana dengan yang lain, apa mereka sudah setuju" tanya Mama mengingat keluarga nya.
"Tentu saja, bukannya sejak awal sudah memang itu rencananya. Jika tidak buat apa kita menahan bahkan mengangkat nya menjadi bagian keluarga kita!" Jawaban Papa membuat mereka berdua cukup lega.
"Tapi entah kenapa Abi tidak yakin melakukan ini Pa, Ma... Melihat bagaimana mereka begitu menyayangi bocah itu mungkin sedikit akan berat" Ucap dokter muda yang tidak lain adalah Abi sementara sepasang suami istri itu, orang tuanya Mama Rani dan Papa Derga.
Kedua menyetujui perkataan Abi, bahkan sebenarnya dilubuk hati mereka juga tidak rela melakukan nya terhadap bocah yang selama ini sudah dianggap seperti putra kandung sendiri.
Mereka benar-benar dibuat dilema.
BERSAMBUNG...
LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT